Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 89: BR


__ADS_3

Kai dan Heera kini tengah berada di dalam mobil, keduanya akan pergi ke perusahaan. Mereka kini sudah mengantongi beberapa rahasia Baron untuk ke nanti mereka bongkar, biarkan Baron bahagia untuk sekarang.


Sepanjang jalan, Heera hanya diam saja, tak ingin menanggapi Kai sedikit pun. Kai melirik Heera, menghela nafas, dia hendak meraih tangan Heera, tetapi Heera dengan cepat Heera menjauhkan tangannya.


"Apa kau masih marah padaku, Heera?" tanya Kai. Kini mobil mereka sudah sampai di perusahaan.


Heera tak menjawab sama sekali, dia memilih keluar dari mobil. Kai mengusap wajahnya kasar. Dia harus bisa membujuk Heera secepatnya, sebelum masalah baru datang ke dalam pernikahan mereka. Dia sudah memikirkan ini semua matang-matang. Jangan sampai, apa yang coba dia usahakan gagal begitu saja.


"Heera!" ucap Kai menyamai langkah Heera.


Heera yang sadar ini bukanlah tempat yang baik untuk berdebat dengan Kai, berusaha mengontrol dirinya sendiri. Jangan sampai karena masalah ini, pernikahan dia dan Kai terbongkar.


Kai memejamkan matanya, dia juga sempat lupa di mana mereka sekarang. Berdehem pelan, Kai lantas berjalan di depan Heera. Keduanya berjalan, layaknya bos dan sekertarisnya.


Masuk ke dalam ruangan Kai, Kai lekas menarik Heera agar duduk bersama di sofa. Sempat Heera melawan, tetapi Kai mengancamnya dan mencengkeram tangannya dengan sangat kuat.


"Dengarkan aku, Heera. Ku lakukan ini semua demi kita, demi masa depan kita," jelas Kai menatap dalam mata Heera.


Heera bedecih sinis, mendengar ucapan Kai yang menurutnya ngawur itu.


"Apa kau pikir aku, bodoh, Kai?" kesal Heera.


Kai menghela nafasnya, "Nggak gitu, Heera! Aku hanya ingin kau tau, aku melakukan ini semua karena aku sayang padamu! Aku--" Kai menghentikan ucapannya, dia membawa tubuh Heera ke dalam pelukannya, "--Ini untuk masa depan kita, Heera. Asal kau tau, bisa saja Aku meninggal kapan saja. Jika kau hamil, aku akan tenang meninggalkanmu, karena hidupmu akan terjamin dengan segala warisan yang jatuh pada anak kita."

__ADS_1


Heera lekas mendorong tubuh Kai. Jijik, geram itulah yang Heera rasakan sekarang.


"Apa yang kau lakukan!?" bentak Heera dengan wajah penuh luka, "Apa kau pikir aku tak mampu? Dan apa kau pikir aku wanita gila harta yang melakukan apapun untuk seonggok harta tak berguna!!" Heera kembali terteriak setelah bentakannya barusan.


"Bukan seperti itu maksudku, Heera! Aku hanya ingin mengamankan masa depanmu! Masa depan kita!" sanggah Kai. Dia berdiri, berjalan ke meja kerjanya, mengambil amplop, yang dia simpan di laci, kemudian memberikannya pada Heera.


"Bacalah semuanya, jangan ada yang terlewat!" perintah Kai pada Heera.


Heera membaca isi yang ada di dalam amplop tersebut, wajahnya berubah datar, dengan apa yang baru saja dia ketahui.


"Kita lakukan semua rencana besok," jelas Heera. Dia meremas lebih kuat kertas yang ada di tangannya itu.


Kai mengusap dadanya, tak sia-sia juga dia memberikan itu pada Heera. Kai kembali duduk di samping sofa, dia menatap pada Heera yang masih fokus pada apa yang dilihatnya.


Heera masih bisa belum fokus, memalingkan wajahnya. Heera masih belum bisa memaafkan Kai. Heera melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menatap penuh kesal pada Kai.


"Ayo! Kita ada meeting sekarang!!" ajak Heera pada Kai dengan nada ketus. Kai menghembuskan nafasnya, tersenyum pada Heera, kemudian mengangguk mengiyakan.


***


Jam makan siang tiba, Heera, Kai dan Ray kini tengah makan siang di ruangan Kai. Keadaan Heera dan Kai masih sama, dingin. Ray yang berada di antara keduanya tentu merasa kebingungan. Ada apa? Fikirnya dalam hati.


"Apa kalian berdua ada masalah?" tanya Ray setelah berfikir beberapa kali.

__ADS_1


Heera memilih memalingkan wajah, sedangkan Kai menggeleng pelan menjawab pertanyaan Ray. Alis Ray terangkat sebelah, bukan jawaban itu yang dia inginkan.


"Hei, ayolah! Aku sudah lumayan lama mengenal kalian, yah meski hanya beberapa bulan untukmu, Heera. Tapi, aku sudah bisa mengenalmu, ada sesuatu yang tidak beres dengan kalian. Apa masih masalah sebelum ke negara H?" tebak Ray.


Heera yang tidak ingin menjelaskan apapun, memilih bangkit dan keluar dari dalam ruangan tanpa berkata sepatah katapun. Ray melihat pada Kai, bertanya lewat tatapan mata apa yang terjadi dengan Heera.


Kai memutar bola matanya, "Aku memaksa dia melakukan malam pertama."


"APA!?"


Kai terlihat kesal melihat reaksi Ray yang berlebihan sekali menurutnya.


"Apa kau benar-benar memaksanya, Kai?" tanya Ray tak percaya.


"Apa!? Dia istriku dan kami suami istri! Tidak ada yang salah, bukan?" kesal Kai.


Ray rasanya ingin menonj** Kai sekarang juga. Apa dia tidak bisa berfikir jernih? Iya, suami istri, tetapi tidak memaksa juga kali!


"Kau jangan sok tau, Ray! Asal kau tau, jika saja aku dan Heera tidak melakukan 'itu' selama tiga bulan pernikahan, bisa saja pernikahan kami batal!" geram Kai.


Kening Ray mengerut, "Kata siapa?"


Kai mendengkus, "Aku lupa! Yang jelas, itu yang kutau dan baca sekilas! Sudahlah! Kenapa kau sangat sibuk sekali? Bukankah, aku yang melakukannya dengan Heera? Aku yang memaksa Heera?"

__ADS_1


Kai lekas bangkit dan memilih mengejar Heera. Dia harus segera memberi tahu menyelesaikan obrolannya tadi dengan Heera.


__ADS_2