Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB: Pemakaman Charlie


__ADS_3

Keadaan Heera masih belum pulih sepenuhnya. Beruntung, sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Hanya saja, Charlie ... alias Kai, dia dimakamkan tanpa Heera sempat bisa melihat wajahnya.


Mervan dan Ray yang menghadiri pemakaman Charlie, pemakaman berlangsung tertutup, agar tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Charlie adalah, Kai.


Tangan Mervan dan Ray terlihat mengepal. Keduanya tidak bisa membiarkan ini. Mereka harus membalas Baron.


Setelah menyelesaikan proses pemakaman, keduanya lekas pergi ke rumah sakit di mana Heera masih ditangani.


Di sisi Baron, dia kini tengah tertawa bahagian melihat video pemakaman Charlie. Setelahnya, dia membanting ponsel tersebut. Dadanya baik turun dengan amarah yang menguasai dirinya.


Baron menghubungi anak buah kepercayaannya dan menyuruhnya melakukan sesuatu.


"Kita lihat, sampai sejauh mana kau bisa bertahan, Heera," gumam Baron.


Kembali ke tempat Heera dirawat, yang ada di sana terlihat menatap Heera, meratapi keadaan Heera sekarang.


"Kita harus kasih pelajaran sama Baron!" ucap Daniel dengan wajahnya yang sekarang terlihat begitu menyeramkan.

__ADS_1


"Bener kata Lo, kita harus balas Baron!! Gue nggak terima sahabat gue kayak gini," sahut Ajeng.


Diskusi akhirnya terjadi antara mereka, guna menumpas Baron.


Satu Minggu


Dua Minggu


Satu bulan, akhirnya keadaan Heera baik-baik saja dan kembali sepeti semula.


Pagi ini, dengan pakaian serba hitam, Heera duduk di samping makam Charlie, membawa bunga dan air, kemudian menaburkannya.


"Apa ini yang kau maksud, Kai? Aku tidak peduli padaku?" Heera memegang nisan bertuliskan nama Charlie yang sedikit di singkat agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang kalau Charlie adalah Kai.


"Kau mengambil sesuatu paling berharga dalam hidupku dan sekarang kau sendiri yang pergi meninggalkanku? Ini tidak adil, Kai! Tidak adil!!" Heera terpuruk, dia tidak bisa kehilangan Kai dengan cara seperti ini.


Tanpa Heera sadari, seseorang melihat apa yang dia lakukan dan tangannya terlihat mengepal.

__ADS_1


Lama Heera berada di sana, sampai dia memutuskan pulang. Saat di hendak masuk ke dalam mobil, seseorang mala memukulnya, membuat dia harus bertarung.


Heera memukul perut orang tersebut yang lekas ditangkis. Beberapa kali melawan, sampai Heera bisa mengalahka. orang tersebut.


"Sial," gumam orang itu, sebelum dia pergi lari dari sana.


"Hei!? Mau kemana kau?!" teriak Heera. Tidak mendapatkan jawaban, membuat Heera kembali meneruskan niatnya untuk duduk dengan tenang di dalam mobil.


Satu jam berlalu, sampai dia memarkirkan mobilnya di depan gedung perusahaan Kai. Dia harus tetap bekerja, semua orang tidak ada yang tahu kalau Kaj sudah tiada.


Karyawan yang sudah mengenal Heera terlihat menyapa dan juga membuat Heera senang dan tenang.


Sampai di ruangan Kai, Heera kembali menangis bagaimana bisa Kai meninggal secepat ini? Heera memukul dadanya yang terasa sesak.


"Kau tidak adil, kenapa pergi lebih dulu, Kai!" ujarnya pelan.


Heera melangkah ke kursi di mana Kai selalu duduk di atasnya. Merasakan aroma Kai, membuat Heera makin merasa sedih.

__ADS_1


"Kai!! Aku tidak rela kai! Aku tidak bisa seperti ini!! Kenapa kau pergi!!?" teriak Heera, yang sekarang menunduk.


Ajeng dan Ray yang mengintip lewat celah pintu ruangan Kai, inilah yang terjadi pada Heera membuat Ajeng memikirkan cara untuk membuat Baron merasakan balasan setimpal.


__ADS_2