Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Heera sadar


__ADS_3

Perlahan, Heera membuka matanya, Ia merasakan bahu kanannya, terasa sakit.


"Shhh..." ringis Heera, Kai yang memang menunggu Heera semalaman, lantas langsung mendekat pada Heera.


"Apa yang kau rasakan? apa kau butuh sesuatu?" tanya Kai.


"A--air!"


Kai segera mengambilkan air untuk Heera, Ia membantu Heera bangun, kemudian meletakkan bantal agar Heera bisa bersandar.


"Sudah lebih baik?" tanya Kai lagi, begitu Heera selesai minum. Heera mengangguk, menjawab pertanyaan Kai.


"Kenapa dengan wajahmu?Kai?" tanya Heera, karena Kai malah menatapnya dengan intens.


Tanpa menjawab pertanyaan Heera, Kai malah memeluk Heera.


"Aku bersyukur kau sudah sadar!" jawab Kai.


"Awssh," ringis Heera.


"Oh! maaf! maafkan aku! aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Kai cepat sambil melepas pelukannya pada Heera.


Heera tidak menjawab, karena Ia masih menahan rasa sakitnya, mungkin karena pengaruh biusnya sudah hilang makanya, bahunya kini terasa begitu sakit, apalagi Kai tak sengaja menekannya.


"Apa masih sakit? sungguh maafkan aku, aku tidak sengaja!" Kai sangat merasa bersalah, karena gerakan refleknya, Heera menjadi kesakitan.


"Huft! tidak apa-apa,sudah lebih baik," jawab Heera.


"Sebentar, aku akan panggilkan Dokter!"


"Kai! tidak perlu, aku hanya ingin bicara padamu! jangan panggil Dokter! aku sudah lebih baik!" Heera mencegah Kai yang hendak memanggil Dokter, karena Ia ingin membicarakan sesuatu pada Kai.


Kai menatap tangannya yang dipegang oleh tangan Heera, Ia lantas memegangnya dengan tangan yang lain.


"Baiklah, katakan! apa yang ingin kau bicarakan!" ucap Kai sambil duduk di sisi ranjang Heera, masih dengan memegang tangan Heera.


Heera menatap tangan Kai yang masih memegang tangannya, dalam hati Heera meringis, semoga Kai tidak mencintainya, karena Ia masih belum bisa membuka hati bagi siapapun.


"Katakan!" perintah Kai, karena Heera malah terbengong sambil melihat tangannya. Kai berpikir mungkin Heera terharu dengan tingkahnya.


"Ak--


Brak


Belum sempat Heera berbicara, Ajeng datang sambil membuka pintu ruangan Heera dengan keras. Di susul Ray dibelakangnya.


" Ajenggg!"ucap Kai penuh penekanan.

__ADS_1


"Haha! jangan gitulah Kai! sorry! pengen cepat ketemu Heera, soalnya!" Ajeng cengar-cengir, melihat tatapan Kai.


Ia lantas buru-buru mendekati Heera, Ray menggelengkan kepalanya dengan tingkah bar-bar Ajeng yang tidak pernah hilang.


"Lo nggak papa Heera?" tanya Ajeng.


"Sudah lebih baik," jawab Heera sambil tersenyum.


"Syukurlah! terus kemarin kenapa lo nggak ngehindar?"


"Sudahlah Ajeng! jangan terlalu dipikirkan!"ucap Heera.


"Jangan kayak gini! lo harus bales si Nathan!"


"Ajeng! jangan bicarakan itu dulu! biarkan Heera pulih, setelah itu baru pikirkan cara belas dendam kita!" perintah Kai.


Ajeng hanya bisa menghela nafas, ia sebenarnya sudah sangat ingin memberi bogem mentah pada Nathan.


Ray, diam - diam terkekeh, mencibir Ajeng. Membuat Ajeng yang mendengar suara cekikikan membalikan badannya dan terlihat Ray yang duduk di sofa tengah terkekeh dan itu membuat Ajeng kesal.


"Heera! katakan apa yang ingin kau bicarakan!"perintah Kai pada Heera.


Huft


Heera menatap Kai, Ajeng dan Ray.


" Jadi, seperti ini, Nathan membenciku karena ia merasa aku yang membuat jantung hatinya tiada,"


"Jantung hati? maksudnya? kenapa dia bilang kalo lo udah ngambil jantung hatinya? kalau jantung dia kagak ada, berarti dia isdet,alias mati!"


"Ajeng! jangan bercanda, ah!" kesal Heera.


"Siapa yang bercanda, sih? gue serius tau!"


"Serius kayak gitu! dasar!" cibir Ray.


"Apa Lo?" sewot Ajeng pada Ray dengan memelototkan matanya.


"Sudah! sudah! aku memberi tahu perkataan Nathan bukan untuk membuat kalian berdebat! tapi agar kalian bisa mencari tahunya!"


"Kenapa kau ingin mengetahuinya? apa karena kau masih mencintainya?" tanya Kai kesal. Otaknya kadang tak jernih jika sedang cemburu, sehingga mengatakan pertanyaan itu, padahal Kai jelas tahu jika tujuan Heera adalah agar mereka bisa balas dendam dengan terencana.


"Jangan salah paham! oke? kita harus mengetahuinya, agar bisa mempermudah jalan balas dendam kita! aku tau pasti ada sesuatu di balik ini! karena seingatku,aku tidak pernah bertemu Nathan sebelumnya!"


"Kau yakin?" Kai masih saja tidak percaya.


"Kau ingin aku bagaimana, agar kau percaya, hah?"

__ADS_1


Gaya bicara Heera semakin hari, semakin berubah saja, batin Kai


Di sisi lain, Nathan terkejut saat tiba-tiba saja Baron datang ke ruang kerjanya dengan amarah, bahkan Baron sampai menendang pintu ruang kerjanya.


"Ada apa ini?" tanya Nathan kesal.


Baron terlihat tidak datang sendiri, tapi dengan Angra dan Anne.


"Kau masih bertanya apa? apa kau menculik Heera? dan menembaknya?" bentak Baron sambil memegang kerah kemeja Nathan.


Nathan menatap kesal pada Baron, Ia lantas melepaskan tangan Baron.


"Kalau iya, kenapa, hah?" tantang Nathan.


"Kau bodoh! apa kau tidak pikirkan? tindakan gegabahmu bisa menyeret diriku dan perusahaanku!" ucap Baron dengan menunjuk - nunjuk Nathan.


Nathan tersenyum sinis, Angra menatap Nathan dengan heran kenapa Nathan sampai menculik Heera pikirnya? padahal Angra lebih memilih memeras emosi Heera, ketimbang membuat fisiknya terluka.


"Heh? kau pikir aku sebodoh itu? kau pasti sudah tau kalau aku menyuruh seseorang untuk mengakui kejahatan yang kulakukan!"


"Tetap saja! bagaimana jika rencanamu gagal?"tanya Baron


"Buktinya berhasil bukan?kenapa kau mempermasalahkan hal yang tidak perlu?" ketus Nathan.


"Kau!"


"Sudahlah! pah! apa yang dikatakan Nathan benar! yang penting semuanya amankan? lebih baik, kita pergi saja! bukankah ada hal yang harus kau kerjakan?" bujuk Anne. Anne memberi kode pada Baron, membuat Baron mendengus, kemudian pergi dari sana, diikuti oleh Anne.


Tinggallah Nathan dan Angra, Angra berjalan ke arah Nathan.


"Apa kau memang benar-benar menculik Heera?" tanya Angra penasaran.


Nathan tidak menjawab, Ia hanya duduk di kursi kerjanya. Memikirkan hal apa saja yang harus ia lakukan kedepannya.


"Cepat! katakan! apa kau menculik Heera?" desak Angra sambil memegang dan menggoyangkan tangan Nathan.


"Bukankah kau sudah mendengar semuanya, Hah?" bentak Nathan sambil hendak mena*par Angra. Sungguh, Nathan sudah sangat jengkel dengan Angra yang ia rasa terlalu penuntut dan mendominasi dalam hubungan dan Nathan tidak suka hal itu.


Angra terkejut dengan apa yang akan dilakukan Nathan.


"Kau akan menamparku? hah!? pukul saja! pukul!" teriak Angra sambil membawa tangan Nathan yang masih diudara dan mengarahkan tangan itu kepipinya.


"Diamlah! kenapa kau begitu berisik!" bentak Nathan lagi, Ia melepaskan tangannya yang masih dipegang Angra.


"Keluar dari ruanganku!" teriak Nathan mengusir Angra, membuat Angra menatap penuh benci pada Nathan. Ia lantas berjalan dengan tergesa keluar dari pintu.


Brak

__ADS_1


Ia menutup pintu itu dengan keras.


Setelah kepergian Angra, Nathan menstabilkan emosinya, lantas menyugar rambutnya kebelakang.


__ADS_2