Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Baron yang menghamili Ishani


__ADS_3

Tok.... Tok.... Tok...


Pintu terdengar di ketuk, tanpa menunggu perintah dari Kai, Ray langsung berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek


Terlihat Mervan dan Daniel berdiri bersama seorang kepala pelayan.


"Tuan, mereka ingin bertemu dengan Tuan Kai," lapor sang kepala pelayan.


"Kau boleh pergi," ucap Ray sambil menganggukkan kepalanya. Kepala pelayan tersebut mengangguk, lantas pergi dari sana.


"Masuklah!" ucap Ray pada keduanya.


Mereka lantas masuk dan setelah Kai menyuruh mereka duduk, mereka pun duduk.


"Apa kalian menemukan sesuatu tentang orang tua Heera??" tanya Kai.


Mervan dan Daniel serempak menggeleng.


"Kami masih mencari tahu untuk hal itu, tapi kami menemukan sesuatu yang sangat menarik," ucap Daniel dengan sedikit seringai di wajahnya.


"Semenarik apa, sesuatu tersebut sampai Kau menyeringai bagitu, Kak?" Bukan Kai maupun Ray yang bertanya, melainkan Heera yang tau-tau sudah ada di sana.


Mervan, Daniel, Kai dan Ray menatap pada Heera yang berjalan bersama Ajeng.


Mereka berdua duduk di kursi yang tersisa. "Jadi, hal apa itu?" tanya Heera lagi.


Mervan dan Daniel saling pandang, apa Heera akan percaya pada berita yang mereka bawa? Atau malah akan marah?


"Alah, ngomong aja kok susah amat!" cibir Ajeng dengan mencebikan bibirnya.


"Nyaut aja Lo!" kesal Daniel.


"Udah, kak! Biarin aja.Ajeng, cepat katakan!"


Huft


"Kami menemukan kalau, kalau,ka--lau,"


Plak


"Kenapa jadi gagap?" kesal Ajeng, ia dengan sengaja menepuk dengan sangat kencang tangan Daniel.Daniel melotot tajam pada Ajeng, namun saat ia hendak membalas, Ajeng sudah lebih dulu menjauh dan pertanyaan Heera masih belum ia jawab.


"Jadi, gini Heera.Ishani bukan hamil oleh Nathan, melainkan oleh ....


Mervan menjeda ucapannya, ia melihat pada Kai, Ray, Heera dan Ajeng satu persatu.


" Siapa, cepetan...!Lama amat!"gerutu Ajeng.


"Ini, Baron lah yang menghamili Ishani," ucap Mervan cepat.

__ADS_1


Kai, Ray, Heera dan Ajeng tentu saja kaget bukan main, mata mereka melotot bahkan sepertinya bisa keluar dari kelopak mata.


Brak


"Jangan bercanda Lo!" sergah Ajeng sambil menggebrak meja, membuat semua yang ada di sana terjengkit kaget.


Pletak


Ray dengan sengaja menyentil kening Ajeng.


Plak


"Sakit tau!" gerutu Ajeng.


"Duduklah!" ucap Kai,membuat Ray yang hendak membalas Ajeng langsung duduk. Begitupun Ajeng, mereka agak segan melihat tampang Kai.


"Bang,apa itu benar?" tanya Heera, ia sedikit shock. Darimana pamannya itu bisa kenal dengan Ishani.


Mervan mengeluarkan ponselnya dan menyimpan ponsel tersebut di atas meja.


"Lihat video ini," ucap Mervan sambil memutar sebuah video.


Divideo tersebut, terlihat seorang wanita menyatakan kalau ia adalah sahabat Ishani, dengan tampang ketakutan ia menceritakan bagaimana Baron dan Ishani bertemu, berawal dari sebuah kerjasama, hingga berakhir dalam hubungan ONS, dia mengaku menjadi saksi kisah Ishani dan Baron, sampai Ishani memutuskan bunuh diri karena Baron tidak mau bertanggung jawab dan ia tidak mau Nathan mengetahui perselingkuhannya.


Setelah melihat video tersebut, Heera menghela nafasnya, begitu pula Ajeng dan Ray. Tidak dengan Kai yang nampak sedikit tenang.


"Sebentar, kalian dapat video ini darimana?"tanya Heera.


" Kami, mencari tahu saat kalian ke desa dan mengenai video itu, kami mengancamnya, dia sebenarnya yang mengenalkan Ishani pada Baron dan karena takut di salahkan, ia lantas mengakui semuanya, bersedia menjadi saksi, tapi dengan syarat wajahnya tidak ingin terekspos,"jawab Mervan.


Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, sepertinya banyak sekali teka-teki yang bbelum terbongkar disini.


"Kita bisa jadikan ini sebagai pion," ucap Kai dengan seringai di wajahnya.


Ajeng, Mervan, Daniel, Ray dan Heera seketika menatap Kai.


"Bagaimana caranya?" tanya mereka serentak.


"Siapa disini yang mempunyai kemampuan meretas paling hebat?"Bukannya menjawab, Kai malah balik bertanya.


" Daniel!"ucap Mervan, Ajeng dan Heera.


Kai menatap Daniel, ia lantas menunjuk Daniel dengan bolpoin yang tengah ia pegang.


"Kau bisa publish video itu, sebarkan! Tapi, blur kan wajah perempuan dalam video tersebut," ucap Kai pada Daniel dan tanpa banyak berfikir Daniel langsung menyetujui.


"Ajeng?" panggil Kai, membuat Ajeng menatap nya.


"Apa?" tanyanya.


"Kau menyamarlah menjadi emh, siapa yah? Sebutkan nama panjangmu!" perintah Kai.

__ADS_1


"Buat apaan? Jangan aneh-aneh deh!" kesal Ajeng.


Kai menatapnya datar, "Apa kau tidak ingin membantu Heera?" tanyanya.


"Mau lah!"


"Yasudah, beritahu nama panjangmu!" perintah Kai.


"Ajeng Pramesti Ramadhani," ketus Ajeng.


Kai menjentikkan jarinya. "Kau menyamar jadi Mesti, seorang model baru dan kau akan mendekati Nathan!"


Mata Ajeng seketika membulat sempurna, bagaimana bisa ia yang tomboi menyamar menjadi gadis feminim?


"Nggak mau! Nggak mau!" tolak Ajeng mentah-mentah.


"Kau tidak mau membantu Heera?"


"Bukannya tidak mau, tapi masalahnya, menjadi gadis feminim? Hei! itu bukan diriku!" ketus Ajeng.


Kai memijit pelipisnya, ternyata menyuruh Ajeng melakukan sesuatu yang tidak disukainya, susah juga.


"Biar aku saja!" ucap Heera cepat dan tentu saja, ucapan tersebut di tolak mentah-mentah oleh Kai.


"Tidak-tidak!" tolak Kai.


Akhirnya, setelah perdebatan.Di temukan siapa yang akan menyamar menjadi Mesti dan seperti perintah awal Kai, yang akan menjadi Mesti adalah Ajeng.


Setelah Ajeng setuju, Kai lantas memberi tahu peran masing-masing pada Mervan, Ray dan Heera, dan mereka setuju.


Setelah semua orang kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, bahkan Ajeng pun sudah pamit pulang, Heera duduk di ruangan Kai, lantas membaca buku diary, buku diary tersebut milik mami Kara.


Dalam sampul buku tersebut tertulis "Dua Bulan Purnama" tulisan tersebut dicetak tebal, lantas dibawahnya tertulis "Berlian dan Cahaya" tulisannya kali ini dicetak kecil.


"Kau sedang apa?" tanya Kai yang sibuk dengan laptopnya.


"Buku mami," jawab Heera tanpa mengalihkan pandangannya dari buku diary tersebut.


Heera terkekeh dan itu membuat Kai menatapnya, Kai sedikit heran apa yang lucu dalam buku itu pikirnya.


Kening Heera mengernyit, saat melihat di setiap halaman dalam buku terdapat tulisan kecil. Bunyi tulisannya "Berlian dan Cahaya ૭,૭"


"Apa ini?" gumam Heera, karena merasa asing dengan tulisan "૭,૭" yang ada diujung kalimat Berlian dan Cahaya.


Kai yang merasa Heera sepertinya hanya fokus pada buku saja, merasa sedikit kesal.


"Kau sedang apa?" tanya Kai.


"Membaca, apalagi?" jawab Heera sekenanya, karena ia masih fokus pada tulisan di buku Kara.


Kai yang merasa di abaikan makin kesal, apalagi ketika Heera berbicara tanpa melihat wajahnya. Kai lantas bangun dari duduknya, ia berjalan ke arah Heera yang tengah duduk di sofa.

__ADS_1


"Eeeh ...!" kaget Heera, saat Kai merebut bukunya begitu saja.


"Kenapa?"tanya Heera heran, kepalanya mendongak menatap Kai.


__ADS_2