
~Cinta~
Cinta...? Kata yang begitu tidak asing ditelinga. Katanya cinta bisa membuat seseorang buta, bahkan lupa caranya untuk menderita. Ketika jatuh cinta dunia serasa milik berdua, tidak ada mereka, hanya ada aku dan kau yang sudah menjadi kita. Semuanya terlihat menyenangkan dan membahagiakan. Namun... nyatanya itu hanya ekspektasi belaka, cinta tak semudah dan semenyenangkan itu, dalam cinta ada mencintai dan dicintai, ada juga khianat dan setia dan tentu bagi yang sudah merasa, rasanya begitu SAKIT, sakittt... sekali.
Seperti Kai, yang harus bertahan dalam salah satu yang ada dalam cinta, yaitu mencintai. Mungkin jika mencintai dibarengi dengan dicintai tak akan membuat Kai menderita, justru dia akan bahagia. Tetapi, nyatanya membuka hati Heera saja dia tidak mampu, jangankan membuka, menyentuhnya saja Kai tidak bisa dan itu membuat Kai merasakan sakit dan derita.
Kai menghela nafas, saat melihat Heera izin pergi ke toilet. Dia terlihat seperti orang konyol sekarang, mencoba membuka hati Heera dengan kepura-puraan.
Daripada nggak, batin Kai mencoba menyemangatinya dirinya sendiri.
"Kai! Setelah ini kita kemana lagi?" tanya Heera yang sudah selesai dari kamar mandi.
Kai mendongak menatap Heera, mencoba memasang raut jengah.
"Bukankah kau sedang marah padaku? Kenapa menempel terus?" cibir Kai, dalam hati Kai ketar-katir takut Heera malah memutuskan pergi kembali ke hotel.
Heera memutar matanya ke kanan dan ke kiri membuat Kai gemas.
"Aku sedang ingin keluar dan marahnya kupending dulu!" jawab Heera dengan sangat enteng, sisi childish dan labilnya mulai keluar.
Kai memasang wajah pura-pura tidak peduli, tetapi dalam hati dia bersorak kegirangan. Ada manfaatnya juga sifat kekanakkan Heera ini.
"Terserah, kau!" ucap Kai, lantas berjalan keluar darikafe tersebut.
"Eh, Kai!" Heera memanggil Kai dan mencoba mengimbangi langkahnya.
Kai pura-pura saja tidak mendengar, biar saja dia mengikutinya sekarang.
Heera buru-buru berlari saat Kai masuk ke dalam mobil, dia tidak mau ditinggalkan sendirian di sini, mana tidak tahu di daerah mana lagi.
Bugh
Hosh... Hosh... Hosh...
Nafas Heera memburu, dia begitu capek sudah berlari dengan sangat kencang. Mata Heera melirik Kai yang malah dengan santainya meminum minuman di depannya.
__ADS_1
"Bagi!" Heera langsung merebut botol minuman yang baru di minum sedikit oleh Kai, lantas segera meminumanya.
Minuman dalam botol tersebut tinggal sisa sedikit, karena diminum habis oleh Heera.
"Haaaa... lega...," ucap Heera sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Kai diam-diam tersenyum tipis, lucu melihat ekspresi Heera, tetapi kasian juga dia harus berlari.
"Kenapa tersenyum seperti itu? Kau menertawakanku?" tanya Heera dengan mendelik kesal.
"Kata siapa?" ucap Kai sambil menjalankan mobilnya.
"Kataku! Kau mau apa?" Heera berkata sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Tidak akan apa-apa, memangnya siapa yang mau melakukan apa?"
Hidung Heera kembang kempis, mendengar jawaban aneh yang keluar dari mulut Kai. Jawaban apa itu? Berbelit-belit sekali.
Plak
"Memang siapa yang menjawab salah? Kita tidak sedang mengerjakan soal Heera, jadi jangan pikirkan benar atau salah," ucap Kai dengan jawaban ngaconya.
Heera gondok setengah mati sekarang, sudahlah! Dia tidak ingin bertanya atau mengajak Kai berbicara lagi, pusing!
Kai melirik Heera yang memejamkan matanya, dia menggeleng pelan. Sebenarnya Kai sendiri jengah dengan jawaban absurd nya, tetapi... bagaimana lagi? Itu salah satu caranya agar Heera banyak bertanya padanya dan sekarang Heera malah menjadi diam, saking kesal dan pusingnya dengan jawaban absurd yang dia lontarkan.
"Heera... ?" panggil Kai.
"Heera...?" Kai kembali memanggil Heera, tetapi malah dengkuran halus yang dia dengar.
"Tidur?" Kai kaget, baru saja bangun makan sebentar, masa sudah tidur lagi?? Hebat... sekali dia, benar-benar pengangguran abadi! Mana tidurnya susah dibangunin lagi, kayak kebo aja.
Melihat Heera tidur dan dia tidak bisa mengajak siapapun lagi untuk berbicara.
Kai mengingat sesuatu, dia harus berterimakasih banyak pada mamanya. Berkat mamanya yang menculik Heera, kini dia punya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Heera.
__ADS_1
Lain tempat, lain waktu, lain pula kejadian yang terjadi. Begitulah yang terjadi saat ini, jika Kai tengah menikmati rencananya mencoba membuka hati Heera dan memperbaiki hubungannya dengan Heera, lain halnya dengan Rai yang harus menahan dirinya untuk tidak berbuat gegabah.
Ray yang diberi tugas untuk menjaga perusahaan selama Kai pergi, kini tengah menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan milik Baron.
Ray dan Baron meeting di salah satu restoran bintang lima. Di temani asisten masing, mereka pun membahas semua yang berhubungan dengan kontrak.
Semua awalnya berjalan lancar tidak ada hambatan, namun tiba-tiba Baron malah membahas tentang Nathan dan Angra membuat Ray jengah saja, sampai Baron membahas Heera dan Kai yang katanya pengkhianat dan sudah menzalimi Angra dan Nathan, huh! Rasanya Ray ingin meninju wajah Baron sekarang juga, siapa tau sesudah mendapatkan bogeman mentah, kepalanya menjadi sadar kalau buka Heera dan Kai yang berkhianat tetapi anak dan menantu kesayangannya itu.
"Maaf, Tuan Baron. Saya harus segera pergi. Obrolannya kita lanjut saja nanti." Ray langsung berdiri dari duduknya,membuat Baron ikut berdiri.
Mereka pun berjabat tangan, setelah berjabat tangan Ray dan asistennya hendak pergi. Tetapi, perkataan Baron membuat Ray ingin kembali memukul kepala Baron.
"Ah, iyah. Tuan Ray! Saya ingin mengatakan juga, bahwa menantu kesayangan saya itu tengah menandatangani kontrak kerja sama juga dengan perusahaan HeerLa company," ucap Baron dengan penuh percaya diri.
Terus? Apa hubungannya sama gue? Ingin sekali berkata seperti itu tepat di depan wajah Baron, tetapi itu tidak bisa dia lakukan yang ada nanti usaha yang mereka rencakan berakhir sebelum di mulai, karena kesalahannya yang tidak bisa menahan diri.
Ray membalikkan badanya, menatap Baron.
"Selamat." Hanya satu kata itu yang Ray ucapkan, setelahnya dia pergi dari sana.
Kembali ke negara H,Kai kini membawa Heera ke pantai. Dimana jika memakai mobil, lima belas menit dari pantai mereka akan sampai di mansion Harish yang ada di negara H.
Rencananya setelah dari pantai, Kai ingin mengajak Heera menemui keluarganya. Kai ingin Heera mulai mengenal keluarganya.
Kai mengguncangkan tubuh Heera.
"Heera...!"
"Hem...."
"Heera...? Bangunlah!!" Kai makin kuat menggerakkan tubuh Heera, tetapi Heera masih belum bangun juga.
Kesal, Kai lantas turun dari dalam mobil. Dia lantas membuka pintu mobil di mana di dalamnya ada Heera. Tanpa banyak berfikir, Kai langsung mengangkat tubuh Heera.
"Kau, ini...? Tidurmu, kenapa seperti kerbau?" gumam Kai, sambil menatap wajah polos Heera yang tertidur.
__ADS_1
Senyum kecil terbit di bibir Kai saat melihat hamparan air laut di depannya.