Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Mencari tahu asal usul Heera


__ADS_3

Daniel dan Mervan berjalan tegesa ke ruangan Kai.


Brak


Kai dan Heera yang tengah berdiskusi terkejut dengan kedatangan mereka.


"Ada apa, Kak? Bang?" tanya Heera.


Daniel hendak menjawab namun Heera malah kembali berbicara. "Eh, duduk dulu deh!"


Mervan dan Daniel lantas duduk di sofa, Heera yang tadinya berdiri pun ikut duduk bersama mereka, sambil menaruh air minum.


"Minum dulu!" ucap Heera.


Mervan dan Daniel langsung meminum, air yang Heera bawakan. Nafas mereka terengah-engah.


Heera menggelengkan kepalanya, ada apa dengan mereka pikirnya.


"Kenapa Kalian sampai berlarian seperti itu?" tanya Kai, yang sejak tadi diam.


Mervan dan Daniel saling pandang, mereka kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Kami menemukan bukti baru tentang bagaimana Heera bisa sampai diasuh oleh Tuan Karan dan Nyonya Kara," ucap Mervan sembari melihat pada Heera, takut Heera kembali bersedih.


Heera terdiam, kemudian Ia berkata, "Apa yang kalian temukan??"


Daniel menyuruh Mervan yang kembali menjawab, karena Ia tidak bisa. Mervan menatap jengah pada Daniel.


"Katakan saja! tidak perlu merasa Aku nggak akan kuat, kemarin Aku cuman lagi error aja, Haha," ucap Heera dengan kekehan di ujungnya.


"Tawamu tidak enak didengar Heera!" ketus Kai.


Heera menatap Kai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Heera lihatlah ini!" ucap Mervan sambil memberikan sebuah map.


Heera mengernyit, kemudian mengambil map itu. Perlahan,Ia membuka map itu.


"Surat Keterangan Lahir Mati?" heran Heera.


Kai juga mengernyit begitu mendengar Surat Keterangan Lahir Mati, siapa yang mati pikirnya? Kai lantas mendekat pada Heera dan ikut melihat surat tersebut.


"Iyah, baca lebih lanjut!" perintah Mervan.


Heera dan Kai membaca semua keterangan yang tercantum dalam Surat Keterangan Lahir Mati itu, terdapat nama maminya, Kara dan papinya Karan. Di sana juga dicantumkan penyebab kematian bayi,jenis kelamin dan tanggal kematian yang mana tanggalnya sama persis dengan tanggal lahirnya.


"Jadi,Mami dan Papi mempunyai anak yang lain?" tanya Heera.


"Yah, dan sepertinya tepat saat kematian putri mereka, Kau dititipkan pada mereka. Atau bisa jadi mereka mengadopsimu. Kami masih mencari tahu soal itu," jelas Mervan.


Heera tertegun, jadi mami dan papinya juga mempunyai seorang anak perempuan? jika anak itu sudah meninggal, lalu dimana makamnya?


"Anak kandung mami dan papi sudah meninggal?" tanya Heera.

__ADS_1


"Dia sudah meninggal, dan seperti yang tertulis di sana, dia meninggal bertepatan dengan tanggal lahirmu, 7 Juli 1994," jelas Mervan.


"Iyah, aku bisa lihat itu tapi dimana makamnya?"


"Giliranmu Daniel!" perintah Mervan pada Daniel.


"Baiklah, tempatnya di sini di sebuah desa di Jawa Barat," ucap Daniel.


"Aku ingin melihat makamnya!" ucap Heera cepat.


"Jangan!" cegah Kai.


"Kenapa?" heran Heera menatap tidak suka pada Kai.


"Jangan berburuk sangka dulu padaku, Aku berkata begitu karena Nathan sudah merencanakan sesuatu padamu!" jelas Kai.


Mervan, Daniel dan Heera tercengang. Mereka pikir kenapa Nathan tidak ada kapok-kapoknya? baru kemarin Dia harus menanggung malu, karena rencananya gagal dan sekarang sudah membuat rencana baru lagi?


"Si bre*gsek itu kembali berulah? mau apa sebenarnya orang itu? balas dendam Kita saja belum dimulai! kenapa Dia sudah membuat rencana baru untuk mencelakai Heera?" gerutu Daniel.


Mendengar gerutuan Daniel, Heera juga sadar. Kenapa sepertinya Nathan begitu membencinya? padahal dulu Dia begitu baik, bahkan tidak pernah berkata kasar padanya. Nathan dimata Heera dulu adalah bagaikan pangeran berkuda putih yang datang padanya. Tapi, sekarang Heera merasa Nathan bagai buta ijo yang selalu siap memakannya. Ada apa sebenarnya? pikir Heera.


"Nathan ber--


Ting


Belum selesai perkataan Kai, sebuah pesan masuk pada Heera.


Heera datanglah temui Aku di L' Cafe! datang sendiri! Aku tau Kau sedang mencari bukti hilangnya Ran, kakakmu yang dinyatakan meninggal 20 tahun lalu.


" Siapa yang mengirim pesan?"tanya Mervan.


"Em--


" Nathan! benar, 'kan?"Kai memotong perkataan Heera.


"Iyah, ini Kak Nathan!"


"Kau masih menyebutnya Kak? cih!" kesal Kai.


"Maaf, ini pesan dari Nathan!" ralat Heera cepat.


"Apa isi pesannya?" tanya Daniel tidak sabaran.


Heera lantas menengok isi pesannya lantas Ia membaca isi pesan tersebut, "Nathan mengatakan kalau Aku harus menemuinya di L' Cafe, jika ingin tahu penyebab hilangnya Kak Ran dua puluh tahun lalu, "


Mendengar isi pesan itu Mervan dan Daniel sontak panik, bagaimana Nathan tahu mereka sedang mencari tahu bukti hilangnya Ran.


"Si bre*gsek itu tau?" kesal Daniel.


"Jangan berlebihan seperti itu! Nathan tahu karena Aku yang memberi tah--


Bugh

__ADS_1


Daniel tiba-tiba saja memberi hadiah pada pipi Kai.


" Si*l! kenapa langsung memukulku begitu saja?"kesal Kai.


"Karena Kau pengkhianat! kenapa Kau memberitahu si bre*gsek itu?" bentak Daniel.


Daniel hendak memukul Kai kembali, namun Mervan buru-buru mencegahnya, Heera juga membawa Kai kebelakang tubuhnya.


"Daniel! tenanglah! kenapa Kau gampang sekali emosi!" ucap Mervan pada Daniel.


"Kak Niel! tenanglah! jangan langsung emosi seperti itu! dengarkan dulu penjelasan Kai!" ucap Heera dengan nada lembut pada Daniel.


Kai memperhatikan Heera yang langsung membawa Ia kebelakang tubuhnya, saat tadi Ia hendak di pukul Daniel, Ia merasa dirinya terbang, perlakuan Heera entah kenapa membuatnya begitu senang, seperti mendapatkan hadiah yang indah.


Daniel terpaksa meredam emosinya, karena ucapan Heera mengingatkannya pada seseorang, suara lembut itu, mampu meredam emosinya.


Setelah di rasa Daniel mulai tenang, Mervan melepaskan tubuhnya. Daniel dan Mervan lantas kembali duduk.


Heera melihat pada Kai yang berdiri di belakang tubuhnya, "Kai! duduklah!" ucap Heera, namun Kai malah tersenyum sendiri.


"Kai!" Heera melambaikan tangannya di depan wajah Kai. Namun, Kai masih tetap tidak merespon.


Mervan dan Daniel yang menunggu Kai berbicara, menjadi heran karena Kai tak kunjung berbicara. Merekapun melihat pada Kai.


"Kenapa dengannya?" tanya Daniel masih dengan tampang kesal.


"Entahlah!" jawab Heera.


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Kai! hei! sadarlah!Kai!" Heera mengguncangkan tubuh Kai, barulah Kai sadar.


"Eh? Apa?" Kai gelagapan.


Heera, Mervan dan Daniel menatap aneh pada Kai.


Kai menggaruk tengkuknya, Ia merasa malu kepergok tengah melamun.


Apa mereka akan tahu apa yang aku bayangkan barusan? semoga saja mereka tidak tahu! itu akan sangat memalukan Batin Kai.


"Kau jelaskan semuanya padaku!" teriak Heera tepat di telinga Kai.


Membuat Kai langsung memegang kupingnya yang terasa berdengung.


"Kenapa berteriak?" ketus Kai


"Karena Kau kembali melamun!" ucap Heera kesal. Heera lantas duduk di sofa.


Kai lagi-lagi menggaruk tengkuknya. "Maaf! ada hal yang mengganggu pikiranku barusan!" ucap Kai sambil menatap Heera.


"Apa?" ucap Heera sambil memelototkan matanya. Ia begitu kesal dengan tingkah Kai.


Kai, memalingkan wajahnya, tak menyangka Heera akan melotot padanya.

__ADS_1


__ADS_2