
Upik memanggil taxi dan menuju Rumah sakit Wijaya.Sudah lama Dia tidak menginjak kakinya di kota Jakarta ternyata banyak perubahan perubahan yang terjadi.
Dimana mana banyak gedung bertingkat dan bergerak di berbagai bidang.Dia harus mulai bergerak untuk membangun Group Wijaya kembali setelah hampir enam tahun terbengkelai.
Tujuan awal Dia kembali ke Indonesia adalah ingin melihat gedung Wijaya dan menyusun kerja untuk kebangkitan Wijaya kembali.
Tapi ternyata Allah menuliskan jalan cerita yang lain,mungkin Allah punya perencanaan lain untuk kebangkitan Wijaya.
Sampai di Rumah Sakit Upik menuju Ruang ICU,ternyata Rumah sakit juga banyak berubah,banyak orang orang baru disana dan mereka tidak mengenali Upik.
Tidak sengaja Dia melihat pantulan wajahnya di cermin.
Subhanallah...gue lupa kalau wajah Gue bukan milik Lia,pantas mereka ga kenal ,apalagi mereka anak baru,yang menjadi karyawan lama aja bisa jadi ga ngenali aku.
Upik bermonolog sendiri.Dia berjalan dan sesekali bertanya arah ruang ICU,Dia melihat potretnya di gantung.
Busyet dach...apa apa an ini,awas ya yang berani memasang foto gue.
Di depan pintu ICU,Dokter Hendra dan Dokter Brian sedang mengobrol dengan Pak Burhan Abang tukang es yang di tolong Upik.
"Gimana Pak?sudah mengabari Orang yang memberi obat" Tanya Dokter Hendra ke Pak Burhan.
"Sudah Dok,sebenarnya ada apa Ya?apakah si Eneng memberi obat salah?" Tanya Pak Burhan.
"Ga ada apa apa Pak,malah cara Si Eneng memberi pertolongan itu benar,obat yang Dia berikan itu juga benar"
"Syukur Alhamdulilah...tapi Dok kenapa anak Saya masih belum sadar?"
"Bapak tenang aja,keadaan putra Bapak tidak apa apa,cuma butuh proses,Penyakitnya sudah termasuk parah untung ada si Eneng yang memberi obat untuk mengatasinya"
"Makanya kami penasaran Siapa si Eneng itu,apa orangnya seperti yang di foto itu?" Kata Dokter Hendra.
Pak Burhan dan Istrinya melihat fotonya Lia yang sedang memakai baju Dokter.
"Ha...ha...Dokter lucu,mana mungkinlah kami dekat dengan Dokter cantik itu dan ga mungkinlah Dokter cantik mau kumpul dengan kita kita orang kecil seperti ini" Kata Pak Burhan.
"Pak Burhan kemungkinan itu bisa terjadi soalnya Dokter cantik itu kalau bergaul tidak memandang bulu" Kata Dokter Brian.
"Wah . apakah masih ada seperti itu Dok di kehidupan nyata seperti ini?" Tanya Pak Burhan.
"" Karena setahu Saya orang yang sudah mendapat jabatan dan uang akan lupa kepada kita sebagai orang kecil" Kata Pak Burhan lagi.
"Ga semua orang Kaya seperti itu Pak,contohnya Dokter Cantik ini" Kata Dokter Hendra sambil menunjukkan Fotonya Lia.
"Bapak tahu Dia siapa?"
Pak Burhan menggeleng.
"Dia adalah pimpinan kami dan pemilik Rumah sakit ini,tapi walau Dia orang kaya ,Dia tidak membedakan status,contohnya Saya Pak...Saya dulu bukan siapa siapa,Saya hanya orang miskin yang punya cita cita tinggi"
"Dulu Saya hanya yatim piatu yang mencari Uang dengan menjual koran untuk menyambung hidup,tapi Alhamdulilah Saya bertemu dengan Dokter cantik itu waktu itu Dia masih remaja,dan mengajak Saya ke rumahnya kemudian menyuruh Saya test masuk sekolah akhirnya Saya bisa sekolah SMA sampai lulus menjadi Dokter dan mengajak Saya bergabung Di rumah sakit ini"
"Wah budiman sekali Dokter Cantik itu,masih muda lagi" Kata Pak Burhan sambil mengamati Foto tersebut.
Dia melihat dengan seksama kalau di perhatikan tatapan matanya sangat familiyar tapi entah siapa.
Upik melihat Hendra dan Brian sedang mengobrol dengan Abang tukang es,Dia melihat si Abang memperhatikan fotonya,Dia buru buru takutnya Abang itu melihat kesamaan Dia dengan di Foto.
"Maaf Bang.. Amar gimana?" Tanya Upik sambil menghampiri mereka.
"E...si Eneng sudah dateng,ni lo si Eneng di tunggu Bapak Dokter ini" Kata Pak Burhan.
"Nunggu Saya Bang emang kenapa?" Tanya Upik sambil membelakangi Hendra.
"Ini Neng berhubung tadi yang memberikan obat ke Amar mereka ingin ketemu Eneng" Kata Burhan.
Mampus gue...apa mereka tahu kalau yang ngasih obat itu gue?
Upik melihat kearah Dokter Hendra dan melototi Dokter Hendra.Emosinya tidak bisa Dia sembunyikan karena foto fotonya di tempel di dinding.
Dokter Hendra terkejut waktu melihat gadis yang wajahnya asing,Dia mengira yang memberi obat tersebut adalah Orang yang selama ini Dia rindukan.Tapi ternyata bukan Dia orangnya.
Waktu di pelototi Gadis itu,Dokter Hendra sempat kaget karena baru kali ini ada yang berani melototi Dia setelah sekian tahun orang yang selalu melototi Dia tidak kembali.
Tapi waktu memperhatikan mata gadis itu,Dokter Hendra tersenyum akhirnya pancingan Dia untuk menempel Fotonya Lia berhasil,Macan betina yang Dia rindunkan telah kembali walau dengan wajah berbeda.
Beberapa hari yang lalu Eel sudah melpon Dia,dan mengabari kalau Lia telah pulang ke Indonesia,tapi kemungkinan Dia tidak akan langsung pulang ke rumah.
Dokter Hendra akhirnya punya ide untuk memancing macan Betina unjuk giginya,biar tidak bersembunyi lama lama.
Dia tahu bagaimana memancing emosi Macan betina itu dengan menempel foto foto Dia di berbagai tempat di Rumah sakit Dia pasti akan marah.Karena dari dulu Macan betina paling tidak suka wajahnya di pampang di depan umum.
__ADS_1
Dokter Brian terkejut melihat Dokter Hendra senyum senyum melihat gadis itu baru kali ini Dia melihat Dokter Hendra seperti itu,biasanya Dia seperti balok Es.
Upik melihat Dokter Hendra senyum senyum akhirnya Dia sadar kalau Dia tidak bisa menutupi identitasnya di depan Dokter Hendra.
Awas loe ya Hen...udah menggunakan kelemahan gue.
Upik berusaha menetralkan emosinya dan bersikap wajar di depan semua orang.
"Maaf Dok..ada apa ya mencari saya?" Tanya Upik kepada Dokter Hendra.
"Ada yang ingin Saya tanyakan tentang obat yang Anda berikan ke pasien?"
"Bisa ikut Saya ke kantor?" Kata Dokter Hendra.
"Bisa sich Dok tapi...." Kata Upik sambil melirik Dokter Brian.
Dokter Hendra tahu kode dari Upik Dia langsung nemberikan perintah Dokter Brian untuk mengecek keadaan pasien.
Dokter Brian mengangguk dan masuk ke Ruang ICU,Upik langsung mengikuti Dokter Hendra ke kantornya.
Dokter Hendra mengajak Dia ke ruangan pribadinya Lia.Para Staf Rumah sakit heran melihat Dokter Hendra mengajak seorang gadis gembel tapi keruangan milik Presiden Direktur yang sudah lama tidak ada yang berani masuk,kecuali petugas claning servic untuk membersihkan tempat itu.
Upik langsung masuk ke ruangan pribadinya dulu dan suasananya tidak berubah masih sama seperti enam tahun lalu.
"Ruangan Kamu ga Saya rubah,masih seperti dulu De" Kata Dokter Hendra setelah mereka masuk di ruangan tersebut.
Itulah sifat Dokter Hendra yang Dia sukai orangnya ga mau bertele tele dan langsung to the point.
"Dasar kamu ya Kak.,.pingin Gue jitak kepala loe.." Kata Upik langsung menjitak kepala Dokter Hendra.
Dokter Hendra tidak bisa mengelak karena kecepatannya tidak sebanding dengan kecepatan Dia.
"Aduh sakit tahu De...." Kata Hendra langsung mengelus kepalanya.
"Syukurin..lagian suka sekali memancing emosi Gue,turunin ga foto itu!" Kata Upik sambil duduk di sofa.
"Ga mau...mereka sangat suka dengan foto kamu,katanya sebagai obat rindu " Kata Hendra.
"Awas loe ya kalau ga di turunin?"
"Biarin..sampai Dede mau balik ke sini Foto itu ga Gue turunin" Kata Hendra keras kepala.
"Lagian De kenapa kamu harus menyamar kaya gini,kan langsung datang ke mesion dan datang ke Rumah sakit kan ga masalah,ini Rumah Sakit kamu"
"Iya ini emang Rumah sakit Dede,setelah Dede aktif di sini,Dede ga bisa kesana kemari untuk membangun Wijaya Group kembali"
"Dan otak Dede masih gesrek gara gara tidur melulu makanya Dede pingin refresing biar fresh gitu" Kata Upik sambil tiduran di sofa.
"Rasanya enak juga tidur disini,Dede ngantuk boleh tidur ga di sini?" Tanya Upik sambil memejamkan matanya.
"Kalau mau tidur di kamar aja sana,masih bersih kok" kata Hendra.
"Ga mau ach...mau tidur disini aja,jangan ganggu Dede ya..."
"Pasien tadi ga ada masalah kan?"Tanya Upik lagi
"Ga ada De..obat kamu bener bener manjur" Kata Dokter Hendra.
"Oh..ya satu lagi jangan kasih tahu pada Siapapun tentang Gue ya pokoknya panggil Gue Upik,awas ya kalau sampai semua tahu kepala loe ga cuma Gue jitak,tapi bakal gue kuliti sampai otak loe kelihatan" Kata Upik sambil memejamkan matanya.
Hendra geleng geleng kepala.
Otak loe dari dulu emang sudah gesrek dan sadis.
"Gue denger apa yang Loe katakan" Kata Upik masih terpejam matanya.
Dokter Hendra menghela nafas panjang,belum berubah juga kemampuan Dia walau sudah lama koma tapi kemampuannya masih sama.
Dokter Hendra melangkah kaki ke arah pintu,kemudian berbalik lagi.
"Nomer sandinya tanggal pertemuan kita De,sengaja gue ganti" Kata Dokter Hendra.
Dia melihat Upik masih terlelap,
"Hemm" Keluar suara dari mulut Upik.
Dokter Hendra tahu walau di saat tidurpun Dede masih bisa di ajak komunikasi.Dia lalu menelpon kepala Clening service untuk menurunkan foto foto Lia.
Dia ga mau bikin emosi Lia memuncak.Cukup Lia sudah datang walau dengan wajah berbeda,itu sudah anugrah bagi Dia dan rumah sakit.
Semua orang heran baru beberapa hari foto foto itu di pasang kenapa ini diturunkan kembali.
__ADS_1
"Dok ga salah foto itu di turunkan?" Tanya Suster Ana waktu bertemu di depan kantornya.
"Ga salah Sus...takut macan betinanya ngamuk" Kata Dokter Hendra.
Suster Ana geleng geleng kepala,sebelum di pasang Suster Ana mengingatkan takut kalau Lia marah,tapi Dokter Hendra bilang biarin aja Dia marah biar segera nunjukin batang hidungnya.
"Dok apa Nona muda benar benar kembali?" Tanya Suster Ana.
Dokter Hendra terkejut dan berusaha menenangkan diri.
"Kata Eel dalam waktu dekat ini Dede akan pulang tapi ga tahu kapan?" Kata Dokter Hendra.
"Yes...berarti Nona muda akan di sini lagi,Saya udah kangen kerja dengan Nona muda" Kata Suster Ana bahagia.
"Bukan kamu aja Sus yang merindukannya tapi Saya juga kita semua yang ada disini" Kata Dokter Hendra sambil menghapus airmatanya.
"Nach...emang hanya satu orang yang selalu membuat kita menangis ya Dok?" Kata Suster Ana ikut menghapus air matanya.
Dokter Hendra tersenyum.
"Ada masalah apa Sus kamu kesini?" Tanya Dokter Hendra
"Oh..ya Saya hampir lupa ,Dokter di tunggu Abi Hasan katanya waktunya Chek up" Kata Suster Ana.
"Baik Sus..suruh tunggu Saya dulu,biar Saya bersiap siap"
"Oh ya..Abi Hasan ama siapa?"
"Ama Umi Hajar dan Ustadz Firman" Kata Suster Ana.
"Apa Ustadz Firman?" Tanya Dokter Hendra.
"Iya Dok ..ada apa?" Tanya Suster Ana
Kok barengan sich...sekarang Dede di sini,ini Ustadz Firman yang ga pernah kesini juga tiba tiba muncul.
"Ustadz Firman nganterin Assifa karena badannya panas" Kata Suster Ana.
"Assifa panas?terus apa ada Fatimah?" Tanya Dokter Hendra.
"Sejak kapan Dokter jadi kepo seperti ini?" Tanya Suster Ana.
Dokter Hendra gelagapan karena pertanyaan Suster Ana,Dia hanya khawatir kalau Dede melihat Ustadz Firman dan Fatimah bersama itu akan menambah sakit hati Dede.
"Ga apa apa..mari Sus" Kata Dokter Hendr sambil berjalan menuju Lift.
Di tengah perjalanan menuju ruang praktekny Di bertemu perawat yang nampak kebingungan.
"Sus ada apa?" Tanya Dokter Hendra.
"Saya cari Dokter Brian tidak ada,ada pasien anak sedang kejang kejang butuh pertolongan,kami sudah melakukan pertolongan pertama tapi masih saja belum bisa" Kata Perawat itu panik.
"Baik kita kesana dulu" Kata Dokter Hendra.
Setelah itu mereka langsung menuju ruang dimana anak sedang kejang kejang.Sampai di sana ada keributan kecil yang terjadi dan sayup sayup Hendra mendengar suara bentakan yang Dia kenal.
"Kalian jangan berisik,dan lakukan apa yang saya perintahkan,jangan banyak tanya dulu Siapa Saya yang penting anak ini selamat,kalian mau anak ini kenapa napa?terus kalian di tuntut pertanggung jawaban kalian?" Tanya Upik.
Yach..setelah Dokter Hendra mendekat Dia tahu siap yang berteriak tadi.
Tadi katanya mau tidur?ini baru di tinggal sebentar sudah di bawah aja,apa ini roh nya?
Para Perawat bingung karena mereka tidak mengenal Gadis yang berusaha membantu mereka.
"Kok masih diam?ayo semua bagi tugas,yang lainnya ke ruang ICU siapkan disana anak ini butuh perawatan di sana" Kata Upik masih meredakan kejang kejang anak itu.
"Udah lakukan semua perintah Dia sebelum terlambat," Kata Dokter Hendra.
"Tapi Dok...Dia?" Tanya perawat
"Tenang aja Dia adikku,Dia juga seorang Dokter" Kata Hendra lagi
Perawat itu heran dan melihat kearah gadis itu terus ke Dokter Hendra.
Tidak ada mirip miripnya?Gumam perawat itu.
"Udah jangan bengong lakukan yang saya perintahkan" Kata Upik masih sibuk memeriksa keadaan anak itu.
Dia hanya geleng geleng kepala bisa bisanya Anak seorang Ustadz dehidrasi?
Upik tahu anak yang dia tolong adalah anaknya Firman ,karena baru tadi pagi Dia menolong anak itu dari jambret.
__ADS_1