Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Gertakan untuk Angra


__ADS_3

"Diam!" Ray memakai pemberat suara, membuat suaranya terdengar lebih berat.


"Siapa kau? Hah? Lepaskan aku!! Kenapa kau melakukan ini?" teriak Angra.


Plak


Plak


"Diam! Kau harus menerima balasan dari apa yang kau lakukan!" bentak Ray.


"Kau tau, kau itu begitu licik!" Ray mencengkram kedua pipi Angra, membuat Angra sedikit meringis.


"Leuwpawskan awkuuu!" Angra berbicara tidak jelas, karena pipinya masih di cengkram Ray.


"Hahaha, tidak semudah itu!"


Ray melepaskan cengkraman tangannya, kini tangannya beralih pada rambut Angra, lantas Menjambaknya.


"Akh...!" Angra meringis.


"Sekali lagi kau berbuat macam-macam, kuhabisi kau!"


Kai terkekeh-kekeh mendengar bentakan Ray, bagaimana bisa Ray membunuh Angra? Sedangkan dia saja paling sulit jika harus mengangkat tangan pada seorang wanita.


"Kau hanya menggertakku!" teriak Angra tidak ada takut-takutnya sama sekali.


Ray tak menanggapi teriakan Angra, dia hendak keluar meninggalkan Angra, namun sebelum itu dia sempat berkata.


"Bersiaplah! Kau akan menemui temanmu sekarang!"


Ray keluar dari ruangan tersebut, setelahnya Angra mendengar suara aungan harimau.


"Hah? Suara apa itu?" teriak Angra.


Suara aungan harimau kembali terdengar.


"Apa, a--apa apa itu harimau!? Siapapun! Tolong aku!!! Hei!! kalian lepaskan aku!!" teriak Angra, tangan dan kakinya bergerak-gerak berusaha melepaskan tali.


Graaauuummm

__ADS_1


Raungan harimau kembali terdengar, membuat Angra ketakutan setengah mampus.


"Siapapun...! Tolong!! Singkirkan harimau itu!! Bawa aku pergii...!!"


Grauuummm....


Suara harimau semakin mendekat dan membuat Angra makin ketakutan.


"Lepaskan.... aku...!!!"


Setelahnya Angra tidak ingat apapun, dia pingsan.


Malam harinya, Kai dan Ray dibuat kalang kabut karena Heera menghilang.


"Bagaimana ini, Ray? Kemana Heera?" ucap Kai frustasi, dia mengacak rambutnya.


Ray tak kalah frustasinya dari Kai, dia benar-benar khawatir sekarang. Apalagi, dia yang sudah menyuruh Ajeng untuk membawa Heera.


Mengingat Ajeng, Ray baru sadar kalau Ajeng juga tidak ada.


"Saya menga---


" Saya menga--- apa Ray? Kau mau mengatakan apa?" tanya Kai gemas sendiri dengan perkataan Ray yang menggantung.


"Itu, Ajeng juga tidak ada. Apa kita hubungi saja dia?" Akhirnya Ray berkata seperti itu saja, daripada kena amukan Kai.


"Kau, benar! Cepatlah!" Kai buru-buru berlari keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil, diikuti Ray.


"Kau tau alamat Ajeng?" tanya Kai.


"Tentu, kau lurus saja dulu," jawab Ray.


Akhirnya, dari arah yang Ray katakan, mereka sampai di apartemen milik Ajeng.


Ray dan Kai naik ke dalam lift apartemen. Setelah sampai di lantai dimana apartemen Ajeng berada, mereka berdua pun melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa keluar dari lift.


Tok.... Tok....


Ray dan Kai mengetuk pintu apartemen Ajeng, namun belum ada tanda-tanda kalau Ajeng akan membuka pintu.

__ADS_1


Tok... tok... tok....


"Ajeng...!? Buka...!!!" teriak Kai yang sudah tidak sabar.


"Ajeng...!?" teriak Ray dengan suara yang tak sekeras Kai.


Brak... Brak.. Brak...


Saking tidak sabarnya, dari sebuah ketukan, Kai merubahnya menjadi sebuah pukulan.


"Ajeng...!!"


Brak... Brak...


"Woy!! Berisik!" ucap tetangga sebelah dan itu membuat Ray meminta maaf. Terlihat tetangga itu mengancam Ray dan Ray hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Ajeng yang ada di dalam, mengerjap kala mendengar suara-suara berisik.


"Aishh..., sakit banget nih...." Ajeng memegang kepalanya yang pusing. Dia lantas bangkit setelah dirasa pusingnya sedikit menghilang.


"Ajeng...!!"


Brak


Brak


"Buka...!"


Ajeng berdecak dan buru-buru berjalan menuju pintu, dia masih tidak sadar kalau Heera tadi diculik.


Ceklek


Tangan Kai yang hendak menggebrak pintu malah....


Plak


Menampar wajah Ajeng.


"Si*lan.. periiih....!"

__ADS_1


__ADS_2