
Di sebuah ruangan kerja dengan nuansa modern, cat dinding berwarna abu-abu dengan beberapa furniture pelengkap ruangan kerja di dalamnya, ruangan tersebut terlihat “wah” tetapi orang yang berada di dalamnya membuat ruangan tersebut tak “wah” lagi dengan rencana busuk yang dia buat.
“Bagaimana? Apa kalian sudah bergerak?” tanya Baron pada anak buahnya melalui sambungan ponsel.
“…”
“Bagus, lakukan dengan rapi dan jangan sampai ada yang tau!” perintah Baron setelah mendengar jawaban dari anak buahnya.
Tut
Sambungan ditutup, senyum penuh kelicikan terbit di bibirnya. Baron melihat foto keluarga yang menggantung di ruangannya. Foto tersebut berisi dia, Anne, Angra, Karan, Kara dan Heera. Potret dua keluarga, dia sengaja menyimpannya di sana, agar dia selalu mengingat apa saja yang sudah dia perbuat untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi di perusahaan tersebut.
“Karan, anakmu mungkin cerdas. Namun sayang, dia tak lebih cerdas dariku,” ucap Baron menatap foto Karan.
__ADS_1
Baron berdiri dari duduknya, melangkah ke jendela yang mengarah ke jalanan, dia melihat banyak mobil dan motor berlalu lalang.
“Heera, hari ini kau dan suamimu akan tamat. Paman tidak akan membiarkan satu-satunya bukti kejahatan paman terbongkar dan tersebar.” Baron menarik nafas dalam-dalam, anak buahnya akan membakar kontrakan Heera malam ini. Dia sengaja melakukan ini agar kunci yang Heera pegang lenyap bersama Heera dan suaminya.
Kunci yang dititipkan Karan pada Heera, dia tidak mungkin lupa. Karan menyimpan semua bukti kejahatannya. Bukti kejahatan kalau dia sudah membunuh anak sulung Karan, bukti kalau dia menjalankan bisnis illegal dengan
menjual gadis-gadis keluar negeri, bukti kalau dia berulang kali berusaha menjatuhkan bisnis milik Karan. Semua itu ada pada Karan, jika saja dua tahun lalu dia tak membuat Karan dan Kara meninggal dengan memberikan racun arsenik, mungkin sekarang dia tidak akan berada di sini, melainkan di penjara.
“Tidak kau, tidak istri kau, anak kau pun begitu menyusahkan, Karan,” ucap Baron menahan geram, tangannya mengepal. Sudah berapa kali dia berusaha, tetapi tak membuahkan hasil. Mungkin cara terbaik adalah dengan
***
Di kontrakan Heera, Kai dan Heera terlihat tidur di kamar yang sama, tetapi Kai tidur di kursi, berbeda dengan Heera yang tidur di atas ranjang. Di luar kontrakan, beberapa orang menyiramkan bensin ke seluruh kontrakan. Tak lama, mereka melemaparkan beberapa korek api yang sudah disulut. Api mulai menjalar, sedangkan Kai dan Heera masih berada di alam mimpi, tak menyadari apa yang terjadi.
__ADS_1
Keesokan paginya, berita kontrakan Heera yang terbakar menyebar. Kebakaran tersebut tidak hanya membakar kontrakan Heera, tetapi merembet ke beberapa kontrakan lain di sampingnya. Dua orang dikabarkan tewas dalam kebakaran tersebut.
"Coba ulangi apa yang kau sampaikan?" pinta Baron pada sang asisten.
"Nona Heera dan suaminya menjadi korban, Tuan," jelas sang asisten.
Baron seketika tertawa bahagia. Itu berarti semua kejahatannya aman dan dia tidak akan pernah kehilangan semua kekayaan ini.
"Haha, bagus! Bagus! Ini adalah berita yang bagus sekali," ucap Baron dengan tawa jahatnya.
Di sisi lain, Ray dan Ajeng menatap tidak percaya pada kontrakan Heera yang hangus terbakar.
"Heera...! Kagak mungkin...!" teriak Ajeng. Dia hendak masuk ke dalam bangunan sisa kebakaran, tetapi Ray mencegahnya.
__ADS_1
"Lo, mau kemana!? Jangan nekat!" bentak Ray pada Ajeng.