Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Giliran Kau yang merasa bersalah


__ADS_3

"Kai, aku minta maaf. Aku bukan bermaksud seperti itu," ucap Heera dengan nada lirih.


Kai duduk di kursi kerjanya, berpura-pura sibuk dengan berkas yang kini tengah dibacanya.


Heera berjalan ke depan meja Kai, ia memperhatikan Kai dengan seksama. Ini memang salahnya, ia sudah membuat Kai merasa tertipu dan terhina.


Heera pikir akan percuma jika ia menjelaskan semuanya pada Kai, apalagi jika amarah Kai masih membara.


Heera berjalan keluar dari ruangan Kai, membuat Kai menghembuskan nafasnya.


Huh


Kai menatap langit-langit ruangannya, ia pikir Heera sudah menerimanya sepenuhnya. Bahkan, mungkin sudah mencintainya. Tapi, ternyata itu hanya harapan kosongnya. Heera tidak pernah benar-benar menerimanya.


Kecewa?


Tentu saja, Kai sangat kecewa saat ini. Dia tidak bisa berfikir jernih, sekarang semua hal terasa memuakkan baginya.


Cklek


Pintu ruangan kembali dibuka oleh Heera, membuat Kai buru-buru membuka berkas yang tadi dipegangnya, berpura-pura sibuk.


Heera berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan ringan dan segelas kopi panas.


"Kai, makanlah ini ... , " ucap Heera sambil menaruh nampan itu di meja yang berada tepat di depan sofa.

__ADS_1


Kai masih diposisinya, tidak menghiraukan semua perkataan Heera.


Huft


Heera menghelanafasnya. Ia lantas mengambil satu piring kecil kue kering dan secangkir kopi panas.


"Ayolah, Kai! Makanlah ini, ini akan membuatmu kembali bersemangat untuk bekerja dan membereskan semua pekerjaanmu hari ini!" Heera berdiri di sisi kanan Kai.


Sepiring kue kering tersebut Heera simpan di meja Kai, membuat Kai memicingkan matanya tidak suka.


"Minumlah ini." Heera menyodorkan kopi tersebut tepat di samping wajah Kai.


"Ayolah, masalah kemarin jangan diperbesar seperti ini. Maafkan aku, yah?"


Brak


"Akhh...!"


Buk


Mendengar ucapan terakhir Heera, membuat amarah Kai melonjak. Kai reflek menggebrak meja dan menepis cangkir kopi yang dipegang Heera.


Karena tidak siap, Heera ikut terjatuh bersamaan dengan cangkir kopi yang melayang dan pecah. Heera jatuh tepat di lantai, tetapi kepalanya sedikit terjedot dinding.


"Awwshh...."Heera meringis merasakan sakit di pinggang kepala serta tangannya yang terasa panas.

__ADS_1


Heera menatap lengannya, ternyata lengannya terkena sedikit pecahan kaca serta jari tangannya yang terkena cairan kopi panas tersebut.


Kai masih belum sadar dengan apa yang diperbuatnya.


Heera menatap Kai jengah, ini sudah keterlaluan. Heera bangkit berdiri dan menatap tajam pada Kai.


"Lihat aku!" Heera membuat tubuh Kai menatap ke arahnya.


Mata Kai membulat sempurna melihat sudut kening Heera yang meng-ungu, kemudian pakaian yang sedikit berantakan. Kai makin terkejut lagi saat melihat darah menetes di lantai.


"Heera ap--


Perkataan Kai terhenti karena Heera mengangkat tangannya,pertanda bahwa Kai tidak perlu berbicara lagi.


" Kau sudah cukup membuatku membujukmu sejak kemarin, Tuan Kai! Sejak kemarin kau selalu berbuat semaumu, tapi kali ini aku tidak bisa mentoleransi sikapmu itu."Setelah berkata seperti itu, Heera lantas mengambil tasnya dan berlalu keluar dari ruangan Kai.


Kai gelagapan, buru-buru ia mengejar Heera.


Si*l! umpatnya.


Kai melihat Heera masuk ke dalam lift.


"Heera..!" teriak Kai, sambil berlari. Heera hanya menatap datar pada Kai, kali ini dia yang kesal. Sudah cukup Kai marah padanya, kini giliran ia yang marah pada Kai.


Kai berlari menuju lift yang khusus untuknya. Dia berdo'a semoga bisa menyusul Heera.

__ADS_1


ting


__ADS_2