
"Pesen dulu sana!" Ajeng menyuruh Ray memesan terlebih dahulu.
Ray lantas memesan makanannya. Setelah pelayan mengangguk dan pergi, mata Ray menatap Ajeng yang makan dengan sangat lahap, tanpa jaim sama sekali.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" Ajeng bertanya sewot sambil menyedot minumannya.
"Siapa juga?" Ray mengalihkan pandangannya, bisa ge-er si Ajeng, kalo ketahuan dia liatin Ajeng dari tadi.
Ajeng mencebikan bibirnya, "Sok jual mahal!" cibir Ajeng.
Puk
"Siapa juga!" Ray melemparkan kentang goreng ke arah Ajeng.
"Kentang goreng gue...!" Ajeng menjerit kala kentang goreng yang yang Ray lempar terjatuh ke lantai.
Ray gelgapan, saat melihat pelanggan lain menatap ke arah mereka.
"Ray! Tanggung jawab! Itu kentang belinya pakek duit... !! Lo kok malah dibuang sih?? Ganti rugi!" Ajeng sedikit berteriak pada Ray.
"Mas, itu pacarnya jangan di bikin nangis kayak gitu, dong!" Salah satu pelanggan menegur Ray, membuat Ray ingin menyumpal mulut Ajeng.
"Lo jahat, Ray...!! Kentang goreng gue....!" Ajeng kembali menjerit dengan ekspresi lebai bin alay, bahkan matanya sampai menutup.
"Mau kentang goreng..." Ajeng merengek sebelah matanya mengintip ekspresi Ray. Dalam hati Ajeng merasa puas, sudah mempermalukan Ray.
"Ish! Aduuh..., Diem dong, Jeng! Itu cuman kentang satu potong doang, lo heboh kayak gitu! Kayak mau dikawinin paksa aja!"
Ajeng melotot pada Ray.
Plak
"Si**an lo!" Ajeng menggeplak bahu Ray.
"Sakit, jeng! Lo, belum dihalalin aja udah main KDRT aja!" Ray mengusap bahunya yang sedikit sakit.
Ekhem
"Siapa yang mau halalin anak saya?"
Suara tegas itu membuat tubuh Ajeng kaku seketika.
__ADS_1
"Papa," gumam Ajeng, matanya sedikit melotot.
Ray heran saat Ajeng menyebut nama "papa" dia lantas membalikan tubuhnya dan terlihat seorang pria paruh baya menatapnya dengan tatapan tajam. Dia adalah Prasetyo, ayahnya Aqeela.
"Kau yang ingin menghalalkan anak saya?"
Ray mengerjapkan matanya, kapan dia bicara akan menghalalkan Ajeng?
"Pah?" Ajeng memperingatkan papanya.
"Apa, hah?" Prasetyo memelototkan matanya pada Ajeng.
"Hei! Kau? Jawab pertanyaan saya tadi! Apa Kau ingin menghalalkan Ajeng?" Prasetyo memandang Ray.
"Tidak!" Ray buru-buru menggeleng, siapa yang ingin menikah? Apalagi dengan wanita seperti Ajeng, bisa-bisa mereka berantem tiap hari.
Tuk
Prasetyo mengetukkan tongkat yang dia pegang pada bahu Ray, membuat Ray meringis.
"Tidak tahu malu! Kau sudah membawa Ajeng kesana kemari dan kau tidak mau menikahinya? Dasar laki-laki buaya!"
Tuk
Tuk
Tidak puas dengan tangan kanan, beralih ke tangan kiri
"Buaya kamu!! Nikahin Ajeng!!"
Tuk
"Aws, Pak, aduh!" Ray meringis saat kakinya di pukul-pukul tongkat,
Tuk
"Rasakan ini!"
Tuk
Prasetyo kembali mengetukkan tongkatnya ke bahu Ray.
__ADS_1
"Aduh, Pak! Jangan terlalu keras, bahu saya bisa patah!" Ray berucap sembari meringis.
"Lebai kau!"bentak Prasetyo.
Ray kaget dengan bentakan Prasetyo, bagitupula Ajeng.
Prasetyo menarik kursi lantas mendudukkan pantatnya.
" Jadi, bagaimana? Tanggal berapa kalian akan menikah?"
"Pah, apa-apaan sih? Siapa yang mau nikah?" gerutu Ajeng.
"Tentu saja kau dan dia!" Prasetyo melirik sinis pada Ray.
Ray hanya diam tak menanggapi sindiran yang ditujukan untuknya.
"Ini, minuman dan makanan yang Anda pesan, Tuan!" ucap pelayan sambil menaruh pesanan Ray di meja.
Ray hendak mengambil minuman miliknya, namun Prasetyo lebih dulu bergerak dan mengambil minuman tersebut.
"Harus baik sama calon mertua!" ucap Prasetyo watados.
Ray memilih mengabaikan Prasetyo dan hendak mengambil cemilan miliknya, namun lagi-lagi dia harus mengalah, pasalnya Prasetyo langsung mengambil cemilan miliknya.
"Kapan kau akan menemui saya secara resmi?"
Ajeng menetap Ray yang wajahnya sudah tidak bisa kondisikan.
"Saya tidak akan melamar anak Anda," jawab Ray.
Brak
"Kau! Apa kau mau mempermainkan anak saya!!?"
Ray tercengang, matanya menatap ke arah Ajeng.
"Kenapa malah menatap Ajeng? Tatap saya!!"
Ray mengalihkan pandangannya dan menatap pada Prasetyo.
"Saya memang tidak akan menghalalkan Ajeng, Tuan!"
__ADS_1