Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 105


__ADS_3

"Nama ibu Maya, neng," jawab wanita tersebut yang ternyata bernama Maya.


"Bu Maya?"Heera mencoba mengingat nama itu.


" Ibu, ini bibinya Kara, mami mu!"


Heera membulatkan matanya, "Nek Maya?" tanya Heera, ia mengingat nama itu.


"Inget juga," ucap Maya dengan terkekeh.


Heera menggaruk tengkuknya, ia memang lupa, karena sudah sejak lama tidak bertemu dengan wanita yang ia panggil Nek Maya, tersebut.


Kai dan Ajeng menatap heran pada Heera, karena ternyata Heera kenal dengan wanita tersebut.


"Oh, yah! Kai, Ajeng, kenalkan nek Maya, bibinya mami, dan Nek Maya, kenalkan dia Kai suami Heera dan Ajeng, sahabat Heera."


Melihat raut heran dan penuh tanda tanya dari Ajeng dan Kai, membuat Heera memperkenalkan mereka.


Setelah saling berkenalan, Nek Maya kembali melihat Heera sendu.


"Kamu ada di makam ini, pasti udah tau kamu bukan anak kandung Kara dan Karan?" tanya Nek Maya.


Heera mengangguk.


"Ya Allah, Neng! Kamu nggak boleh sedih yah, meski kamu bukan anak kandung mereka, tapi mereka mencintai kamu dengan tulus, sama seperti anak kandung mereka sendiri, yah! Nenek bakal ceritain semua masa lalu mereka, sehingga kamu bisa sama mereka, ikut nenek yuk!"


Mendengar ajakan itu, tentu saja Heera tidak bisa menolak, ia harus tau sampai tuntas tentang masa lalunya.


Mereka akhirnya di ajak ke rumah Nek Maya. Mereka bisa merasakan suasana sejuk begitu berjalan di jalan setapak menuju rumah Nek Maya, apalagi suasana sore hari makin menambah kesan sejuk desa ini.


Seorang anak perempuan terlihat berlari ke arah Nek Maya.


"Nenek...!" teriaknya girang, ia lantas menengadahkan tangan, minta digendong.


Nek Maya lantas langsung menggendong anak tersebut.


"Wah, siapa ini Nek?" tanya Heera.


"Ini cucu nenek, namanya Tasya," jawab nenek Maya.


"Waah, nama yang indah."


Tak jauh dengan Heera yang terlihat berbinar melihat anak kecil yang begitu lucu tersebut, Kai juga sangat gemas, dalam hati ia berharap pernikahannya dengan Heera dapat menghasilkan buah hati yang begitu lucu.


"Karena taca imut," timpal Tasya dengan pengucapan nama yang belum fasih, maklum baru berumur tiga setengah tahun.


"Waah, kamu emang lucu, sini gendong sama kakak?" pinta Heera.

__ADS_1


Kai menatap tidak suka perkataan Heera, sudah tidak pantas dipanggil kakak, harusnya tante atau bunda, batin Kai. Sepertinya ia sudah cepat-cepat ingin punya anak.


Tasya terlihat enggan masuk ke gendongan Heera, ia malah menatap penuh harap pada Ajeng yang sejak tadi sibuk memperhatikan lingkungan di sana.


Heera melihat arah tatapan Tasya, "Ajeng, dia mau digendong kamu, nih!" ucapanya, mengagetkan Ajeng.


"Hah? Apa? Di gendong, sama gue? Kagak salah, nanti jatuh. Nggak mau, ah!" tolak Ajeng mentah-mentah.


Tasya terlihat memajukan bibir bawahnya, tangisannya siap meledak.


"Ajeng!" peringat Heera. Namun, Ajeng masih enggan ia menggaruk tengkuknya.


Huuuuaaaaaaa......


Pecahlah tangisan Tasya, Ajeng jadi gelagapan, tidak menyangka tangisannya akan sekencang itu.


"Cup! Tasya, jangan gitu ah!" ucap Nek Maya menenangkan Tasya. Namun, namanya anak kecil, ketika di bujuk malah semakin menjadi tangisannya. Mendengar suara tangisan Tasya yang makin keras, Ajeng jadi tidak tega, apalagi melihat tatapan tajam Heera.


"Sayang, Tasya? Sama kak Heera aja, yah?" bujuk Heera.


Huaaa... "Nggak mau!" ketusnya.


Sroootttt.... Ia menyedot ingusnya, Ajeng menatap itu dengan sedikit jijik. Namun, ia masih bisa mengontrol wajahnya agar tidak terlalu terlihat wajahnya yang merasa jijik. Agar tidak menyinggung siapapun.


Berbeda dengan Heera yang panik karena Tasya menangis dan Ajeng yang bingung harus bagaimana, Kai malah asik di dunianya.


Mendengarkan tangisan Tasya, Kai malah membayangkan kalau Heera yang tengah menenangkan anak mereka dan ia yang menyiapkan susu. Dalam pikirannya, ia dan Heera begitu bahagia meski harus kesusahan mengurus bayi.


Telinga Kai terasa berdengung, dadanya bergemuruh karena terkejut dengan suara teriakan Ajeng.


"Ajeng...!" teriak Kai pada Ajeng yang sudah lari mengikuti Heera dan Nek Maya yang masih berusaha menenangkan Tasya.


Kai lantas ikut menyusul mereka, saat ia masuk ke dalam rumah, terlihat Heera tengah duduk di sebuah kursi, begitu pula dengan Ajeng yang bisa Kai lihat dia kini memangku Tasya.


Di sana, Kai juga melihat ada nek Maya dan seorang laki-laki yang bisa dibilang tidak terlalu muda,namun tidak tua juga. Hingga datang seorang perempuan dengan membawa nampan berisi minuman dan sepertinya beberapa cemilan.


"Silahkan, dinikamati. Maaf yah, cuma ada cemilan dan minuman sederhana itu, disini," ucap wanita tersebut dengan tersenyum manis.


"Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup," jawab Heera.


Wanita tersebut tersenyum, lantas pandangannya melihat Kai yang malah berdiri di pintu.


"Masuk saja, Mas! Saya akan buatkan minuman lagi."


Kai lantas ikut duduk bersama mereka.Ia memilih duduk di samping Heera yang kebetulan kosong.


"Ini, siapa Nek?" tanya Heera sambil menatap laki-laki di samping nek Maya.

__ADS_1


"Saya adik sepupu teh Kara,nama saya Arkan." Bukan nek Maya yang menjawab tetapi laki-laki itu, yang ternyata bernama Arkan.


"Oh, berarti. Kamu pamanku?" tanya Heera.


Nek Maya dan Arkan terkekeh, mendengar nada bicara Heera yang seperti anak remaja.


"Iyah, saya paman kamu," jawab Arkan setelah bisa mengendalikan tawanya.


Tak lama kemudian, wanita tadi datang membawa minuman untuk Kai.


"Nah, kalo ini istrinya pamanmu, namanya Tina." Sebelum Heera bertanya, nek Maya sudah lebih dulu memperkenalkan menantunya itu.


"Semoga suka di sini, yah Heera?" ucap Tina, sedikit mengakrabkan diri dengan Heera.


"Pasti," jawab Heera sambil tersenyum.


Mereka kemudian meminum dan menyantap camilan serta minuman yang Tina siapkan.


"Nek, ceritakan semuanya. Heera sudah sangat penasaran," ucap Heera.


"Mau sekarang, Neng? nggak mau istirahat dulu?"


"Nggak,Nek! Heera ingin tahu sekarang."


Huft


Nek Maya menghela nafasnya. Laki-laki di sampingnya mengusap punggung Nek Maya, mencoba menguatkannya.


"Dulu, saat Kara melahirkan karena air ketubannya sudah pecah sebelum waktunya, membuat anak yang dia lahirkan meninggal. Saat itu Kara dan Karan sangat terpukul, hingga seorang wanita yang menurut cerita Kara adalah sahabatnya, datang dengan membawa seorang bayi perempuan yang baru dilahirkan."


Huft


Nek Maya menjeda ucapannya, ia menghirup nafasnya, mencoba menenangkan hatinya bahwa Heera akan menerima kenyataan.


Heera menunggu dengan harap cemas, begitupula Kai. Ajeng juga cemas, hanya saja tidak secemas Heera dan Kai, karena ia kini malah diganggu oleh tingkah Tasya. Kai menggenggam tangan Heera yang terasa begitu dingin.


"Dan, kamu pasti bisa menebak Neng, anak itu kamu. Wanita itu berpesan agar Kau disebutkan sebagai anak kandung Kara dan Karan. Kara dan Karan yang saat itu masih dalam keadaan berkabung, menyetujui permintaan wanita itu dan setelah mendapatkan janji dan jaminan dari Karan, dia pergi ketika ada beberapa orang yang datang ke rumah sakit, dan mereka mencari seorang wanita yang membawa bayi."


Heera membulatkan bibirnya, "Apa itu artinya saat ibu kandung Heera menitipkan Heera pada mami sama papi, dia lagi dikejar seseorang?" tanya Heera.


Huft


Lagi-lagi Nek Maya menghela nafas. "Iyah, dan---


" Dan apa?"tanya Heera tidak sabaran karena melihat Nek Maya yang ragu.


"Dan ibumu dinyatakan meninggal setelah masuk kejurang dan terkena tembakan dua kali."

__ADS_1


Heera mengepalkan tangannya, apalagi ini? Siapa yang mencelakai ibu kandungnya? Heera pikir mungkin ibunya masih hidup dan ia bisa menemuinya, namun ternyata ia harus kecewa dan kembali mendapatkan kesedihan.



__ADS_2