
BRAK
Kai dan Heera mendobrak pintu dan akhirnya mereka berdua bisa keluar dari ruangan dimana mereka disekap.
Mereka berdua menatap Listia dan Lionel yang tengah menatap mereka dengan melipat tangan di dada. Listia dan Lionel menggelengkan kepala mereka setelahnya menghela nafas.
“Kalian makanlah!” ucap Listia, dia lantas menggandeng tangan Lionel dan melangkah menuju ruang makan.
Heera menatap Kai,Kai lantas memegang tangan Heera agar mengikutinya.
“Ayo! Ikuti saja mereka, daripada kau digantung,” bisik Kai.
“Kai…? Mam masih bisa mendengar suara bututmu!” ucap Listia dari kejauhan.
Kai memutar bola matanya jengah. Dia lantas buru-buru membawa Heera agar mempercepat jalannya. Dia sudah lapar sekarang. Heera hanya mengikuti saja kemana Kai membawanya,lagi pula dia tidak hafal tempat ini.
Heera memperhatikan sekitar, rumah yang lumayan eh bukan lumayan,tapi sangat besar menurut Heera. Banyak sekali barang-barang antik dan lukisan yang dipajang, serta interior yang menurut Heera begitu memanjakan mata
dengan kemewahannya.
“Duduklah!” pinta Kai yang suda menarikkan kursi meja makan agar Heera bisa duduk di sana.
“Oh,makasih,” ucap Heera. Dia lantas duduk kemudian tersenyum sedikit canggung pada Listia dan Lionel yang memperhatikannya.
“Tidak perlu canggung seperti itu,sayang. Makanlah dengan nyaman seperti di rumahmu sendiri. Di sini kau adalah putrinya,kau sudah
seperti putri kami,” ucap Listia sambil tersenyum manis.
Mendengar ucapan seperti itu dari Listia membuat Heera sangat bahagia dan tanpa sadar senyumnya merekah dengan sangat lebar.
“Makasih banyak, Ma-Mam,” ucap Heera dengan sedikit gugup.
“Jangan gugp begitu! Ayo, makanlah!”
“Mam, kau sama sekali tidak cocok jika seperti itu,” cibir
Kai. Tangannya kini sibuk memberikan makanan ke piring Heera. Kai rasa Heera
ikut akan sungkan, jadi biar dia yang mengambilkan makanan untuk Heera.
Listia mendelik pada Kai. “Kau ini, julid…sekali Mirip siapa sih?” gerutu Listia.
“Seperti Mam,” ucap Kai dan Lionel berbarengan.
Hah?
Listia terperangah, kenapa mereka bisa menjawab berbarengan…?
Heera sedikit menahan tawa melihat wajah terkejut Listia.
“Kau! Jangan tertawa,” ucap Listia pada Heera.
Heera seketika menghentikan tawanya, dia meliihat mata Listia yang melotot padanya sedikit membuat Heera takut dan canggung lagi.
__ADS_1
“Aduh…jangan takut begitu sayang…mam hanya bercanda,” ucap Listia yang merasa bersalah. Dia pikir Heera tidak akan menganggap serius
omongan dan pelototannya barusan. Karena Listia sebenarnya sedikit bercanda.
Heera tersenyum pelan, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Makanlah!” ucap Kai pada Heera.
Setelah selesai dengan acara makan mereka, Listia lantas mengajak Heera untuk mengikutinya ke kamarnya, sedangkan Kai mengikuti papanya yang akan membahas masalah bisnis dengannya.
Listia berjalan kearah lemari lantas membawa sesuatu dari dalam lemari tersebut. Heera menatap apa yang di bawa oleh mertuanya itu.
“Heera…? Lihatlah ini,” ucap Listia sambil duduk di atas ranjang.
“Kemarilah! Duduk disamping Mam,” pinta Listia lagi saat melihat Heera masih bergeming di tempatnya.
Heera lantas berjalan dan duduk di samping Listia di atas ranjang.
“Lihatlah, ini adalah foto Kai saat waktu kecil,” ucap Listia sambil menunjuk sebuah foto anak kecil yang tengah memegang permen
dengan bibir tersenyum lebar menampakkan gigi ompongnya.
“Hahaha, ini Kai…?” tanya Heera.
“Dia lucu bukan…?” tanya listia.
Heera menganggguk dengan tawanya, Listia lantas membuka halaman album lainnya yang memperlihatkan foto-foto masa kecil, remaja, sampai dewasa.
“Dia kenapa bisa sangat menggemaskan saat kecil? Tapi,kenapa sekarang malah sangat menyebalkan?” ucap Heera tanpa sadar, dia kemudian menutup mulutnya saat sadar kalau dia mencibir seorang anak di depan ibunya
“Hehe, maaf Mam,” ucap Heera pelan.
“Haha, tidak apa-apa…dia memang sangat menyebalkan sekarang. Apa kau tau? Dia bahkan sekarang sering sekali membuat mam mengelus dada, dengan semua tingkahnya yang tiba-tiba. Bagaimana bisa dia tiba-tiba saja menyamar menjadi seorang montir tanpa memberitahu mam dan papa,” ucap Listia.
“Jadi, Kai tidak memberi tahu Mam terlebih dahulu?”
“Tidak! Dan itu membuat Mam sangat kesal dan ingin memukul kepalanya, tapi selalu tidak jadi karena Mam sayang padanya dan nggak mau kepalanya jadi benjol karena pukulan mam…,” ucap Listia sambil menatap sayang
pada foto Kai.
Heera hanya bisa terkekeh, rasa sayang ibu pada anak…oke,dia paham.
Tok…tok…
Heera dan Listia mengalihkan pandang mereka ke arah pintu dimana Kai dan Lionel berdiri.
“Sedang membahas apa?” tanya Kai.
“Kepo!” jawab Listia dan Heera.
Lionel menahan tawanya, mampus. Jangan pernah mengganggu perempuan jika mereka sedang sibuk. Lionel lantas masuk ke dalam dan duduk di
samping Listia.
__ADS_1
Kai mendengus melihat ayahnya menertawakan dirinya, dia lantas berjalan ke samping Heera. Dia penasaran apa sebenarnya yang mereka lihat sampai sekarang dia melihat ke-tiga orang itu tertawa.
Mata Kai membulat saat melihat fotonya yang tengah menangis dengan air liur menetes keluar, buru-buru Kai merebut album tersebut,
menutupnya lantas menyimpannya ke-atas lemari.
Heera dan Lionel tertawa melihat tingkah salting Kai,sedangkan Listia menatap tidak suka pada anaknya itu.
“Kai…? Apa yang kau lakukan…?” protes Listia.
Kai mengusap kasar wajahnya,lantas menyugar rambutnya ke belakang. “Apa yang mam lakuin…?” tanya Kai dengan mengeram kesal.
Listia menaikkan sebelah alisnya.
“Memangnya kenapa?” heran Listia.
“Itu sangat memalukan…Mam…!” Kai mengeram kesal, bagaimana bisa mam-nya itu memperlihatkan foto masa kecil yang menurut Kai itu aib baginya. Bagaimana bisa dia dulu menangis dengan air liur yang sampai menetes
keluar…?
“Menurut Mam itu lucu, bukannya memalukan!” ketus Listia.
Heera dan Lionel kembali menertawakan wajah kusut Kai.
Di belahan dunia lainnya, Angra mengeram kesal saat mendapatkan kabar kalau Heera pergi ke luar negeri. Angra pikir bagaimana bisa
Heera bersenang-senang di atas penderitaannya?
“Bagaimana bisa kau pergi ke luar negeri sedangkan kehidupan rumah tanggaku di ambang kehancuran…Heera…?” teriak Angra.
Angra masih sangat kesal dengan kejadian dia yang gagal menabrak dan menghilang nyawa Heera.Dia juga kesal dengan Nathan yang semakin hari makin menjadi saja dan tidak hentinya mengkhianati dirinya dengan
mengencani banyak Wanita di luar sana.
Angra mengambil ponsel dari dalam tasnya, lantas mendial salah satu kontak yang dia punya.
Tut….
“Hallo?” ucap Angra pada orang diseberang.
“Hallo, Bos?” tanya orang di seberang.
“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?” tanya Angra.
“Tergantung bayarannya,” jawab orang di seberang.
“Tenang, soal itu aku pasti membayar kalian sesuai dengan hasil kerja kalian!” ucap Angra.
“Baiklah, apa yang harus kami lakukan?” tanya orang di seberang.
“Kau celakai orang yang Bernama Heera, dia sekarang ada di negara H.Aku akan mengirimkan fotonya pada kalian dan tenang untuk masalah paspor dan segala yang berhubungan dengan keberangkatan kalian akan aku urus,”ucap Angra dengan seringai tipis di wajahnya.
“Baik, tunggu kabar baiknya!”
__ADS_1
Tut