Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 82: Ajeng Nathan (Revisi)


__ADS_3

Ajeng bisa menatap kalau Nathan tengah duduk di salah sat meja. Dia terlihat tengah memainkan ponselnya. Ajeng mendengkus, kalau tidak sedang acting, ogah sekali dia menemui Nathan dengan pakaian seperti ini.


Ajeng kali ini memakai mini dres dengan rambut yang di curly, serta make up natural yang menghiasi wajahnya yang biasanya tidak dihiasi make up sama sekali. Ajeng mensugesti dirinya agar fokus dan dia harus menggali sesuatu dari Nathan.


“Baru tiba?” tanya Nathan.


Ajeng mendengus dalam hati, minta di tampol nih orang. Tau dia baru datang, kenapa harus nanya kayak gitu?


Lain di hati, lain pula di wajah. Ajeng menampilkan senyum sangat manis pada Nathan. Dia mengangguk pelan sambil hendak duduk, tetapi Nathan malah mencegahnya dan membantu menarikkan kursi untuknya.


“Terimakasih,” ucap Ajeng dengan suara dibuat selembut mungkin.

__ADS_1


HUH, BUAYA NYASAR! Cibir Ajeng dalam hati.


Nathan tersenyum lebar kemudian duduk di kursinya. Dia lantas memanggilkan pelayan agar menuliskan makanan apa yang mereka pesan.


Setelah pelayan pergi, dengan sengaja Nathan mengambil tangan Ajeng dan mengecupnya. Mata Nathan menatap wajah Ajeng yang memerah sambil memalingkan


wajah.


Nathan tidak tahu saja, Ajeng memerah bukan karena terpesona, tersanjung atau malu-malu, tetapi itu karena dia begitu kesal dan tidak terima dengan apa yang Nathan lakukan pada tangan berharganya. Lagi-lagi Ajeng ingin menendang Nathan. Kalau perlu, dia akan menendang bokongnya dan membuatnya tersungkur dengan posisi memalukan. Itu akan sangat menyenangkan pikir Ajeng.


“Apa kau tidak ada pekerjaan beberapa jam ke depan?” tanya Nathan dengan suara selembut mungkin.

__ADS_1


Suara kayak radio butut kayak gitu, pakek dibuat lembut segala. Kagak cocok, cibir Ajeng lagi.


“Aku ada pemotretan sore ini,” bohong Ajeng. Dia tentu saja tidak ingin berlama-lama dengan Nathan. Ini saja sudah membuatnya gedeg setengah mati, gimana kalo dia harus berjam-jam bareng Nathan? Dia lebih memilih pura-pura pingsan atau dia kasih Nathan cabe campur racun makanan Nathan saja, agar dia tidak terlalu lama bersama Nathan!


Wajah Nathan terlihat sedikit kecewa, namun dia mencoba tersenyum tipis. Nathan kemudian menggenggam kedua tangan Ajeng dan mengusap-usap punggung tangan Ajeng dengan jempolnya. Ajeng kembali kesal dengan apa yang dilakukan oleh Nathan.


“Lain kali, semoga kita bisa menghabiskan waktu lebih lama dari ini,” ucap Nathan memandang lembut manik mata Ajeng. Ajeng memaksakan senyumnya, dia tau tatapan lembut itu tulus tetapi Ajeng tau, orang seperti Nathan itu tidak mempunyai sisi lembut. Itu pasti hanya kamuflase belaka.


Ray yang berada di meja yang tidak jauh dari meja Ajeng dan Nathan berada, sedikit merasakan kesal di dadanya. Ray mencoba memfokuskan dirinya, dia tidak boleh terbawa suasana disini. Tugasnya disini adalah berjaga-jaga jika Nathan berbuat macam-macam atau bisa juga Nathan mencoba membawa kabur Ajeng. Ray kembali menepuk-nepuk kepalanya, mencoba menghilangkan pemikiran terakhirnya yang membuat Ray merasa konyol sekali.


Ray menaikkan koran yang dia baca saat tak sengaja matanya melirik mata Nathan yang mengintip ke arahnya. Ray takut ketahuan. Bisa berabe jika dia ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2