C E O ,Anak Motor Dan Ustadz

C E O ,Anak Motor Dan Ustadz
BAB XXIX :ARDIAN 2


__ADS_3

"Tenang Bro.. berdoa aja.." Kata Hendra sambil mendorong masuk putrinya karena mereka sudah sampai di depan ruang Operasi.


Dua jam berlalu,Operasi anaknya Ardian selesai.Pintu ruang operasi terbuka.


Ardian langsung mendekati pintu ruang operasi.


"Gimana..Hen..anakku?" kata Ardian.


Ardian tertegun kala melihat sesosok orang yang membuka pintu,tapi bukan Hendra yang di sana melainkan....


"Dedek...." Ardian mundur satu langkah.


Lia melihat Ardian hanya menatapnya.Ada kemarahan di matanya.Rasanya ingin sekali menghajarnya,tapi Lia tahan.


Tanpa melihat Ardian Lia melangkah mendekati Anjani.


"Tenang aja Mbak,sebentar lagi adik kecil siuaman" kata Lia sambil menepuk bahu Anjani.


"Makasih Dok..udah bantu kami"


"Sama..sama itu kewajiban kami"


Lia menatap tajam Ardian.


Ardian tahu tentang tatapan Lia tersebut.Dia hanya bisa menelan ludah,dan Dia harus bersiap untuk mendapat pukulan.


Ardian pasrah karena tahu Dia salah ,dan orang di depannya adalah orang yang selama ini Dia sayang.


Hendra melihat keadaan itu hanya terdiam,Dia belum bisa membayangkan kalau macan betina itu mengamuk,apalagi ini lingkungan Rumah sakit.


Kriing...kring..


Tiba tiba handpone Lia bunyi.


"Hallo Assalamualaikum.."


"Iya...iya..sebentar ngapa..ni Dede kesana"


Jawab Lia sambil berteriak.


Bagi yang mengetahui sifat Lia,mungkin ga akan heran,tapi bagi yang baru mengenal mungkin akan ketakutan.


Mendengar teriakan Lia... Anjani gemetar,Dia tidak bisa membayangkan gadis yang tadi lembut dan menolong Putrinya,bisa segarang itu.Anjani menganggap orang paling garang adalah Ardian,tapi ini ada yang lebih garang lagi.


"Dokter Hendra saya pergi dulu da di tunggu...tolong urus semuanya" kata Lia melangkah pergi sambil mengirim pesan seseorang.


Sepeninggalan Lia Ardian diantar Hendra menuju kamar anaknya yang sudah di pindah di ruang perawatan VVIP.


"Bro...gue tinggal dulu...pesennya loe jangan macam macam di Rumah sakit" kata Hendra.


Ardian hanya mengangguk dan mengerti apa yang di maksud Hendra.


"Satu lagi loe tidak boleh bikin keributan kaya tadi,kalau loe melanggar tahu akibatnya...." Kata Hendra sambil meninggalkan Ardian dan Anjani.


Anjani hanya diam dan takut bertanya.


Bila dia bertanya pasti Ardian akan marah dan memicu pertengkaran.


Dia cuma heran siapa sebenarnya Dokter dokter itu kenapa sangat berpengaruh dengan Ardian dan Dia sangat mematuhinya?


Sudah Tiga hari Mutiara di rawat di Rumah Sakit,Anjani selalu menemaninya.Sedangkan Ardian datang waktu Dia tak bertugas.


Anjani sedikit lega karena Tiga hari ini Ardian tidak seperti biasanya.Dia perhatian dan setiap mau berangkat kerja atau pulang dia selalu membelikan makan.Walau tidak ada satu patahpun yang terucap dari Ardian,Anjani tetap bahagia.


Selama di Rumah sakit Anjani juga tidak pernah melihat Dokter Lia.Hanya Dokter Hendra yang selalu datang dan melihat perkembangan Putrinya.


"Assaalmualaikum....Adik kecil gimana uda baikan?" Tanya Dokter Hendra.


"Alhamdulillah Om Dokter...Muti uda enakan"


"Syukur Alhamdulilah...jadi Adik kecil sekarang boleh pulang"


"Betul itu Om ...?Asyik Muti bisa pulang..." Teriak Muti kegirangan.


"Maaf Dokter Hendra apa betul kalau Muti boleh pulang?"


"Iya...Bu Anjani...sekarang bisa beres beres sebentar lagi sopir menjemput?"


"Sopir ...Dok?ga salah denger?" Anjani terkejut karena selama hidup dengan Ardian tidak pernah ada sopir.


Dokter Hendra mengangguk sambil melepaskan infus ditangan Mutiara.


"Maaf Dok...apa lihat Bang Ardian?soalnya dari semalam Dia ga kelihatan?"


"Ardian?wah saya ga tahu Bu..." Jawab Dokter Hendra datar.


"Uda selesai...ayo Adik kecil kita pulang"


"Tunggu Dok...apa Ardian sudah menyelesaikan Admin di sini?


" Tenang Bu...semua sudah beres"


"Ayo...apa masih mau di sini?" Ajak Hendra.


Mereka berjalan meninggalkan ruang perawatan menuju lobi,dan sudah di tunggu sebuah mobil.


"Silahkan Bu Anjani masuk!" Anjani masih bingung tapi tidak berani menolak akhirnya Dia bersama Putrinya masuk ke mobil.


"Langsung antar ke mesion Pak...Nona muda sudah menunggu"kata Hendra kepada sopir yang di kirimkan Lia untuk menjemput Anjani.


"Baik Pak Dokter.." jawab Pak Sopir.


"Bentar Dok...saya mau di bawa kemana?"


"Tenang Bu Anjani kami tidak mau ngapa ngapain...ada yang ingin ketemu ama Bu Anjani dan Mutiara"


"Siapa..?


" Nanti Bu anjani akan tahu...dan disana Ardian juga ada"kata Hendra .


"Maaf Bu Anjani saya masih ada pekerjaan..Assalamualaikum"


Hendra pun pergi dan tidak lupa mengirim pesan.


***Uda gue kirim ni dalam perjalan


......................


Di Mesion Wijaya***...


Di salah satu Ruangan tertutup di mesion,terlihat Laki laki yang duduk terikat dan di tutupi dengan kain hitam.Dia hanya pasrah...dan tak bisa berbuat apa apa.


Laki laki itu adalah Ardian.


Malam kemarin Dia di culik dan di lumpuhkan depan Apartemennya waktu Dia mau ke Rumah sakit.


Gerakan mereka sangat cepat dan tidak bisa melawan.

__ADS_1


Dia pingsan setelah di beri Obat bius dosis tinggi.


Kini di ruangan tertutup dia sadar,dan tidak bisa melihat sekeliling karena matanya tertutup.


Dia hanya menajamkan pendengaran


Hanya langkah kaki yang terdengar dan mendekat.


"Buka penutup kepalanya...." Perintah seseorang.


Penutup kepala pun terbuka dan Dia melihat sekelilingnya.


Tempat ini sepertinya tidak asing tapi entah dimana Ardian tidak bisa mengingat,mungkin masih terpengaruh obat bius.


"Selamat datang Ardian..." Kata Seseorang yang tadi memerintah membuka penutup kepala.


Ardian melihat dan meneliti dengan seksama siapa yang ada di depannya.


Dia belum bisa mengingat dan siapa yanga da di depan matanya.


"Siapa kamu?Dan apa mau mu?" Tanya Ardian dingin.


Biasanya Dia yang menyekap dan jadi pemimpin,tapi ini Dia mampu di pecundangi seseorang yang mungkin tidak jauh usianya dengan Dia.


"Ha...ha...ternyata kamu tidak berubah ya..setelah menghilang,tapi apakah ini seorang anggota militer tapi lemah" Ejek orang itu


"B******...lepaskan aku! Kalau kau bukan laki laki pengecut"


"Kalau Dia pengecut terus kamu apa?" Teriak seseorang dari arah pintu.


Ardian melihat orang membuka pintu,di sana Dia melihat Dua orang perempuan yang satu masih muda dan yang satu sudah tua.


Ardian tersadar saat Dia tahu siapa yang datang.


"Ibu...."


"Ardian..."


Ibu Ardian ingin berlari dan memeluk Ardian,tapi ada tangan kokoh yang mencegahnya.


"Sabar...Bu..Lihatlah apa itu Ardian yang dulu "


"Ardian yang selalu Ibu rindukan?"


"Ardian yang membuat Ibu sakit?"


"Lihat lah Ibu Apakah Dia seorang anak,setelah Empat tahun pergi tanpa kabar terus kembali ke kota ini tapi tidak langsung menemui Ibu?"


"Buat Apa Ibu menangisi nya?"Kata Lia emosi


" Nak...sejahat apapun Dia..tapi Dia tetap Ardiannya ibu...ijinkan Ibu memelukknya" Kata Ibunya Ardian


"Tidak bisa..."


"Kenapa tidak biasa nak..."


"Ibu tetap duduk disini,biar Dia yang ketempat Ibu" Kata Lia dengan nada dingin.


"Hai...kamu.. kalau kam masih menganggap Dia Ibu kamu,kemarilah...!"


Ardian terkejut akan panggilan Lia terhadpnya.


Apakah semarah itu sampai sampai dia tidak mau memanggil Abang"


Ardian hanya tertunduk dan tidak tahu harus bagaimana dengan tubuh dan tangan terikat bisa sampai ke tempat ibunya.


Ardian hanya diam kemudian dia berusaha melepaskan ilatan tangannya.


Tapi tak berhasil.


Ardian tidak putus asa,


Dia mencari cara untuk bisa memeluk ibunya.


Dia mulai menggulingkan badannya,terasa sakit karena beberapa kali membentur kursi yang masih terikat dengan badannya.


Ibu Arum tidak sanggup melihat penderitaan anaknya.Dia pun memohon kepada Lia agar mengijinkan untuk mendekati anaknya.


Lia hanya menggeleng dan mengunci pergerakan Bu Arum.


Bu Arum pasrah dan hanya bisa memejamkan mata.


Ardian pun berusaha dan terus berusaha walau banyak luka Dia terus berusaha maju untuk bisa sampai ke tempat ibunya.


Akhirnya dia pun berhasil


"Ibu..."


Bu Arum terkejut dan membuka matanya.


"Ardian..." Bu Arum memeluk Putranya.


Suasana haru pun menyelimuti Ruangan itu.


Lia hanya Diam dan duduk bersandar di sofa sebelah Bu arum.


Ada rasa kecewa di hatinya.


Orang yang selama ini dia anggap Abang telah berubah.


"Ardian selama ini kamu kemana?" tanya Bu Arum sambil melepskan pelukannya.


Ardian terdiam dan melihat ke arah Lia.Rasanya ingin memeluk Lia seperti dulu.


Tapi Ardian hanya melihat Lia dengan tanpa expresi dan tidak pernah bisa ditebak apa isi hatinya.


"Ibu...maafkan Ardian..Bu?"


Ardian bingung mau bilang apa.


"Kak Tommy..buka ikatan Dia dan bawa Dia ke kamar Bu Arum,Panggil Dokter Hendra untuk memeriksanya, Jangan lupa temui aku di Ruang kerja" Kata Lia sambil meninggalkan ruangan itu.


Tommy mendengarkan perintah Lia dan melaksanakannya.


Di depan Mension Mobil yang membawa Anjani sudah sampai.


Pak Sopir membukakan pintu dan mempersilahkan Anjani masuk ke mension.


"Ma...kita dimana?apa ini rumah Ayah?" tanya Mutiara


"Mama juga tahu...Udah tenang aja selama mereka tidak menyakiti kita ,kita turuti aja kemauan mereka." Kata Anjani sambil berdoa semoga di jauhkan dari kejahatan.


Anjani melihat ruangan itu begitu luas,banyak design yang sangat klasik.Penataan ruangan yang begitu sempurna.


Di saat Anjani melihat lihat mension itu,ada dua pelayan menghampiri dan mengajak Anjani ke sebuah kamar yang luas.


"Silahkan masuk Nona,beristirahatlah...Nanti jam Tujuh malam Nona di tunggu di ruang makan,kami akan menjemput Nona" kata Pelayan itu .

__ADS_1


"O..ya Nona..untuk gadis kecil kamarnya di sebelah sini"kata Pelayan yang satunya.


" Apa Muti dapat kamar Bu?" Tanya Muti bingung.


"Iya...Nona kecil.."


"Tapi Maaf Bu apa ini tidak berlebihan"


"Tidak Nona ...ini semua permintaan Nona Muda"


"Nona muda?siapa itu Bu..."


"Nanti Non Anjani tahu sendiri"


"Maaf Nona kami mohon undur diri..." kata Pelayan lagi.


"O..ya udah Bu..bolehkah Mutiara saat ini biar disini dulu,apalagi Dia baru keluar Rumah sakit" kata Anjani lagi.


"Baik Non nanti biar Kami sampai ke Nona Muda"Kata pelayan itu dan meninggalkan Anjani di kamar besar bersama Putrinya.


Mutiara terlihat senang dan berjingkrak jingkrak.Tiba tiba dia melihat sebuah foto di atas meja.


" Ma...Mama...lihat itu ..bukan kah itu foto Ayah?"


"Dan itu siapa ya Mah..kok foto bareng ama Ayah?"


"Padahal selama ini Ayah ga pernah foto sama Mama?" kata Mutiara sambil mendekati foto ayahnya.


Anjani pun mengikuti Mutiara dan melihat fotonya Ardian.Dan dia pun terkejut setelah melihat foto Ardian dengan seorang cewek.


Apakah ini rumah Ardian?


Dan apakah hubungan Ardian dengan Dokter Lia?


Di foto mereka kelihatan mesra.


Apakah karena ini Kemarin Dokter Lia sempet marah karena dia tahu kalau Ardian punya anak?


Anjani tidak bisa berpikir,Dia menyadari hubungan dengan Ardian adalah suatu kesalahan dan dia harus rela melepaskan.


Di ruang kerja Lia melampiaskan kemarahannya,Dia berusaha mengendalikan diri.Tapi tidak bisa.Kepalanya terasa sakit Seluruh aliran darahnya terasa berbalik.


Lia berusaha berdzikir dan membaca Doa pengendalian diri.


Kak Firman tolong aku....


Di belahan bumi lainnya terlihat seorang pemuda yang sedang berdzikir dan merasa ada yang memanggilnya.


Dik...kamu kenapa...


Dia pun mengirim Doa dan merasa kekasih pujaannya butuh bantuannya.


Tommy yang baru mengantar Ardian ke kamar ibunya langsung menuju ke ruang kerja,dari jauh Tommy mendengar suara suara yang tidak mengenakkan.Tommy langsung mempercepatkan langkahnya dan menuju ke Ruang kerja Lia.


"Astagfirullah...Nona.."


Tommy mengahampir Lia yang sedang berdizikir.


"Tolong obat ku Kak...."


Tommy pun bergegas mengambil obat yang terletak di laci.


"Sampai kapan kamu seperti ini Dik..."


"Aku ga apa apa Kak..." Lia berusaha bangkit dan perlahan lahan duduk di kursi.


"Gimana keadaan Bang Ardian?"


"Udah di tangani ama Dokter Hendra"


"Kamu uda baikan..Non?" Kata Tommy cemas.


"Aku ga papa Kak..dan jangan bilang ama kak Davin dan Abah ya "


"Aku ga ingin mereka cemas" kata Lia memohon.


"Oc. . tapi Non harus janji bisa mengendalikan emosi ya"


"Siap...boz"


"Ha...ha...Non lucu yang jadi Boz sapa,yang jadi anak buah sapa..jadi ga enak hati"


"Ga enak ya di muntahin kak..daripada bikin muntah...ha...ha..."


"Nah...gitu dong ketawa...lama ga lihat Non ketawa.. "


"Ach...Kak Tom bisa aja..."


"O...iya Kak kalau ga salah kemarin Kakak ada kabar dari Kak Firman?kabar apa ya Kak?jadi kangen ama dia..."


"Idih.. ada yang kangen nich...." Ucap Tommy


Tokk...tokk..


"Assalamualaikum..."


"Siapa..."


"Aku Hendra..."


"Masuk aja Kak ga di kunci"


Pintu akhirnya di buka ,Di sana ada Hendra dan Ardian.


"Boleh kita gabung.." Kata Hendra


"Silahkan..."


Ardian masuk tapi Hendra masih di depan.


"Lho ga masuk Kak..." Tanya Lia.


"E...maaf Dek Aku pulang dulu,masih banyak kerjaan di Rumah sakit,aku kesini sekalian antar Ardian dan mau pamit"


"Oh...gitu..ya udah Kak makasih..maaf ngrepoti"


"Tenang aja...kaya ama siapa aja,Aku pamit dulu ya"


"Assalamualaikum..."


"Walaikum sallam"


Kepergian Hendra semua membisu .Lia tenggelam di depan laptop.Tommy dan Ardian hanya bisa diam.


Tommy merasa canggung,dan tahu akan kalau Ardian pingin ngomong sesuatu dengan Lia.


Akhirnya dia minta ijin ke ruangannya karena banyak pekerjaan yang masih menumpuk.

__ADS_1


__ADS_2