Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Rencana yang gagal


__ADS_3

"Kak Ray awas...!!!!" Teriak Heera.


Bugh


Bugh...


Ray berhasil menghindar, dan Heera langsung memukul anak buah Nathan yang hendak memukul Ray.


"Waw, Anda begitu gesit sekarang, Nona!" puji Ray.


Heera mendengus, "Kak Ray ini bukan waktunya untuk saling memuji!" Ucap Heera, sambil merobek beberapa bagian bajunya dan mengacak rambutnya.


Heera memencet earphones yang ada ditelinganya agar terhubung pada Mervan dan Daniel.


"Kalian, sudah meretas dan menyabotase rekamannya?" Tanya Heera.


"Beres, tinggal buat kehebohan!" Balas Daniel dengan nada menggebu.


"Oke."


Heera tersenyum bahagia, namun di mata Ray malah terlihat agak merinding. Ray lantas mengusap tengkuknya.


"Ayo, lari!" Ucap Heera, saat beberapa anak buah Nathan berdatangan, karena mendengar suara gaduh.


"Hei!! jangan lari!!" Teriak mereka.


Ray dan Heera lantas berlari dari kejaran mereka. Heera sengaja mengecoh mereka dengan berlari secara acak. Di tengah pelariannya, saat para anak buah Nathan belum terlihat, Heera membawa Ray ke kamar mandi.


"Kak Ray, cepat berikan!!" Heera berucap buru-buru.


Ray segera mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi Ia bawa. sebuah lipstik berwarna ungu, dan merah, serta liptint berwarna merah darah. Heera kemudian mengolesnya ke beberapa bagian wajahnya, membentuk sebuah luka memar.


"Kak Ray! kemari!!" Heera menyuruh Ray mendekatkan wajahnya. Ray lantas mendekat. Heera kemudian membuat luka memar di sudut bibir Ray.


"Oke, siap!" Ucap Heera ketika selesai.


"Ayo, keluar!" Bagai anak ayam yang selalu mengikuti induknya, Ray menurut saja.


Mereka keluar dari kamar mandi itu dengan mengendap-endap, hingga suara teriakan membuat mereka kembali berlari.


"Hei!! mau kemana kalian!!!" Teriak salah satu dari mereka.


"Lari....!!!" Teriak Heera.


Mereka berdua lantas lari berlawanan arah dengan para anak buah Nathan.


"Kemana kita sekarang?" Tanya Ray, sembari berlari.


"Tentu saja ke ballroom hotel ini!" Jawab Heera.


Mereka pun berlari dan tepat saat didekat pintu menuju ballroom, Heera menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" Heran Ray.


Heera menyeringai"Tunggu mereka kemari."


Tak berapa lama, anak buah Nathan berdatangan. Mereka berlari pada Heera dan Ray, kemudian menangkap mereka.

__ADS_1


"Hei!!! Lepaskan!!!! Tolong....!!!" Teriak Heera.


"Diam!!" Bentak mereka.


"Hiks... Hiks... Tolong...!!!!" Teriak Heera.


"Tolong....!!!" Teriak Heera lagi dengan suara keras, sambil terus bertahan agar mereka tak segera membawanya pergi.


Mereka yang berada di ballroom, dapat mendengar dengan jelas suara Heera yang berteriak meminta tolong.


Mereka yang tadinya fokus pada video yang beredar,kini fokus pada suara itu.


"Suara siapa itu? Apa kalian mendengar ada yang meminta tolong?" Teriak seorang tamu.


Nathan, Baron dan Anne pun menajamkan pendengaran mereka.


"Iya, aku juga mendengarnya!" Timpal yang lain.


Suara ini, seperti suara Heera. Apa dia bisa lari?jangan sampai ini Heera Batin Nathan.


"Suaranya berasal dari sini!!" Teriak seorang lagi.


Mereka lantas berlomba menuju asal suara. Kai, diam-diam menyeringai. Ia dengan santai masih berdiri di posisinya.Namun, ada satu orang lagi yang tidak ikut melihat Heera dan dia adalah Miss La.


"Tolong...!!! Hikss....lepaskan...!!!" Teriak Heera.


"Lepaskan, nona ini...!!!" Teriak Ray, yang masih menyamar menjadi pelayan.


Bugh


"Diam!" salah satu anak buah Nathan memberikan bogem mentah pada Ray.


"Hei!!! Lepaskan mereka!!!" Teriak para tamu.


Anak buah Nathan langsung gelagapan. Heera memulai aktingnya, Ia bahkan sampai mengeluarkan air mata.


Para tamu terlihat miris melihat penampilan Heera yang nampak begitu acak-acakan. Baju sobek, rambut acak-acakan, mascara dan eyeliner yang luntur terkena air mata, membuat wajahnya sedikit hitam, yang lebih miris adalah, ada beberapa luka lebam di wajah dan tangan Heera.


"Lepaskan mereka!!"


Nathan, Anne dan Baron tidak dapat melihat Heera, kerena mereka berada di barisan belakang. Pandangan mereka terhalangi para tamu yang berdiri di depan.


"Tidak bisa, mereka milik kami!!" tolak salah satu anak buah Nathan.


"Kalian harus melepaskan mereka!! jika tidak kami akan bertindak!!" Teriak seorang tamu.


"Kami tidak bi--


Belum anak buah itu menyelesaikan perkataannya, para tamu pria sudah mendekat dan memukuli para anak buah Nathan itu. Sedangkan sebagian tamu perempuan membantu Heera.


" Hiks... Hiks.. terimakasih."Ucap Heera lirih, bahkan tubuhnya sangat bergetar, kepalanya terus menunduk, sehingga belum ada yang sadar kalau itu adalah Heera.


Ray, hanya menggeleng pelan, karena akting Heera benar-benar totalitas, karena Ray sendiri bisa melihat akting Heera itu begitu terlihat real.


"Ada yang membawa mantel? atau jaket? atau kalau tidak ada, apapun yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya?" Tanya salah satu wanita.


"Ini! aku membawa mantel!"

__ADS_1


Wanita itu lantas menerima mantel itu, dan Menutupkannya pada tubuh Heera.


"Sudah lebih baik?" Tanya wanita itu sambil mengangkat wajah Heera.


"Heera!?" Kaget para tamu.


Nathan, Baron dan Anne yang mendengar mereka memanggil nama Heera lantas segera menerobos kerumunan itu.


"Heera!!?" Kaget Anne dengan mata melotot.


Nathan mengepalkan tangannya, karena lagi-lagi rencananya gagal.


Saat melihat Nathan, Heera buru-buru bersembunyi dan memeluk tubuh wanita yang berdiri di sampingnya.


"To---tolong, to--long ja--uhkan ak--aku, darinya!!" Ucap Heera terbata.


Semua langsung menatap penuh selidik pada Nathan.


"Ada, apa ini?" Tanya Nathan pura-pura bodoh.


"Tolong, ja--jangan biarkan di-a mendekatiku,ba-bawa aku pergi dari sini!!" Ucap Heera lagi, Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Heera, ap--


" Jaaangannn!!!"Heera ketakutan, Ia menggelengkan kepalanya, dengan tubuh bergetar.


"Tenang, Heera! kami akan membawamu." Para wanita itu membawa Heera menuju ballroom, karena menurut mereka ini perlu diselesaikan.


Para anak buah Nathan yang habis babak belur pun ikut dibawa, begitu pula Ray, mereke ikut memboyong Ray. Karena mereka pikir Ray juga terluka. Ray yang merasa sangat capek karena berlari, memanfaatkan kesempatan itu, dengan berpura-pura sangat lemah dan itu membuat mereka menggotong tubuhnya.


Lumayan, kendaraan gratis Batin Ray.


"Pah, ada apa ini?" Tanya Anne.


"Entahlah, lebih baik kita juga ikut ke sana, kalau ingin tahu." ketus Baron, sembari berlalu.


Anne mencibir Baron, yang malah ketus padanya, lantas ikut menyusul.


Di ballroom sendiri,anak buah Nathan itu mereka ikat agar tidak kabur, Ray mereka biarkan duduk di kursi. Kai berpura-pura terkejut, begitu melihat Heera.


"Apa, dia Heera?" Tanya Kai.


"Benar, Tuan! kami kira yang meminta tolong bukan Heera, tapi ternyata Heera."


"Heera, kau tidak apa-apa?" Tanya Kai pada Heera,sambil perlahan mendekat untuk melihat Heera.


Heera yang bersembunyi di belakang tubuh wanita tadi, lantas mendekat pada Kai, Ia membungkukan tubuhnya, sambil menangis tersedu.


"Tuan, tolong saya!! berikan saya keadilan, laki-laki itu!!" Heera menunjuk pada Nathan dan itu membuat mereka juga ikut melihat pada Nathan.


"Laki-laki itu mau menjualku,barusan me--me--


" me--me--


Me-apa- hayo??? tebak yah


dukung author dengan Like, Vote dan komen, yah! Agar author tambah semangat untuk menulis

__ADS_1


Bisa berikan kritik, saran dan pendapat kalian juga, *lagi butuh banyak saran nih😁


__ADS_2