
Pagi hari setelah mereka kembali dari kota, Ajeng membuat keributan, karena tiba-tiba Ray membawa seekor cicak dan itu membuat Ajeng sangat ketakutan.
"Kyaaa...!Singkirkan itu!" teriak Ajeng, begitu Ray memasuki rumah dengan membawa cicak.
"Apa? Ini?" tanya Ray sambil mengangkat cicak itu.
"Buang...!" teriak Ajeng dan itu malah membuat Ray tau kalau Ajeng takut cicak, dengan sengaja ia berjalan pada Ajeng dan itu membuat Ajeng berlari.
"Mulut sambel!! Awas Lo! Buang itu! Gue takut...!" teriak Ajeng sambil berlari.
"Haaa ...! Nih buat Lo!" teriak Ray, ia melemparkan cicak itu dan pas mengenai Ajeng, membuat Ajeng begitu ketakutan dan berteriak sangat histeris.
"Kyaa....! Gue takut!!!" teriak Ajeng.
Ray malah terbahak menyaksikan itu. Kai dan Heera yang baru turun terganggu dengan suara teriakan Ajeng yang begitu memekakan telinga.
"Heera!! Tolongin gue..! Singkirin cicak ini!" teriak Ajeng.
"Cicak?" heran Heera.
__ADS_1
"Ini! Di sini! Cepetan...!"
Heera lantas mendekati Ajeng daj benar ada cicak di punggung Ajeng, namun itu bukan cicak asli, melainkan permen yupi.
"Ini, bukan Cicak Ajeng, ini permen yupi!" ucap Heera.
Ajeng kaget bukan main, "Apa? Permen Yupi?"
Ajeng menatap Ray yang masih tertawa-tawa.
"Lo ngerjain gue..! Awas Lo!!" teriak Ajeng dan Ray langsung berlari, agar tidak kena amukan Ajeng.
Kai memijit keningnya, ia begitu pusing kalo mereka sudah bertengkar dan berlarian seperti ini.
"Ayo sarapan!" ajak Kai.
Mau tidak mau, Ajeng dan Ray ikut sarapan bersama Heera dan Kai, meski sebenarnya masing-masing dari mereka masih ingin saling menjahili.
Selesai sarapan, Kai mengajak Ray ke ruang kerjanya. Sedangkan Heera dan Ajeng, mereka memilih pergi ke taman.
__ADS_1
"Katakan Ray! Apa informasi yang kau dapat!" ucap Kai ia kini tengah menyandar di meja, sambil membelakangi Ray.
"Tuan, saya menemukan catatan, kalo emh--
" Kenapa ragu?"tanya Kai sambil berbalik, matanya menyipit, tidak biasanya Ray gugup.
Ray gelagapan, ia sudah berusaha untuk tidak gugup.
"Tidak bukan, begitu Tuan! Saya, menemukan catatan kalo Tuan Baron tidak pergi ke Australia saat kecelakaan yang menimpa Tuan dan Nyonya Cadramaya terjadi," jelas Ray, ia kini tidak menampakkan wajah gugup.
Kai mengetuk-ngetuk jarinya di meja, Ia sudah duga ini. Bukan hanya Nathan yang menjadi dalang kejadian yang menimpa Heera dan keluarganya. Tapi, ada orang lain pula. Tidak di sangka, orang itu ternyata paman Heera sendiri.
"Kerja bagus, Ray! Itu akan berguna untuk mengungkap dalang kejadian itu sebenarnya. Aku sebenarnya merasa sangat ganjil, apalagi dengan mami dan papi yang--
" Emh, Tuan! Saya juga menemukan satu bukti dari rumah sakit, kalau Tuan dan Nyonya Cadramaya diperkirakan meninggal pukul dua lewat sepuluh, sedangkan saya perkirakan, jika Nyonya dan Tuan Cadramaya meninggal karena kecelakaan, pasti mereka akan meninggal sesaat setelah kecelakaan yaitu pukul dua lewat tiga puluh menit,"jelas Ray memotong ucapan Kai.
Kai menyeringai.
"Ada sesuatu di sini," ucap Kai.
__ADS_1
"Apa Heera, Mervan,Daniel dan Ajeng sudah mengetahui ini?" tanya Kai.
Ray terlihat berfikir, "Sepertinya, ada sebagian yang mereka ketahui Tuan, tapi entah bagian mana," jawab Ray sedikit ragu.