Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Rencana yang gagal 2


__ADS_3

"Laki-laki itu mau menjualku,barusan me--me--reka, mereka, hendak melecehkan dan menjual dirikuuu.... huuuuu....." sambil memegang tangan Kai dan menunduk, Heera menangis tersedu.


Semua menatap iba, pada Heera. Ray, berusaha dengan kuat agar tidak tertawa dengan akting Heera. Melihat orang lain berakting nangis dan merasa paling tersakiti,bukankah hal itu sangatlah lucu? itulah yang Ray rasakan.


"Apa, yang kau katakan!!" Sanggah Nathan.


"Itu adalah suatu kebohongan yang sangat besar!!!" Tambah Nathan dengan nada membentak.


Heera langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Kai. "Tolong." Ucap Heera lirih.


Sebagian tamu ada yang tidak suka dengan sikap Nathan, namun ada juga yang sedikit terpengaruh dengan ucapan Nathan.


Kai menatap tajam pada Nathan. "Apa benar, Anda mencoba menjual Heera!?" Tanya Kai.


"Wanita itu pembohong!! Untuk apa saya menjualnya? tidak ada untungnya!!"


"Itu benar, karena suami saya tidak mungkin melakukan itu!!" Teriak Angra,Nathan menghembuskan nafasnya. Ia pikir Angra jauh lebih manipulatif, dibandingkan dirinya. Mungkin Angra akan bisa membantunya.


Semua orang menatap pada Angra yang berdiri di pintu masuk menuju ballroom.


Heera, Ray, Kai, Ajeng, Daniel dan Mervan jelas terkejut dengan kedatangan Angra yang tiba-tiba, setau mereka, Angra tadi tengah mengobati tenggorokannya yang sakit.


Angra berjalan mendekat pada mereka semua, kemudian berdiri di hadapan Kai.


"Apa kalian tidak bisa melihat bahwa lukanya itu palsu?" Tanya Angra, Ia kemudian dengan kasar menarik Heera yang berada di belakang punggung Kai.


Plak


Dengan sekali tamparan, Heera sampai tersungkur.


"Akh." ringis Heera, Kai pun membantunya untuk bangun.


"Apa yang kau lakukan? dia akan semakin terluka!!" Teriak seorang tamu,


"Iyah, itu benar!"


Angra tertawa, membuat semua tamu menatapnya heran. Baron dan Anne hanya menjadi penonton setia di sana, mereka tidak akan ikut campur, jika masalahnya masih kecil seperti ini. Mereka yakin Angra bisa mengatasinya.


"Apa kalian, begitu bodoh? Haha, kalian tidak lihat lukanya itu palsu!"tanya Angra sambil menunjuk Heera.


"Saya tanya sekali lagi, apa kalian tidak bisa membedakan mana luka asli, dan mana luka palsu??"

__ADS_1


Di sisi lain, Mervan dan Daniel yang melihat dari CCTV begitu panik,takut kebohongan Heera akan terbongkar. Mereka tidak memperkirakan kalau Angra bisa mengobati tenggorokannya dengan cepat dan mengetahui kebohongan Heera.Sama seperti Mervan dan Daniel, Kai juga sedikit panik, karena jika kebohongan Heera terbongkar, maka ini akan semakin membuat citra Heera buruk, dan mungkin saja tujuan mereka tidak akan cepat tercapai.


"Apa Anda juga tidak bisa melihatnya, Tuan Kai?" Tanya Angra dengan nada mencibir pada Kai.


"Aaatauu, karena Heera adalah simpanan Anda?" Tambah Angra sambil menyeringai.


Para tamu jelas terkejut dengan perkataan Angra, mereka saling berbisik.


"Jaga ucapanmu!" Ucap Kai tegas dan penuh penekanan.


"Bagaimana kau bisa menyebut bahwa luka dan memar di wajah Heera itu palsu?"Tanya Miss La, yang sejak tadi hanya menjadi penonton di sana.


" Akan saya buktikan!"Jawab Angra sambil tersenyum simpul.


Angra memaksa wajah Heera agar melihat ke arahnya. Kemudian menyapit kedua pipi Heera dengan jempol dan jari telunjuknya.


"Akhhh.... " Ringis Heera.


"Hei! itu menyakitinya!!"


"Iyah, kau bisa lebih pelan!!"


Ucap beberapa tamu. Angra terkekeh,


Semua tamu saling pandang, mereka pikir mana ada luka bisa dihapus. Nathan, Baron dan Anne tersenyum sinis, Angra memang bisa diandalkan.


Kau pasti akan menanggung malu, karena kebohonganmu terbongkar Heera Batin Nathan.


"Tentu saja tidak!"


"Yah, jawabannya tentu saja tidak bisa! Kita akan buktikan sekarang!"Ucap Angra, satu tangannya lagi terulur untuk menghapus noda darah dikening Heera.


Daniel, Mervan, Ray, Kai dan Ajeng menahan nafas, bagaimana jika terbongkar? Batin mereka.


Angra lantas menghapus noda darah itu


"Akhh..." ringis Heera


Ternyata darah itu memang terhapus, namun menyisakan luka yang sedikit menganga di sana.


Angra, Nathan, Baron dan Anne memelototkan mata mereka, berbeda dengan Kai,Daniel, Mervan dan Ajeng yang menghembuskan nafas, merasa bersyukur ternyata luka itu asli, namun mereka juga khawatir, bagaimana Heera bisa mendapatkan luka itu.

__ADS_1


"Kau lihat! luka itu asli!! jangan memfitnah Heera!!"


"Iyah,apalagi kau sampai menamparnya!"


"Tidak, ini pasti tipuannya! akan kubuktikan!!"


Angra lantas menggosok memar yang ada di tangan dan beberapa bagian wajah Heera.


"Akkhhh!!! hentikan..!!! ini saakitt!" Ringis Heera.


"Tidak!! kau pasti menipu!! ini semua pasti palsu!!!" Angra masih saja terus menggosok luka memar Heera.


Kai lantas mendorong tubuh Angra "Apa yang kau lakukan? kau tidak mendengar, kalau dia merasa kesakitan?" Bentak Kai.


Angra jelas terkejut dengan Kai yang mendorongnya, untung Ia tidak jatuh karena Nathan menangkap tubuhnya.


"Anda tidak bisa kasar pada istri saya Tuan!" Ucap Nathan.


"Cih? tidak bisa kasar pada istrimu? lalu, apa yang dia lakukan pada Heera tidak kasar? jika saja saya tidak mendorongnya, mungkin luka memar Heera akan bertambah parah saat ini!"


"Sudah cukup drama ini, dari pada mencari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, lebih baik kita mengobati Heera! Saya akan membawa Heera dari sini, sekarang." Ucap Kai lagi.Ia lantas hendak meminta tamu wanita untuk membantu membawa Heera, namun ucapan Angra menghentikan niatnya.


"Tunggu!! aku masih bisa membuktikannya!! ayo kita lihat CCTV! semua ini pasti akan jelas di sana!!"


"Kau tidak lihat kondisi Heera sekarang? mengapa masih ingin membuktikan kalau Heera yang salah? jelas-jelas dia korban disini!!" Tolak Kai.


"Apa Anda takut kalau kebohongan Heera terbongkar? makanya kau menolak untuk melihat CCTV."


"Kau, menuduhku?" Tanya Kai datar.


Angra menyeringai, "Maaf Tuan! saya tidak menuduh Anda, namun saya hanya curiga mengapa Anda tidak mengizinkan untuk melihat CCTV?"


"Kau tidak mendengar dengan jelas alasanku tadi?"


"Kalau kau masih meragukannya, kau boleh melihat CCTV itu!" Tambah Kai.


Dalam hati Angra tersenyum sinis, pancingannya berhasil. Ia lantas memanggil petugas hotel agar bisa meminta rekaman CCTV nya.


Rekaman CCTV pun muncul, mereka semua menyaksikan adegan dalam rekaman itu, dimana di sana terlihat Heera yang hendak dilecehkan, kemudian melawan, namun Ia malah di tampar, dan kepalanya terbentur meja. Heera berteriak dan Ray datang, hendak membantu, namun Ia malah terkena bogem mentah. Heera memanfaatkan kesempatan itu untuk lari, namun Ia kembali tertangkap dan kembali dipukuli.


Ray yang tersungkur bangun, kemudian membantu Heera, dengan mendorong orang itu. Ray dan Heera berhasil keluar.

__ADS_1


Di rekaman lainnya, mereka bisa melihat Heera dan Ray berlari dengan dikejar oleh beberapa orang yang kini tengah mereka ikat.


Rekaman pun berakhir, para tamu bergidik, melihat Heera yang dipukuli dan hampir dilecehkan, Angra dan Nathan mengepalkan tangannya.


__ADS_2