
Dengan langkah tegasnya, Baron memasuki gedung perusahaan milik Karan yang sudah berhasil dia kuasai. Dengan seorang asisten pribadi di belakangnya, Baron melangkah masuk ke dalam ruangannya.
“Apa saja pekerjaanku untuk hari ini?” tanya Baron sembari mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
“Anda ada janji temu dengan tuan Kai, Tuan. Kita akan membahas meng—
“Tunggu, kau bilang Kai? Bukankah dia tengah berada di luar negeri?” potong Baron sambil membalikkan badannya. Asisten pribadi Baron terlihat sedikit gelagapan. Dia salah berucap, satu yang tidak orang lain ketahui tentang Baron. Di aitu agak pelupa dan kurang peka jika menyangkut info yang tidak jelas, atau tidak lugas seperti
ucapannya tadi. Maksud ucapannya yang mengatakan kalau “Ada janji temu dengan tuan Kai” Maksud dengan “Tuan Kai” itu adalah mereka akan bertemu dengan orang dari perusahaan milik Kai, hanya saja orang yang akan menemui mereka tidak harus tuan Kai. Bisa asisten sekaligus sekertaris Kai, yaitu Rai. Ingin sekali asisten Baron ini memeberitahukan semua itu pada Baron, tetapi dia terlalu takut dan itu membuatnya lebih memilih diam.
“Katakan!” tegas Baron.
“Sebenarnya, tuan Ray lah yang akan bertemu dengan kita Tuan,” jawab si Asisten.
__ADS_1
Baron menggangguk paham. “Oke, jam berapa?” tanya Baron lagi.
“Setelah makan siang, Tuan. Untuk pagi ini, kita bisa pergi untuk meninjau lokasi proyek kita,” ucap si Asisten.
“Kenapa tidak bilang sejak tadi? Tau gitu, kita tidak perlu kemari,” gerutu Baron. Setelahnya dia keluar dari perusahaan. Asisten hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan menyebalkan bosnya.
Baron dan asistennya hendak masuk ke dalam mobil, tetapi seseorang malah melemparinya dengan batu.
“Aws,” ringis Baron.
“Mungkin orang iseng, Tuan. Saya akan memeriksanya nanti lewat CCTV, pagi ini kita sudah buru-buru,” ucap si Asisten.
Baron mendengkus, lantas masuk ke dalam mobil. Dia begitu kesal dengan apa yang terjadi, belum lagi masalah yang menimpanya sedikit bikin rumit. Nathan selalu mengamuk padanya dan bertengkar dengan Ajeng. Mobil Baron pun meninggalkan pelataran kantor dan hendak menuju café yang masih buka.
__ADS_1
“Apa kau tau kemana Heera menghilang?” tanya Baron pada si asisten. Si asisten, sebut saja Panji terlihat berpikir sebentar.
“Dia tidak menghilang Tuan. Nona Heera mengikuti tuan Kai keluar negeri, karena dia adalah sekertaris tuan Kai dan sudah sepatutnya dia mengikuti tuan Kai,” jawab si asisten.
“Terus? Suaminya kemana?” tanya Baron lagi.
“Saya kurang tau Tuan. Tapi, dari info yang saya dapat, suami nona Heera ada di kontrakannya dan sering pulang pergi untuk bekerja selama dua hari ini,” jelas Panji.
“Tuan membutuhkan sesuatu? Atau hal untuk saya lakukan?” tambah Panji.
“Saya ada rencana, Ray!” ucap Baron dengan seringai di wajahnya. Di sisi lain, Heera dan Kai tengeh terkekeh saat melihat video tentang Baron ini. Bagaimana wajah kesal Baron yang membuat mereka berdua geleng kepala. Baron belum sadar kalau dia tegah di mata-matai oleh Heera dan Kai.
“Dia akan membuat rencana, hahah…gimana rencananya bakal lancar?
__ADS_1
Kalau dia sedang di awasi pakai kamera kecil yang sengaja dipasang oleh orang suruhanmu?” tanya Heera dengan terkekeh.