Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 83: ANGRA MENGHILANG BARON MALAH DATANG (REVISI)


__ADS_3

Malam hari, di dalam kamar miliknya, Kai berdiri di depan balkon dengan pandangan tajam dan rahang mengeras. Dia tengah bertukar info dengan Ray lewat telepon gengamnya. Kai mencengkram erat ponselnya, dia harus kembali dan mulai memecahkan semua masalah ini.


“Apa maksud dari perkatannmu, Ray?” tanya Kai dengan penuh penekanan.


“Itu memang benar, jika kau ingin memastikannya kau harus segera kembali kemari,Kai.” Ray menyahut dengan nada antusias, pasalnya dia sudah tidak sabar untuk kembali beraksi. Apalagi ada informasi yang harus dia buktikan segera.


“Kau tau, Kai? Ak—


Tut…


Saat Ray hendak kembali berbicara, Kai malah langsung menutup sambungannya. Membuat Ray yang ada di seberang sana menggerutu karena sangat kesal. Kai sendiri memilih langsung menutup sambungan teleponnya karena dia rasa apa yang akan Ray sampaikan selanjutnya adalah perkataan yang tidak bermutu, alias hanya bualan Ray saja dan Kai malah membahas hal absurd sekarang.


Ting


Ting


Ting


Kai menatap banyak sekali chat spam yang Ray kirimkan padanya, namun dia memilih mengabaikan dengan memode senyapkan ponselnya. Kai mengirim pesan pada orangnya untuk menyispksn tiket keberangkatannya dan Heera.


Kai keluar dari kamarnya dan menemui Heera yang ada di ruang keluarga bersama Lionel dan Listia.Kai langsung membawa tangan Heera dan itu membuat Listia protes.


“Mam,Heera harus pergi denganku,” ucap Kai sambil membawa tangan Heera.


“Eeh…? Apa-apaan kau, Kai? Kami sedang mengobrol ini! Memangnya kau mau membawa Heera kemana?” protes Listia.


“Mam, Sorry. Ini urgent! Kai sama Heera harus pulang sekarang, ini menyangkut keselamatan Heera!” ucap Kai dengan suara terburu-buru.


Heera dan Listia terperangah, keduanya menatap Kai. Apa maksudnya dengan menyangkut nyawa Heera, pikir mereka? Kai memutar bola matanya, inilah perempuan. Mereka selalu ingin segala sesuatu itu dijelaskan secara runtut, sudah tau dirinya buru-buru.


“Ck, tidak ada waktu untuk menjelaskan! Heera, cepat kau semua barang-barang yang kau rasa ingin dibawa pulang! Kita pulang malam ini,” ucap Kai dengan segera dia membawa Heera ke kamar mereka.

__ADS_1


Heera menurut saja kemanapun Kai membawanya, dia tidak ingin banyak protes,pasti ada sesuatu yang penting di sini sampai-sampai Kai sangat terburu-buru seperti ini. Listia hanya bisa menghela nafas sambil menatap punggung


Kai dan Heera yang perlahan menjauh.


“Apa kau sudah pesan tiket pesawatnya?” tanya Heera.


Kai yang sedang mondar mandir membantu Heera memasukkan barangnya pun menjawab, “Sudah.”


Heera menganggukkan kepalanya, dia lantas menutup kopernya. Kai menurunkan kopernya dari atas ranjang, lantas menggenggam tangan Heera dan mereka pun keluar dari kamar. Kai dan Heera sempat berpamitan pada Listia, tetapi tidak pada Lionel, karena ayah Kai itu tengah mengerjakan beberapa pekerjaan di luar.


Kai dan Heera kini sedang berada di dalam mobil hendak ke bandara. Tidak ada pembicaraan apapun di anatara keduanya, mereka sama-sama terdiam. Mobil pun sampai di bandara, mereka lantas turun dari atas mobil. Seorang anak buah Kai memberikan surat-surat dan paspor pada Kai, setelahnya dia pergi atas perintah Kai.


Kai mendorong koper milik Heera dan kembali menggenggam tangannya.Setelah melakukan check-in via online, Kai lantas melakukan check-in koper di loket penyerahan bagasi bandara. Dia pun menuju pemeriksaan keamanan, di sini Kai menangkap dua orang yang potonya Ray kirim kepadanya. Dia lantas membuat tubuh Heera agar tidak terlihat oleh dua orang itu.


“Apa yang kau lakukan, Kai?” tanya Heera.


“Sut… kau ikuti saja,” jawab Kai dengan sedikit berbisik.


Kai melotot pada Heera, dia buru-buru menurunkan tangan Heera agar tidak menunjuk kedua orang itu dan membuat mereka curiga.


“Apa yang kau lakukan? Jangan lakukan itu. Cepat, ikuti aku!”ucap Kai dengan nada pelan namun penuh penekanan, membuat Heera sedikit heran.


Kai lantas membawa Heera melakukan pemeriksaan keamanan, setelah selesai buru-buru Kai membawa Heera untuk ke bagian imigrasi selanjutnya mereka pun pergi ke pintu masuk dan menunggu penerbangan mereka.


***


Kai dan Heera sampai di negara mereka. Keduanya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Kai untuk menjemput mereka.


“Kita pulang ke kontrakan?” tanya Heera.


“Tidak, kita harus temui Ray terlebih dahulu,” jawab Kai.

__ADS_1


“Kak Ray? Untuk apa?” tanya Heera lagi dengan heran.


“Tidak perlu banyak tanya. Kau ikuti saja apa yang aku lakukan,” ketus Kai.


Heera memicingkan matanya pada Kai, tidak perlu ketus seperti itu juga,’kan? Heera pun memilih diam dan tidak bertanya apapun lagi pada Kai. Kai menatap heran pada Heera, kenapa tiba-tiba dia diam seperti itu?


Kai hendak berbicara pada Heera, tetapi suara dari radio yang di setel oleh sopir membuat Kai menghentikan niatnya untuk berbicara pada Heera.


*Berita kali ini adalah tentang misteri hilangnya para gadis yang terjadi lima tahun lalu\, kini kembali terulang. Dua orang gadis dikabarkan hilang setelah mereka mengerjakan tugas di rumah temannya*


Kening Kai dan Heera mengerut, kejadian penculikan lima tahun lalu cukup menggemparkan dan sekarang malah kembali terjadi. Bagaimana bisa mereka begitu tega menculik para gadis? Dan mereka melakukannya dengan begitu lihai, sampai-sampai setelah lima tahun berlalu, mereka tidak pernah tertangkap.


Tut…Tut…


Lamunan Kai dan Heera terhenti karena suara nada dering yang masuk ke ponsel Kai.Kai menatap siapakah gerangan orang yang menelponnya? Keningnya kembali mengerut.


Ray?


“Halo,Ray? Kami akan segera sampai, bersabarlah! Kau ini,”gerutu Kai.


“Tidak, bukan itu! Kalian harus segera pulang ke kontrakan. Anak buahmu yang berjaga di kontrakan mengatakan kalau Baron serta anak buahnya datang dan membuat keributan,” jawab Ray dari seberang sana.


Kai menatap Heera yang juga tengah menatap dirinya. Kai sedikit heran, untuk apa Baron dan anak buahnya datang ke kontrakan mereka?Bukankah rencana Baron bukanlah seperti itu?


“Oke, kami akan pergi ke kontrakan. Kau perintahkan anak buah kita agar menahan Baron lebih lama lagi, tetapi jangan sampai Baron dan anak buahnya curiga,” ucap Kai setelah sedikit berpikir.


Tut


Kai menutup sambungan telepnnya dan tak lama setelahnya, dia langsung mendapatkan cercaan pertanyaan dari Heera.


“Kau tidak perlu khawatir Heera, kita akan mudah mengelabui Baron. Kau tenang saja!” ucap Kai menenangkan Heera.

__ADS_1


“Bukan itu yang ku khawatirkan Kai, tetapi bagaimana bisa sampai datang ke kontrakan?”


__ADS_2