
Suter Ana cemberut karena di ledek terus.Dokter Zainal hanya geleng geleng kepala sambil mengelus dadanya yang kebentur kepala Suster Ana.
"Maaf sakit ya Dok...?" Tanya Suster Ana.
" Ga...sakit,tapi enak banget malah kaya di getok pake palu" Kata Dokter Zainal masih meringis menahan sakit.
"HA..ha ..ternyata kepala suster jadi palu ,nanti kalau di rumah sakit butuh palu pinjam kepala Suster aja ya" Kata Dokter Lia sambil menyandar di tembok karena tiba tiba kekuatan tubuhnya melemah.
"Lo..lo itu kenapa Dok hidungnya?Yang kepentok siapa ...yang berdarah siapa?" Teriak Dokter Zainal menunjuk kearah hidung Dokter Lia.
Lia langsung menutupi hidungnya dan mencari saputangan di sakunya.
...***Ya Allah......
...Jangan sekarang...
...Berikan hamba kekuatan sampai opersi itu berhasil***....
"Dokter ga apa apa?" Tanya Suster Ana panik.
"Ga apa apa Sus..mungkin tadi istirahatnya kurang?atau mungkin barusan Suster nyumpahin Saya jadinya kena karma dech" Kata Lia sambil menghapus darah di hidungnya.
"Maaf ini ada apa ya.." Tiba tiba ada suara dari dalam ruangan.
......***Busyet dach.........
...kenapa harus muncul di saat seperti ini sich? Batin Lia***....
"Sus..berdiri di depanku!halangi pandangan Dia" Kata Lia sambil menunduk dan menarik Suster Ana untuk berdiri di depannya.
"Gimana bisa menghalangi, Dokter aja kaya tiang listrik lebih tinggi dari saya" kata Suster Ana berbisik.
"Ponsel kamu mana?kirim pesan ke Zainal untuk mengajak Firman masuk kedalam,biar Dia aja yang mengambil sampel" Kata Lia lagi.
Firman melihat ke arah Dokter Zainal,terus bergantian melihat ke arah Lia dan Suster Ana.
Dia mengernyitkan keningnya waktu melihat Suster Ana,seperti mengenalnya.Terus melihat ke Arah Lia yang selalu menunduk di belakang Suster Ana.
Firman mulai mendekat dan secara bersamaan pesan dari Suster Ana di baca Dokter Zainal.
"Hai..Bro kebetulan kamu di ruangannya Abi ada yang pingin Ana katakan tentang kesehatannya Abi" Kata Dokter Zainal melangkah maju mendekati Firman.
"Sus..kamu nunduk aja kayanya Firman mengenali kamu,Apa masker kamu pakai tuh..biar tidak ketahuan!" Kata Lia berbisik.
Suster Ana mengangguk kemudian mulai memakai masker,di ikuti Lia juga memakai masker.
"Soal apa Nal?kayanya serius banget?"
"Makanya kita bicarakan di dalam aja" Kata Dokter Zainal menarik lengan Firman.
"Tunggu sebentar...Nal,Maaf Sus apakah Kita pernah bertemu?Dan kenapa Suster tiba tiba memakai masker setelah ada saya?" Tanya Firman .
Suster Ana bingung mau jawab apa.Dia hanya Diam dan tidak bergerak.
Lia tahu pasti saat ini Firman lagi mengacaukan pikiran Suster Ana agar berkata jujur.
Terpaksa gue yang hadapi.
Lia akhirnya maju sambil membetulkan kacamatanya.
"Maaf Tuan Suster lagi terkena flu,tadi mencoba bantu Saya karena hidung Saya berdarah" Kata Lia sambil memperlihatkan sapu tangannya yang terkena darah.
Firman mendengar penjelasan dari Lia,tapi masih penasaran sambil menatap Lia.
"Jaga pandang Ustadz,itu Zina mata" Kata Lia sambil mengedipkan mata.
Katanya suruh jaga pandang,tapi malah menggodaku dasar Dokter genit.Runtuk Firman jadi salah tingkah dan jantungnya berdetak kencang.
"Bersihin dulu Dok..darahnya,dan buat istirahat dulu muka Dokter pucat banget" Kata Firman sambil memandang wajah Lia yang ditutupi masker.Firman berusaha menjaga hatinya yang menari nari.
Hanya karena kedipan mata mengapa Ana jadi seperti ini.Batin Firman sambil menggaruk kepala.
"Tuan bisa aja,muka saya pakai masker gimana bisa tahu kalau muka saya pucat sekali,terima kasih atas perhatiannya" Kata Lia sambil mendekati Firman.
"Ternyata seorang Ustadz bisa salah tingkah ya bila di goda?makanya jaga mata Bung..biar ga nambah dosa" Bisik Lia sambil memberi kode Suster Ana untuk pergi dari tempat itu.
"Jangan lupa sampel darahnya Dokter Zainal kami tunggu di Ruang laborat" kata Lia sambil meninggalkan tempat itu.
Setelah merasa jauh dari tempat itu,Lia berhenti dan mengambil nafas panjang.Kemudian Dia duduk di bangku panjang yang ada di dekatnya.
"Alhamdulilah...selamat selamat" Kata Lia sambil mengelus dadanya.
"Dok..kenapa sich harus menghindar dari Ustadz Firman?katanya kangen?" Kata Suster Ana.
"Entahlah Sus...Saya belum siap untuk bertemu dan jujur saya sangat kecewa bila ingat kedekatan Firman dengan Fatimah" Kata Lia lirih.
"Saya kira Dokter tidak nengenal kata cemburu?"
"Dokter juga manusia Sus...punya kecewa,cemburu dan sakit hati"
"Tapi sepertinya Dokter biasa biasa aja,apalagi dulu waktu menanggapi pemberitaan di Sos Med,Dokter tanpa ekspresi."
"Saya aja yang membaca sangat geram ,dan rasanya tuh pingin nyakar wajahnya yang sok di imut imutkan itu"
"Tapi Dokter malah santai dan membiarkan berita menari nari,padahal Tuan Tommy bisa menyumpal mulut para biang gosip itu ke penjara" kata Suster Ana .
"Biarkan aja Sus..nanti kalau ada berita yang lebih hot lagi pasti berita itu akan di abaikan kan?"Kata Lia sambil membersihkan hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
"Sudah lah ga usah di bahas lagi..ke laborat aja yuk! Saya pingin tahu sudah sampai mana penelitian mereka?" Kata Lia sambil berdiri dari tempat duduknya tapi jatuh lagi.
__ADS_1
"Dokter sudah tidak apa apa?hidungnya masih ngluarin darah ga?" Kata Suster Ana cemas apalagi lihat Dokter Lia bangun terus jatuh lagi.
"Sudah tidak apa apa Sus,cuma masih lemas aja,tapi masih kuat kok"
"Kalau masih lemas kita ke kamar lagi aja ya,Dokter harus banyak istirahat"
"Kita ke ruang laborat dulu aja ya! habis itu Saya janji kita kembali ke kamar" Kata Dokter Lia sambil memegang lengan Suster Ana.
Akhirnya Suster Ana mengalah dan berjalan ke arah Ruang Laborat sambil memapah Lia.
*Kembali ke Ruang Perawatan Abi Hasan *
Dokter Zainal mengambil sampel darah Abi Hasan,sekalin mengecek infus dan mengecek detak jantungnya.
Setelah pengecekan fisik selesai Dokter Zainal segera membereskan peralatannya dan sampel darah akan Dia bawa ke Ruang Laborat.
Pikiran Dia agak kacau,sudah dua kali Dia melihat hidung Lia berdarah.
Gadis kecil...
Apakah penyakitmu tambah parah?
kenapa kamu keras kepala
badanmu masih lemah tapi mengapa kamu masih memaksa.
Dokter Zainal menatik nafas kasar dan mengacak acak rambutnya sendiri.
Di sisi lain Firman masih bengong dan berusaha menetralkan hati yang di bikin kacau oleh seorang Dokter.
***Siapa sich kamu Dok...kenapa hati ini jadi kacau,hanya satu orang yang selalu membuat hati ini galau..Batin Firman sambil menjambak rambutnya,kemudian Dia melihat Dokter Zainal tak jauh beda seperti Dia.
Sehebat itukah kamu Dok..lihatlah.. dua hati laki laki kau bikin kacau semuanya***.
"Nal...kamu ga apa apa?" Tanya Firman melihat Sahabatnya sangat kacau.
"Ana ga apa apa kok?emang kenapa?"
"Kayanya hati kamu lagi kacau?lagi mencemaskan sesuatu?apa kamu tadi mencemaskan Dokter cantik tadi?"
"Iya..Man..dalam satu hari ini Ana lihat sudah dua kali hidungnya berdarah,Ana takutnya sakitnya tambah parah"
"Emang Dia sakit apa?" Tanya Firman penasaran.
Dokter Zainal terdiam dan menyadari kalau barusan Dia salah bicara.
"Mau tahu aja Man...itu Privasi maaf ya...lagian kenapa kayanya kamu antusias banget pingin tahu tentang Dokter tadi?"
"Kamu naksir ya Ma...." Tanya Dokter Zainal menggoda Firman.
"Kata siapa?ogah ah...Dokter genit gitu aja bukan level Ana" Kata Firman berusaha menutupi salah tingkahnya.
Jutek apa nya?Dia tadi berani godain Aku
"Sudahlah Nal kok jadi bahas Dokter itu,Oh..ya tadi katanya kamu ingin membahas kesehatannya Abi,emang ada apa?" Kata Firman berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"O..ya jadi lupa masalah ini...Gini Man..besok malam kami para tiem Dokter berencana melakukan tindakan operasi untuk Abi hasan"
"Operasi Nal?kenapa?kok mendadak banget keputusannya?" Tanya Firman penasaran
"Setelah kita lihat dari CT SCAN ada penggumpalan darah di otak,dan semakin hari semakin membesar,kemungkinan itu yang membuat Abi Hasan koma,maka kita sebagai Dokter akan menindak lanjuti semuanya"Kata Dokter Zainal nenjelaskan.
"Kenapa baru sekarang diketahui setelah Abi terbaring Enam bulan di sini?selama ini kerja kalian apa?" Tanya Firman.
"Maaf Man..mungkin ini kelalaian dari tim medis kami di tambah alat yang kurang memungkinkan,kami mohon maaf kalau kurang teliti dalam melakukan Observasi waktu itu" Kata Dokter Zainal merasa bersalah karena selama ini tanggung jawab pasien adalah tanggung jawab Dia.
"Kebetulan untuk saat ini dari pusat sudah mengirim alat yang lebih baik serta Dokter terbaik yang akan membantu kami"
"Dokter terbaik?Siapa?" Kata Firman.
"Dokter terbaik itu di kirim dari pusat,dan Dialah yang telah menemukan beberapa keganjalan di organ Abi dan Beliau pula yang memutuskan untuk mengoperasi Abi Hasan" Kata Dokter Zainal.
"Ana pasrahkan semuanya kepada Rumah sakit ini,yang terbaik gimana Ana ikut" Kata Firman.
"Terimakasih atas kepercayaannya Man...bantu Doa ya semoga operasi berjalan lancar,Dan Abi Hasan bisavkumpul kembali dengan kita"
"Boleh Ana tahu Dokter yang akan mengoperasi Abi?"
"Buat apa Man?"
"Apa Ana salah Nal...Ana pingin tahu kondisi Abi sebelum dan sesudah Operasi,dan Ana pingin konsultasi kepada Dokter yang memegang Abi"
"Seperti sekarang ini karena kamu bertanggung Jawab atas kesehatan Abi ,makanya Ana sering konsultasi ama kamu" Kata Firman
"Tenang aja Man..walau nanti di meja operasi bukan Ana yang pegang,tapi Ana masih ada di sana karena Ana menjadi Asisten Dokter tersebut"
"Kalau kamu ada pertanyaan tentang kesehatan Abi bisa langsung tanyakan Ke Ana,apa kamu sudah tidak percaya ama Ana?" Tanya Dokter Zainal.
"Bukan seperti itu Nal...Ana pikir kalau langsung bertanya ke Dokter yang menanganinya mungkin lebih baik."
"Kalau itu nanti Ana tanyakan dulu ke Dokter M ya..karena Beliau orangnya susah di ajak interaksi" Kata Dokter Zainal.
"Emang kenapa Nal..."
"Dokter M orangnya paling ga suka untuk bertemu orang asing,selama ini konsultasi dengan pasien hanya lewat telpon kalau ga lewat Asistennya.
" Apakah orangnya sombong Nal"
"Menurut Ana Dia ga sombong,cuma bawaannya yang dingin,dan jutek cuma Dia membatasi Privasi "
__ADS_1
"Dokter M adalah orang genius di kalangan Dokter se Asia ini,makanya Dia selalu menjaga privasinya,katanya Dia ga mau ribet dengan dunia luar yang selalu kepo akan kehidupan orang" Kata Dokter Zainal.
"Sifatnya seperti Dia" Gumam Firman.
"Seperti Siapa Man?" Tanya Dokter Zainal mendengar gumaman Firman.
"E. .seperti calon Istri Ana " Kata Firman.
"Fatimah maksudnya?"
"Bukan?kata siapa Fatimah jadi calon Istri Ana?"Kata Firman terkejut.
" Ya Ana kira Man? kalian kan selama ini terlihat dekat kaya perangko aja"
"Fatimah hanya sekedar patner kerja dan sudah Ana anggap Adik sendiri" Kata Firman
"Tapi cara kamu tidak mencerminkan sebatas patner kerja,kalau kamu sudah punya calon kenapa tidak jalan aja ama calon kamu dan memberitahu mereka biar tidak salah paham"
"Itu Dia Nal..calon Ana orangnya ga mau di publikasikan,karena Jalan hidup kami berbeda"
"Dia ratu bisnis yang di juluki Macannya Asia,tapi Dia sendiri juga tidak mau mengungkapkan jati dirinya"
"Ternyata masih ada yang seperti Dokter M ya?" Kata Dokter Zainal.
Kalau kamu tahu Man..Dokter M itu juga calon istri kamu yang sudah kamu sia siakan
"Kalau dilihat sifat Dokter M kaya calon Istri Ana Nal kayaknya akan sulit menemuinya,kalau gitu konsultasi dengan kamu sama aja Nal" Kata Firman sambil menyandar badannya di sofa
"kalau gitu Ana pergi dulu Man..masih banyak yang harus Ana persiapkan buat besok dan juga kelihatannya kamu capek banget"
"Lihat Asisten kamu juga sudah tidur dari tadi,Kamu Istirahat Man...besok kita ngobrol lagi"
"Assalamualaikum...
" Walaikum salamualaikum".
Dokter Zainal pun pergi menuju Ruang Laborat,dan menyerahkan Sampel darah Abi Hasan.Dia tidak bertemu dengan Dokter Lia.Kata Suster Ana Dokter Lia sedang beristirahat untuk persiapan operasi.
Dokter Zainal keluar dan kembali ke ruang kerjanya untuk beristirahat.
Selama Abi Hasan dirawat,Apartemennya Dia pasrahkan untuk keluarga Firman untuk beristirahat,sedangkan Dia lebih nyaman tinggal di ruang kerjanya.
Dokter Zainal membaringkan tubuhnya yang terasa lelah,ketika memejamkan matanya terlintas bayangan gadis kecilnya.
Gadis kecil...
kenapa kamu selalu mengganggu tidurku
Selama ini aku berharap bisa bertemu kamu
dan mengungkapkan perasaanku selama ini
Tapi kini kamu sudah milik orang lain
Jadi jangan ganggu tidurku lagi
Aku ikhlas kamu bahagia dengan calon suamimu.
Kring...kring..
Suara ponsel berbunyi ada beberapa panggilan masuk Dari Ayah dan nomor tidak di kenal.
Dokter Zainal memutuskan menelpon balik Ayahnya takut ada berita yang tidak mengenakkan karena selama ini Ayahnya ga pernah telpon kalau tidak ada masalah apa apa.
(Hallo Assalamualaikum...Ayah...)
(Walaikum sallam..)
(Tumben Ayah telpon?ada apa?Ayah di sana baik baik aja kan?)
(Ayah baik baik aja,Ayah cuma tanya bagaimana kabar Nona muda?)
(Nona muda siapa yah..)
(Non Lia maksud Ayah..cucu kesayangan Abah Yusuf)
(O..gadis kecil itu Yah...Dia baik baik aja kenapa Yah?)
(Gadis kecil?maksud kamu gadis yang selama ini kamu ceritakan ke Ayah?)
(Iya Yah..Zainal juga baru tahu tadi siang dari Dokter Eel,kalau gadis kecil itu adalah adiknya yang sekarang ada di sini mau menangani operasi Abi Hasan)
(Apa Nak Eel di situ ga?Nak Lia mau menangani Abi Hasan?)
(Iya yah...emang kenapa?)
(Aduh...pantas mereka pada heboh ingin tahu keadaan Nak Lia,O..ya operasi di lakukan kapan?)
(Besok Malam waktu sini Yah...)
(Berapa jam dari sini kesana?)
(Kira kira 16 sampai 17 jam,emang kenapa Yah...)
(Baik Ayah tutup sekarang ,Ayah mau berangkat kesana?) Pak Arif tiba tiba memutuskan telpon sepihak.
(Hallo..Yah...Ayah..)Dokter Zainal marah.
"Busyet dac..ni orang main tutup telpon aja" Gerutu Zainal sambil melempar ponselnya ke kasur dan Dia pun tertidur.
__ADS_1