Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 90


__ADS_3

Setelah kematian Kai, Heera menjalani kehidupannya dengan lesu dan seperti tidak bergairah. Segala gangguan dari Baron dia abaikan, hanya Anne dan David yang selalu melindunginya.


"Heera, ini sudah lebih dari cukup. Kau harus membalas mereka, bukti sudah ada ditangan kita, tinggal apalagi?"


Suara Ajeng terdengar di pendengaran Heera, tetapi tetap saja dia abaikan, Heera merasa tidak perlu menyahuti ucapan sang sahabat.


Ajeng berdecak, sudah berapa kali dia mencoba membujuk dan menghibur Heera, tetapi gadis ini tidak pernah mau mendengarkan dan terlalu berlarut dalam kesedihan.


"Ayolah, Heeraaaa ...."


Heera menghembuskan nafas kasar, dia menghentikan pekerjaannya dan menatap malas pada sang sahabat.


"Sudah berapa kali aku katakan Ajeng, aku tidak bisa. Sudah cukup selama ini aku terjebak dalam dendam yang justru membuat aku terpuruk. Aku terlalu malas, biarlah pria tua itu menguasai segalanya. aku tidak peduli."


Ajeng terpaku mendengar perkataan panjang Heera, begitu diluar dugaan. Apalagi dengan matanya yang berkaca-kaca, membuat Ajeng merasa bersalah.


"Heeraaa ... Aku--aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, astaga, mengapa kau justru bersedih, aku jadi merasa bersalah," ujar Ajeng sembari mendekat dan memeluk erat tubuh Heera.


Heera dengan cepat mengusap air matanya, lantas tersenyum tipis sembari menepuk pelan kedua lengan Ajeng yang melilit lehernya.

__ADS_1


"Tidak masalah," ujar Heera pelan. Sungguh, kepergian Kai benar-benar membuka mata hatinya. Tidak seharusnya dia memikirkan balas dendam yang justru membuat dia kehilangan orang paling berharga yang sayangnya ... dia baru menyadari hal itu sekarang.


Betapa pentingnya sosok Kai di hidupnya. Ah, Heera benci merasa lemah, tetapi dia kembali teringat dengan Kai, sakit sekali hatinya jika mengingat bahwa pria itu telah pergi.


Di sisi lain, seorang pria terlihat bertelanjang dada dan berdiri di dekat pagar pembatas balkon. Kedua lengannya bertumpu pada pagar, dengan pandangan lurus menatap banyaknya gedung-gedung di depannya.


Helaan nafas kembali terdengar darinya. Baru saja dia mendapatkan video mengenai kekasih hati dan itu cukup membuat sebagian hatinya merasa sakit.


Melihat mata itu berkaca dan layu, apalagi tubuhnya yang makin kurus, ah ... rasanya benar-benar menyesakkan.


"Tunggu sebentar lagi, aku hanya perlu waktu sedikit saja," gumamnya pelan.


"Kau sudah suruh orang ikuti pria itu?" tanya pria tersebut pada sang asisten dan dengan cepat asistennya mengangguk, membuat pria tersebut tersenyum puas.


"Aku akan mandi terlebih dahulu, kau bisa tinggu di ruang kerja."


Sang asisten mengangguk, kemudian keluar dari kamarnya.


*

__ADS_1


*


*


Baron terlihat berada di dalam ruangannya, dia sudah mencoba untuk menemui Heera, tetapi selalu tidak bisa sebab kedua cecunguk itu selalu mencegahnya.


"Cih, setelah suaminya meninggal, dia justru mendapatkan dua pengawal, tidak dapat dipercaya," gerutu Baron.


Sungguh, sedari awal Baron kira akan mudah melumpuhkan Heera setelah Charlie tiada, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Gadis itu seperti mempunyai dua perisai, benar-benar tidak dapat dipercaya.


"Kau akan segera mendapatkan giliranmu, Heera," gumam Baron yang kini memilih menghubungi seseorang. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan dari Heera.


"Kau sudah lihat foto yang aku kirim?" Begitulah pertanyaan Baron ketika sambungan terhubung. Orang di seberang lekas menyahut dengan mengiyakan.


"Bawa dia padaku hidup-hidup, lakukan cara apapun, terserah kau!"



__ADS_1


__ADS_2