
Tidak seperti hari kemarin,Hari ini Heera bangun lebih pagi.Ia memutuskan untuk mulai merubah dirinya.
Heera kini tengah menyapu lantai, Charlie yang baru saja bangun menaikan sebelah alisnya, karena Heera sudah bangun.
"Sudah bangun rupanya? baguslah! kali ini jangan merusak isi kontrakanku!" Ketus Charlie.
Heera hanya mengangguk, Ia masih takut dengan Charlie. Heera berjanji kali ini dia tidak akan berbuat kesalahan.
Akhirnya dengan kerja keras Heera bisa membereskan rumah tanpa membuat kekacauan. Ia pun memutuskan untuk memasak.
"Lho, kok nggak ada yang bisa di masak?" monolog Heera. Ia mencari-cari sesuatu yang hendak di masak namun tidak ada.
"Haha, kali ini bagaimana kau akan menyelesaikannya?" Gumam Charlie menyeringai. Ia sedang mengintip Heera dari pintu dapur.
"Aku harus minta pada laki-laki itu, siapa tau dia punya uang." Gumam Heera.
Charlie yang mendengar gumaman Heera, bergegas duduk di ruang tamu. Charlie menatap Heera yang berjalan ke arahnya dengan takut-takut.
Cih! Dia ini pandai sekali berakting! Dia menjebakku menikah dan akan kupastikan Dia tidak akan pernah bisa lepas dariku! Batin
Charlie.
"Emh, Tuan!" Panggil Heera takut.
"Jangan memanggilku Tuan! Orang akan mengira aku menjadikanmu budak di sini! panggil Charlie! namaku Charlie! ingat itu!" Perintah Charlie.
"Baiklah, Charlie! aku mau memasak, namun di dapur sama sekali tidak ada apa-apa."Ucap Heera takut-takut.
"Apa!? ah iyah, aku lupa persediaan bulanan udah abis, tapiii aku sama sekali tidak mempunyai uang." Jawab Charlie pura-pura kaget.
Heera menghala nafas.
"Apa kau sama sekali tidak mempunyai uang?"
"Apa kau menuduhku berbohong?" Ketus Charlie.
"Ti--tidak, bukan itu maksudnya,maksudku jika kau tidak mempunyai uang, aku akan memecahkan celenganku." Cicit Heera.
Cih sok lugu
"Oh, Hem, aku memang tidak mempunyai uang sama sekali!"
"Baiklah, aku akan memecahkan celenganku saja." Ucap Heera sebelum akhirnya pergi ke kamarnya.
Charlie menggeleng pelan setelah Heera tidak ada.
"Aku harus memecahkan celengan ini!" Gumam Heera.
"Cece, maaf yah, Heera pecahin!" Ucap Heera pada celengan itu.
Bruaakk...
Celengan itu pecah dan keluarlah semua isinya. Banyak sekali pecahan uang dua puluh dan lima puluh ribuan.
"Uuh, aku bisa belanja dengan ini." Gumam Heera.
Dia benar-benar memecahkan celengan itu? Batin Charlie yang tengah mengintip Heera.
Charlie menegakan tubuhnya begitu Heera keluar kamar.
"Apa aku boleh pergi?" Tanya Heera.
"Memangnya kau tau di mana membelinya?" Tanya Charlie balik tanpa menjawab Heera.
Heera menggeleng. Charlie mengehela nafas.
"Aku akan mengantarmu!" Ucap Charlie kemudian mengeluarkan motornya.
"Cepatlah!!" Teriak Charlie dari luar, karena Heera malah melamun.
"Kenapa lama sekali?" Gerutu Charlie.
"Maaf." Cicit Heera sambil naik ke atas motor Charlie.
__ADS_1
Buk
Begitu Heera duduk di atas motornya, Charlie merasakan guncangannya.
Berat sekali tubuhnya! bahkan ketika duduk di atas motor, aku bisa merasakan guncangannya batin Charlie.
Sampai di pasar, Charlie menyuruh Heera belanja sendiri, sedangkan Ia akan menunggu.
Heera pun menurut saja, dengan apa yang dikatakan Charlie. Ia cukup paham tentang pasar, karena dulu maminya kadang mengajak Ia ke pasar.
Selesai dengan semua belanjaannya, Heera mencari-cari Charlie namun Charlie tidak ada sama sekali.
"Kemana Charlie?" tanya Heera pada dirinya sendiri. Ia kini tengah berdiri di pinggir jalan.
Tin... tin....
Heera melihat mobil yang menklakson padanya. Kaca mobil itu perlahan terbuka. Penampakan di dalamnya membuat Heera memalingkan muka.
"Hei, jangan begitu Heera! bagaimana pun aku masih keluargamu! begitu pula Nathan yang sekarang jadi keluarga mu! Dia sepupu iparmu!" Ucap Orang yang berada di dalam mobil, yang ternyata adalah Angra.
Heera tidak menanggapi ucapan Angra.
"Sombong!" Cibir Nathan.
"Ck, biarkan saja Nathan! kasihan dia telah mendapat banyak sekali kesialan.Setidaknya dengan sikapnya itu bisa mengurangi sedikit kekesalannya."
"Begitukah?" Tanya Nathan.
"Tentu saja..... Tidak!! Hahahaha."
"Kau benar!"
Heera membiarkan saja mereka tertawa, Ia lebih fokus mencari di mana Charlie.
"Heera, ini undangan untukmu! kebetulan sekali kita bertemu di sini! datanglah dengan suami miskinmu itu! acaranya malam nanti! Aku sengaja mempercepat acaranya!agar kami bisa cepat pergi berbulan madu, bukan begitu, sayang?" Angra mencoba memanas-manasi Heera. Ia mengundang Heera ke acara resepsi pernikahannya.
Heera menerima saja undangan itu.
"Tentu saja!" ucap Nathan dan dengan tidak tahu malunya, Nathan menge*up bibir Angra tepat di hadapan Heera. Membuat Heera memilih pergi dari sana.
Heera menggerutu karena Charlie tidak ada dimana-mana. Ia sudah mencari ke setiap sudut parkiran pasar itu, namun nihil.
Akhirnya Heera pun memutuskan untuk pulang dengan menggunakan angkutan umum. Beruntung Heera masih ingat jalan menuju kontrakan Charlie.
Sesampainya di kontrakan, Heera sangat kesal karena ternyata Charlie malah enak-enakan tertidur di kursi ruang tamu. Ingin sekali Heera protes pada Charlie, namun Ia masih takut dengan bentakan Charlie. Daripada terkena marah, Heera pun memutuskan untuk memasak.
Charlie yang tengah tertidur mencium bau masakan yang sangat harum. Ia pun lantas bangun dan ternyata semua makanan sudah tersaji di hadapan nya.
"Eh, kau sudah pulang?" Tanya Charlie dengan watadosnya.
"Sudah." Jawab Heera singkat karena masih kesal.
Charlie lantas pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya, setelah itu dengan santainya Ia langsung memakan makanan yang sudah Heera masak. Heera diam - diam menggerutu.
"Kenapa malah melamun? kau tidak lapar?" Tanya Charlie karena Heera tak kunjung makan.
Tanpa menjawab Heera pun memakan makanannya. Selesai makan, Heera membereskan semuanya.
Heera duduk di samping Charlie yang tengah memainkan ponselnya.
Charlie menatap heran Heera yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Charlie.
"Aku ingin memberikan ini, undangan dari Kak Angra dan Kak Nathan." Ucap Heera pelan sambil memberikan undangan itu.
Charlie menaikan sebelah alisnya "Untuk apa?"tanyanya datar.
"Un-un-untuk datang ke sana!"
"Kau masih ingin datang ke sana? bodoh! tidak usah pergi, biarkan saja!" Ucap Charlie sembari berlalu menuju kamarnya.
"Aku akan tetap pergi ke sana. Aku ingin memastikan sesuatu." Gumam Heera.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke bengkel, mungkin akan pulang malam." Ucap Charlie yang baru keluar dari kamar dan langsung pergi begitu saja.
"Syukurlah kalau dia akan pulang malam."
Malam harinya, Heera benar-benar pergi ke acara resepsi pernikahan Angra dan Nathan.
Heera naik ke angkutan umum, tanpa Heera sadari, Charlie melihat kepergiannya.
"Bodoh! kenapa masih nekat pergi?" gerutu Charlie.
Heera masuk ke ballroom hotel tempat pesta Angra dan Nathan diadakan.Bebarapa tamu yang kenal dengannya mencibir Heera, karena kabar burung yang beredar mengatakan kalau Heera lah, yang selingkuh.
Heera mengabaikan mereka dan langsung naik ke altar di mana Angra dan Nathan berdiri dengan penuh rona kebahagiaan. Angra melihat Heera mendekat. Ia mengkode pada Nathan dan Nathan mengerti kode dari Angra.
"Kak Angra, ini kado dariku. Selamat!" Heera memberikan kadonya dan menjabat tangan Angra.
"Makasiih banyak Heera, karena mau dateng." Ucap Angra sambil memeluk Heera.
Tindakan Angra itu membuat citra Heera menjadi lebih jelek.
"Angra baik sekali, dia sampai memeluk Heera seperti itu." ucap seorang tamu.
"Iyah, dasar tidak tahu diri, sudah muka cacat, gemuk, selingkuh lagi! tidak ada yang bisa diharapkan dari Heera." Timpal satunya.
Heera yang berada dalam pelukan Angra merasa ketakutan karena ada seekor Laba-laba yang menggantung dibelakang tubuh Angra. Reflek, Heera mendorong Angra.
"Aaahhh, Heera!!" Teriak Angra. Nathan menangkap tubuh Angra yang hendak jatuh.
"Apa yang kau lakukan Heera!!?" Bentak Nathan.
Heera tidak menjawab, karena tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdetak lebih cepat, keringat dingin keluar dari tubuh Heera.
Para tamu sontak terkejut dengan apa yang dilakukan Heera.
"Heera, jika kau membenciku, maafkan aku.Jika kau masih ingin bersama Nathan, silahkan saja, Aku tidak apa-apa. Tapi, tolong jangan membenciku." Ucap Angra sendu, Ia mencoba mendekat pada Heera, namun Heera malah berjalan mundur.
"Tidak!! Jangan!!!" Teriak Heera.
Tubuh Heera semakin tidak dapat dikondisikan, Ia phobia laba-laba. Sedangkan tepat di atas kepala Angra bergelantung laba-laba kecil dan dari meja tamu tentu saja laba-laba itu tidak terlihat, mereka menyangka Heera sengaja mendorong Angra.
"Lihatlah, wanita itu. Angra sudah sangat baik padanya!"
"Dia malah seperti itu, dasar!"
Angra memegang tangan Heera dan membawanya untuk mendekat, namun Heera malah kembali mendorong Angra.
"Akhh." Ringis Angra.
"Heera!! kau sudah keterlaluan!! Penjaga!! bawa wanita ini keluar!!!" Teriak Nathan.
Dua orang penjaga datang, mereka menyeret Heera tak peduli dengan tubuh Heera yang sudah bergetar dan berkeringat.
"Hei!! lepaskan dia!!" Bentak Charlie.
Dua penjaga itu langsung melepaskan Heera. Charlie mendekat pada Heera, Ia bisa melihat Heera begitu tidak fokus sekarang.
"Tenanglah!" Bisik Charlie sambil memeluk Heera. Heera balas memeluk Charlie dengan erat.
"A--aku sangat takut dengan laba-laba itu." Bisik Heera.
"Ohh, ternyata selingkuhannya juga datang, baguslah! Kau bawa pergi wanita itu dari sini! untuk apa datang kemari jika hanya ingin membuat keributan!" Teriak Nathan.
Charlie menatap tajam pada Nathan. "Tidak perlu kau usir, kami juga akan pergi! dan asal kau tahu,suatu hari semua akan tahu siapa yang menjadi pengkhianat nya!" Jawab Charlie tegas kemudian pergi membawa Heera.
Charlie sebenarnya masih ingin memberikan pelajaran pada Nathan, hanya saja kondisi Heera lebih penting.
Tepat saat keluar ballroom, Heera langsung pingsan dan membuat Charlie harus menahan bobot tubuhnya yang tidak ringan itu.
"Dia ini, sungguh merepotkan! sudah kubilang untuk tidak datang kemari!" gerutu Charlie.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" Tanya Ray. Charlie sengaja menyuruh Ray menyusulnya.
"Kau tidak lihat? Aku harus menahan si gendut ini? ini sangat berat! cepat, bantu aku!!" bentak Charlie.
__ADS_1
Ray hanya bisa pasrah mendapatkan bentakan Charlie. Ia pun membantu Charlie mengangkat Heera.