
Setelah kepergian Firman,Lia pun menjalani dengan kesibukan.Dari kegiatan sekolah,membantu Oma mengurus perusahaan,dan sesekali Diapun main ke bascamp untuk balap motor.
Hari berganti hari,Bulan berganti bulan,dan Tahunpun telah berganti tahun.
Tahun pertama Firman masih sering kirim kabar,dan menceritakan kegiatan di pesantren.
Walau seminggu sekali mereka melakukan komunikasi,dan selalu tukar kabar mereka selalu bahagia.
Tapi setelah menginjak Enam bulan komunikasi mulai terputus,Firman jarang memberi kabar dengan alasan banyak kegiatan.
Lia sendiripun tidak kalah sibuk mengurusi Perusahaan bersamaan Omanya.Sekolah dia ambil Home schooling dan melalui jalur lompat kelas.
Dengan jalur itu dalam setahun Dia bisa menyelesaikan Sekolah SMAnya.
Kemudian Dia mengambil kuliah di jurusan Ekonomi dan Bisnis untuk mengembangkan perusahaan yang akan menjadi tanggung jawab Dia.
Di tempat kuliah Dia pun mengambil jalur lompat kelas dan rencana untuk meraih Gelar Sarjana dia akan menghabiskan waktu dua tahun.
Selama di pegang Lia Perusahaan Wijaya Group semakin berkembang pesat,banyak relasi relasi bisnis yang merasa iri,karena di usia masih muda Dia bisa memimpin perusahaan besar.
Tapi walau sebagai pimpinan perusahaan besar,tidak ada yang tahu bagaimana wajah pimpinan tersebut.Karena Lia selalu menutup dengan cadarnya,walau tidak berjilbab.
Dia tidak berjilbab karena merasa belum bisa membawa diri dengan arti jilbab itu sendiri,Dia masih suka Emosi,Dia masih mengeluarkan kata kata kotor di saat Emosi,Diapun masih suka membunuh terhadap musuh yang telah mengusiknya.Makanya Dia malu dengan jilbabnya.Selain itu dia berusaha menghindar dari Netizen dan para Fansnya Firman yang masih penasaran tentang gadis yang bersholawat bareng dengan Ustad pujaannya.
Lia terkadang berpikir bagaimana kalau mereka tahu kalau aku Tunangannya?pasti semua netizen dan para fans akan membulinya.
Tunangan....
Terkadang dengan memikirkan hal itu Lia menjadi Emosi.
Apakah ini yang dinamakan sebuah tunangan?
Yang di tinggal tanpa ke pastian?
Tanpa kabar dan berita?
Lia pun tak tahu Firman disana gimana?
Apakah sama seperti Dia yang menghargai sebuah Tunangan.
Dan tidak pernah mau membuka hati untuk yang lain.
Selama Firman pergi,Lia hanya menghabiskan Di kantor,kuliah terkadang dia Balap motor untuk menghilangkan penat,dan juga menghindari pikiran pikiran yang mengganggu karena tidak ada kabar Firman.
Lia selalu mensibukkan diri dengan sebuah kegiatan dan tak tahu waktu.Dan tidak peduli banyak hati yang patah karena sikap dingin dengan semua laki laki.
Lia menjadi sosok Arogan,dan berwajah dingin.Hanya dengan keluarga Dia bisa tersenyum tapi di luar Dia terlihat angkuh dan dingin.
Tiga tahun sudah Lia di tinggal Firman.Dan dia juga tidak tahu kabarnya gimana.Walau tidak ada kabar dari Firman,Dia tetap menjalin silaturohmi dengan Abah Ali.Lia pun selalu menempatkan pengawal bayangan di kelurga Firman.Karena dia merasa musuh bebuyutan Sudah mulai beraksi.
Setiap kunjungan di pesantren Lia tidak pernah menyinggung dan menanyakan kabar Firman.Dengan tahu dan tidaknya kabar dari Firman itu tak akan bisa mengobati kerinduan.Biarkan hanya dia yang tahu tentang cinta dan kerinduan itu.
Dari pihak Abah Ali sendiri juga tidak berani menyinggung calon cucu mantunya,karena dia tahu calon cucu mantunya sedang terluka.
Di saat kerinduan melanda Lia hanya mendengar suara Firman melantunkan surat Ar Rahman yang masih dia simpan hadiah perpisahan mereka.
Ach...Kak sampai kapan kamu siksa hati ini
Apakah kamu juga merindukanku?
Apakah kamu juga mengingatkanku.
Tak terasa airmata mengalir...
Drrrrt...drrrtt..
Handpone Lia berbunyi
Dia melihat panggilan itu dan mengangkatnya.
"Hallo Assalamualaikum...."
"Wallaikum sallam Adik dodol...."
"Ada apa Kak kok tumben telpon malam malam gini?"
"Idih...Bocah dodol masak Kakak yang imut gini ga boleh telpon sich?lagian di tempat sini sudah siang tahu,ni kakak lagi makan siang ama Natasya"
__ADS_1
"Alah.. bilang aja mau mamerin kemesraan kakak di depan gue kan?awas ya...gue aduin ke Abah...biar di nyayi in lagu Indonesia Raya" kata Lia kesal.
"Ha..ha...kayanya Adik dodol lagi Baper atau lagi PMS?"
"Ga lucu... " kata Lia manyun.
"Wah sayang bibir loe ga ada yang nyomot ya..."
"Besok besok gue mau cari penelitian tentang bisa tembus lewat layar, jadi kalau gue pingin nyomot atau jitak kepala loe bisa dengan mudah" kata Eel lagi.
"Ga usah nunggu loe nglakuin penelitian,hari ini juga gue bisa bikin Loe mencium kak Natasya biar loe di pecat jadi pacarnya" Kata Lia nunjukin rasa kesalnya.
"Hai...hai...jangan..." Kata Eel lagi.
Ga bisa bayangin Adiknya nekat mengendalikan pikirannya dari jarak jauh untuk melakukan hal yang menjijikkan itu.
"Ach...ternyata orang lagi patah hati itu lebih sadis ya..." kata Eel lagi.
"Siapa yang patah Hati..."
"Ya kamu...mosok Kakak?"
"Alah...ga usah di tutupin Dik,kamu lagi rindukan ama Ustad?kenapa ga kamu gunakan kekuasaan kamu untuk mencari tahu Dia di Tarim,atau mungkin bisa minta tolong Abah" kata Eel lagi.
Lia tahu apa yang di katakan Eel itu benar,Dia bisa menyuruh anak buahnya mencari info Firman di Tarim,atau minta tolong Abah Yusuf karena Pesantren Firman di Tarim itu adalah Pesantren Abah Yusuf dulu.
Tapi Lia tidak pernah melakukan itu,Dia percaya dan menganggap ini adalah ujian cinta mereka.
"Ach...udalah Kak...Dedek cape mau istirahat"
"Eh...tunggu dulu kamu udah minum obat belum?Kakak telpon mau mastiin obat udah di minum belum?"
"Udah..Kakak...emang Dedek anak kecil..?"Kata Lia sambil menghindari wajah terkena kamera,supaya Eel tidak tahu kalau dia berbohong.
Akhir akhir ini Lia emang sengaja tidak minum obat yang di kirim Kakaknya.Terkadang Lia merasa pesimis untuk hidup.Buat apa hidup bila harus selalu terluka dalam kerinduan.
Untung bukan Davin atau Abah yang sedang vidio call,mungkin dengan mudah mereka akan bisa menebak kalau Lia berbohong.
" Ya udah Dik..istirahat sana ..."Kata Eel menyadarkan lamunan Lia.
"Wallaikum sallam..."
Lia menutup panggilan dan berusaha tidur,karena besok Dia akan melakukan perjalanan Ke USA.
...****************...
Perjalan kali ini memakan waktu lama,Lia nenghabiskan waktu di depan laptopnya,membuat laporan skripsi kuliah yang hampir terbengkelai karena kesibukan di kantor.Semenjak Perusahaan di pegang kendali Lia,Oma Palupi pun jarang turun tangan alasan sudah tua dan ingin menghabiskan waktu dengan Opanya yang dulu pernah di sia siakan.
"Non...sebentar lagi pesawat kita Landing " Kata Asisten Lia mengingatkan.
"Baik...Kak..semua sudah di persiapkan?"
"Sudah Non...anak buah Jordan sudah menunggu di sana"
"Jangan lupa senjatanya Non,kita di wilayah Zona merah" Kata Asistennya mengingatkan.
"Tenang Kak..semua uda aku siapkan,semoga tidak terjadi apa apa kita hanya menjalani Bisnis"
"Tapi Bisnis ini sangat berisiko Non...semua ingin mendapatkan projeck kita,Apalagi kita di wilayah Mafia"
"Apakah sudah kamu selidiki Mafia itu ada kerjasamanya dengan Alexander?"
"Sudah Non...tapi kita semua mengalami jalan buntu,sepertinya mereka lebih pintar dari kita"
Pesawat yang di tumpangi Lia mendarat dengan selamat.Lia pun turun dari pesawat.Waktu turun dari pesawat Dia merasakan ada sesuatu yang mengintai.Lia melirik kearah Tommy asistennya memberi isyarat.Tommy mengerti isyarat tersebut terus memberi kode anak buahnya untuk menjauh dari situ.
Dengan sigap anak buahnya menepi dan ada sebagian yang sudah berjaga jaga untuk melindungi Nona mudanya.
"Kak Tom....lompat dan tiarap..." teriak Lia setelah dia merasakan ada desiran mesiu yang dilancarkan ke arahnya.
Mendengar perintah dari Nona mudanya Tommy pun melompat.
Duarrr....duarrr..
Pesawat yang baru aja di tumpangipun meledak.Lia terkejut,dan berharap semoga anak buahnya sudah pada keluar.
Walau Dia sudah tahu apa yang akan terjadi,tapi ternyata tangannya terluka kena serpihan pesawat yang hancur.
__ADS_1
Darah pun mengalir,kemudian Lia mengambil botol kecil dan mengoles bagian yang terkena pesawat.sensasi panas menjalar di kulitnya karena luka bakar.
Tommy menyadari Nona muda nya terancam,Diapun dengan singgap mengambil senjata apinya untuk melindungi Nona Muda.
Bersamaan dengan pesawat hancur,di susul suara tembakan bertubi tubi yang di lancarkan ke arah Lia.
Lia dengan sigap mengelak dan membalas tembakan itu pula.Walau dia tidak melihat dari mana tembakan itu berasal,Lia mengandalkan insting pendengarannya.
"Kak...Tom...coba kamu tembak kaleng minyak itu,ternyata banyak orang orang pengecut di sini.." Kata Lia memberi perintah.
Tommy pun mengerti dan memberi isyarat ke anak buahnya untuk menembak kaleng kaleng minyak.
Lia pun menembak kearah peti kemas yang ada di seberang kanan dimana asal mesiu yang tadi hampir membunuhnya.
Insting Lia selalu tepat,akhirnya persembunyian mereka di ketahui dan mampu Lia hancurkan.
Di seberang sambil memantau monitor,seseorang mengumpat melihat semua anak buahnya mati sekali gebrakan aja,sedangkan di pihak musuh hanya beberapa yang terluka.
"B******...ternyata dari dulu Wijaya selalu unggul.." kata orang itu sambil memukul meja.
"Boz...." kata anak buahnya
"Pergi dari sini ...saya tidak mau di ganggu".kata orang itu.
Anak buahnya pun meninggalkan ruangan itu.
Setelah terjadi insiden itu,Tommy menyuruh anak buahnya berjaga jaga dan segera memberi pertolongan yang terluka.Mereka di larikan ke Rumah sakit milik Opa Markus.
Sebenarnya Rumah sakit itu masih di bawah naungan Wijaya Group,tapi Lia berusaha menutupi karena tidak ingin Rumah sakit itu di hancurkan oleh musuh besarnya.
Setelah semua kembali tenang,Lia dan anak buahnya ke Apartemen yang sudah di siapkan anak buahnya.
Di Apartemen Lia pun bersih bersih dan melaksanakan ibadah sholat yang hampir terlewatkan.
Drrrrt....drrtt...
" Halo Assalamualaikum...Dad"
kata Lia menerima telpon setelah tahu siapa yang telpon.
"Walaikum sallam"
"Kamu ga apa apa sayang...barusan Dady di beri kabar ama intelegen kalau barusan ada insiden yang menimpa kalian"
"Alhamdulilah...Dad..Dedek tidak apa apa,kayanya Dedek di jebak Dad oleh mereka dengan dalih kerjasama,ni Dedek lagi menyelidiki dalang di balik ini semua"
"Mungkin Dedek di sini cuma beberapa hari karena tidak ada pembahasan lagi,dan perusahaan yang mengajak kerja sama ternyata rekayasa"
"Baru kali ini Dedek bisa di pecundangi seperti ini" kata Lia menahan emosi.
"Yang sabar dik..kita hadapi dengan kepala dingin ya...jangan terpancing emosi"
"Baik Dad..terimakasih uda ngingetin Dedek"
"Sebagai orang tua itu adalah wajib ngingetin anaknya"
"O...ya mumpung di sini apa kamu tidak ingin ketemu Dady?"
"Pingin Dad...besok dedek kesana ya"
"Oc...Dady tunggu"
"Assalamualaikum"
"Walaikum sallam".
Selama di USA Liapun di sibukkan bisnis bisnis Dia di sana,walaupun gagal rencana awal ingin menawarkan projecknya dengan Perusahaan asing,tapi Lia tidak diam saja Dia menyempatkan diri untuk memperluas dan memperbaiki bisnis yang disini.
Diapun mengunjungi Dadynya yang menjadi anggota FBI.
Sebelumnya Dady Hendra menjadi Duta besar di Jepang,karena prestasi dan ingin melindungi keluarga dari musuh besarnya Daddy Hendra akhirnya bergabung di FBI,agar suatu saat musuh besar itu bisa terjerat oleh hukum dunia.
Setelah penangkapan Tuan Besar Alexander yang di lakukan Lia waktu masih belia,dan akhirnya Tuan Alexander meninggal di penjara,Keluarga besar Alexander murka dan mulai menyusun rencana untuk menghancurkan Keluarga Wijaya.
Dari pihak Alexander pun tidak tahu siapa penerus dan pemimpin Wijaya yang sekarang tambah kuat.Mereka selalu meneror tempat tempat usaha di bawah naungan Wijaya Group.
Setelah urusan selesai Lia dan Asisyen Tommy kembali ke Indonesia dan mencari dalang dari insinden di USA.
__ADS_1