
Kai sampai di negara H saat pagi mulai menyingsing.
"Anda tidak akan mampir ke mansion, Tuan?" tanya salah satu bodyguardnya.
"Tidak, kita cari Heera saja," ucap Kai dengan tergesa.
Kai memasuki mobil yang sudah stay untuk menjemputnya.
"Heera... kau sebenarnya ada dimana?" ucap Kai dalam hati.
"Kita ke apartement," perintah Kai pada supirnya.
"Baik, Tuan."
Perlahan mobil Kai mulai meninggalkan bandara. Tujuan Kai saat ini adalah mencari Heera di alamat yang tertulis pada kertas yang sengaja penculik Heera tempel di mobil Heera.
Setengah jam kemudian, Kai sampai di apartemen mewah miliknya.
Kai masuk kedalam apartemen nya, buru-buru dia mandi, memakai baju dan setelah itu hendak pergi lagi, namun Kai teringat sesuatu, dia lantas kembali masuk ke kamarnya dan membawa kotak beludru berwarna biru.
"Pergi ke alamat ini!" Kai memberikan alamat yang dia dapat pada sopirnya.
Sopir tersebut mengangguk sopan, lantas melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera.
Kai menatap jalanan yang sudah beberapa tahun tak ia lewati. Sudah lama sekali sejak dia meninggalkan negara ini, negara dengan banyak kenangan didalamnya.
Cekit...
Tubuh Kai sedikit terhuyung karena mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak.
"Pak? Hati-hati!" Kai sedikit kesal dengan supirnya itu.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Tapi, itu didepan!" Supir tersebut menunjuk mobil yang tiba-tiba mendahului mobil mereka dan mendadak berhenti menghalangi jalan.
Mata Kai menyipit melihat mobil yang menghalangi jalan mereka.
Seorang pria bertubuh kekar terlihat keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil mereka.
Tok... Tok... Tok...
Pria bertubuh kekar tersebut mengetuk kaca mobil Kai pelan.
Kai membuka kaca mobilnya.
"Anda harus ikut kami!"
Kai menaikkan sebelah alisnya menatap pria bertubuh kekar di depannya.
Di belahan dunia lainnya, Ray dan Ajeng begitu disibukan dengan banyaknya pekerjaan. Pasalnya setelah Kai pergi keluar negeri, Baron terus datang dengan alasan ingin menjalin kerjasama, dan itu sedikit membuat muak.
ting
(Gue minta ketemu, di mahkota cafe)
Ray memasukkan handphone miliknya kedalam saku celana.Lantas membereskan semua barangnya yang berserakan.
Kalau saja dia tidak hutang budi pada Ajeng, sudah dia tolak mentah-mentah ajakan Akeng untuk bertemu di cafe.
"Mir?" Ray memanggil nama sekertaris Kai.
"Iya, Tuan Ray?"
"Saya ada janji diluar, semua pekerjaan dan dokumen yang menunggu untuk ditandatangani kamu simpan saja di meja Tuan Kai, oke?"
__ADS_1
"Tentu, Tuan."
Setelah mendengar jawaban Mira, Ray lantas memasuki lift untuk turun kebawah.
Ting
Ray keluar dari dalam lift, dia berjalan dengan wajahnya yang tegas, namun sesekali tersenyum pada karyawan yang menyapanya.
Bug
Ray masuk kedalam mobil, lantas menutupnya.
Tin... Tin....
Ray berdecak, tanpa melihat siapa penelpon tersebut, Ray menghidupkan earphones bluetooth yang bertengger ditelinganya.
"Ray...? Buruan ding! Gue udah nunggu nih!"
Teriak Ajeng membuat Ray mengeram kesal, pasalnya sekarang telinga Ray terasa berdengung.
"Gue, tau! Lagi gue lagi dijalan."
Ray buru-buru menutup sambungan telepon nya.
Sesampainya di kafe Mahkota, Ray pun memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam kafe. Matanya mengeliling mencari sosok Ajeng.
"Woy!! Dimari!!" Dengan tidak tahu malu, Ajeng berteriak bagai dihutan.
Ray meringis, kenapa harus berurusan dengan wanita bar-bar seperti Ajeng? Bikin malu saja, pikirnya.
Ray menghampiri meja Ajeng dengan wajah dongkol.
__ADS_1
"Akhirnya dateng juga!"