
Heera dan Kai berjalan bersama masuk ke dalam rumah, tak disangka begitu rumah tertutup, Heera menyerang Kai.
Bugh
Kai membalas serangan Heera, sehingga sekarang, pasangan suami istri itu saling memukul dan menendang di dalam kontrakan yang tak terlalu besar.
Beberapa kali Kai menepis serangan Heera, tetapi dengan brutal Heera kembali melayangkan serangan bertubi-tubi. Kai merenggangkan tubuhnya, dia menatap Heera tajam, begitu pula sebaliknya. Keduanya berhadapan dan memutar, menunggu celah memutar, sampai Kai melayangkan pukulan pada Heera.
Bugh
Hampir saja perut Heera terkena serangan Kai, tetapi dia berhasil menghindar. Kai mencoba menyerang Heera lagi.
Bugh
Bugh
Bugh
Perkelahian di antara keduanya berlangsung cukup lama, sampai Heera keluar sebagai pemenang. Dia menanyakan pada Kai, apa saja yang sudah mereka ketahui.
"Katakan, apa saja yang sudah kalian ketahui, tetapi tidak kalian beritahukan padaku!?" tanya Heera dengan kekesalannya. Memangnya dia tidak tahu apa? Dia tadi hanya pura-pura tak mendengar, berharap kedua orang itu jujur, nyatanya tidak sama sekali!!
"Heh? Jadi karena itu?" cibir Kai.
"Akh...." Kai meringis saat Heera memperkuat pegangannya.
Tak
Bugh
Kai merubah keadaan dan membuat Heera kini di bawah kendalinya.
__ADS_1
"Sekarang, bagaimana? Apa kau masih mau melawan?" Kai menyeringai senang.
"Kai! Lepaskan aku!"
Kai berdecak, "Melepaskan mu? Apa tadi kau juga melepaskanku? Tidak, bukan?"
Heera mendengkus mendengar ucapan Kai yang terasa menyebalkan baginya. Kenapa dia bisa lengah, sehingga Kai bisa balas menyerangnya?
"Katakan, apa kau ingin kita melakukan malam pertama sekarang?" Kai berbisik lirih di telinga Heera, membuatnya merinding.
"Ap-apa yang kau katakan!? Aku ti--
"Sttt...! Tidak ada penolakan! Kita suami istri dan sudah seharusnya!" Kai memotong ucapan Heera dengan menyeringai senang.
Kena kau! Batin Kai berucap.
Di sisi lain, Ray yang mempunyai janji dengan calon mertua, ralat mertua abal-abal. Siapa lagi kalau bukan ayah Ajeng? Pria tua itu menelponnya dan mengatakan padanya ingin memancing bersama. Sungguh menyebalkan! Jika saja dia tidak punya belas kasih, Mungkin sudah dia tolak mentah-mentah, tetapi karena dia punya belas kasih, akhirnya mau tak mau Ray pun ikut memancing bersama ayah Ajeng.
Mereka memancing di sungai yang lumayan jauh, cukup membuat Ray kesal. Kenapa harus di tempat yang agak jauh dari kota? Pikir nya. Padahal, di kota juga bisa, 'kan?
"Oh, ayah? Kapan kita sampai? Kenapa lama sekali?" gerutu Ray. Dia sudah biasa memanggil ayah Ajeng dengan sebutan ayah. Yah, itu karena beliau yang memaksa, jadi? Yah, ikuti saja, toh dia tidak rugi.
"Kau ini, baru berjalan segini saja sudah mengeluh! Mengerjakan pekerjaan susah dari Bos gilamu saja, kau tidak mengeluh! Kenapa saat ini kau mengeluh?" Ayah Ajeng balas menggerutu.
Ray memutar bola matanya, baiklah! Baiklah, dia memang robot! Tak pantas mengeluh, PUAS!?
"Kenapa dengan wajahmu?" Mata ayah Ajeng memincing menatap Ray, membuat Ray memberikan senyuman paksanya.
"Tutup mulutmu! Sangat tidak enak dipandang!" cibirnya sebelum kembali berjalan.
Wajah Ray seketika berubah datar, dia menatap punggung ayah Ajeng dengan seksama, bak harimau yang mengintai mangsanya.
__ADS_1
Dasar pak Tua! cibir balik Ray dalam hati.
Setelah perjalanan melelahkan bagi Ray, akhirnya mereka berdua sampai juga di sungai. Melihat air sungai yang begitu jernih, membuat Ray ingin segera melompat ke dalamnya, tetapi ayah Ajeng melarangnya dengan dalih, takut airnya kotor dan mereka tidak bisa memancing jika airnya kotor.
"Kenapa sangat ribet?" gerutu Ray.
"Kau ini, terus saja mengeluh! Tidak diizinkan menikah dengan Ajeng, tau rasa kau!"
Ray memutar bola matanya, memangnya siapa yang ingin menikah dengan anak situ? Kira-kira begitulah arti tatapan Ray pada ayah Ajeng.
Ray mengusap kasar ajanya, kemudian ikut duduk di pinggir sungai bersama ayah Ajeng.
Lama mereka memancing, tetapi tak kunjung mendapatkan ikan, hanya sampah saja yang mereka dapat.
"Kenapa hanya sampah saja?" gerutu Ayah.
"Huh, entahlah! Bukankah ayah yang meminta ke sini?" sahut Ray yang juga sudah lelah.
***
Waktu malam pun tiba, di kamar sebuah kontrakan, Heera terlihat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sedangkan Kai terlihat memeluknya dari belakang.
Permata bening terlihat keluar dari mata indah Heera. Dia tak menyangka, ancaman Kai tadi benar-benar Kai lakukan. Statusnya kini sudah tak perawan lagi.
"Maaf, maafkan aku, sayang. Tapi ini harus kita lakukan demi masa depan kita," bisik Kai setelah mengecup rambut Heera.
Tangan Heera mengepal mendengar ucapan Kai itu. Masa depan? Apa dia bodoh? Tidak!!
"Jangan kau berlindung di balik alasan itu, hanya untuk menutupi naf**mu, Kai!" Heera membentak Kai, meski tak dengan suara lantang.
Kai mengeratkan pelukannya pada Heera, dia tau memaksa adalah hal salah. Tetapi, bukankah mereka sudah sah? Lagi pula, ada satu alasan khusus dia melakukan ini.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku sekali lagi," bisik Kai sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk Heera. Bisa Heera rasakan, tengkuknya basah.
Apa di menangis?