
Pak Arif merasa Firman melihatnya,dua pura pura tidak tahu.Dia tahu pasti Firman akan menanyakan tentang Gadis di balik tirai itu.Pak Arif belum tahu harus berkata apa soalnya Dia sudah berjanji dengan Lia agar tidak membuka rahasia.
Tidak lama kemudian Azzam masuk dan mengatakan ke Firman kalau Dia harus segera mengklarifikasi tentang hubungannya dengan Fatimah.
Pak Arif mengangguk tanda menyetujui kalau Firman harus menemui wartawan sekarang juga
"Pak saya tahu Bapak sedang menghindar dari saya atas pertanyaan pertanyaan saya di dalam hati kan?habis ini saya ingin Pak Arfif jujur sama saya" Kata Firman berbisik.
"Simpan saja pertanyaan kamu Nak...belum waktunya Bapak menjawab,Bapak sudah berjanji menutup ini semua,hanya Dia yang berhak untuk buka suara" Kata Pak Arif sambil menepuk pundak Firman.
Firman hanya bisa menarik nafas panjang,walaupun mau merayu gimanapun pendirian Pak Arif tak akan goyah.
Firman kemudian keluar dari ruangan untuk menemui wartawan,di ikuti Pak Arif.
Setelah Firman keluar Davin mengajak Lia dan suster Ana kembali ke Rumah sakit.
Setelah peristiwa itu Lia berusaha memulihkan diri secara pribadi,Dia tidak mau di bantu siapapun,karena selain terapi fisik Dia juga harus berkonsentrasi penuh dengan pemulihan batiniahnya.
Dengan energi yang di berikan Firman sangat membantu pemulihannya dengan cepat.
Kak...
Sekarang aku terlalu bergantung padamu
Setiap pemulihanku aku selalu berharap mendapatkan energimu.
Tapi sampai kapan kak...
Ketergantungan ini
Sedangkan aku tidak tahu apakah kita berjodoh?
Kamu melihatku aja tidak mengenalku?
Apakah rasa itu sudah hilang kak...
Aku benci...
Aku benci akan diriku
Aku benci akan cintaku
Seburuk itukah diriku Kak
Sehingga kamu melupakanku.
Aaa..aaa..
Lia frustasi Dia melempar semua alat alat terapi yang ada di dekatnya.
Dia berteriak meluapkan emosinya.Walau lagi sakit tapi di saat keadaan emosi tenaga dia pun akan berlipat ganda.Dia lupa akan sakit yang menjalar di tangannya.Dia pun lupa akan sakit di kepalanya.Emosinya memuncak Dia menggerakkan kursi rodanya dengan kecepatan penuh dan menabrak dinding,Dia terpental.Keningnya terbentur dinding dan berdarah.Mungkin kalau orang kondisi normal dengan keadaan seperti langsung pingsan dan bisa saja langsung meninggal.
Tapi mungkin dengan kemarahan yang di lapisi energi Dia masih bertahan walau keadaan sangat menyedihkan.
Di luar ruangan terapi ,Suster ana mendengar kegaduhan di dalam sangat panik.Dia tidak tahu harus berbuat apa,karena ruangan terkunci dari dalam.
Dia berusaha menelpon Dokter Brian dan menyeritakan keadaan disana.Beberapa menit kemudian Dokter Brian dan beberapa Dokter Tim datang keruangan itu.
Dari luar mereka masih mendengar kegaduhan itu.Dokter Brian berusaha ingin mendobrak pintu karena merasa khawatir keadaan Lia.
Tapi Dokter Hendra menyegahnya,karena walau kita sudah berhasil mendobraknya tapi tetap sia sia,karena hanya orang orang tertentu yang bisa menenangkannya.
Dokter Hendra tahu keadaan Lia seperti itu,karena Dia termasuk saksi mata selama bertahun tahun tentang keadaan Emosi Lia yang tidak bisa stabil.
Terakhir Keadaan Emosi yang memucak adalah lima tahun yang lalu waktu Lia mengalami kecelakaan motor,dan yang bisa menenangkan adalah Firman ,Abah Yusuf Dan Davin.
Dokter Hendra kemudian menghubungi Davin,dan Abah Yusuf.Tapi nomor mereka tidaka bisa di hubungi.
Dokter Hendra bingung apakah Dia harus menghubungi Firman?Tapi Dokter Hendra ingat janjinya pada Lia tidak boleh memberitahu keadaan Lia yang sebenarnya.
Di dalam ruangan pun masih terdengar kegaduhannya.Dia tidak bisa membanyangkan berapa ratus juta alat alat terapi itu di hancurkan.
"Dokter ini gimana?saya khawatir akan terjadi apa apa dengan ketua" Kata Dokter Brian.
"Saya juga bingung Dok,yang bisa nenangi ketua udah saya hubungi tapi semua pada sibuk" Kata Dokter Hendra.
"Apa kita dobrak pintunya Dok?"
"Percuma Dok,walau kita bisa mendobrak bukan menyelesaikan masalah tapi akan memicu kemarahan Ketua,itu akan lebih bahaya baik buat kita maupun buat Ketua."
"Separah itu kah Dok?"
"Ya begitulah Dok kita sebagai orang awam hanya bisa melihat tanpa mengerti"
"Tapi kalau sering kita bergaul dengan mereka,kita akan paham untuk ini semua" Kata Dokter Hendra sambil melihat layar ponselnya dan berharap ada panggilan dari Davin.
Sedangkan di sebuah Majelis Firman dan Davin sedang mengisi acara.Davin tidak mendengar kalau Ponselnya bergetar.
Di tengah tengah acara pikiran Davin dan Firman tiba tiba terpecah.Entah karena apa tiba tiba bayangan Lia terlintas.
Davin merasa kalau adiknya dalam masalah.Dia langsung berkonsentrasi penuh,tapi seperti biasa Dia tidak bisa menembusnya.
Kamu kenapa Dik?
Kenapa masih aja kamu lindungi diri kamu
__ADS_1
Gimana aku tahu kalau kamu ada maslah?
Davin sangat gelisah,kemudian Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Adiknya.Waktu di lihat layar ponselnya ternyata banyak panggilan dari Dokter Hendra.Ada pesan singkat yang kirim Dokter Hendra.
Kondisi Darurat,Ketua dalam puncak kemarahan,tolong datang kesini.
Di sisi lain Firman pun merasakan sesuatu yang terjadi dengan Lia.Bayangannya selalu melintas.Dia pun berusaha berkonsentrasi penuh.Tapi dalam pelinghatannya hanya sekilas melihat orang menggunakan kursi roda menabrak di dinding.
Firman mengucapkan kalimat Istighfar beberapa kali,tapi bayangan orang yang duduk di kursi roda menghantuinya.
Sesekali Dia melihat ke arah Davin yang begitu serius di telpon dan Dia melihat aura kecemasan di mukanya.
Beberapa menit kemudian Davin undur diri dan berjalan dengan cepat.Firman melihat kecemasan Davin langsung mengikutinya.
Dengan menjaga jarak aman Firman terus mengikuti Davin.Ternyata mobil Davin menuju Rumah sakit Wijaya.
Firman ikut masuk di area parkiran.Keluar dari mobil dengan tergesa gesa Davin tidak melihat kalau telah di ikuti.
Davin langsung masuk ke Lift khusus Presiden Direktur.Firman melihat lantai yang di tuju Davin adalah lantai 50.
Lantai 50 bukannya lantai dimana Adik di rawat?
Firman akhirnya mengikuti dengan menggunakan Lift satunya yang di gunakan untuk umum.
Setelah sampai lantai 50 Firman kehilangan jejak Davin yang ga tahu pergi ke arah mana.Dia pun berjalan dan menelusuri setiap ruangan dan berusa mengingat kamar yang dulu pernah buat ruang perawatan Lia.
Disisi lain Davin menuju ruang terapi di sana sudah berkumpul Para Dokter dan perawat yang termasuk anggota tim khusus serta Abah yusuf yang sudah sampai di sana
"Assalamualaikum Abah...gimana keadaan Dede?" Kata Davin.
"Abah belum tahu dan baru aja sampai,kita dobrak aja gimana?" Kata Abah Yusuf.
"Baiklah...Davin coba mendobraknya" Kata Davin sambil bersiap siap mendobrak pintu.
Satu...Dua...Tiga...
Bruak....
Akhirnya pintu terbuka.Kondisi ruangan itu kaya kapal pecah.Semua berantakan dan hancur.Mereka mencari keberadaan Lia.
Di sudut ruangan terlihat genangan darah dan sesuatu yang mengerikan.Lia terkapar tak berdaya dengan penuh lukadan berdarah.
Davin berlari dan memeluk Lia.
"Astaghfirullah...Dek apa yang kamu lakukan?kenapa jadi begini?sadarlah De jangan siksa kamu seperti itu" Kata Davin sambil memeluk Lia dan menangid.
"Kak Davin...aku benci akan diriku Kak,lihatlah aku yang tidak berguna ini" Jawab Lia lirih.
"Kata siapa kamu tidak berguna?kami di sini masih membutuhkan kamu,terutama group Wijaya ini"
"Tapi seburuk itukah Kak diri ini,sehingga Dia tidak mengenali Dede?
" Gimana Dia mau mengenali kamu Dek,waktu itu kamu pakai maskerkan?
"Tapi waktu Dia naik Podium masker sempat aku buka kak,tapi Dia juga tak mengenaliku?" Kata Lia terputus putus dan Dia merasakan perutnya mual dan muntah darah.
"Kata siapa Kakak tidak mengenali kamu Dek?" Tiba tiba ada suara yang membuat semua terkejut.
Bersamaan dengan kemunculan Firman,Lia muntah darah lagi.
Melihat kondisi Lia Firman langsung lari dan menarik Lia dari pelukan Davin langsung Dia peluk.Tidak peduli akan aturan bukan Muhrim,dan Dia seorang Ustad Firman langsung memeluk dan mencium wajah Lia yang penuh darah di bibirnya.
Firman menangis dan meluapkan kerinduan Dia selama ini.Dalam pelukan Firman Lia hanya menangis.Dia juga sangat merindukan Firman dan tidak ingin melepaskannya.
"Dik..kenapa kamu jadi begini?kenapa kamu sembunyikan dari Kakak?" Kata Firman masih memeluk Lia dan masih menangis.
"Kak...Dede ga apa apa kok cuma.... "
Huek...huek...
Lia muntah darah lagi.
Davin melihat adiknya seperti itu langsung teriak teriak memanggil Dokter Hendra.
"Hendra ...coba kamu cek Dede" Teriak Davin.
Hendra dan Brian langsung mendekati Lia dan memeriksanya.
Firman melihat keadaan Lia tambah sedih,Dia mengelap darah yang keluar dari bibir Lia.
"Dik...kamu harus kuat,habis ini kita menikah ya. .Kakak udah ga sabar ingin meminangmu" Kata Firman masih menghapus darah yang keluar.
"Maaf Ustadz kita bawa Ketua ke ruang perawatan dulu ya...soalnya biar kita leluasa memeriksa keadaan Ketua" Kata Dokter Hendra.
"Baik Dok..biar saya yang menggendong Dede ya" Kata Firman
"Silahkan Ustadz..." Kata Dokter Hendra.
Firman langsung menggendong Lia membawa ke ruang perawatan.Abah Yusuf melihat hanya geleng geleng kepala.Kalau udah cinta larangan sekecil apapun pasti akan di langgar.
Setelah sampai di ruang perawatan Lia do periksa Dokter Hendra dan Dokter Brian.Firman menghampiri Abah Yusuf.
"Assalamualaikum Abah...maafkan Firman kalau udah berbuat Zina ,Habis ini Firman janji akan meminang adik"
"Firman harap tolong restui ya Abah..."
__ADS_1
"Nak Firman Abah tidak melarang kamu meminang cucu Abah,karena itu sudah kesepatan kita beberapa tahun lalu"
"Tapi untuk saat ini Abah belum bisa mutusin karena keadaan yang tidak memungkinkan"
"Maksud Abah...?"
"Nak Firman tahu sendiri kalau Dede lagi sakitkan?kita ga tahu sampai kapan Dia seperti itu?" Kata Abah Yusuf.
"Maaf Bah kalau Firman boleh tahu Dede sakit apa?"
Abah Yusuf bingung harus jawab apa?Davin juga bingung mau ngomong apa dia pura pura mainan ponselnya.
Di saat kekalutan antara jujur apa ga Davin melihat Dokter Hendra sudah selesai memeriksa keadaan Lia.
"Gimana Hen...ada masalah serius ga?"
"Alhamdulilah Ga cuma gegar otak ringan,untung posisi kepala kebentur dia posisi di puncak emosi yang tertinggi dimana semua energi Dia keluarkan jadi masih bisa aman"
"Cuma aku ga tahu akan mempengaruhi operasi sebelumnya apa ga?aku takut mempengaruhi jaringan syarafnya karena Dia menggunakan energinya".
" Tunggu sebentar sebenarnya Adik sakit apa?kenapa bilang operasi sebelumnya maksudnya apa?"Tanya Firman.
"Please saya mohon jangan sembunyiin ini semua dari saya" Lanjut Firman lagi.
Abah Yusuf menghela nafas panjang.
"Begini Nak Firman Abah akan menjelaskan ini semua" Kata Abah Yusuf.
"Tapi Abah...." Kata Davin
"Sudah Vin.. ini tanggung jawab Abah kalau Dede marah,"
"Dan Nak Firman setelah Abah ceritakan masalah sebenarnya,Abah harap kamu bisa mengambil keputusan secara bijak untuk kelangsungan hubungan kalian"
Abah Yusuf pun menceritakan penyakit yang di derita Lia,dan baru saja operasi sedangkan ini sedang masa pemulihan dan untuk sistem gerak dan bicara masih belum sempurna.
Dokter Hendra pun menjelaskan walau sudah di Operasi kemungkinan untuk tumbuh lagi masih ada,dan untuk kemungkinan itu terjadi kelak akan lebih parah dari sekarang.Jadi kita harus tetap waspada akan kemungkinan terjadi
Firman mendengar seksama,Dia tidK menyangka kalau orang yang selama ini Dia sayang sangat menderita.
"Nah...Nak Firman sekarang semua menjadi keputusanmu hubungan kalian akan berlanjut atau tidak"
"Dan resiko yang akan datang jauh lebih parah untuk saat ini,kita harus sudah siap menerima ini semua"
"Makanya selama ini Dede selalu menghindar dari kamu karena Dia ingin kamu membenci Dia dan melupakannya,karena Dia tidak ingin melihat kamu sedih di saat Dia kesakitan"
"Abah ama Davin yang menjadi keluarga dekat aja baru tahu dalam beberapa bulan ini,sedangkan Dia sudah sakit selama bertahun tahun" Kata Abah Yusuf .
Firman hanya Diam dan melihat Lia dengan tatapan sahdu.
Dik..
kenapa sakitmu tidak buat Kakak aja
Kakak ga tega melihat kamu menderita
Maafkan Kakak bila tidak mengenalmu
Tapi percayalah Cinta ini selalu memanggil
Walau dengan kondisi apa pun.
Kakak berjanji akan selalu menjagamu
Sampai maut memisahkan kita.
"Abah sudah Firman putuskan,Firman tetap menjadikan Lia sebagai Istri Firman kalau bisa hari ini juga Firman sudah siap"
"Gimana dengan Fatimah?" Tanya Davin masih penasarn dengan kedekatan mereka apalagi beberapa hari yang lalu Fatimah meng iyakan kalau Dia ada hubungan spesial dengan Firman.
"Pak Davin...seperti yang sudah pernah saya klarifikasi kalau saya dan Fatimah tidak ada apa apa,Saya sudah menegor Fatimah"
"Dan kalau setuju Saya akan mengumumkan kalau Saya akan menikah dengan Adik gimana?"
"Wah ..Abah rasa itu lebih baik tapi...."
"Tapi apa Abah...?
" Nak Firman tahu posisi Dede saat ini Dia masih di cari cari sama musuh besar kami,Di lancah perbisnisan Dede selalu menutupi jati dirinya,kondisi Dia seperti ini selalu kami tutup rapat karena takut mereka beraksi"
"Dan Abah tahu Dede ga akan merasa senang kalau Dia harus di kenal banyak Orang" Kata Abah Yusuf lagi.
Davin juga meng iyakan pendapat Abah karena Dia tahu Adiknya seperti apa.
"Lebih baik kita nunggu Dede siuman saja setelah itu baru kita bahas" Kata Davin.
"Baiklah sekarang Nak Firman kembali aja ,Di sini ada Suster Ana yang menemani"
"Saya Di sini aja Abah mau nunggu Dede siuman"
"Tapi acara acara kamu gimana Nak..?"
"Semua udah Saya kosongi sampai minggu depan,Saya mau fokus menjaga Adik"
"Terserah kamu Nak...tapi Abah harap kamu jangan seperti itu,kamu haris lebih konsisten karena kamu adalah panutan setiap umat" Kata Abah Yusuf menasehati.
__ADS_1
Setelah terjadi kesepakatan Abah Yusuf dan Davin pulang ke Rumah.Sedangkan Firman menjaga Lia di rumah sakit.