
Kai, Heera, Daniel, Mervan, Ajeng, dan Ray duduk bersama, melingkar mengelilingi meja bundar. Heera terlihat duduk sedikit lebih jauh dari Kai. Tak terima dengan apa yang Kai lakukan padanya.
Ajeng dan Ray saling melirik, keduanya kemudian melirik pada Heera dan Kai bertanya lewat tatapan mata, Ajeng ingin tahu apa yang terjadi pada Kai dan Heera.
"Ini, semua bukti yang kau minta, Kai!" ucap Mervan dan Daniel, beberapa bulan mereka berusaha dan kini mereka menemukan semua bukti yang memberatkan Angra, Anne, Baron dan Nathan.
Heera lekas mengambil salah satu bukti rahangnya mengeras. "Dari mana kalian mendapatkan semua ini?" tanya Heera.
Mervan dan Daniel saling menatap, "Ini dari apa yang disuruh Kai dan beberapa petunjuk darinya, sehingga kami bisa mendapatkan bukti-bukti ini."
Heera menatap Kai yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu menyebalkan bagi Heera. Kai terlihat merebut bukti yang barusan dipegang Heera.
"Ini, foto ini menunjukkan salah satu anak buah Baron yang sedang menggendong anak, anak siapakah ini?" ucap Kai dengan seringai di bibirnya.
"Anak buah Baron? Dari mana lo tau?" Ajeng tentu heran dengan ucapan Kai tersebut.
__ADS_1
"Anak buah Baron punya tanda di bawah telinga," jelas Daniel.
Ajeng lekas merebut foto tersebut dari Kai, memerhatikan dengan seksama, benar sekali ada tanda di bawah telinga orang tersebut.
"Jadi? Ini semua? Bukti ini buat buktiin apa? Apa maksudnya anak buah Baron menggendong anak?" Ajeng kembali bertanya.
Ray bangkit dari duduknya, menyentil kening Ajeng, dia mengambil foto yang tengah Ajeng pegang.
"Foto ini, ini adalah foto anak buah Baron menggendong kakak kandung Heera." Ray berjalan ke dekat proyektor yang sengaja dia simpan di sana.
"Ah, lihat sketsa ini!" pinta Ray pada semuanya.
"Semua yang ada di sini adalah sketsa dari trek kejahatan Baron, dia seseorang yang menjual gadis ke dunia bawah tanah, dia juga dalang kebakaran kurang lebih dua puluh tahunan lalu, ah yah dan yang sudah kalian tahu, Baron yang menjadi dalang kecelakaan Heera."
"APA!?" Heera dan Ajeng terlihat terkejut dengan ucapan Ray tersebut.
__ADS_1
Keempat pria yang ada di sana, saling melirik kemudian menatap pada Ajeng dan Heera.
"Kenapa?" Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Ray.
"Kenapa? Kenapa kau bilang? Apa Kau tidak melihat dengan jelas? Baron yang mencelakai Heera! Bukankah kalian sudah tahu?" Sekarang, Ray jadi sedikit peka jika tidak semua yang ada di sana tau mengenai hal ini.
"Kalian ternyata tidak tahu, yang menyebabkan kecelakaan adalah Baron, meski Nathan juga ikut andil. Laki-laki itu yang menyuruh sopir truk, sedangakan Baron, dia yang mencampurkan racun arsenik ke dalam minuman ayah dan Ibu Heera."
Ajeng menutup mulutnya, tidak percaya. Seperti itu ternyata kronologinya?
"Akhirnya...! Kita bisa jemblosin tuh curut dua!" teriak Ajeng penuh kebahagiaan.
"DIEM, LU!" Ray membentak Ajeng, tetapi bukannya diam Ajeng malah tertawa.
"Tenang, tenang, gue bakal paling depan buat giring tuh dua manusia tak beradab dan tak tahu malu ke dalam penjaraaa...!"
__ADS_1
Heera menutup kupingnya, teriakkan Ajeng itu begitu memekakkan telinga. Dia saja tak terlalu se-heboh ini.
"Diem lu, Jeng! Kita harus segera pikirin rencananya!" ucap Daniel melempar botol minuman pada Ajeng.