
Note: Untuk yang sudah baca bab sebelumnya, bisa baca kembali yah, author sedikit merubah isi babnya, semalam buru-buru jadi tidak sempat revisi dan baru direvisi barusan.
Selamat membaca🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aduuh...! Pah! Berenti Pah!" Ajeng sedikit berteriak sambil terus mengikuti Prasetyo yang menjewer Ray dan menyeretnya keluar dari kafe.Kejadian tersebut sontak menyita perhatian para pengunjung.
"Diem kamu Ajeng! Papa mau kasih pelajaran sama buaya ini!"
"Awsss... aduh, Pak! Sakit ini!" Ray meringis, bagaimana dia tidak meringis kalau Prasetyo menjewer kupingnya dengan sangat keras, bahkan Ray sampai mengangkat bahunya, agar bisa mengurangi rasa sakit, jaga-jaga juga, takut kupingnya copot.
"Cemen sekali!!"
"Aaakhhhh..!" Ray makin berteriak kesakitan.
"Aduuhh.. Paaaah...!?" Ajeng berusaha melepaskan tangan Prasetyo dari telinga Ray.
"Hei! Lepaskan Ajeng!" Prasetyo mendelik pada Ajeng.
"Nggak mau!! Papa lepasin Ray dulu dong, ah!" Ajeng menatap kesal pada Prasetyo.
"Ck! Kenapa belain dia sih,Ajeng!? Kamu tidak lihat? Dia bahkan tidak mau menikahi kamu!" Prasetyo berdecak, dia melepaskan tangannya dari kuping Ray.
Ray memegang kupingnya yang pasti memerah sekarang.
"Ajeng, emang nggak mau nikah Pah!"
Mata Prasetyo melotot seketika. "Kenapa tidak mau hah?"
"Pokoknya nggak mau titik." Ajeng membawa Ray agar mengikutinya ke mobil.
"Kamu akan menyesal Ajeng!" teriak Prasetyo, namun Ajeng tidak mendengarkan perkataannya.
Ajeng dan Ray melangkah ke mobil Ajeng yang diparkirkan tepat di bawah pohon besar, agar mobilnya tak kepanasan.
Di Negara H
Kai yang tengah berbaring di atas ranjang memegang kepalanya yang terasa begitu pening, matanya mengerjap. Kai berusaha bangun dia menatap sekeliling, dia seperti tidak asing dengan ruangan ini.
Kai hendak turun dari atas ranjang, namun seketika dia terpaku merasakan sebuah tangan kecil melingkar di perutnya.
Kai menatap tangan yang melingkar di perutnya lantas melihat siapa pemilik dari tangan tersebut.
Mata Kai membulat, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Heera," gumam Kai.
Kai menepuk pipinya beberapa kali, "Ini bukan mimpi."
"Heera ini, kau!?" Kai langsung memeluk tubuh Heera erat, dia menghujani wajah Heera dengan kecupan.
Heera yang masih berada di alam mimpi merasa begitu terganggu dengan kecupan yang Kai berikan.
"Emh...." Heera membuka matanya perlahan, betapa terkejutnya Heera saat melihat wajah Kai yang begitu dekat dengannya.
"KYAAAA.....!"
__ADS_1
"KYAAAA....!"
Kai yang terkejut karena Heera berteriak malah ikut berteriak.
Bugh
Bruk...
"Aduuuhh...., pantatku!" Kai meringis saat pantatnya mencium lantai dengan sangat keras.
Heera yang memeluk erat tubuhnya sedikit kaget mendengar suara ringisan Kai.
"Kenapa pria itu mempunyai suara yang mirip dengan Kai?" Heera bertanya pada dirinya sendiri.
"Dan kenapa aku malah tidur sekamar dengannya? Oh, Heera!? Apa yang kau lakukan?? Bagaimana kau akan memberitahu Kai nanti, Heera...bagaimana dengan nasibmu? Apa Kai masih mau menerima mu?" Heera malah bermonolog.
Mendengar perkataan konyol Heera, membuat Kau sedikit geram.
"Hei! Kau sudah selesai menggerutu, Hah? Aku suamimu, kenapa kau malah mendorongku?" Kai berkata sedikit keras pada Heera.
Heera membulatkan matanya, dia lantas bergeser ke tepi ranjang.
"Ah? Kai? Bagaimana kau bisa berada di sana?" Heera buru-buru turun dari atas ranjang dan membantu Kai berdiri.
"Kau masih bertanya? Ini semua karena dirimu!" ketus Kai.
"Maaf," ucap Heera pelan dia lantas kembali membantu Kai berdiri.
"Maaf, maaf, maaf. Memang mudah mengatakan maaf!" Kai terus saja menggerutu.
Heera tidak menanggapi ucapan Kai. Dia yang sudah mendudukkan Kai diranjang, hendak pergi ke kamar mandi namun Kai malah mencegahnya.
"Ke kamar mandi!"jawab Heera seadanya.
" Tunggu dulu!" Kai malah menarik tangan Heera dan membuat Heera mau tak mau duduk di sampingnya.
Heera menatap malas pada Kai.
"Katakan, kemana kau dua hari ini?" Kai menatap lekat wajah Heera.
Heera melirik Kai sebentar, dia lantas menunduk, "Aku juga tidak tahu. Saat itu orang yang menculik ku membuat diriku pingsan dan aku tidak tau apa yang terjadi tau-tau tadi pagi aku berada di hotel ini."
Kai mengangguk, sekarang dia tahu siapa pelaku penculikan Heera. Oh, apa sekarang masih bisa di sebut sebagai penculikan?
"Kau sendiri, Kai?" Heera balas bertanya pada Kai.
"Aku?" Kai menunjuk dirinya sendiri dan Heera mengangguk.
"Aku tentu saja karena mencari mu,makanya aku bisa ada disini." Kai berkata dengan sangat percaya diri.
Kai berdiri dari duduknya,rasa sakit di bokongnya masih terasa tetapi Kai masih bisa manahannya.
"Kau siap-siaplah! Kita ada janji hari ini!"
Heera menatap heran pada Kai,sedikit jengah juga.Bukankah mereka masih marah-marahan? Kenapa sok akrab seperti itu?
Kai terlihat masuk ke dalam kamar mandi. Heera mencibir pelan.
__ADS_1
Ceklek
"Kyaaaa...! Pakai bajumu Kai!! Kenapa kau tidak memakai baju!?" Heera menjerit kaget saat melihat tubuh bagian atas Kai yang tidak memakai apa-apa menyembul dari pintu kamar mandi.
"Mengapa begitu heboh? Hanya aku yang tidak di baju saja, 'kan? Lebai!" cibir Kai.
"Tau!" ketus Heera yang masih kesal dengan Kai.
"Hei! Ambilkan baju dan handuk untukku!" perintah Kai.
"Ba--
" Itu! Kau ambil dari sana!" Kai menunjuk koper yang dia yakini miliknya.
"Mana??" Heera bertanya dengan mata tertutup.
Ck
"Bagaimana kau bisa melihatnya jika matamu saja kau tutupi Heera?"
"Tapi, aku tidak ingin melihat tubuhmu! Kau masuk saja lagi ke kamar mandi."
Kai memutar bola matanya, dia lantas menurut dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Mendengar suara pintu ditutup, Heera lantas melepaskan tangan yang menutupi wajahnya. Matanya melihat koper yang Kai maksud, tanpa berlama-lama dia langsung mengambil pakaian Kai.
Tok... tok... tok...
"Kai..? Ini bajumu!"
Kai yang sudah memakai sabun, lantas menghentikan kegiatannya. Dia pun membuka pintu.
ceklek.
Heera lansung memejamkan matanya, sedikit geram juga, kenapa Kai tidak memakai baju? Untung hanya pakaian atasnya yang dibuka, kalo semuanya, bagaimana?
Kai menggelengkan kepalanya melihat Heera malah menutup mata.
"Mana?" Kai dengan sengaja tidak langsung mengambil pakaian tersebut.
"Kai...? Dimana, nih? Kok bajunya nggak diambil-ambil?" Heera menyodor-nyodor pakaian tersebut.
Kai malah menghindar,dan mundur selangkah.
"Majuan dong Heera! Nggak bisa diambil nih!"
"Mana??" Heera malah mengikuti ucapan Kai, dia maju satu langkah.
"Maju lagi Heera!"
"Ish..... Maju aja teruss...!? Kai..? Apa kau mengerjaiku?" ucap Heera kesal.
"Sini!" Kai masih mempermainkan Heera, bahkan sampai membuat Heera masuk kedalam kamar mandi.
Heera yang mulai sadar tengah dibodohi lantas langsung saja memberikan melemparkan baju Kai sembarang.
"Heera? Apa yang kau lakukan...? Itu-- aduuh... perih bangettt!" Kai yang berusaha menghindar dari baju yang Heera pakai malah membuat baju tersebut nyasar ke kepalanya dan membuat busa yang ada di kepala Kai turun mengenai wajahnya.
__ADS_1
Makasih buat yang udah kasih like, baca, plus masukin favorit😍🥰