
Setelah kepergian Fatimah,Firman mendekati Suster Ana.
"Sus. .ada yang ingin Saya tanyakan..please..kita duduk di situ dulu ya" Kata Firman sambil menunjukkan kursi yang ada di depan mereka.
"Dok...temeni Saya dulu ya..takut menimbulkan fitnah" Kata Suster Ana kepada Dokter Zainal.
Dokter Zainal menangguk,kemudian mereka duduk berhadap hadapan.
"Sus...tolong jawab jujur apakah Dede di sini?" Tanya Firman memecahkan kesunyian di antara mereka.
Suster Ana hanya diam dan menunduk memandang meja di depannya,mungkin kalau sekarang Dia memakai baju seragamnya lebih baik Dia menghintung kancing bajunya,Tapi saat ini Dia sedang memakai kaos oblong yang tidak punya kancing baju.
"Sus...." Kata Firman mengganggu lamunan Suster Ana.
"Aduh...Pak Ustadz maaf Saya bingung mau jawab apa?kalau Saya jujur nanti Saya di bilang mengkhianati majikan,kalau Saya bohong nanti Saya dosa,tanya pada hati Pak Ustadz sendiri aja gimana?"
"Kata Nona di mana orang yang saling mencintai secara tulus ,Dia akan tahu dimana pasangannya walau di kolong semut bersembunyi,karena saat itu hanya hati yang berbicara" Kata Suster Ana.
"Jadi cobalah tanya hati Pak Ustadz sendiri apakah Nona ada di sini atau tidak?" Lanjut Suster Ana.
"Kalau pak Ustadz tidak merasakan kehadirannya anggap aja Dia tidak di sini" Kata Suster Ana lagi.
Firman terdiam,Dia merenung kata kata Suster Ana.Apakah Dia merasakan kehadiran Lia atau tidak?Di saat Firman merenung ponsel Dokter Zainal berbunyi.
(Hallo Assalamualaikum...)
((Baik...baik..Saya kesana dengan Suster Ana)
(Walaikum Sallam..)
"Maaf Man...Ana pergi dulu,dan Suster Ana di tunggu Dokter M untuk mempersiapkan operasi nanti malam" kata Dokter Zainal.
"Tapi Nal..." Kata Firman.
"Udah...Man soal ini di bahas nanti sehabis Operasi ya...kita ada meeting untuk membahas operasi Abi,yang penting banyak banyak berdoalah untuk kesembuhan Abi,Sudah enam bulan kita menanti momen seperti ini kan?mendapatkan solusi kesembuhan Abi" Kata Dokter Zainal.
"Baiklah Nal..untuk saat ini emang yang penting kesembuhan Abi"
"Sus...Saya mohon setelah operasi Abi tolong kasih tahu saya dimana Dede?"pinta Firman.
" Insya Allah...Ustadz" Kata Suster Ana sekalian Undur diri.
"Assaalmualaikum..."
"Walaikumsallam..."
Firman meninggalkan tempat Gym,langsung menuju apartemen Zainal untuk bersih bersih.
Suster Ana dan Zainal kembali ke kamar Suite presiden karena sudah di tunggu Lia.
"Alhamdulilah...Dok..ada panggilan dari Nona Dokter,kalau ga ada panggilan tersebut Saya ga tahu haris bilang apa kepada Ustadz?Dokter juga sich ga mau bantuin Saya sich..." Kata Suster Ana.
"Gimana mau bantuin,Firman aja ga tahu kalau Saya deket ama Dokter Lia,nanti kalau ikut ikutan Dia jadi tahu kalau Dokter Lia di sini" Kata Dokter Zainal.
"Tapi Saya heran kenapa Dokter Lia tidak mau bertemu dengan Firman?bukannya Dia calon Istrinya?" Kata Dokter Zainal.
"Itulah yang tidak Saya mengerti dari Nona Dokter,walau Saya jadi Suster pribadinya tapi Dia tidak pernah bercerita ,Saya sendiri tidak mengerti akan perasaannya"
"Seperti tadi Expresi Dokter Lia waktu bertemu dengan Ustadz Firman yang di ikuti Fatimah Biasa aja,tidak terpancar kemarahan ataupun kecemburuan" Kata Suster Ana.
"Tapi Sus. .tadi Dia melampiaskan di Ring tinju dan memperdayai ku di arena Anggar" Kata Dokter Zainal.
"Beneran Dok...?Kok Saya tidak lihat?" Kata Suster Ana.
"Tadinya Saya juga ga mengerti kalau Dia melampiaskan kekesalannya di Ring Tinju,tapi setelah Saya menghadapi di arena anggar Saya lihat Dia sedang emosi dan hampir saja mencelakai Saya kalau Dokter Eel tidak segera menolong mungkin Saya sudah terluka" Kata Dokter Zainal.
"Wah...kalau itu sich bukan hanya terluka mungkin tinggal nama Dok" Kata Suster Ana
"Kok bisa Sus?apa Dokter Lia sekejam itu?" Tanya Dokter Zainal tidak percaya.
Ternyata di balik wajah datar memiliki kekejaman yang mengerikan.
"Ya ..kalau di bilang kejam ga juga sich..Dok,cuma kalau Dokter Lia lagi marah kita orang orang yang tidak tahu apa apa lebih baik menjauh,setahu Saya selama ini yang bisa meredakan emosi Dia hanya empat orang"
"Empat orang?Siapa aja Sus?" Tanya Dokter Zainal penasaran.
"Empat orang itu Abah Yusuf,Tuan Davin,Pak Arif dan Ustadz Firman sendiri" Kata Suster Ana.
"Tanpa mereka berempat kita tidak bisa mengendalikan emosinya,semenjak Enam bulan terakhir saat tidak ada kabar dari Ustadz Firman emosi Nona tidak bisa di kendalikan mereka bertiga tidak bisa mengatasinya makanya mereka mengurung Nona selama sebulan agar tidak merusak semuanya." Kata Suster Ana .
"Setelah itu Sus..." Tanya Dokter Zainal.
"Sebulan kemudian Nona pintu tempat Dia di kurung di buka,Ada kemajuan yang terlihat Dia bisa ber jalan dan berbicara dengan baik cuma tambah pendiam"
__ADS_1
Suster Ana kemudian menceritakan gimana hari hari Lia setelah pembatalan pernikahan itu sampai Dia ada Di Runah Sakit ini.
"Kita malah mengghibah orang Dok.,semoga Orang yang kita Ghibah tidak tahu" Kata Suster Ana kemudian berhenti di depan pintu ruang Suite kepresidentan tersebut.
Tok...tok...
"Assalamualaikum Nona..." Suster Ana mengetuk pintu
"Walaikum sallam ...masuk!" Kata Lia dari dalam.
Suster Ana dan Dokter Zainal masuk kemudian duduk di sofa.
"Sudah ghibahnya?" Kata Lia sambil menyilang tangannya di depan perut.
Suster Ana dan Dokter Zainal saling pandang.
"Maaf Nona...kalau kami lancang udah membicarakan Nona di belakang?" Kata Suster Ana karena Dia menyadari kalau Majikannya tidak bisa di bohongi.
"Saya juga minta maaf Dok karena Saya Suster Ana menceritakan tentang Anda" kata Dokter Zainal.
"Udah..ga usah di bahas,Saya memanggil kesini ada yang ingin Saya omongin" Kata Lia dingin.
"Sus. kamu kembali ke kamar dulu bersihin tu badan. ..bau tahu ga?" Kata Lia sambil menutup hidungnya.
"Idih...Nona..ya jelas bau tadikan baru aja nge gym,salah siapa lansung suruh kesini ?" Kata Suster Ana cemberut.
"Okey..dech Saya mandi dulu" Kata Suster Ana lagi sambil keluar dari ruang Suite tersebut.
"walaikum salam...." Kata Lia
Suster Ana berhenti dan menoleh
"Assalamualaikum..." Kata Suster Ana kemudian.
Setelah kepergian Suster Ana ,Lia menjelaskan secara detail pelaksanaan operasi nanti.Dokter Zainal sesekali melihat kearah Lia.
Dia menyadari walau sedang serius aura kecantikanny masih terlihat.
Sayang...gadis kecil
Kamu sudah milik orang lain.
"Hush...jaga pandang" Kata Lia sambil memukul Zainal dengan buka yang tebal.
"Aduh...sakit tahu gadis dodol...hidung ni jadi pesek kan?" Kata Zainal sambil mengelus hudung mancungnya yang terkena pukulan Lia.
"Ternyata cewe bar..bar bisa narsis juga ya?"
"Biarin Narsis..kan kenyataannya gua emang cantik...uwk..." Ledek Lia.
Zainal hanya geleng geleng kepala dan melihat tumpukan berkas yang ada di depannya.
"Dik..."
"Hemm..."
"Ana boleh nanya ga?"
"Apa?"
"Sebenarnya kenapa kamu harus sembunyi sembunyi dari Firman?Dia kan calon Suami kamu?"
"Itu dulu...kalau sekarang udah ga?"
"Lo..emang Firman udah mutusin hubungan kalian?"
"Secara lisan belum,tapi berhubung Dia tidak datang di hari pernikahan ya gua anggap Dia udah mutusin gua" Kata Lia datar.
"Tapi kamu tahu sendiri Dia ga datang karena apa?"
"Iya gua tahu...tapi setidaknya Dia ngabarin gua lewat ponsel kek tapi ini....kaya Gua ga berarti di hidupnya"
"Waktu itu katanya Dia lagi panik ,jadi ga kepikiran untuk hubungi kamu"
"Ya..gua tahu tapi setidaknya satu bulan kemudian Dia hubungi gua kek...apa kek...tapi..."
"Ach udahlah...ga usa du bahas,gua manggil loe kesini buat persiapan nanti malam ga bahas yang ga penting seperti ini"
"Lihat gua...walaupun gua ga jadi merit tapi gua enjoy aja kan?Firman juga kayanya juga udah enjoy dengan gadis pilihan orang tuanya"
"Jadi buat apa di bahas lagi,intinya sekarang kita jalani masing masing anggap aja Dia bukan jodoh gua" Kata Lia sambil membagi berkas ke dalam amplop.
"Apakah kamu akan trauma untuk berhubungan dengan orang lain setelah ini?"
__ADS_1
"Maksud loe..." Kata Lia sambil melihat Zainal
"Ya...maksud Ana apa kamu punya rencana menjalin hubungan dengan cowok lain?"
"Soal itu belum gua pikirin,yang penting gua pingin nyembuhin penyakit gua,dan berkarier"
"Lagian mana ada yang mau dengan gadis berpenyakitan kaya gua"Kata Lia
Zainal melihat ke arah Lia tanpa berkedip.
Seandainya kamu tahu Gadis kecil
Dari dulu aku selalu berharap di samping mu
" Sudah...sudah...o..ya ni Gua titip ini,berkas di amplop coklat adalah obat yang harus di berikan oleh Abi Hasan dan cara penanganannya"
"Dan berkas ini adalah buku tentang pengetahuan penyakit dalam yang harus di pelajari seorang dokter spesialis,habis operasi gua harap lanjutkan kuliahmu ke S2 biar kamu menjadi dokter spesialis" Kata Lia sambil menyerahkan file yang sudah di masukkan dalam amplop.
"Udah mandi dulu sana...bau tahu ..dari tadi rasanya pingin muntah" kata Lia sambil menutupi hidungnya.
"Apa bau?Ni bau...bau..." kata Zainal sambil mendekati ketiaknya ke hidung Lia.
'Hi..jorok ..jorok..." Kata Lia sambil mendorong Zainal.
Karena dorongan Lia sangat keras ,Zainalpun jatuh dan menabrak Suster Ana yang baru masuk.
Reflek mereka jatuh bersama dan berpelukan.
Lia melihat adegan tersebut langsung berdehem.
Ehmmm...ehmmm
Mereka yang mendengar deheman Lia langsung kaget dan kikuk.
"Sudah bilang bukan muhrim kok masih mepet aja kaya perangko?" Kata Lia.
"Udah sana mandi dulu...dan ni berkas loe jangan sampai keliru" Kata Lia sambil melempar berkas kedepan Zainal.
Zainal menangkap file itu sebelum terkena hidungnya.Kemudian Dia berdiri dan keluar dari ruang suite tersebut.
Setelah kepergian Zainal Suster Ana bangun dari jatuhnya sambil menggerutu.
"Sudah nabrak...ga minta maaf malah nylonong aja" Kata Suster Ana
"Anggap aja yang nabrak hantu Sus...kan ga kelihatan?tapi hantu ganteng lo...jadi ga terlupakan...ha...ha" Kata Lia sambil ngledek Suster Ana.
"Idih...apaan sich Non..." Kata Suster Ana tersipu malu.
"Cinta pada pandangan pertama emang susah di lupakan,tapi untuk menjalaninya juga berat karena kita belum tahu satu sama lain"
"Beda kalau cinta karena terbiasa,kita lebih mengerti apa yang Dia mau dan Dia inginkan" Kata Lia.
"Wah kaya pengalaman pribadi nich...." Sindir Suster Ana.
"Yach...begitu dech..tapi juga di alami Suster Ana kan sama Dokter Brian?"
"Kok nyangkut Dokter Brian sich...?"
"Jujur emang dulu Saya pernah jatuh cinta karena ketampanannya,tapi setelah mengenal Dia lebih lama kayanya Saya ga bisa mengimbanginya,atau mungkin karena Dokter Brian yang terlalu dingin dan terlalu terobsesi dengan Nona ya" Kata Suster Ana.
"Saya heran ama Nona,udah cantik sukses banyak yang menginginkan Nona jadi pacar maupun Istri tapi kenapa Nona juga ga mau ama mereka,dan kenapa harus menanti Ustadz Firman?"
"Jujur sich Ustadz Firman itu emang tampan tapi sifatnya itu yang plin plan ga bisa tegas" Kata Suster Ana lagi.
"Au...ah..Sus...Gua juga ga ngerti akan hati ini,terkadang ingin rasanya gua benci karena Dia ingkar janji,ingin Gua marah karena Dia dekat cewek lain tapi semakin rasa itu gua tanam,semakin Gua tidak bisa melupakan Dia"
"Makanya sekarang Gua pasrah,biarkan semua mengalir apa adanya"
"Gua mau melakukan operasi kepada Abi selain menolong Dia dengan kemampuan yang gua miliki,gua cuma ingin menunjukkan kepedulian Gua kepada keluarga mereka,Mungkin gua bukan mantu idaman yang setiap saat bisa berkumpul dengan mereka,bisa bercerita, bisa menemani mereka "
"Walau mereka ga akan melirik apa yang gua lakukan,gua ga peduli...yang teepenting adalah gua harus menyembuhkan Abi bagaimanapun caranya ,walau harus mengorbankan diri gua" kata Lia sambil menangis.
"Udah lah..Sus kok jadi melankonis gini,Gua manggil Suster kesini bukan ingin mendengarkan curhatan gue,tapi gue mau minta tolong nanti kalau Tommy datang toling serahkan amplop ini ya" Kata Lia lagi sambil menyerahkan amplop yang tebal.
" Emang Tuan Tommy mau kesini?"Tanya Suster Ana
"Iya Dia akan datang dengan empat sekawan biang rusuh" Kata Lia.
"Siapa"
"Nanti Suster Ana tahu sendiri,mereka itu orang orang yang selalu bikin pusing,makanya kalau mereka datang gua mau bobok manis dan ga mau di ganggu" Kata Lia sambil menutup laptopnya.
"Sus...kita ke Farmasi gua mau lihat apakah mereka sudah menyelesaikan obatnya" Kata Lia sambil melangkah ke luar pintu.
__ADS_1
Suster Ana mengikuti Lia dari belakang.Sami di Farmasi Lia mengecek obat yang akan di berikan Abi pasca operasi.
Setelah mengecek semua persiapan operasi Lia tersenyum puas,tinggal menunggu jam operasi yang sudah di tentukan.