Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 97


__ADS_3

Kai termenung di ruangannya, hubungannya dengan Heera juga masih belum baik.


Kai sangat bingung, dia sadar kemarin dia sudah salah dan terlalu kasar pada Heera.


Heera hari ini pergi dengan Ajeng entah mengerjakan apa, membuat Kai tidak bisa kembali berbicara dengannya.


ceklek


Pintu ruangannya dibuka oleh Mira,Kai mengalihkan pandangannya.


"Permisi, Tuan. Tuan Xavier datang kemari dan ingin bertemu dengan Anda," ucap Mira dengan mengangguk sopan.


"Persilahkan beliau masuk, kenapa kau membuatnya menunggu Mira?" ucap Kai dengan nada tidak bersahabat, membuat Mira merasa sedikit takut.


Pasalnya, tadi dia meminta Tuan Xavier menunggu, agar dia tidak kena marah Kai yang terlihat galau sejak pagi, tapi ternyata keputusannya itu salah.


"Maa--


" Ada apa Kai?"Ucapan Xavier menghentikan ucapan Mira, dengan isyarat tangan Xavier meminta Mira untuk pergi, membuat Mira mengangguk sopan, lantas pergi dari ruangan itu.


"Hah? Tidak ada, paman."Kai menjawab dengan pandangan yang tidak fokus, membuat Xavier tersenyum.


" Duduk disini, Kai! Ceritakan masalahmu!"Xavier menuntun Kai untuk duduk disampingnya di sofa. Arjun asisten Xavier terlihat keluar dari ruangan tersebut atas perintah Xavier.


Huft


Kai menghela nafasnya, Xavier selalu bisa membaca dan memahami kegelisahannya.


"Masalah dengan istrimu?" tanya Xavier, membuat Kai menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ceritakanlah!" Xavier menepuk pelan bahu Kai.


Kai lantas menceritakan semuanya, mulai dari dia yang memberi kejutan pada Heera, sampai Heera memberi harapan padanya dan tiba-tiba Heera menghancurkan harapannya.


Kai menceritakan semua, berdasarkan sudut pandangnya. Bagaimana dia bisa sampai marah pada Heera, bagaimana dengan tak sengaja dia mendorong Heera sampai membuat jidat Heera terluka dan bagaimana sekarang Heera yang berbalik marah padanya.


Xavier terkekeh saat Kai selesai bercerita. Dia menepuk-nepuk bahu Kai, Kai merasa heran kenapa Xavier malah terkekeh dan bukannya prihatin dengan masalahnya.


"Kau ternyata masih harus banyak belajar tentang pernikahan Kai," ucap Xavier.


"Gimana?"


Xavier makin terkekeh, "Biar kuceritakan semua masalaluku, Kai. Bagaimana aku masih menyesali masalaluku itu sampai sekarang"


Kai memperhatikan raut wajah Xavier yang berubah sendu, ada apa pikirnya? Apakah ada hal yang tidak dia ketahui tentang pamannya ini?


"Kau tau, sekarang aku menjadi manusia yang lebih baik dari aku yang dulu. Aku tidak terlalu penuh ambisi seperti dulu, dan sekarang yah ... perlahan hatiku tak sekeras dulu, aku mulai membangun sebuah yayasan, kau pasti juga tau tentang yayasan itu, 'kan?" Xavier menatap Kai, Kai mengangguk pelan menjawab pertanyaan Xavier.


Dia jelas tau, Xavier membangun sebuah yayasan yang menaungi sebuah sekolah dari tingkat dasar sampai menengah, sebuah panti asuhan, panti jompo, yang dimana semua yang ingin masuk kesana tidak dipungut biaya sama sekali.


Tetapi, karena sekolah milik Xavier perlahan menjelma menjadi salah satu sekolah favorit, membuat banyak siswa dari kalangan atas yang masuk kesana dan karena hal itu Xavier memberlakukan biaya bagi siswa menengah keatas,uang tersebut digunakan Xavier untuk keperluan sekolah.Untuk menengah kebawah Xavier memberikan beasiswa full,bagi mereka yang ingin masuk ke sekolahnya.


"Untuk semua itu tidak perlu kujabarkan semuanya padamu Kai. Kau pasti sudah mengetahui semuanya, yang aku ingin beritahu adalah penyebab aku berubah seperti sekarang, itu karena seseorang yang amat sangat kucintai." Mata Xavier menerawang, mengingat masa lalunya.


"Orang itu begitu berarti bagiku, dia istriku, Maurin. Gadis sederhana dengan segala daya tariknya. Dia lembut, namun bisa menjadi sosok yang keras dan itulah daya tariknya. Secara tidak sengaja dia masuk ke kehidupanku, perlahan namun pasti dia mulai memasuki ruang hatiku. Kami menikah, awal pernikahan kamu bahagia hingga ada orang ketiga yang datang." Wajah Xavier terlihat mengeras dan Kai bisa rasakan kalau Xavier sangat membenci 'orang ketiga' yang enggan dia sebut namanya.


"Orang ketiga itu berasal dari masa laluku,dia sebenarnya sudah hadir sebelum Maurin hadir. Aku meninggalkannya karena kupikir aku hanya main-main saja dengannya, apalagi kehadiran Maurin menyadarkanku kalau hubunganku dengan orang ketiga itu salah." Xavier menatap Kai dalam.


"Nyatanya orang ketiga itu tak setuju dengan keputusanku, dia hadir saat aku sudah menikahi Maurin dengan dalih dia sudah berubah dan sudah menerima kalau aku ditakdirkan untuk Maurin. Dia mlai mengeluarkan semua rencana busuknya, dia membuat hubunganku dan Maurin renggang.Dia menghasutku,mengatakan kalau Maurin tidak benar-benar mencintaiku, mengatakan kalau Maurin menikahiku hanya karena harta. Aku percaya dengan segala ucapannya,karena dia memberikan bukti padaku. Kami menjadi sering bertengkar, puncaknya ketika ibuku meninggal dan Maurin dituduh sebagai pembunuh ibuku."Xavier mengusap sudut matanya yang berair.

__ADS_1


"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Kai yang menjadi penasaran dengan kisah Xavier dan Maurin.


Xavier menengadahkan wajahnya keatas, berusaha agar air matanya tak terjun bebas membasahi pipinya.


Huh


"Setelah itu, aku dengan bodohnya percaya dan menuduh Maurin sebagai pelakunya. Entah bagaimana, Maurin tiba-tiba menghilang setelah aku menyatakan kalau aku mempercayai Maurin sebagai pelaku pembunuhan ibuku, saat itu aku marah dan makin percaya kalau Maurin memang bersalah." Xavier menunduk.


Kai mengusap bahunya.


"Aku saat itu kalap dan tidak memikirkan keadaan Maurin yang sedang mengandung anak pertama kami, yang ada dalam hatiku hanya amarah, amarah yang membara. Sehingga aku memutuskan untuk tidak mencari Maurin dan membiarkan dia diluaran sana dengan buah hatiku."


Kali ini, air mata Xavier luruh. Dia tersenyum miris, Kai menatap Xavier yang sampai meneteskan air mata. Dia makin penasaran apakah Maurin memang dalang pembunuhan ibu Xavier? Atau itu hanya fitnah yang diberikan oleh si 'orang ketiga' tadi?


"Setelah satu bulan, aku baru mengetahui kalau ternyata Maurin tidak bersalah. Bahkan, Maurin yang mencoba untuk menyelamatkan ibu. Si 'orang ketiga' dialah penyebab dan otak dari semuanya, dia yang membuat ibu meninggal dan memfitnah Maurin." Xavier mengusap air matanya yang tumpah begitu banyak.


"Aku menghukum 'orang ketiga' itu, kemudian mencari keberadaan Maurin. Tapi, aku terlambat. Hatiku hancur mengetahui Maurin meninggal dan mayatnya ditemukan warga mengambang disungai di bawah jurang. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya, karena jasad Maurin dimakamkan sebulan sebelum aku mengetahui semuanya."


Mata Kai membulat, dia tidak pernah tahu kalau Xavier mempunyai kisah cinta yang tragis.


"Yang paling membuatku sedih adalah, saat mengetahui Maurin ditemukan dengan kondisi perut rata dan itu mengindikasikan kalau dia sudah melahirkan buah hati kami, tapi aku tidak tahu dimana keberadaannya, apakah dia selamat? Atau justru ikut menyusul Maurin.Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun aku mencari namun nihil, aku tidak menemukan anak kami."


"Penyesalanku seakan tidak ada gunanya, karena semua sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi." Xavier kembali menatap Kai yang tangannya masih setia mengusap-usap bahunya.


"Kau harus percaya pada pasanganmu, Nak. Apapun yang terjadi, mungkin sekarang istrimu masih belum mengatakan menerima cintamu, tapi percayalah dia hanya tidak menyadari rasa cintanya padamu. Dia membatasi dirinya untuk tidak mencintaimu, tugasmu adalah menyadarkannya dan ingat landasan sebuah hubungan adalah kepercayaan! Ingat baik-baik dan jangan biarkan ada 'orang ketiga' dalam hubungan kalian, atau kau akan menyesal sama sepertiku, haha."


Xavier mungkin terkekeh diujung ucapannya, namun Kai tahu kekehan itu mengandung kemirisan serta kesedihan di dalamnya.


__ADS_1


__ADS_2