
"Apa orang tua ku yang menyuruh kalian?!" tanya Kai dengan tatapan tajam.
Pria bertubuh kekar terlihat mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Kai.
Kai mengambil ponsel si pria, matanya melotot melihat pesan yang ada di ponsel tersebut.
📩
Kalian bawa Kai menemui Heera, pastikan mereka membuat cucu untukku!! Dan kau!! Kai! mama tau kau pasti akan bertanya siapa yang menyuruh bondan? Mama yang menyuruhnya, hah! Kau mau marah?! Kemari kau datang ke mansion jika mau marah, Mama tunggu!! Satu lagi, kau cemen sekali. Baru ditolak cinta sekali sama Heera langsung marah-marah. Rasakan sekarang Heera balas marah padamu, kan?!
Huft
Kai menghela nafasnya, mamanya ini benar-benar... Akhh, sudahlah! Dia bingung harus berkata apa tentang mamanya.
"Nih, ponselmu! Kau tidak perlu membawaku menemui Heera, biar aku saja!" ucap Kai tegas.
"Tapi, Tuan. Nyony--
" Stop! Berhenti berbicara, aku tau apa yang dikatakannya. Kau tidak perlu bicara lagi, katakan saja padanya sedang OTW!" Kai langsung memotong perkataan si pria kekar yang ternyata di ketahui dari pesan Listia, kalau pria tersebut bernama Bondan.
"Ta--
" Sudah! Pak jalan, jangan hiraukan mereka!"perintah Kai pada supirnya.
Kaca mobil menutup sampai mobil melaju.
Bondan hanya bisa menghela nafas melihat mobil Kai yang menjauh, bekerja di keluarga Hadish harus ekstra sabar, apalagi dengan kecerewetan Nyonya Listia.
__ADS_1
Flashback off
"Cepat katakan! Pasti kau yang menculikku, 'kan?!"
Pertanyaan Heera membuat Kai tersentak dari lamunannya.
"Bukan aku! Kau ini, mengapa menuduhku?Untuk apa aku menculikmu?" sewot Kai.
"Asal kau tau saja, aku sampai uring-uringan mencarimu!" tambah Kai sambil beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Heera.
"Kemana saja, yang terpenting aku bisa mendinginkan hatiku," jawab Kai sedikit lebai, karena nyatanya dia mencoba memancing Heera, siapa tau Heera jadi mau ikut dengannya, 'kan?
Heera menunduk, dia ingin ikut bersama Kai. Sangat membosankan jika terus-terusan dikamar ini, sendirian.
"Tidak ada, kenapa memangnya?" Heera sok jual mahal dan itu membuat Kai mencebikan bibir bawahnya.
"Oh, kupikir kau ingin ikut denganku, ya sudah kalau kau tidak ingin."
Ucapan Kai kembali membuat Heera kembali menundukan kepalanya.
Kai sedikit melirik pada Heera, dia lantas berjalan menuju pintu. Heera mendongak menatap Kai yang hampir mencapai pintu.
"Tunggu!" ucap Heera.
Kai langsung menghentikan langkahnya, diam-diam tersenyum tipis.
__ADS_1
Kai berbalik dan berpura-pura menunjukkan raut wajah polos bercampur heran.
"Kenapa Heera? Apa kau mau ikut?" tanya Kai.
Heera kembali menunduk, sekarang dia gugup bercampur malu. Tangannya meremas kedua ujung bajunya.
"Oh kau ti--
" Eh, tunggu Kai! Aku ingin ikut!"ucap Heera cepat.
Kai rasanya senang sekali, rencananya berhasil. Heera akan ikut dengannya dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Namun, betapapun senangnya Kai saat ini, dia masih memasang raut wajah biasa saja, seolah itu bukan hal yang sangat menyenangkan untuknya.
"Bolehkah...?" pinta Heera dengan memelas, gengsinya ia buang jauh-jauh, kemarahannya ia simpan dulu, yang terpenting ia bisa keluar dari sini.
"Bukankah kau yang menolak berdekatan denganku Heera?"
Skakmat!
"Kau bahkan melarangku untuk memelukmu dan karena itu aku ingin keluar mendinginkan hatiku," tambah Kai.
Heera makin mati kutu saja, bagaimana dong?
"Yasudah, aku pergi du--
" Kai!"teriak Heera.
“Apa lagi Heera...?” Kai menbalikan badannya memasang raut wajah kesal, padahal aslinya dia sangat ingin berjingkrak-jingkrak kegirangan.
__ADS_1
"Bisakah aku ikut...?" cicit Heera.