Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Sungguh Buruk...


__ADS_3

"Apa!? Gile!! Gimana bisa sih??" teriak Ajeng, saat mendengar kalau Nathan dan Baron sudah menutup semua berita tentang affair yang terjadi antara Ishani dan Baron.


"Bisakah kau tidak berteriak?" ucap Ray kesal. Ia tengah pusing dan Ajeng malah berteruak-teriak.


"Lo, nggak denger? Mereka, mereka dengan mudahnya menutup semua beritanya?" ucap Ajeng masih dengan nada tinggi.


"Kau!" Ray menunjuk Ajeng gemas dan kesal. Matanya melotot menatap Ajeng, namun Ajeng masih lempeng-lempeng saja dengan kekesalannya yang malah membuat orang lain kesal.


"Mervan? Daniel? Ini gimane?? Masa gitu doang?" teriak Ajeng.


Mervan dan Daniel menutup muka mereka, bisakah diam Ajeng? Batin mereka.


"Kau! Diam Kau!" Ray mengambil lakban dan menutupkannya pada mulut Ajeng. Ajeng sempat berontak, namun tenaganya kalah dari Ray.


Ray duduk kembali setelah membuat Ajeng terikat di kursi dan mulutnya dilakban,persis seperti korban penculikan.


"Lanjutkan! Gimana selanjutnya?" ucap Ray pada Mervan dan Daniel.


Mervan dan Daniel menatap Ajeng, mereka bisa melihat Ajeng meminta tolong,namun mereka malah saling tatap dan menggelengkan kepala mereka.


Si*lan!


"Ayo! Apa lagi rencana kita kedepannya?" tanya Ray.

__ADS_1


"Apa penyebab kematian Ishani sempat terekspos saat berita affairnya dengan Baron terbongkar?" tanya balik Mervan.


"Tentu saja tidak!" jawab Ray kesal.


Mervan mengusap wajahnya, ia pikir mereka tidak akan gercep seperti itu. Daniel terlihat mengepalkan tangannya.


"Kenapa tidak kita kirimkan lagi beritanya?" usul Daniel.


Mervan dan Ray saling tatap bisakah seperti itu?


"Tidak bisa seperti itu!" ucap Kai yang tiba-tiba saja sudah ada di sana, ia terlihat berdiri dengan wajah datarnya.


Mervan, Daniel dan Ray menatap pada Kai, "Kalau tidak seperti itu, lalu harus bagaimana?" tanya mereka berbarengan.


"Buat mereka semakin terpecah belah dan tidak saling percaya."


Prak


Prak


Kai memantul-mantulkan kecil apel tersebut dimeja.


"Setelah itu... ."

__ADS_1


Prakk...


Kai melemparkan apel itu kebawah dan langsung pecah menjadi beberapa bagian.


Rey, Mervan dan Daniel menatap apel tersebut. Kai tersenyum sinis.


"Kalian lihat apel itu? Ibaratnya seperti itu, biarkan saja mereka selamat beberapa kali, tapi jadikan itu sebagai bom waktu dan bila saatnya tiba.. Bum, kita hancurkan mereka," ucap Kai menatap mereka satu persatu.


Prok


Prok


Prok


Heera datang dan bertepuk tangan dengan rencana Kai, "Ide bagus" Heera tersenyum pada Kai, namun Kai malah memalingkan wajahnya. Membuat Heera menunduk masih merasa bersalah.


Disisi lainnya, tepatnya di sebuah apartemen, Angra tengah geram setelah membaca surat yang ia dapat dari amplop yang Heera selipkan di saku bajunya saat mereka bertemu di Kafe.


"Apa ini? Dia pikir aku akan berbuat gegabah dengan ini? Tidak akan!" Angra meremas kertas yang Heera berikan.


Mungkin mulutnya bisa berucap seperti itu, namun hatinya kini tengah kesal, takut dan sedih namun Angra masih menyangkalnya.


Amplop dari Heera membuat mental Angra sedikit down. Ia mendapatkan foto perselingkuhan Baron dan Ishani yang tanpa sensor, belum lagi ia mendapatkan foto Anne yang ternyata juga selingkuh dari Baron dan terakhir foto perselingkuhan Nathan yang makin menjadi.

__ADS_1


Heera juga menuliskan surat, yang berisi kata "Selamat menderita pecundang" kata itu tentu saja membuat Angra naik darah dan merasa terhina.


__ADS_2