Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Luka yang tak kasat mata


__ADS_3

"Aakhhhh....! siapa Aku sebenarnya..!?" teriak Heera.


Heera terduduk di tanah, air matanya luruh. Ia kecewa, Ia sedih, Ia tidak tahu siapa dirinya, kenyataan kalau Ia bukan anak kandung kedua orangtuanya membuat Ia kelimpungan, Ia bingung anak siapakah dirinya?


"Beginikah, jalan hidupku?" tanya Heera pada angin. Ia kemudian terkekeh.


"Haha, hidup sebercanda ini? kenapa Aku ditakdirkan seperti ini? mencintai pria dengan bodoh, sampai membuatku menderita sampai sekarang? mempunyai sepupu, paman serta bibi yang justru bermuka dua?haha, apakah mereka masih pantas kusebut paman, bibi dan sepupu? bahkan ternyata mereka tidak punya hubungan darah denganku."Heera malah meracau tidak jelas, Ia menertawakan dirinya sendiri, pikirannya kacau.


Belum sembuh luka yang Nathan dan Angra berikan, kini luka baru muncul, bahkan lebih menyakitkan dari luka sebelumnya. BUKAN ANAK KANDUNG ORANG TUA YANG MENGURUSMU SEJAK KECIL, itu adalah hal yang paling menyakitkan.


Kai menggelengkan kepalanya. Lantas langsung berlari dan membuat Heera bangun, setelah itu Ia langsung memeluk tubuh Heera.


"Lepaskan Aku!" ronta Heera,


"Tidak akan! tenanglah!" jawab Kai lembut, Ia memeluk Heera dengan sangat erat.


"Tidak Kai! lepaskan aku! kau tidak bisa disini! biarkan Aku sendiri! Aku pantas untuk ini! biarkan aku sendiri...!!!" teriak Heera, dengan memukul dada Kai, tubuhnya tidak berhenti meronta kesana kemari dan itu membuat Kai sedikit kesal.


"Heera!!! Diam!!" Bentak Kai, sambil memegang pundak Heera, matanya menyorot tajam pada mata Heera.


Heera menatap mata Kai, sembari terdiam. Ia kemudian terkekeh. "Siapa Aku, Kai?" tanya Heera.


"Aku hanya anak yang tidak diinginkan! sampai-sampai Aku harus diurus Papi Karan dan Mami Kara. Haha, Aku memang selalu tidak diinginkan dimanapun aku berada."tambah Heera dengan pandangan kosong.


Kai membeku, jadi ini yang Heera rasakan?Dia merasa tidak diinginkan? sedalam inikah luka yang Nathan dan Angra berikan pada Heera, sehingga membuat Heera kehilangan kepercayaan diri dan menganggap semua orang tidak menginginkannya, sampai saat mengetahui Ia bukan anak kandung Karan dan Kara, Ia malah menganggap orang tuanya juga tidak menginginkannya.


"Haha, Aku tidak diinginkan, Aku hanya sebuah benda tidak punya hati." Heera makin melantur.


Dada Kai tiba-tiba saja bergemuruh, Ia merasa kesal. Jika luka yang Nathan berikan begitu dalam, itu tandanya Heera begitu mencintainya, dan itu benar-benar membuat hatinya sakit, apakah masih ada celah untuk dirinya masuk ke dalam hati Heera?


Kai tidak tahu, sejak kapan Heera menempati posisi tertinggi di hatinya, setelah keluarganya. Selama ini yang Ia tahu, Ia membantu Heera karena rasa bersalah, serta karena Ia menerima Heera sebagai istrinya. Namun, untuk cinta? Kai saat itu tidak merasakannya. Tapi, saat ini Kai sadar bahwa Ia mencintai Heera, saat Heera bersedih, hatinya juga ikut sedih, saat Heera menangis, rasanya Ia ingin menghapus dan menghilangkan tangisan itu dengan kebahagiaan. Saat Heera menangis karena pria lain, rasanya hatinya terbakar, Ia begitu tidak menyukainya.


"Kau bahkan sempat tidak mau menerimaku! setidak berharga itukah Aku? Haha."


"Apa yang kau katakan!!"bentak Kai. Ia tidak suka Heera berkata seperti itu, apalagi mengingatkan Ia tentang kesalahan bodohnya.

__ADS_1


" Apa, apa yang kukatakan?"tanya Heera linglung.


"Heera!! berhenti meracau tidak jelas! Kau berharga! kau tidak sendiri! kami bersamamu!" teriak Kai, sambil menatap tajam bola mata Heera.


"Hei! lihat Aku!"


Kai menepuk - nepuk pipi Heera agar melihat ke arahnya.


"Kau! berharga! jangan jadi lemah Heera! Kau bukan wanita lemah!" ucap Kai penuh penekanan, Heera hanya bisa mendengarkan dan menatap mata Kai, yang di dalam mata itu Heera bisa lihat sebuah kenyamanan dan ketulusan.


"Kau, harus kuat! jangan lemah hanya karena ini! kau harus balas dendam Heera! ingat orang tua yang sudah mengurusmu! setidaknya ingat mereka yang selalu menerima dirimu apa adanya Heera! dan kau juga harus ingat Aku, Ajeng, Ray, Mervan dan Daniel, mereka semua juga menyayangimu, Heera! mereka rela berjuang untuk membalas rasa sakitmu!"


Ucapan Kai mulai mempengaruhi pikiran Heera, tatapannya tidak sekosong tadi.


"Kau harus pikirkan itu, Heera! setidaknya jika Kau balas dendam, Kau bisa sedikit membalas jasa kedua orangtuamu! dengan begini, Kau bisa membuat mereka bahagia ketika orang yang membunuh mereka bisa mendapatkan ganjaran setimpal!"


Kata-kata terakhir Kai, membuat Heera sadar. Ia memang tidak boleh lemah, demi mami dan papi yang selalu menyayanginya, demi Ajeng, Mervan, Daniel dan Ray yang sampai sekarang mau membantunya membalas dendam, meski mereka sebenarnya tidak ada hubungannya dengan balas dendam ini.


"Aku harus kuat." gumam Heera.


Kai tersenyum, Ia berhasil membuat Heera sadar.


Kai memang menyuruh Heera kuat, namun Ia tidak melarang Heera untuk menangis. Ia percaya dengan menangis bisa meringankan beban dan bukannya menjadi lemah, tapi justru akan semakin kuat.


"Menangislah! Aku menyuruhmu kuat bukan berarti tidak boleh menangis, menangislah!" bisik Kai.


Cup


Ia mengecup pucuk kepala, masih dengan mengusap-usap punggung Heera.


Merasakan kehangatan dari Kai, Heera lantas balas memeluk Kai dan menangis dengan sangat kencang di pelukan Kai.


Akhirnya di pagi itu, di dekat sebuah danau, Heera menumpahkan segala tangisannya dalam pelukan seorang pria, yang menjadi suaminya.


Kai memejamkan matanya, sudut matanya sedikit berair, hatinya ikut bersedih mendengarkan tangisan Heera.

__ADS_1


"Menangislah! terus! keluarkan semuanya!" bisik Kai lagi.


Cup


"Hiks... terimakasih." bisik Heera masih dengan tangisannya.


"Tidak ada kata terimakasih antara Kita." jawab Kai dengan berbisik pula.


Di sisi lain, Ray, Mervan, Ajeng dan Daniel yang masih berada di kontrakan Kai saling terdiam, mereka larut dalam pikiran masing-masing, setelah mendengar cerita Ray tentang Kai.


"Jadi, Dia berpura-pura miskin karena ingin mencari pendamping yang tulus?" tanya Ajeng memecah keheningan.


Jika biasanya Ray akan ketus atau mencari masalah dengan Ajeng, kali ini Dia hanya mengangguk.


"Gue pikir Dia hanya iseng doang." ucap Ajeng selanjutnya dan mendapatkan geplakan dari Daniel.


"Lu, situasi kayak gini! main nyeletuk aja! lebih baik pikirin asal usul Heera!" ucap Daniel setelah berhasil menghindar dari Ajeng yang hendak membalas geplakannya.


"Siapa yang asal nyeletuk sih? orang itu kenyatannya, cuman itu yang ada di otak gue, pas baru tau di Kai purmis!"


"Purmis?" heran Daniel.


"Pura-pura miskin! gitu aja kagak tau, Lo!"


"Lah, bukan gue yang nggak tau, tapi bahasa Lu yang kayak alien!" ketus Daniel.


"Sudah! mengapa kalian malah saling cekcok!" ucap Mervan menengahi.


"Dan kau juga, Daniel! kenapa malah ikut cekcok? bukannya tadi kau mengingatkan Ajeng untuk tidak bicara Asal-asalan?"


Daniel hanya bisa menggaruk tengkuknya, mendengar ucapan Mervan. Ia pikir Ia juga, kenapa malah ikutan tidak jelas seperti Ajeng.


Tinggalkan jejak🄰


Komen

__ADS_1


Like


Vote


__ADS_2