Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Mencari tahu dalang kecelakaan satu tahun lalu


__ADS_3

Brakk


Heera dan Charlie jelas terkejut dengan pintu yang tiba-tiba dibuka. Buru-buru Charlie bangun dari atas tubuh Heera.


"Malah enak-enakan iindiaan! sedangkan kita pusing awasin tuh si Angra ama si Nathan!" Gerutu Ajeng.


Heera gelagapan dengan ucapan Ajeng, beda halnya dengan Charlie yang nampak biasa-biasa saja.


Mervan dan Daniel memilih langsung duduk tanpa berkomentar seperti Ajeng.


Charlie ikut duduk bersama mereka. Heera pun membawa Ajeng untuk duduk di ranjang.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Heera.


"Yap, seperti dugaan kita, mereka ketar-ketir liat lo udah berubah." Jawab Ajeng.


Heera menundukan kepalanya, kembali ragu dengan niatnya.


Ajeng menatap Mervan, Daniel dan Charlie satu persatu, menanyakan pada mereka Heera kenapa,lewat tatapan matanya.


Mereka serempak menggeleng.


"Heera? lo kenapa?" Tanya Ajeng.


"Aku bingung, mengapa mereka membenciku?" jawab Heera pelan.


Ck


"Yah, pasti karena iri sama lo, lah!" ketus Ajeng.


Heera mengernyit, iri karena apa? pikirnya.


"Lo bingung iri karena apa?" Tanya Ajeng.


Heera mengangguk.


"Mereka iri karena kamu punya segalanya dan hidup sempurna, Heera!" Ucap Mervan.


Heera melihat pada Mervan.


"Heera, kau tidak boleh ragu untuk membalas mereka! kau harus ingat, Orang tuamu yang meninggal! kau harus ingat pengkhianatan mereka! ingat, itu Heera!! kau harus merebut kembali apa yang menjadi hakmu!" timpal Daniel.


Heera memejamkan matanya, benar! dia tidak boleh lemah, demi mami dan papinya. Charlie memperhatikan Heera dengan seksama, banyak hal yang berseliweran sekarang dikepalanya.


Huft


"Jadi, apa yang akan kita lakukan, selanjutnya?" Tanya Heera menatap mereka sambil tersenyum.


Merekapun kembali tersenyum. Ajeng merangkul Heera.


"Gitu, dong!" Ucap Ajeng.


"Angra dan Nathan pasti akan merencanakan sesuatu kepadamu, apalagi kau sudah membuat mereka sudah kepanasan melihat dirimu yang sudah berubah." Ucap Mervan.


"Jadi, kita............


Merekapun mulai merancang strategi apa saja yang akan mereka lakukan untuk membalas Angra dan Nathan.


Pagi pun tiba, hari ini Heera akan diantar oleh Charlie.


Dikarenakan hari ini hari senin, membuat suasana jalan menjadi ramai yang mengakibatkan kemacetan panjang.


Heera dan Charlie kini tengah terjebak macet, mereka menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.

__ADS_1


Tin -Tin


Suara klakson mobil itu membuat Heera dan Charlie melihat pandangannya pada pelaku.


"Kasihan sekaliii, harus panas-panasan, yah?" Ejek Angra.


Charlie dan Heera memilih tak menanggapi.


"Cih! miskin aja belagu!" Cibir Angra.


Heera dan Charlie masih mengabaikan ucapan Angra.


"Dasar! yang satu miskin, yang satu bisa cantik karena hasil jual diri! cih pasangan yang sempurna! kau sebagai laki-laki tak tahu malu, membiarkan istrimu dijamah oleh banyak pria!"Cibir Angra lagi.


Charlie memegang stir motornya kuat agar Ia tak kelepasan untuk memukul mulut berbisa milik Angra. Heera juga tak kalah kesal dengan ucapan Angra itu, namun Ia harus bersabar, bukan saatnya membalas.


Lampu merah pun berubah menjadi warna hijau. Charlie segera melajukan motornya, daripada terus mendengarkan bacotan Angra yang tidak bermutu itu.


Sampai diperusahaan, Heera turun dari motor Charlie.Sedangkan Charlie kembali melajukan motornya.


Heera masuk keperusahaan, Ia bertemu dengan Ray.


"Hah! kau datang juga Nona!" Ucap Ray.


"Iyah, ada apa?" jawab Heera.


"Aku ingin menanyakan beberapa hal pada Nona!apa Nona bisa mengikutiku sebentar?" Pinta Ray.


"Tentu saja boleh."


"Baiklah, ikut denganku!" Ajak Ray, Heera lantas mengikuti kemana Ray membawanya dan ternyata Ray membawa Heera keruangannya.


"Duduklah, Nona!" Ucap Ray


"Nona, apa saat kecelakaan Nona merasakan kejanggalan?" Tanya Ray.


"Untuk apa kau menanyakan itu, Ray?" Tanya Heera balik.


Huft.


"Apa Anda tidak melihat siapapun saat kecelakaan itu terjadi?" Tanya Ray.


Heera tertegun, Ia mulai kembali mengingat kejadian satu tahun lalu.


Flashback on


*Heera yang saat itu duduk di kursi belakang masih sadar.


Ia melihat orang tuanya sudah tidak sadarkan diri. Belum ada siapapun yang membantu mereka.


Heera melihat siluet beberapa orang seperti sedang mengangkut sesuatu. Namun Ia tidak bisa melihat mereka dengan jelas, karena kepalanya yang berdenyut hebat.


Hingga Heera pun mendengar bunyi sirine di mana-mana, serta suara orang yang berisik. Setelah itu, Ia kehilangan kesadarannya*.


flashback Off


"Apa ada kejanggalan Nona?" Tanya Ray lagi, karena Heera tak kunjung menjawab.


"Ada beberapa orang yang aku lihat, namun aku tidak tahu siapa mereka, mereka seperti sedang menggotong sesuatu dan aku tidak tahu apa itu." Jawab Heera.


"Menggotong sesuatu?" Tanya Ray memastikan.


"Iyah,aku sebenarnya sudah tahu siapa dalang kecelakaan itu." Ucap Heera pelan.

__ADS_1


Ray terkejut.


"Kau sudah tahu?" Tanya Ray


"Iyah, dan aku belum memberitahumu dan Charlie." jawab Heera pelan.


"Biar kutebak,bukankah orang itu Nathan?"


"Bagaimana kau tahu?"Tanya Heera terkejut.


Huft


" Kami mengetahuinya beberapa waktu lalu.Yang ingin aku cari tahu bukanlah itu! aku curiga dalang kecelakaan itu bukan hanya satu orang."


"Maksudnya?"


"Aku mencurigai seseorang, namun belum bisa kusebutkan! dari penjelasanmu, bisa kusimpulkan kalau orang yang menggotong sesuatu itu adalah anak buah Nathan."


"Iyah, itu benar!"


"Kalau begitu aku akan mengumpulkan bukti lebih banyak lagi. Terimakasih waktunya, Nona."


"Tidak masalah, kalau begitu aku permisi!"


"Silahkan!"


Heera keluar dari ruangan Ray, Ray menatap kepergian Heera dengan berbagai macam pertanyaan dikepalanya.


Heera masuk kedalam ruangan Kai, dan seketika Ia tersentak kala Kai berdiri dihadapannya dan menatapnya tajam.


"Bagus, dari mana saja kau?" Tanya Kai.


"Apa kau senang mengobrol begitu lama dengan Ray?" Ketus Kai.


"Ck! kau terlalu berlebihan! aku sama sekali tidak mengobrol dengan Ray! hanya sedikit diskusi!" Jawab Heera tak kalah ketus.


"Itu sama saja!" Ucap Kai kesal.


"Jelas berbeda! mengobrol itu membicarakan orang lain, sedangkan diskusi itu membicarakan suatu masalah, agar ditemukan jalan keluarnya!"


"Tapi, tetap saja sama - sama berbicara, bukan? sama-sama mengeluarkan suara dan membuat mulutmu berbusa, karena terlalu banyak bicara!" Ketus Kai.


"Terserah, kau!" Jawab Heera,kemudian duduk di sofa ruangan Kai.


Kai ikut duduk di samping Heera, kemudian dengan santainya Ia menidurkan kepalanya di paha Heera.


"Apa yang kau lakukan?" Panik Heera, Ia tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya.


"Sebentar saja!" jawab Kai kemudian membalikan badannya, sehingga kepalanya menghadap tepat pada perut Heera. Kai pun memeluk pinggang Heera.


"Eh? jangan begini!"


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Kai tidak suka, Ia mendongak melihat Heera kesal.


"Karena--


" Heera, aku suamimu! jadi tidak apa jika aku seperti ini padamu!"Ucap Kai memotong ucapan Heera. Ia pun kembali memeluk pinggang Heera dan membenamkan kepalanya pada perut Heera.


Semoga saja suatu hari, dalam perutmu ini tumbuh malaikat kecil kita Batin Kai.



Charlie/Kai ketika sedang menjadi montir.

__ADS_1


__ADS_2