
"Maaf Dok apa yang terjadi?" Tanya Firman.
"Dede pingsan setelah menangani pasien" Kata Dokter Hendra sambil menelpon seseorang.
Firman hanya terdiam,peristiwa tujuh tahun yang lau terulang kembali dimana Lia menolong Abinya dan kemudian Dia pingsan baru bangun lima tahun lamanya.
Setelah ini kamu mau tertidur berapa tahun lagi De?kenapa kamu tidak pernah memberi waktumu sedikit saja untuk berkumpul dengan ku.Batin Firman sambil menangis.
"Maaf Ustadz ,Assifa sudah di pindahkan ke ruang perawatan" Kata Suster Ana.
"Terimakasih Sus..." Kata Firman datar.
Suster Ana menganggukkan kepala dan ingin melangkah pergi.
"Tunggu Sus...." Kata Firman.
Suster Ana berhenti dan menoleh ke arah Firman.
"Ada yang bisa Saya bantu Ustadz?"
"Maaf Sus..Dede di rawat di mana?"
"Untuk saat ini masih di rawat Intensif sambil menunggu Dokter Eel datang"
"Apakah Dia mau dibawa ke Jerman kembali?"
"Wah kalau itu kita tidak tahu ,nunggu keputusan dari Dokter Eel"
"Ada apa Ustadz...?" Tanya Suster Ana melihat raut wajah Ustadz Firman yang sedih.
"Bisa minta tolong sampaikan ke Fatimah agar Dia menjaga putrinya,Saya ingin ke kamar Dede dan menjaga Dia sebelum di bawa ke Jerman" Kata Ustadz Firman.
"Baik Saya ke Bu Fatimah dulu..Assalamualaikum..." Kata Suster Ana sambil berlalu.
Setelah itu Ustadz Firman mencari ruangan dimana Dede di rawat.Dia melihat Dokter Brian dan beberapa Dokter yang berjalan tergesa gesa,kemudian Dia mengikuti mereka.
Sampai di ruang intensif,semua Dokter masuk.Ustadz Firman berhenti dan menunggu di depan pintu ruangan tersebut.
Tiba tiba pintu ruangan terbuka terlihat Dokter Hendra sedang menerima telpon.
Ustadz Firman melihat dan berharap Dokter Hendra melihatnya.Beberapa menit kemudian Dokter Hendra melihat ke arah Firman.
Firman kemudian menghampiri Dokter Hendra dan menanyakan keadaan Dede.
"Maaf Dok..bagaimana keadaan Dede?"
"Alhamdulilah semua sudah stabil,tapi Dia belum sadar juga"
"Apa boleh Saya menemani Dok?"
"Mmm..boleh Ustad tapi nunggu Abah Yusuf datang ya...Saya ga enak memberi ijin takutnya kesalahan" Kata Dokter Hendra.
"Baik Dok saya akan tunggu Abah Yusuf di sini" Kata Firman lagi.
Dokter Hendra mengangguk langsung masuk keruangan Dede lagi.Firman nunggu di ruang tunggu.
Beberapa menit kemudian Abah yusuf,Davin dan Dokter Eel datang.Mereka masuk ruangan Dede.
Abah Yusuf melihat dan tersenyum kemudian mengajak masuk Firman.
Di dalam ruangan terlihat Dede yang terbaring lemah dan banyak selang yang menempel di dadanya.
Firman melihat sangat kasihan dan ingin rasanya memeluk Dia dan meringankan beban penderitaan Dede.
Dokter Eel memeriksa keadaan Dede dan meminta data hasil pemeriksaan,dan kemudian Dia membuat resep untuk di berikan kepada Dede.
"Gimana El..ada yang serius?" Tanya Abah Yusuf.
"Ga ada Bah...mungkin karena sudah lama Dede tidak pernah melakukan tindakan,jadinya tubuh dan tenaga nya kaget karena terforsir" Kata Dokter Eel.
"Kali ini yang bisa menolong hanya Tiem Abah...kayanya Dia telah memforsir tenaga dan pikirannya untuk menolong pasien" Kata Dokter Eel.
"Emang pasien yang di tolong siapa?" Tanya Abah Yusuf.
"Kalau menurut laporan yang Eel terima pasien yang di tolong Dede adalah anaknya Firman" Kata Dokter Eel setengah berbisik.
Abah Yusuf kemudian melihat ke arah Firman dan tersenyum.
"Vin..mari kita berdoa untuk kesadaran Dede biar segera kembali,Firman bantu Abah ya..." Kata Abah Yusuf.
Davin dan Firman pun mengangguk mereka tahu apa yang harus di lakukan.
Mereka bertiga mulai berdoa dengan khusuk.Hanya mereka yang tahu doa apa yang di panjatkan,dan hanya mereka yang tahu apa yang terjadi di bawah alam sadar.
Satu jam berlalu tubuh Dede pun bereaksi,melihat ada reaksi dari tubuh adiknya Eel mulai melakukan tindakan dan menstabilkan alat bantu yang di pasangkan di tubuh Dede.
Abah Yusuf menyelesaikan doa nya di ikuti Davin dan Firman.
"Firman sekarang tugas kamu untuk mendampingi Dede,semoga dengan Doa kamu Dia mau kembali" Kata Abah Yusuf.
"Tapi ingat lo jaga tangan kamu,kalian belum jadi Muhrim?" Kata Davin tegas.
"Insa Allah Abah,Firman akan bantu doa dan Pak Davin tenang aja semoga Firman bisa menjaganya,tapi kalau syetan lebih kuat ya maaf Ustadz juga manusia" Kata Firman sambil tersenyum.
"Eh...tidak bisa..enak enak an"
"Hend..panggil Suster Ana buat jaga mereka berdua,takutnya Syetan mengalahkan segalanya,apalagi sama orang yang sudah kebelet seperti itu" Kata Davin sambil menatap tajam ke arah Firman.
Abah Yusuf hanya geleng geleng kepala melihat tingkah cucunya,usia tambah tua tapi sifat overprotektifnya masih tinggi apalagi terhadap Dede.
__ADS_1
Dokter Hendra hanya tersenyum melihat tingkah Davin,overprotektifnya melebihi dari Eel sebagai kakak kandungnya.
Dokter Hendra kemudian menelpon Suster Ana untuk datang ke ruangan insentif.
Mereka kemudian duduk di ruang kerja Dokter Eel untuk membahas tentang Dede selanjutnya.
"Dokter Hendra apa Dede tahu tentang pasien?" Tanya Abah Yusuf.
"Maksud Abah?" Tanya Dokter Hendra.
"Tentang status pasien sebagai Anaknya Firman?"
"O..soal itu Dede sudah tahu setelah melihat hasil DNA mereka,sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana mencari donor sumsum tulang belakang itu yang kemungkinan besar hanya ayah biologisnya yang cocok." Kata Dokter Hendra.
"Man..kamu tahu Ayah Assifa sebenarnya?" Tanya Davin.
"Saya tidak tahu Pak?Fatimah Saya tanya juga tidak tahu,karena kejadian itu juga sangat cepat,dan Dia juga merasa tidak mengenal orang itu"
"Tapi....?" Kata Firman berhenti menghela nafas.
"Tapi apa Man?" Tanya Abah Yusuf.
Firman hanya diam dan tidak berani mengatakannya karena Dia masih tidak percaya apa yang Dia dengar lewat mata batinnya ketika mengucap dalam hati.
"Firman..." kata Davin mengagetkan Firman.
"Eh..iya...Pak..Abah.." Firman kaget dan gugup.
"Davin...kurangi intonasi suara kamu,lihat seorang Firman aja bisa gugup mendengar suara kamu" Kata Abah Yusuf.
"Betul Kak Davin,Eel aja sempet kaget dengernya,mau copot jantungnya nich..." Kata Dokter Eel mengelus dadanya.
"Gitu aja kaget ...berarti tandanya kamu ga pernah fokus dan ga pernah waspada di lingkungan sekitar"
"Beda ama Dede walau Dia lagi lengah instingnya Dia masih tajam" Kata Davin dengan muka sedih karena Adik tercintanya belum bangun.
Dia merasa takut akan kehilangan Dede lebih lama lagi,baru aja Dede terbangun dalam tidur panjang selama lima tahun,dan semenjak kepulangan di Indonesia Dia belum sempat ketemu Dede secara langsung hanya lewat ponsel semata mereka berkomunikasi.
"Maaf Pak Davin...Firman cuma masih bingung tentang dugaan ini"
"Dugaan apa?"
"Dugaan tentang ayah kandung Assifa yang masih ada sangkut pautnya dengan Dede" Kata Firman sambil menarik nafas dalam.
"Kok bisa?" Tanya Dokter Eel.
"Saya juga belum tahu pasti tentang ini semua,karena Saya hanya dengar lewat mata batin Saya waktu Fatimah Saya tanya tentang Ayah Biaologis Assifa.
Flazh back on
" Fat..coba ceritakan ama Saya bagaimana kejadian itu bisa terjadi?" Tanya Firman kepada Fatimah.
"Malam itu Saya lagi keluar dari Apartement,cuma ingin cari udara segar.Saya merasa kecewa apa yang telah terjadi.Sekian lama Saya menunggu kamu dan berbagai cara mengambil hati kamu tapi ternyata semua usaha saya sia sia"
"Saya ingat waktu itu Saya sampai di depan sebuah tempat dimana semua orang mengatakan adalah tempat surganya dunia"
"Tiba tiba ada orang mabuk menarik saya dan mencium Saya,Saya berontak.Tapi karena badan Saya terlalu lemah,dan tenaga Saya kalah dengan Dia.Saya hanya pasrah dan bisa berdoa semoga ada yang menolong Saya"
"Tapi entah mungkin karena karma dari apa yang pernah Saya lakukan terhadap calon istri kamu,kejadian itu benar benar terjadi Dia ...dia..." Kata Fatimah sambil menangis.
Firman mendengar cerita Fatimah juga merasa sedih Dia tahu kelanjutan apa yang terjadi.
"Terus kamu tahu Siapa Dia?"
Fatimah menggeleng dan berucap dari hati.
Aku tidak tahu siapa Dia,tapi aku tahu kalau Dia adalah orang yang sama mencintai calon istri kamu,Dia patah hati karena calon istri kamu.
Flazh..Back Off
Firman menghela nafas panjang setelah menceritakan semuanya.
"Apakah kamu tahu siapa lelaki itu?lelaki yang patah hati karena Adik Saya?" Tanya Dokter Eel.
Firman menggeleng.
"Saya tahu kalau Dede sudah banyak mematahkan hati para lelaki,tapi Siapa yang begitu gilanya seperti itu?" Kata Dokter Eel sambil melihat ke arah Dokter Hendra.
Dokter Hendra melihat tatapan Dokter Eel langsung salah tingkah.Dia tahu kalau Dokter Eel juga tahu tentang perasaan Dia ke adiknya.
"Mungkin karena hal inilah Dede langsung menggunakan kemampuannya untuk mengetahui semuanya" Kata Abah Yusuf.
"Terus apakah Dede sudah mengetahuinya Abah?"Tanya Davin.
" Abah rasa Dede sudah tahu,soalnya selama ini setiap Dia menggunakan kemampuannya walau sulit di capai Dia terus berusaha sampai jawaban itu Dia dapat"Kata Abah Yusuf.
"Jadi..."
"Ya ..kita tunggu Dede sadar,sekarang hanya Firman yang bisa bantu coba kamu baca surat Ar Rahman Insya Allah Dede akan bangun" Kata Abah Yusuf.
Firman mengangguk,kemudian Dia mohon pamit untuk membaca Doa untuk Dede.
Abah Yusuf dan yang lain istirahat di tempat Suite President yang di peruntukkan keluarga besar .
Sampai di ruangan Insentif,Firman masuk dan di sana ada Suster Ana yang nengawasi perkembangan Dede.
Firman tersenyum dan mengambil duduk untuk membaca ayat suci Alqur an.
Dia mulai membaca surat Ar rahman,yang telah menjadi favorit mereka berdua.
__ADS_1
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمmān
ar-raḥmān
allamal-qur`ān
khalaqal-insān
allamahul-bayān
asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān
wan-najmu wasy-syajaru yasjudān
was-samā`a rafa'ahā wa waḍa'al-mīzān
allā taṭgau fil-mīzān
wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān
wal-arḍa waḍa'ahā lil-anām
Ayat demi ayat Firman melantunkan Surat Ar rahman tersebut.Suster Ana mendengar suara Ustadz Firman pun terlena.
...Pantas Dede sangat sangat merindukan suara Ustadz Firman ternyata suaranya lebih bagus di banding waktu aku mendengar dakwahnya di panggung....
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān
fīhimā ming kulli fākihatin zaujān
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān
muttaki`īna 'alā furusyim baṭā`inuhā min istabraq, wa janal-jannataini dān
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān
Tiba tiba terdengar suara perempuan mengiringi Suara Ustadz Firman.Suster Ana bangun dan melihat kearah Dede,disana Dia melihat Dede masih terbaring dengan mata terpejam cuma bibirnya bergerak mengikuti alunan suara Ustadz Firman.
Suster ana mengirim chat ke Dokter Eel kalau Dede sudah sadar cuma sedang mengikuti alunan bacaan Ustad Firman.
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibjānn
lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jājānn
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibjānn
muttaki`īna 'alā rafrafin khuḍriw wa 'abqariyyin ḥisān
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān
tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām
Shadaqallahul-'adzim'.
Ustadz Firman menyelesaikan membaca Surat Ar rahman kemudian Dia melihat kearah Dede karena Dia tahu tadi Dede sudah sadar dan mengikuti alunan surat yang Dia baca.
Dede melihat ke arah Firman dan tersenyum.
Firman juga menatapnya kemudian menangis.
"Adik..kamu sudah sadar?" Tanya Firman.Ingin rasanya Dia memeluknya,tapi Dia sadar kalau mereka bukan muhrim.
Dede mengangguk.
"Terima kasih bacaan suratnya Kak..sudah lama Dede merindukan itu?"
"Syukur Alhandulilah Dik...Kakak harap jangan tidur panjang lagi dan meninggalkan kakak,rasanya Kakak ga sanggup Dik?" Kata Firman masih menangis.
"Hallo Adik dodol..udah bangun loe...kayanya ga cape ya...dikit dikit Koma...dikit koma...apa belum puas bikin kita semua khawatir?" Kata Dokter Eel sambil mengecek kondisi Dede pasca sadar dari koma.
"Iya..nich..kanyanya belum puas lihat air mata kita sampai kering" Kata Davin sambil menjitak kepala Dede.
"Aduch..sakit...Kak Firman lihat Dede di jitak ama biang rusuh" Kata Dede manja ke Firman.
"Ha..ha..sejak kapan seorang Dede manja gitu?lagian ngadu ama Firman?bisa bisa kuplintir tuh telinga biar kapok?" Kata Davin sambil mencibir.
"He..jangan salah kalau adu otot Kak Firman pasti menang,lagian selama ini Dia selalu mengalah kepada Kak Davin karena Dia memandang Kak Davin dulu adalah guru dan Kakak dari Dede" Kata Dede membela Firman.
"Iya...iya tahu yang lagi bela calon suaminya?" Kata Davin lagi.
"Biarin..." Kata Dede sambil mencibir.
"Sudah..sudah..Davin..adiknya baru sadar udah di buli kasihan biar Dia istirahat" Kata Abah Yusuf menengahi pertengkaran kecil mereka,kalau tidak di cegah bisa bisa selesainya nanti malam karena kalau sudah berkumpul mereka bertiga ada aja yang di ributkan.
"Kalian sudah tambah umur masih aja kaya Tom and Jerry,Abah ga bisa bayangin kalau anak anak kalian melihat kalian bertiga seperti ini apa pandangan mereka?" Kata Abah Yusuf geleng geleng kepala.
"Biarin aja Abah...mungkin mereka kangen ama Dede karena tidak ada yang berani jahilin mereka selain Dede" Kata Dede sambil tersenyum.
"Bener Bah..kita kangen suasana dulu waktu kita masih muda " Kata Davin sambil cemberut.
"Iya Bah..lagian biang rusuh juga baru aja kembali dari tidur panjangnya rasanya hampa tanpa suara tawa Dia" Kata Eel sambil mengelus kepala Dede.
Begitulah obrolan demi obrolan pun berlalu.Beberapa jam kemudian Abah Yusuf dan Davin mohon diri karena masih banyak yang di urus.Firman juga minta ijin untuk menengok Assifa karena takut kalau Assifa mencari Dia.
"Kakak tinggal dulu ya..mau nemuin Assifa," Kata Firman.
Dede hanya bisa mengangguk dan tersenyum,Dia tidak boleh egois karena bagaimanapun juga walau Firman bukan ayah kandungnya tapi selama lima tahun ini hanya Firman lah yang di ketahui Assifa sebagai Ayahya
"Insya Allah..nanti malam Kakak bemenin Dede" Kata Firman
__ADS_1
"Temenin Assifa dulu Kak..Dia yang lebih membutuhkan Kakak" Kata Dede sambil tersenyum.
Firman membalas senyumannya,tangannya ingin mengelus kepala Dede tapi Dia tahan,karena masih ada batasan antara mereka.