
"Jadi, si bre*gsek itu mengham*li kekasihnya? Setelah itu dengan seenaknya dia malah menyalahkanmu? Benar-benar gila!" kesal Daniel, begitu Heera selesai bercerita.
Mervan dan Kai tidak bereaksi apapun, mereka memilih bergelung dengan pikiran mereka.
"Tenanglah, Kak! Heera yakin, ada suatu hal yang tidak kita ketahui di sini, ku yakin itu," ucap Heera mencoba menenangkan Daniel.
Daniel tidak menjawab, jujur ia masih begitu kesal, jika ia kembali berbicara, bisa saja ia malah membentak Heera.
"Sepertinya bukan Nathan yang menghamili kekasihnya," ucap Mervan dan Kai bersamaan, membuat mereka saling pandang.
Kai menganggukkan kepalanya pada Mervan dan itu membuat Mervan ikut menganggukan kepala, mereka memiliki pemikiran yang sama.
Daniel menatap mereka. "Dari mana kalian bisa menyimpulkan seperti itu?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Dari Ishani yang bunuh diri, jika Nathan yang menghamilinya, besar kemungkinan Ishani tidak akan menggugurkan atau sampai bunuh diri, karena pasti dia mencintai Nathan dan rela mengandung anaknya," jelas Heera, sebelum Mervan ataupun Kai menjawab pertanyaan Daniel.
"Benar, juga. Kenapa Aku tidak berfikir sampai kesana?" heran Daniel sambil menggaruk kepalanya.
"Karena kau terlalu cepat marah!" cibir Mervan.
"Bukan salahku jika Aku terlalu cepat marah!" sanggah Daniel tidak mau disalahkan.
Kai memilih mengabaikan mereka, dengan menyuruh Heera meminum obatnya.
"Sudah lebih baik?"tanya Kai lembut.
Heera menganggukkan kepalanya. " Kapan Aku bisa pulang?"tanya Heera.
"Akan Aku tanyakan pada Dokter nanti," jawab Kai.
"Ekhem," dehem Mervan, karena mereka malah mengobrol berdua, mengabaikan keberadaan dirinya dan Daniel.
"Kenapa?" tanya Kai tidak suka, sebelah alisnya terangkat.
Mervan jadi salah tingkah, melihat reaksi Kai, yang ia nilai terlalu berlebihan.
Ceklek
Pintu terbuka, dan terlihat Ray masuk sambil membawa boneka dan buah-buahan.
Melihat boneka itu mata Heera langsung berbinar senang.
"Aaahhhh ... lucunya ...." Heera menangkup wajahnya, ia begitu suka boneka panda yang Ray bawa.
__ADS_1
Ray terkekeh, melihat reaksi Heera yang begitu terpesona pada boneka. Kai menatap tidak suka pada Ray.
"Untuk apa Kau membawa boneka, itu Ray?" tanyanya.
Ray mengalihkan pandangannya pada Kai. "Boneka ini untuk Nona Heera, Tuan!" jawabnya.
"Untukku? Aahhh ... senangnya, kemarikan! aku ingin memeluk bonekanya," ucap Heera sambil membuka tangannya, persis seorang ibu yang meminta anaknya untuk naik kegendongannya.
Ray hendak memberikan boneka tersebut, namun Kai melarang.
"Kau tidak boleh memberinya boneka, Ray!"
Heera menatap tidak suka pada Kai. "Kenapa tidak boleh, Hah? itu boneka kesukaanku! Kau tidak berhak melarang Kak Ray memberikan boneka itu padaku!" ketus Heera pada Kai, sifat manjanya kembali keluar.
Meski tidak rela, Kai akhirnya membiarkan Ray memberikan boneka tersebut pada Heera.
Daniel dan Mervan diam-diam mencibir, dasar bucin, batin mereka.
Heera memeluk boneka itu dengan sangat erat, matanya terpejam dengan bibir tersenyum. Wajahnya makin terlihat imut dan manis, ketika seperti itu.
Ray, Mervan, dan Daniel tersenyum melihat ekspresi Heera, lain halnya dengan Kai yang malah memalingkan wajahnya, tidak suka.
"Aku ingin meminta sesuatu padamu, Kai!" ucap Heera, masih dengan mata terpejam.
"Ajak Aku ke makam anak kandung mami sama papi,"
"Kau baru saja pulih Heera! Bahkan, belum pulang dari rumah sakit, Aku belum bisa mengajakmu!" jawab Kai tegas, membuat Heera langsung membuka matanya, matanya melihat Kai dengan pandangan kesal.
"Jika Kau tidak mau mengajakku, maka Aku akan pergi sendiri! Aku tidak butuh bantuanmu!" ketusnya.
"Hei! tidak bisa seperti itu! Berani seperti itu, ku kurung Kau!"
"Kau tidak bisa mengurungku! Jika mengurungku, Aku akan menelpon polisi mengatakan kalau Kau KDRT!"
"Heera! Jangan seperti ini!"
Heera tidak menanggapi Kai, biar saja. Ia pokoknya harus segera ke makam, ada hal yang harus ia penuhi dan cari tahu.
Ray berusaha kuat menahan tawanya, sejak kapan seorang Kai memelas seperti itu.
Keesokan harinya, Heera merengek ingin pulang, sedangkan Kai menolak, namun kemudian dengan berbagai macam bujukan, Kai akhirnya luluh dengan permintaan Heera. Ia memperbolehkan Heera untuk pulang.
Di sinilah Heera sekarang, ia baru saja turun dari atas motor Kai. Kai membantu Heera berjalan, ia tidak ingin Heera kenapa-napa.
__ADS_1
Inginnya, Heera itu di bawa ke rumah mewahnya, namun apalah daya jika Heera malah ingin ke kontrakan bututnya, dengan alasan Nathan dan Anggra bisa curiga.
"Lho? neng Heera? kenapa neng, sampai dipapah gitu? Charlie, istrinya kenapa?" tanya seorang ibu dengan dandanan menor, sebut saja bu Patmi. Ia salah satu tetangga Kai.
Kai menatap tidak suka pada bu Patmi, pasalnya dia itu biang gosip. Kai tahu, tujuannya bertanya bukan karena perhatian, tetapi karena ingin mendapatkan bahan untuk digosipkan.
"Ini, Bu kemarin saya jatuh di kantor dan nggak sengaja bahu saya tertimpa tangga," jawab Heera sambil tersenyum.
"Owalah, tapi nggak papa, kan?" tanyanya dengan ekspresi terkejut.
"Nggak papa, kok Bu!"
"Syukur deh, kalo nggak papa. Eh iyah, saya mau nanya nih! Neng Heera sama Charlie dua hari ini kemana? Kan jatuhnya kemarin, kalau kemarin kalian nggak ada karena di rumah sakit, nah sebelum kemarin kalian kemana? Bukan apa-apa, saya cuma takut rumahnya digondol maling,"
Kai hanya memutar bola matanya, kenapa harus kepo sekali pikirnya, kalau kepo karena benar-benar khawatir sih, boleh.Tapi, kalau buat jadiin bahan gosip, mending nggak usah nanya deh, pikir Kai.
"Hehe, dua hari yang lalu, kami ada kegiatan di luar kota, kalau gitu saya permisi yah, Bu! masih sakit soalnya, nggak kuat berdiri lama," pamit Heera.
"Oh, gitu yah? Iyah, deh iya. Sok atuh, semoga cepat sembuh yah, Neng!" jawab bu Patmi, lantas pergi dari sana.
Hah
Heera mengeluarkan nafasnya, begitu bisa duduk di kursi ruang tamu. Kai memasukan semua barang Heera ke kamarnya.
"Hei! kenapa ke kamarmu? kamarku di sebelah sini!" ucap Heera, namun Kai memilih mengabaikan.
Heera membiarkan saja apa yang Kai lakukan, badannya agak lemas juga kalau harus menyusul Kai.
Kai kembali dengan membawa teh hangat dan biskuit. Ia lantas duduk di samping Heera.Tangannya menyentuh tangan Heera, membuat Heera mendongak pada Kai.
"Kenapa?" tanya Heera.
Kai menyandarkan kepalanya di bahu kiri Heera. "Mulai sekarang, tidurlah di kamarku! kita suami istri, dan sudah seharusnya, kita tidur bersama," ucap Kai.
Heera menatap Kai dengan pandangan mencibir.
"Siapa, sih yang ingin tidur terpisah dulu? Lupa Aku," sindir Heera, membuat Kai menegakkan tubuhnya.
"Jangan mengingatkan hal yang sudah lalu," pintanya dengan memelas, karena jujur kesalahan dirinya pada Heera dulu, masih belum bisa ia maafkan.
Heera terkekeh."Jangan memelas seperti itu! Kau jelek jika begitu."
Kai tidak menanggapi Heera,ia malah menghadapkan tubuhnya pada Heera, dengan sebelah kaki terangkat ke kursi, setelah itu memeluk Heera dengan erat, sambil kepalanya menyandar di bahu kiri Heera dan tangannya melingkar di perut Heera.
__ADS_1
"Kai ...."