
Setelah kepergian Xavier, Kai masih saja termenung. Namun, kali ini yang dia pikirkan bukan tentang masalahnya dan Heera, tetapi ucapan-ucapan Xavier.
Mata Kai sedikit menyipit,saat dia teringat sesuatu. Dalam ucapan Xavier, dia mengatakan bahwa dia masih belum menemukan anaknya.
"Apa mungkin Heera adalah putri paman Xavier?" tanya Kai pada dirinya sendiri, namun kemudian Kai menggelengkan kepalanya.
"Bodoh! Itu sangat tidak mungkin. Heera dan paman tidak mungkin memiliki hubungan darah, lagipula bagaimana mungkin mami dan papi kenal dengan paman Xavier," ucap Kai lagi.
Disisi lain, Ajeng membawa Heera ke sebuah mall. Entah apa tujuannya, membuat Heera kesal saja, karena dia hanya mengajaknya keluar masuk toko tanpa membeli apapun.
"Aduuuh... Ajeng? Kita ngapain sih kesini?" gerutu Heera.
"Hah?" Ajeng tidak fokus, matanya menatap kesana kemari, Heera jadi makin kesal dengan tingkah Ajeng.
Heera menarik tangan Ajeng, agar ikut dengannya membuat Ajeng tersentak.
"Eh... Heera...?" Ajeng jadi bingung sendiri. Disatu sisi, Ray menyuruhnya untuk membawa Heera kemari, sampai dia datang. Tapi, sampai sekarang Ray belum datang. Sedangkan Heera kini sudah kesal dan meminta pulang, Ajeng harus bagaimana?
"Heera, bentar doang... Tunggu dulu, yah?" bujuk Ajeng.
"Nggak, ayo pulang! Tapi, jajan dulu!"
Ajeng memutar bola matanya, malas. Salah satu kebiasaan Heera yang belum hilang adalah suka jajan.
Ajeng dan Heera kini tengah berdiri menunggu pesanan bakso milik mereka. Rencananya Heera akan mengajak Ajeng memakan bakso itu di apartemen Ajeng.
Si Rayon ini kemana sih? Kesel banget gue. Katanya suruh bawa Heera kemari, tapi dia malah kagak ada, gerutu Ajeng dalam hati.
"Ini, neng!" ucap padangan bakso, memberikan kresek berisi bakso.
"Makasih, Mang. Ini, uangnya." Heera menerima bakso tersebut dan memberikan uang seratus ribuan dua lembar.
"Ini, kelebihan neng." Pedagang bakso tersebut hanya mengambil selembar dan hendak mengambil kembaliannya.
"Ini, buat Mang. Ambil aja!" Heera buru-buru memberikan satu lembar uang yang tidak diambil si pedagang.
"Eh, tapi--
" Udah, ambil saja, Mang. Makasih yah."Heera tersenyum kemudian menggandeng tangan Ajeng agar mengikutinya.
"Udah?" tanya Ajeng.
"Nih!" Heera menaikkan kantung kresek yang dia bawa.
"Pulang, aja?"
Heera memutar bola matanya, "Tentu saja."
Mereka pun hendak mengambil mobil yang diparkirkan di parkiran mall.
"Ada yang ngikutin," ucap Heera sambil terus berjalan.
"Iyah, Kira-kira siapa yah?" tanya Ajeng dengan suara pelan,matanya menatap ke atas.
"Huh, mana lagi panas-panasnya, nih!" gerutu Ajeng.
__ADS_1
Heera dan Ajeng hendak berjalan ketempat sepi, tetapi empat orang berbadan kekar malah menodongkan pistol tepat di punggung bawah mereka.
"Jalan ke mobil kalian, atau nyawa kalian dalam bahaya!" ucap mereka dengan suara pelan.
Heera dan Ajeng mengepalkan tangan mereka, mereka tidak takut dengan pria berbadan kekar tersebut. Hanya saja, pistol yang berada tepat di belakang mereka bisa saja langsung melesat menembus kulit mereka.
"Siapa kalian?" tanya Heera dengan sedikit penekanan.
"Anda tidak perlu tau siapa kami, Nona," jawab salah satu dari mereka.
"Cepat jalan!" ucap pria satu lagi,dia terlihat sedikit kasar.
Ajeng disuruh masuk oleh dua orang dari empat pria tersebut.
"Eh, temen gue mau kalian bawa ke mana?" tanya Ajeng kesal.
"Dia aman," jawab salah satu pria. Dia meringsek masuk, membuat Ajeng harus bergeser.
Satu pria lagi masuk ke belakang kemudi.
"Gue nggak mau pergi, sebelum kalian bawa balik temen gue!"
Kedua pria yang membawa Ajeng saling menatap, pria yang berada di belakang kemudi mengangguk, membuat pria yang berada di samping Ajeng mendekat dan berbisik pada Ajeng.
Disisi Heera, dia memberontak pada kedua pria tersebut. Mereka terlibat sedikit perkelahian, namun karena kedua pria itu takut ketahuan, mereka akhirnya membius Heera dan membuat Heera pingsan.
Kai yang masih berada diruangannya, mengepalkan tangan kala mengetahui dalang dibalik mobil yang hampir menabrak Heera tempo lalu adalah Angra.
"Dia harus diberi pelajaran!"
"Kita lihat, apa kau akan jera?" gumam Kai, dia meremas ponselnya.
Kai keluar dari ruangannya dan Mira menatap heran pada Kai, pasalnya ini belum jam pulang.
"Mira, kau handle sisa pekerjaanku! Aku ada urusan sebentar. Jika ada yang kencariku, katakan aku sedang tidak bisa diganggu!"
Kai pergi tanpa menunggu jawaban dari Mira, membuat Mira hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Alamat lembur pikir Mira.
Kai mengendarai mobilnya, dia menuju sebuah tempat yang sudah dipersiapkan untuk menyambut Angra.
Tut.... tut
Kai mengangkat menaruh earphones ditelinganya, agar bisa menelepon sembari mengemudi.
"Katakan!" ucap Kai.
"Kami sudah menangkapnya, bos," jawab anda buahnya dari seberang.
"Bagus," ucap Kai dengan sedikit seringai.
"Jangan biarkan dia lari, atau melihat salah satu dari kalian!"
"Tentu, Bos!"
Tut...
__ADS_1
"Kita lihat, sampai batas mana keberanianmu itu," gumam Kai. Matanya menatap lurus kedepan, dia tidak rela siapapun mengusik miliknya.
Kai sampai ditempat yang ditujunya, anak buahnya mengangguk sopan. Kai lantas masuk ke sebuah ruangan, dimana diruangan tersebut terdapat layar CCTV yang menampilkan ruangan tempat Angra disekap.
"Apa dia menyusahkan?" tanya Kai pada anak buahnya yang ada diruangan tersebut.
"Sedikit, Tuan," jawab salah satu dengan mata menunduk.
Sebelah bibir Kai terangkat, dia lantas menatap ke arah layar.
Angra terlihat berteriak-teriak, dia bahkan berusaha melepaskan ikatannya. Mata Angra ditutupi kain, agar tidak bisa melihat dimana dia disekap sekarang.
Jika Kai tengah berusaha memberikan hukuman pada Angra, lain hal nya dengan Ray yang kini tengah kebingungan. Dia berkeliling mall, mencari tahu dimana Heera dan Ajeng berada.
"Kemana mereka?" gumam Ray.
Dia tadi telat datang karena harus mengurus beberapa hal. Dia pikir Ajeng dan Heera akan menunggunya, nyatanya mereka tidak ada.
"Apa mereka sudah pulang?" tanya Ray pada dirinya sendiri.
"Haish...."Ray lantas pergi dari mall tersebut.
Tepat saat Ray hendak membuka pintu mobilnya, dia mendapatkan telpon.
" Ray, datang kemari sekarang!"
tut...
Ray menghela nafas, sopan sekali pikirnya.
Ray lantas masuk ke dalam mobil, dia akan menemui orang yang menelponnya sekarang.
Setengah jam kemudian, Ray sampai ditempat orang yang tadi menelponnya berada.
Ray melangkah pelan, hingga seseorang menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan.
Alis Ray terangkat sebelah, kenapa bisa ada Angra disini?
"Anda disuruh memberinya sedikit pelajaran Tuan," ucap seorang pria.
Huft
Mata Ray menatap CCTV, dia mendengus,membuat Kai terkekeh.
"Hai.. !! Siapa kalian..!? Lepaskan aku!!" teriak Angra.
Ray menatap penuh kesal pada Angra, berisik sekali.
Ray melepas gesper yang dia pakai, lantas sedikit membelitkan gesper tersebut pada tangannya.
Plak
Ray melayangkan gesper tersebut pada dinding, membuat Angra seketika ketakutan.
Plak
__ADS_1
"Diam!"