Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Heera bukan anak kandung Kara dan Karan


__ADS_3

"Apa yang kau temukan?" Tanya Mervan, karena Daniel malah terpaku melihat data yang ada di komputernya.


"Iyah, lo nemu apa sih Niel? sampai kayak patung monyet kayak gitu?" Celetuk Ajeng, namun Daniel masih tak menanggapi.


Kini mereka berada di markas organisasi, mencari data tentang kejadian 20 tahun lalu, yang mengakibatkan kakak kandung Heera menghilang dan dinyatakan meninggal.


Namun, saat Daniel memeriksa, Ia malah mendapatkan hal yang lain.


"Niel! jawab dong!" Ucap Ajeng tak sabar.


"I-i-ini!" Tunjuk Daniel pada layar komputernya.


Ajeng dan Mervan pun melihat ke layar komputer apa hal yang membuat Daniel sampai seperti itu, pikir mereka.


Ajeng dan Mervan sama-sama membulatkan mata mereka. Mereka pun sama shocknya seperti Daniel.


"Heera bukan anak kandung orang tuanya?" Ucap Mervan dan Ajeng berbarengan.


"Gimana bisa gini, sih? Niel!? ini pasti salah, kan?Lo pasti bohong, kan?"Tanya Ajeng tak terima.


"Lo kira gue tukang tipu? gue juga shock! Ajeng Surajeng! Data ini asli! gue dapet dari komputer milik Tuan Karan!" Jawab Daniel.


"Ini." Gumam Ajeng.


Ajeng tak kuat memikirkan bagaimana perasaan Heera, nanti. Bagaimana reaksinya nanti?


Ajeng memegang rambutnya dengan berkacak pinggang.


"Gimana, dong?" Tanya Ajeng frustasi.


Mervan juga bingung, Ia tidak sanggup jika harus memberitahukan ini pada Heera, apalagi Heera sudah mendapatkan banyak kemalangan akhir-akhir ini.


Daniel bersandar pada kursi yang Ia duduki, Mervan duduk di sofa sambil tertunduk, sedang Ajeng masih anteng diposisi berdirinya.


Mereka masih memikirkan, apa yang harus mereka lakukan, apalagi data itu jelas menunjukan kalau Heera bukan anak kandung Karan dan Kara.


Mervan mengangkat wajahnya, "Kita hubungi Kai! dia yang lebih berhak memutuskan apakah kita beritahu Heera atau tidak tentang hal ini." Putus Mervan.


Ajeng dan Daniel melihat pada Mervan, mereka kemudian saling pandang dan Ajeng mengangguk ragu.


"Kurasa itu lebih baik." Ucap Daniel.


"Oke, kita telpon Kai!"


Mervan pun mengambil handphonenya, kemudian menghubungi Kai.


Kai yang masih anteng tidur berbantalkan paha Heera kesal kala handphonenya terus berbunyi.


"Angkat saja!" Ucap Heera.


Mau tak mau,Kai pun bangun dari tidurnya. Ia melihat nama si penelpon, kemudian mengangkatnya.


"Hallo!" Ketus Kai.


"Kenapa lama sekali mengangkat telponnya?" Tanya Mervan kesal.


"Hem." Jawab Kai malas.


"Ck! kalau bukan hal penting, Aku sangat malas menelponmu! ini tentang Heera, datanglah kemari dan jangan memberitahu Heera sama sekali!" Ucap Mervan cepat, karena Ia tak ingin Kai sampai menutup telponnya.

__ADS_1


Kai melihat Heera yang fokus pada layar laptopnya, dalam hati Ia bertanya-tanya, hal penting apa tentang Heera yang sampai Heera sendiri tidak boleh mengetahuinya?


"Oke, aku datang secepatnya." Jawab Kai


Tut..


Tanpa menunggu jawaban orang diseberang, Kai menutup telponnya begitu saja.


"Kenapa?" Tanya Heera, namun matanya masih fokus pada layar laptop.


"Aku harus pergi, ada urusan penting!" Jawab Kai.


"Oh, Oke! pergi saja, aku akan menunggu disini!"


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi." Ucap Kai namun tubuhnya tak kunjung bergerak, matanya masih terus menatap Heera.


"Aku pergi, yah!" Ucap Kai lagi, masih diposisi yang sama.


Heera yang tengah fokus pun merasa ada hal yang aneh, Ia lantas melihat kesamping dan ternyata Kai masih belum beranjak sama sekali.


Heera menatap Kai heran "Katanya kau akan pergi?" Tanya Heera.


Huft


Kai menghela nafas, Ia menginginkan sesuatu dari Heera.


"Ada apa?" Tanya Heera lagi.


"Kau tidak ingin memberiku apapun?"Tanya Kai


" Hah?"heran Heera


Kai memilih tak menjawab dan langsung berdiri,meninggalkan Heera.


Heera mengedikan bahunya. Kemudian kembali fokus pada layar laptopnya, karena banyak pekerjaan yang harus Ia kerjakan.


"Ck! dia sama sekali tidak peka, apa dia tidak paham, apa yang kuinginkan?" Gerutu Kai. Wajahnya begitu tidak sedap dipandang, beberapa karyawan yang berpapasan dengannya memilih menunduk, dari pada kena semprot pikir mereka.


Kai lantas mengendarai mobilnya sendiri, sesampainya di markas,Ia langsung disambut oleh anggota organisasi dan diminta untuk masuk ke sebuah ruangan.


"Kau, datang juga. Cepat, kemarilah!" Ucap Mervan cepat begitu Kai datang.


"Apakah ini begitu serius? mengapa kalian begitu tegang?" Tanya Kai dengan menaikan sebelah alisnya.


"Tidak usah banyak bacot! cepat lo liat ini!" Ucap Ajeng sambil membawa Kai untuk melihat ke layar komputer.


"Heera, bukan anak kandung Tuan Karan dan Nyonya Kara?" Ucap Kai terkejut.


Daniel, Mervan dan Ajeng serempak mengangguk.


Kai lantas menepuk kepalanya, kemudian duduk di sofa.


Bagaimana ini? Batinnya


"Apa kita harus beritahu Heera?" Tanya Ajeng.


Kai mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa harus seperti ini?" Gerutunya.

__ADS_1


"Kita harus beri tahu Heera! ini haknya, tapi kita harus cari waktu yang tepat untuk memberitahukannya, usahakan saat Dia tidak emosional." tambah Kai lagi.


"Yah, itu benar!" Ucap Ajeng setuju.


Disisi lain, Heera tengah menanyakan pada Ray, kenapa Kai tak kunjung kembali, Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Kai.


"Kak Ray?" Panggil Heera.


Ray terkesiap, apa Ia tidak salah dengar? Heera memanggilnya Kakak?


"Eh, apa aku boleh memanggilmu, kakak?" Tanya Heera kikuk, Ia melihat ekspresi Ray yang terkejut dengan ucapannya.


"Tentu, boleh. Nona!itu kebahagian tersendiri bagiku." Jawab Ray sembari tersenyum.


"Apa Anda butuh sesuatu?" Tanya Ray.


"Emh, Iyah! aku ingin tahu dimana Kai berada, dia tidak bisa dihubungi sejak tadi, aku ingin bicara padanya. Apa kau tau dia pergi kemana?" Tanya Heera.


Mampus, tapi tadi Kai bilang Heera jangan sampai tahu, ah! aku ajak saja Heera kesuatu tempat Batin Ray.


"Saya juga kurang tahu,Nona!"


"Yah, gimana, dong? selain ingin bicara aku juga sebenarnya sudah sangat bosan disini sejak tadi." Ucap Heera


Pas sekali.


"Apa Anda ingin ikut saya?" Tanya Ray.


"Kemana?"


"Saya akan mengajak Anda ke suatu tempat, agar Anda tidak bosan."


"Baiklah, itu boleh juga! Ayo!"


Ray dan Heera pun mengendarai mobil membelah jalanan.


Heera memperhatikan jalanan yang Ia lalui dan ternyata jalannya sangat hijau, penuh dengan pohon dan itu membuat suasana lebih asri.


"Apakah masih jauh?" Tanya Heera.


"Sebentar lagi, Nona." Ucap Ray, kemudian membelokan mobilnya menuju sebuah hutan.


"Hutan?" Heran Heera.


"Tenanglah,Nona! saya selalu kesini untuk menenangkan diri."


Ray pun memarkirkan mobilnya.Kemudian membukakan pintu untuk Heera.


"Mari, Nona!" Ajak Ray. Heera lantas turun dan mengikuti kemana Ray membawanya. Hingga mata Heera berbinar, kala melihat tempat yang begitu indah.


Tempat itu dipenuhi oleh kupu-kupu, ada air terjun dan yang membuat Heera lebih senang lagi, adalah ada rumah pohon di sana.


"Apa, itu rumah pohon?" Tanya Heera.


"Yah, itu rumah pohon." Jawab Ray.


"Apa aku bisa masuk ke sana?" Tanya Heera polos.


"Tentu saja, bisa Nona! kenapa tidak?" Tanya Ray sembari terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2