
"Loe...."
"ACHEl...."
"Kamu..."
Semua berteriak karena ga percaya kalau di depannya adalah jagoan balap motor yang lama hilang.Akhirnya semua pun percaya tidak salah lagi kalau Achel bisa mengimbangi jagoan balap beberapa tahun lalu.
Secara bersamaan Pandu dan teman temannya pun sampai di area balap.mereka turun dan penasaran kenapa semua pada mengelilingi ketua mereka.
"Achel...loe ga papa..." Kata Pandu langsung menghampiri Lia.
"Gue...ga papa...ngapain loe ke sini..." kata Lia kepada Pandu.
"Kita...kita mengkhawatirkan loe Chel,tadi loe pergi dengan amarah,betul ga temen..temen?" seru Pandu kepada teman temannya
"Betul ketua...kita ga mau kehilangan lagi..." kata anak buah Lia.
"Alah ..kalian kaya bocil aja,gue kan baru setahun ninggalin kalian..?
" Baru setahun kata Loe?mungkin bagi loe baru Chel...tapi bagi kita kita yang menyayangi loe terasa se abad tahu"Teriak Dikki dari motor nya.
Busyet garang juga loe Dik...
"Apa loe ga menyadari kalau kita semua disini sayang kamu MARCHELIA ANDHINI"
"Lihatlah balap motor ini saksi bisu dimana loe selalu tertawa,melampiaskan kegilaan loe,dan apa loe ingat di ujung sana loe jatuh kita semua di sini waktu itu merasa sakit dan takut kehilangan loe"
"Tapi untungnya Allah masih mendengar doa kita dan loe selamat,tapi besokknya loe hilang tanpa kasih kabar kita di sini kaya orang gila tahu MARCHELIA"
"Dan coba taya Rio apakah semenjak loe hilang kita disini masih bersenang senang?" kata Dikki penuh Emosi dan menahan tangis.
"Bener Chel.. selama loe ilang kita ga pernah main balapan,kita hanya nongkrong di bascamp...tapi hari ini maaf, sengaja gue ngajak Firman balapan untuk melepas kepergian Ke Tarim"
"Firman adalah pembalap waktu kita SMP,Dia jagoan kita sebelum loe datang"
"Dan setelah Dia memutuskan untuk keluar dari bascamp,akhirnya loe datang mengganti posisi dia" kata Rio menjelaskan.
Semua terdiam dengan pemikiran masing masing,Lia pun terdiam entah apa yang harus dia pikirkan dulu ucapan Dikki atau keberadaan Firman yang sudah tahu tentang dirinya,ataukah kepergian Firman ke Tarim.
Ach......
Lia berteriak berusaha mengendalikan emosi yang mulai memuncak ke ubun ubun.
Itulah kelemahan dia kalau sudah di titik paling frustasi Dia tidak bisa mengendalikan emosi.Aliran darah terasa mengalir deras dan sampai ke Ubun -ubun.Dia sudah mulai tak terkontrol,Emosi pun menguasai,Khodam yang mengikuti dirinya telah menguasai dan tercampur darah yang mendidih.
Ach. .Ah....
Lia berteriak seperti orang kesurupan,mukanya merah dan langsung tancap gas.Di tengah kesadarannya yang cuma berapa persen,Dia berusaha mengendalikan emosi.
Dia tidak ingin melihat teman temannya tahu kegilaannya dia yang sebenarnya,Dia pun tidak ingin menyakiti dirinya lagi,Dia pun tidak ingin terlihat rapuh di depan orang yang diam diam Dia cintai.
Sambil melajukan motor dengan kecepatan tinggi,Lia berteriak berteriak.
Gue benci akan diri ini Ya Allah...kenapa gue rapuh,
Kenapa Di saat Gue jatuh cinta Dia harus pergi,
kenapa gue tidak bisa buka hati gue kepada yang mencintai gue
,kenapa gue tidak bisa mengendaliin emosi gue,
kenapa loe harus ngikutin gue Khodam leluhur kalau gue ga bisa mengendalikan loe
Gue benci akan kelemahan gue..
Gue benci....
Lia terus melaju kencang dan terus... terus....
Bruk.....bruk..ciit...dubrak...
Lia pun tergelincir dan motornya pun jatuh menabrak pohon,sedangkan tubuhnya terlepas dari motor dan terguling guling kurang beberapa centi kepala Lia hampir terkena bibir trotoar,dan...
Hup...hup..
__ADS_1
"Adik...adik kamu ga apa apa?" tiba tiba ada seorang cowok berusah menangkap tubuh Lia yang hampir terbentur trotoar.
Lia berusaha membuka mata,tapi emosi itu bener bener telah menguasai aliran darah di otaknya,Dia pun menggigil...
"Tolong aku...aku..." Suara Lia melemah dan...
"Dedek...kamu harus kuat,kamu harus bertahan coba kamu baca doa pengendalian emosi kamu,kakak mau bantu dengan dzikir kakak.." kata suara dari belakang.
Cowok yang memangku Lia pun menoleh
"Pak Davin..."
"Sudah jangan bengong Firman...ayo bantu bapak berdzikir seperti yang pernah kau kamu lakukan ...cepat Firman.." kata Davin
"Dek...kamu kuat ya...kita akan bantu doa..." Kata Davin menguatkan Lia yang sudah lemah.
Banyak darah yang keluar dari kening,hidung dan mulut.
Lia pun tambah menggigil dan berusaha mengucapkan doa dan dzikir.
Firman melihat keadaan Lia yang semakin lemah ,secara reflek Dia menarik Lia dalam pelukan dan tak terasa air mata pun mengalir.
"Kamu harus kuat Dik...aku sangat mencintaimu...jangan tinggalkan aku..." Firman masih menangis dan memeluk Lia sambil membisikkan Doa dan Dzikir.
Dalam keadaan setengah sadar Liapun mendengar suara Dzikir Firman yang sangat menyejukkan hati.Dzikir itulah yang selalu menenangkan hati dan sanggup melawan gejolak amarah dalam darah nya.
Setelah Doa dan dzikir yang sangat lama,tubuh Lia yang menggigil lama lama berangsur membaik,dan dia menarik nafas dengan teratur.Dalam ketenangan batin Lia pun pingsan.Mungkin terlalu banyak darah yang keluar sehingga membuat tubuhnya lemah tak berdaya.
Firman sadar tubuh dalam pelukannya tidak bergerak.
"Adik...adik...bangun..?Firman menggoyang goyang tubuh Lia.
" Dedek...dedek..kamu jangan bercanda ,kamu harus kuat...ayo bangun Dedek..."
"Lihat Orang yang kamu rindukan memeluk kamu,Orang yang selalu kamu harapkan sekarang di dekat kamu,ayo bangun Dek..katanya kamu ingin jadi istri Ustad?"
"Ayo MARCHELIA bangun..." Davin berteriak sambil menggoncang tubuh Lia.
Lia pun tak bergeming .
"Pak Jamal..
" Oh..ya Pak..Bapak bawa mobil?" kata Davin
"Iya ..nak.." kata Pak Jamal lagi.
"Kita bawa Dedek ke mobil di belakang masih ada alat medis kan?" Kata Davin sambil mengangkat Lia.
"Biar aku saja Pak ..." kata Firman
"Tidak...kamu bukan muhrimnya...,kesalahanmu malam ini harus kamu pertanggung jawabkan" Kata Davin sambil melangkah ke mobil Pak Jamal.
Di sebelah mobil Pak Jamal sudah ada mobil hitam dari Wijaya Group.
"Gimana Tuan muda bisa kami bantu...?" kata pengawal dari mobil hitam itu.
"Kamu bereskan motor Nona muda,dan kamu bereskan mereka jangan sampai tercium awak media,nanti Nona mud kalian marah.." Kata Davin memberi perintah.
Pengawal lainnya membuka pintu dan membantu peralatan medis yang ada di mobil.
Mereka semua cekatan,karena sudah terlatih selama menjadi pengawal di Wijaya.Pengawal di Wijaya bukan hanya bisa beladiri tapi juga harus bisa mengenal persoalan medis untuk berjaga kemungkinan yang ada.
Davin hanya melihat kinerja pengawal,karena Dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan,karena selama ini Dia tidak pernah ikut dalam keamanan Wijaya.Tapi para pengawal tahu kalau Dia adalah bagian dari Wijaya.
Karena tanpa sepengetahuan Davin,Lia pun selalu menetapkan pengawal bayangan untuk keselamatan Davin beserta Pesantren Abah Yusuf.Lia selalu memperdulikan orang lain,tapi Dia tidak pernah mau mletakkan pengawal bayangan untuk dirinya sendiri.
Sebelum hilang Andrian selalu menempatkan pengawal bayangan untuk Lia,tapi setelah Lia menghilang Andrian marah dengan Pengawal itu karena tidak bisa menjaga Nona Mudanya.
Sekarang Lia kembali tapi Andrian tidak tahu karena Dia sekarang tidak disini.
Setelah pertolongan pertama untuk Lia selesai Pak Jamal pun membawa mobil ke arah Rumah sakit milik Wijaya Group.
"Pak Jamal udah telpon Mommy?"
"Udah Tuan Muda,sekaran Nyonya Muda sedang mempersiapkan ruang Operasi"
__ADS_1
"Oma Palupi?"
"Tidak Tuan Muda. "
"Kenapa?"
"Nona Muda pernah berpesan kalau ada apa apa dengan Nona Muda jabgan pernah memberitahu Nyonya Palupi"
"Seperti waktu Nona Muda hilang,Abah Yusuf selalu memberi kabar kalau Nona Muda di Pesantren sedang menambah ilmu"
"Apa Oma percaya?"
"Ya..selama Abah Yusuf yang memberi tahu Nyonya selalu percaya" kata Pak Jamal sambil membawa mobilnya .
Di tempat kejadian,pengawal pengawal Wijaya membubarkan teman temannya Lia.Mereka pun meninggalkan tempat kejadian dengan muka sedih.
Dua kali mereka harus melihat kecelakaan ketua nya,dan Dua kali mereka pun tidak di perbolehkan mengetahui keadaan Ketuanya.
Dikki masih terpaku dalam diam...Dia tadi terlambat mengejar Achel,Waktu terdengar suara benda bertabrakan Dikki terkejut,dan baru menyadari kalau telah terjadi sesuatu tehadap Achel.
Dikki pun melaju motornya di ikuti Pandu ,Izal dan anak buahnya.Sampai di tempat kejadian Dikki melihat dan mendengar suatu pandangan yang menyakitkan dimana ada seorang cowok yang memeluk Achel dan sambil mengungkapkan cintanya.
"Ayo..Dik..kita pulang.." ajak Izal
"Gue pingin di sini Zal..."
"Jangan seperti itu..lihat pengawal itu sudah menyuruh kita pulang,ja gan cari masalah Dik..."
"Gue tahu loe kecewa...tapi jangan seperti ini Dik...loe da cukup menderita semenjak kehilangan Achel..sekarang loe harus bangkit,dan rubah lah perasaan loe hanya sekedar sahabat,seperti Lia selalu menganggap loe sahabatnya" Kata Izal menasehati.
"Akan gue coba zal..." kata Dikki
"Ya..uda ayo kita pergi.." ajak Izal.
Mereka pun pergi dan berharap besok ada kabar baik dari ketuanya.
Semua orang pun pergi tinggal Rio dan Firman yang masih tinggal.
"Ayo Man kita harus pulang,lihat baju kamu banyak darah dimana mana" ajak Rio.
"Aku ga nyangka akan seperti ini Yo..."
"Udah.. itu semua takdir,maaf kalau tadi aku memaksa kamu di area balap ini,aku juga ga tahu kalau kamu juga kenal Achel"
"Kamu udah berapa lama kenal Dia yo..."
"Maksudmu AChel? mungkin Tiga tahun setelah kamu memutuskan pergi dari bascamp untuk mendalami Agamamu"
"Apakah kamu mencintainya..Man?karena selama kenal kamu ,kamu ga pernah seperti ini"
"Kamu terlihat panik waktu melihat Achel membawa motornya?
" Mungkin Yo....aku ga tahu.." kata Firman nasih duduk di jalan tempat tadi Dia memeluk Lia.
"Dia adik kelas ku,pertama lihat Dia jadi siswa baru hatiku bergetar,waktu membaca Alqur an jiwaku bergejoalk,waktu Dia hilang satu tahun aku merasa kehilangan."
"Dan tadi waktu perpisahan sekolah Dia tampil beda dan aku tidak mengenalinya,Hatiku pun bergetar waktu Dia bersholawat dengan ku,Aku juga belum menyadarinya kalau Dia adalah Bidadariku yang selama ini aku rindukan" kat Firman
Yach. .. Dia baru menyadari kalau orang yang selalu membuat hati nya bergetar itu adalah orang yang sama.
*Bodohnya aku...kenapa aku tidak mengenalinya walau dengan tampilan berbeda.Dan kenapa Pak Davin juga tidak memberitahu kalau Dia adalah orang yang aku khitbah kan,kenapa Pak Davin harus mengembalikan Khitbahku.
Dan Abah....aku akan menyetujui tentang perjodohannya,karena Dia yang aku cintai...dan Karena Dialah aku sudah melakukan zina,dan aku akan mempertanggung jawabkan seperti yang kamu pinta Pak Davin.
Pak Davin..kenapa kamu juga harus menutupi kalau Dia adalah adikmu.
Aku harus pulang sekarang dan mengatakan pada Abah*.
Firman pun bangkit dan sudah bertekat sebelum berangkat ke Tarim dia akan mengkhitbahkan Lia atau mungkin sekalian menikahinya.
"Ayo...Yo..kita pulang" ajak Firman.
"Kamu sudah baikan..." Rio khawatir.
"Insya Allah sudah...." kata Firman.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan tempat kejadian itu dan menuju ke rumah masing-masing.