
Ajeng membantu mendorong bangsal yang di atasnya terdapat tubuh Heera yang terbaring lemah.
Air mata tak berhenti membasahi pipi Ajeng, tangannya terluhat bergetar. Sakit, takut, panik, banyak sekali hal yang Ajeng rasakan saat ini. Heera, sahanya, saudari perempuannya, terbaring dengan luka bakar di tubuhnya. Tak, kuat itulah yang dia rasakan.
"Maaf, Anda tidak boleh ikut masuk," ucap suster saat Ajeng hendak masuk.
Ajeng yang biasanya membangkang, kini menurut. Keselamatan Heera! Itulah yang ada dalam hati dan pikirannya sekarang.
"Heera, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," gumam Ajeng.
Tidak sabar dan panik, membuat Ajeng mondar mandir di depan ruang IGD. Tak, lama Mervan dan Daniel datang, mereka menanyakan keadaan Heera dan Kai.
"Bang." Ajeng tak sanggup menjawab, dia memeluk Mervan, menyalurkan rasa sedihnya. Mervan membalas pelukan Ajeng tak kalah erat, dia tahu bagaimana perasaan Ajeng sekarang.
Daniel terlihat melangkah ke pintu IGD, dia kembali berbalik dan berjalan ke dekat Ajeng dan Mervan.
"Apa Kai juga?" tanya Daniel pada Ajeng.
Ajeng seketika melepaskan pelukannya dari Mervan, menatap Daniel dengan mata sembapnya, kemudian mengangguk.
"Kai ditangani sama Ray," jelas Ajeng setelahnya.
__ADS_1
Daniel mengepalkan tangannya, dia hendak pergi dari sana, tetapi Mervan lekas mencegahnya.
"Mau kemana?" tanya Mervan dengan nada datar.
"Beri pelajaran sama orang itu!! Gue tau, pasti orang itu dalangnya!" jawab Daniel dengan nafas naik turun.
"Itu bukan cara yang tepat!" Mervan mengeratkan cengkramannya pada tangan Daniel.
Daniel menatap tidak percaya pada Mervan, "Apa kau bilang? Bukan cara tepat? Heera!! Nyawa Heera bisa saja hilang!!" kesal Daniel.
"Tetap saja! Jangan sampai amarahmu, membuat Heera rugi, Daniel!"
"Itu benar! Kau harus tenang Daniel!" sahut Ajeng.
Di sisi lain, Baron terlihat senang karena akhirnya Heera bisa dia singkirkan, "Tak disangka, semudah ini membuatmu tiada, Heera. Kenapa tidak kulakukan sejak dulu?" Senyum sinis terbit di bibirnya.
BRAK
Baron mengalihkan pandang, menatap orang yang baru saja mendobrak pintu. Melihat orang tersebut adalah Anne, membuat Baron mendengkus pelan.
"Apa benar kontrakan Heera dan suaminya terbakar!?" tanya Anne dengan nada panik.
__ADS_1
Cih!
Baron berdecih melihat ekspresi menjijikkan Anne itu, "Kau tidak perlu berpura-pura seperti itu di depanku!"
Anne memutar bola matanya, melihat tanggapan Baron padanya. Setelahnya dia menormalkan raut wajahnya. Anne lekas duduk di sofa yang ada di sana, menatap Baron.
"Aku tau, pasti kau yang melakukan semua ini. Tapi, apa kau tau kalau hanya suami Heera yang meninggal? Sedangkan Heera masih hidup?"
Baron seketika menatap tajam pada Anne, apa-apaan dia?
"Jangan coba-coba menipuku!" ucap Baron dengan rahang mengeras.
"Heh? Untuk apa aku berbohong padamu? Ini! Lihatlah!" Anne membuka ponselnya dan menunjukkan foto Heera yang dibawa ke rumah sakit oleh Ajeng.
Tangan Baron mengepal, bagaimana bisa Heera selamat? Bukankah dia sudah menyipkan semuanya sebaik mungkin? Kenapa bisa gagal?
"Kau harus bekerja lebih keras lagi, Baron!" cibir Anne, sebelum dia berdiri dari duduknya dan keluar meninggalkan Baron dengan amarah di dada.
"Bagaimana anak tidak berguna itu bisa selamat!?"
Baron mengambil ponselnya, kemudian menghubungi anak buahnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian semua tidak becus!? Kenapa Heera bisa selamat!?"