
Matahari bersinar dengan sangat terik siang ini. Kai dan Heera berjalan mengendap-endap di belakang kontrakan milik Kai. Keduanya kini tengah bersembunyi dari Baron yang berada di depan kontarakan mereka.
Kai dan Heera sedikit heran, untuk apa Baron menemui Heera?Biasanya Angra lah yang selalu mencari masalah dengan Heera. Kenapa sekarangmendadak Baron yang mencari masalah?
“Apa mereka masih ada di depan?” tanya Heera dengan suara pelan.
“Masih,” jawab Kai yang matanya kini tengah mengintip ke depan. Kai dan Heera harus bisa masuk ke dalam rumah agar Baron tidak mengetahui identitas aslinya. Jangan sampai Baron melihatnya dengan penampilan
seperti ini.
“Kau membawa kuncinya?” tanya Heera lagi.
“Tentu saja,” jawab Kai sambil menunjukkan kunci di tangannya. Kebetulan kontrakannya ini tidak mempunyai pintu di bagian belakang,tetapi adanya di samping. Sehingga, mau tak mau mereka mengendap-endap terlebih
dahulu.
“Bos, mereka sepertinya tidak ada-ada.”
Kai dan Heera dapat mendengar dengan jelas suara anak buah Baron yang berbicara pada Baron.
“Apa anak itu masih belum pulang? Bagaimana mungkin? Kenapa lama sekali? Lalu, bagaimana dengan suaminya? Kemana dia?” kesal Baron.
__ADS_1
“Kai, cepetan!” pinta Heera dengan suara berbisik.
“Bentar,” jawab Kai yang mendadak sedikit kesusahan untuk membuka pintu.
Heera memandang kaget saat melihat beberapa orang hampir mendekat pada mereka. “Kai, buruan! Mereka dateng,” panik Heera.
Ceklek
Kai berhasil membuka pintu, dia lantas buru-buru membawa Heera masuk ke dalam kontrakan. Dengan perlahan,Kai menutup pintu agar tidak didengar oleh Baron dan anak buahnya.
Baron yang masih ada di depan kontrakan Kai,lantas mendekat.
Brak…Brak…Brak….
BRAK…BRAK…
“Buka…! Siapapun yang ada di dalam!” teriak Baron lagi.
Kai dan Heera yang ada di dalam saling menatap, Heera menuntut Kai. Dia ingin tahu keputusan apa yang akan Kai ambil.
“Biarkan saja,” ucap Kai yang sekarang malah mengambil headset lantas memasukannya ke telinganya.
__ADS_1
Heera menatap penuh kesal pada Kai, apa-apaan laki-laki itu?Heera hendak melangkah ke pintu depan, tetapi Kai malah melarangnya.
“Mau kemana kau?” tanya Kai dengan sedikit panik.
“Bukain pintu,” sahut Heera.
Mata Kai melotot, “Dasar bod**! Kau mau bunuh diri? Biarkan saja dia berkoar-koar di depan, nanti pergi sendiri.”
Heera berdecak,tapi apa yang Kai ucapkan ada benarnya. Akhirnya,Heera pun memilih membiarkan Baron di depan. Asal dia tidak masuk ke dalam kontrakan sudah untung.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya suara Baron tidak terdengar lagi. Kai dan Heera bersyukur Baron akhirnya pergi. Mereka menduga,kira-kira apa yang membuat Baron mencari Heera? Apa mungkin Baron tau kalau
Heera dan Kai yang membuat skandalnya terbuka? Itu tidak mungkin, mereka sudah mengerjakan semuanya dengan sangat rapi. Tidak mungkin sampai kecolongan.
“Kai?” panggil Heera.
“Hem…,” jawab Kai dengan gumaman. Karena dia kini tengah terlentang sambil memejamkan matanya dengan tangan di kanan disimpan di atas wajahnya,menutupi matanya yang tengah tertutup.
“Kenapa kau mengajakku untuk cepat pulang?” tanya Heera yang sudah begitu penasaran dengan Kai yang mendadak mengajak pulang. Mendengar ucapan Heera, seketika membuat Kai teringat akan Ray dan hal apa yang akan dia sampaikan.
“Mana handphoneku?” tanya Kai sambil bangun dari posisinya.Tangannya mencari kesana kemari di mana letak ponselnya.
__ADS_1
“Apa yang kau cari? Ponselmu ada di saku celanamu Kai!” ucap Heera yang gemas dengan tingkah bodoh Kai. Kai menepuk keningnya, dia lupa.