
Di ruang perawatan Lia hanya merenung,ternyata begitu menyedihkan hidup ini dalam percintaan.Banyak liku liku yang Dia lalui,dari di tinggalkan Firman untuk belajar di Tarim,Di hujat netizen yang di tuduh merebut pacar orang dan kini hal paling menyakitkan yaitu Batal nikah.
Ya...Mungkin untuk sebagian Wanita akan merasa malu kalau di dalam hidupnya ada istilah Batal nikah,Itulah hal yang sangat memalukan dan menjatuhkan harga diri sebagai seorang wanita.
Untung acara pernikahan hanya di hadiri keluarga besar pengantin.Jadi Lia tidak terlalu malu kepada semua orang.
Tapi terkadang Dia merasa harga dirinya terinjak injak karena pembatalan tersebut.Walau yang melakukan pembatalan nikah adalah pihak Dia tapi Lia merasa kecewa.
Karena semenjak kecelakaan Abi Hasan Firman tidak pernah menghubungi sama sekali,Firman tidak pernah memberitahu kesedihannya dan Dia tidak pernah menanyakan kabarnya.
Boro boro membahas pernikahan mereka,menanyakan perkembangan tentang penyembuhannya aja tidak pernah.
Itulah yang membuat hati Lia kecewa,apalagi Dia juga tahu Di Itali Firman selalu di hibur dengan Fatimah,mereka selalu kelihatan berdua keluar masuk Rumah sakit.Entah itu sarapan pagi makan siang maupun makan malam mereka selalu berdua.
Dengan sikap seperti itu hilanglah aura seorang Ustadz yang selalu jaga mata,jaga jarak yang bukan muhrim.Tapi sekarang Firman tak luput seperti orang orang lainnya.
Dan kesan sesosok Ustadz yang di banggakan bagi Lia sudah memudar.
***Begitukah seorang Ustadz?
Walau sepuruk apapun ga akan pernah melupakan Allah.
Tapi saat ini Dia hanyalah manusia biasa
yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.
Di manakah Firman yang dulu?
Di saat terluka selalu mengingat Allah.
Selalu jaga pandang matanya
Selalu jaga hatinya***.
Setiap melihat layar laptopnya,hati Lia selalu menangis.Rasanya Dia pingin marah dan melampiaskan semua ke Firman.Tapi percuma karena jarak mereka berpuluh mil.
Terkadang Dia muak akan diri sendiri kenapa sudah tahu kalau melihat layar laptop Dia pasti akan terluka.Tapi terkadang hati kecil selalu bertanya apakah Firman baik baik saja?
Itulah yang selalu mendorong Lia untuk selalu memantau CCTV yang ada di rumah sakir Itali,dan Dia pun tahu kalau ujung ujungnya Dia yang patah hati.
Dia selalu melihat Firman baik baik aja dan selalu tersenyum dengan Fatimah.Apalagi dengan Umi Hajar sangat bangga dengan Fatimah karena Dia selalu menemani di saat Umi Hajar putus asa melihat keadaan Abi Hasan yang belum ada perkembangannya.
Mungkin aku yang terlalu naif
Mungkin aku yang terlalu berharap
sedangkan Dia tak sedikitpun mengenang aku
wanita yang di janjikan untuk jadi istrinya.
Aku tahu Dia sedang berduka?
tapi apakah salah kalau aku berharap Dia juga mengingatku.
Mungkin memang aku bukan wanita yang pantas mendampingi Dia.
Ya...kamu bisa melupakan Aku Kak..
Mengapa aku tidak...
Lia memandang cincin lamarannya dari Firman.
Haruskah aku mengembalikannya?
Disaat Dia terpuruk Lia hanya bisa berdoa ,dan terus berdzikir .Dia pun bertekat untuk segera sembuh dan berusaha melepaskan diri dari ketergantungan dari Firman.
Mulai sekarang gua harus berusaha dan berjuang untuk kesembuhanku
Bukan untuk kamu Kak...
Tapi untuk diriku sendiri dan orang orang yang masih menyanyangi aku.
Dan akan aku tunjukkan kalau aku tak akan bergantung denganmu.
Persetan dengan rencana pernikahan kita.
Lia menghembus nafas kasar dan memaki maki sendiri.Dia ingat waktu perkataan Abah Yusuf waktu itu.
"Nak kenapa pernikahan harus di batalkan?kan Firman bisa menikah dengan kamu tanpa wali kan?" Kata Abah Yusuf
"Saya tahu Abah,tapi Lia tidak mau di bilang menantu kurang ajar dan tega di saat mertua terbaring di Rumah sakit tega teganya melangsungkan pernikahan"
"Dengan Dede diam aja orang orang udah banyak menghujat apalagi kalau Dede nekat untuk menikah,apakah mereka akan berhenti menghujat?atau hujatannya akan semakin membuat hati Lia teriris?
" Sudah lah Abah..biarkan semua berjalan seperti ini,dari pihak Kak Firman aja tidak pernah membahas pernikahan kami,jadi buat apa kita memaksa"Kata Lia.
"Tapi Abah Ali pernah menghubungi Abah ,Dia bersedia menjadi wakilnya Firman,dan ga masalah kalau tidak ada orang tuanya Firman karena selama ini yang mengasuh Firman adalah Abah Ali" Kata Abah Yusuf.
"Dede tahu Pihak cowok tidak perlu wali,tapi Dede ingin Kak Firman juga di dampingi kedua Orang tuanya,karena pernikahan hanya sekali Abah,terus apa kata Umi dan Abi nanti sama Dede,mereka tidak akan menghargai Dede sebagai mantunya"
__ADS_1
"Abah mau Dede di benci mertuanya?Biarlah Abah sekarang kita batal menikah tapi nanti kalau Abi Hasan sudah sembuh baru pernikahan kita adakan"
"Sekalian biar Dede memulihkan diri Dede dan tidak membuat malu keluarga Kak Firman" Kata Lia lagi.
"Tapi bagaimana dengan kedekatan Firman dengan Fatimah?Apakah kamu tidak takut akan hal itu?"
"Abah Ali aja takut akan kekhilafan Firman,karena kedekatan mereka mosok kamu tidak takut?" Tanya Abah Yusuf.
"Abah...Dede yakin Kak Firman akan selalu jaga hati jadi ga usah Suudzon tidak baik Abah,tapi kalau Kak Firman khilaf mau gimana lagi anggap aja kita tidak berjodoh" Kata Lia santai walau hati teriris.
"Terus statusmu gimana De?sampai saat ini statusmu adalah wanita yang sudah di lamar jadi kamu tidak berhak menerima lamaran dari orang lain?" Kata Abah Yusuf.
"Bah.. tenang aja Lia tidak akan lupa itu,dan cincin ini akan Lia kembalikan kalau Kak Firman ingin meminang Orang lain dan Dia bukan jodohku" Kata Lia berusaha tegar.
"Tapi Dek...."
"Sudahlah Bah...Dede mohon tidak usah bahas pernikahan lagi,kepala Dede pusing biarkan Dede sehat dulu dan Abi hasan sehat baru kita bahas lagi " Kata Lia .
Abah Yusuf hanya menghela nafas panjang,dan menatap cucunya,Dia tahu cucunya sangat terluka tapi Dia berusaha tegar.
Semenjak Perdebatan itu Abah Yusuf tidak pernah membahas pernikahan lagi.Mereka sepakat untuk tidak mengingatnya.
Biarlah Lia fokus dari penyembuahan Dia.
Hari berganti hari,bulan berganti bulan.Tak terasa enam bulan Abi hasan tidak ada perubahan.
Enam bulan Firman tinggal Di Itali dan menemani Uminya menjaga Abinya.Dia pun tidak aktif berdakwah lagi.
Dia lebih suka di Itali dan mengharap keajaiban dari Allah.Firman juga lupa akan janjinya terhadap seorang wanita.
Di hatinya hanya fokus kesembuhan Abinya.Umi Hajar selalu memuji Fatimah dan mengatakan calon mantu idaman.
Contohnya di saat calon mertua sakit Dia selalu ada di samping Umi hajar untuk menghiburnya.
Dengan sikap Firman yang ga pernah mengingat akan sebuah pernikahan membuat hati Abah Ali kecewa.
Dia ga nyangka kalau Cucu kebanggannya akan menjadi laki laki yang tidak tepat janji.
Abah Ali lebih sering mengurung diri di kamar karena kekecewaannya.
Di sisi lain Lia masih fokus akan pemulihan dirinya.Syaraf syaraf nya mulai berfungsi dengan sempurna.
Selama enam bulan ini ternyata usahanya tidak sia sia.Dia sudah bisa berjalan,berdiri dan bicaranya.
Selama Enam bulan Lia juga selalu memantau keadaan perkembangan Abi Hasan yang belum ada perubahan sama sekali.
Mungkin sudah saatnya aku membantu mereka.
Walaupun Rumah sakit Itali merupakan anak cabang dari Wijaya Group,tapi Lia sengaja memisahkan kepemilikannya.
Lia berjaga jaga kalau ada apa apa dengan Wijaya Group,Rumah sakit tidak akan terkena imbasnya.
Rumah sakit di Indonesia Lia sudah merubah kepemilikannya dan yang bertanggung sepenuhnya adalah Opa Markus.
Sedangkan di Jerman semua kepemilikan di pegang Eel yang identitasnya juga sudah di samarkan.
Ada Rumah sakit di USA juga kepemilikannya di pegang Opa Markus,sedangkan di Itali merupakan anak cabang di bawah naungan Rumah sakit Jerman.
("Asssalamualaikum De....")
("Walaikum sallam Kaka...bisa minta tolong ga?" Kata Lia dalam telpon)
("Minta tolong Apa De?)
(Bantu Dede bisa masuk ke Rumah Sakit Itali untuk bisa membantu Abi Hasan)
(Tapi De bukannya sudah di tangani Dokter Zainal?)
(Dede tahu... tapi Abi Hasan perlu operasi,sedangkan Zainal masih belum paham yang Dia lakukan.)
(Sedangkan operasi ini harus di praktekkan bukan hanya teori doang)
(Tapi De...apa dengan Operasi nanti untuk diri kamu tidak bahaya?)
(Sedangkan kamu baru aja sembuh,tapi syaraf syaraf kamu baru berjalan normal dan tidak boleh terlalu di forsir)
(Kamu hanya punya waktu Dua jam,tidak boleh lebih,kalau lebih akan berakibat fatal buat tubuhmu)
(Dede tahu Kak,dan Insya Allah Dede busa menyelesaikan dalam waktu Dua jam)
(Baiklah ...akan Kakak bantu pemberian hak penuh di Rumah sakit)
(Terimakasih Kak...Kakak emang kakak yang baik)
(Haalah...lagu lama. ..kalau ada maunya aja baik baikin..)
(Ya..maaf...udah dulu ya Kak, Dede mau siapin semuanya )
(Assalamualaikum....)
__ADS_1
(Wallaikum Salam...)
Lia mematikan telpon dan menghubungi Om Irawan yang menjadi Pengacara.Setelah melalui perdebatan yang Panjang,Akhirnya Lia mengakhiri panggilannya.
Om Irawan adalah anaknya Opa Markus,Dia adalah seorang pengacara.Seperti Opa Markus setiap berkomunikasi selalu aja ada yang di perdebatkan.
Tapi setiap perdebatan Lia selalu unggul,entah karena mereka berusaha mengalah,atau mereka memang menyadari apa yang di katakan Lia ada benarnya.
Walau setiap bertemu selalu tak luput dari perdebatan tapi semua sangat menyayangi dan saling melindungi
Setelah urusan dengan Om Irawan selesai Lia menghubungi Tommy untuk mempersiapkan perjalanan ke Itali.
Tommy sedikit khawatir dengan keadaan Lia ,karena Dia merasa kalau apa yang akan di lakukan Lia sangat membahayakan Lia.
Tapi Lia berusaha meyakinkan kalau Dia tidak apa apa.Lia berangkat di temani Dokter Brian dan Suster Ana.
Setelah semua persiapan selesai,Lia dan rombongan berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi.
Perjalanan membutuhkan waktu sangat lama.Karena tubuh yang baru saja sembuh,dan syaraf baru bekerja normal,Lia masih butuh beradaptasi.Dan Dia masih mudah lelah.
Di dalam pesawat hanya di gunakan untuk tidur,karena Dia harus menyimpan tenaganya untuk operasi besok.
Suster Ana dan Dokter Brian menjaga dengan baik.Mereka bergantian menjaga Lia biar merasa nyaman.
Di dalam Pesawat Tommy juga nenempatkan pengawal untuk menjaga Lia dari marabahaya.
* ITALI *
Di Rumah Sakit Firman masih menemani Abi Hasan yang masih terbaring koma di Ruang ICU.Sedangkan Umi Hajar dan Fatimah sedang istirahat di Apartemen miliknya Dokter Zainal.
Kebetulan Dokter Zainal adalah anak dari Pak Arif,makanya Dia berkewajiban menolong keluarganya majikan Ayahnya.
Dokter Zainal juga di percaya menjadi Dokter yang merawat Abi Hasan.Firman sangat bahagia karena yang merawat dan bertanggung jawab kesehatan Abinya adalah orang orang yang terdekat Dia.
Dulu Dokter Zainal adalah teman di masa kecil,mereka tumbuh bersama.Tapi sekolah yang berbeda.
Firman cenderung masuk sekolah di Umum sampai SMA.Tapi Zainal memilih di Pesantren daerah Jawa Timur.
Maka masa sekolah mereka tidak pernah bertemu,Apalagi sehabis lulus Firman belajar ke Tarim.Sedangkan Zainal melanjutkan kuliah di Jerman dan berteman dengan Eel kakaknya Lia.
Dunia itu emang sempit,walau sering berpindah tempat dengan daerah yang berbeda,akhirnya juga di pertemukan juga.
Firman juga ga menyangka kalau akan di pertemukan dengan sahabat kecilnya di Rumah sakit ini.
Waktu jam makan Siang biasanya Firman bersama Fatimah makan bersama,tapi sudah hampir satu minggu Zainal selalu meminta untuk menemani makan Siang.
Zainal melakukan itu karena permintaan Ayahnya.Tadinya Zainal mengira Firman dan Fatimah punya hubungan khusus karena setiap jam makan mereka selalu bersama.
Umi Hajar yang melihat juga tidak keberatan malah memberi kesempatan agar Firman dan Fatimah selalu bersama.
Tapi setelah Ayahnya telpon dan menanyakan kabar Firman,Zainal akhirnya tahu kalau Firman sudah punya calon Istri dan mereka batal menikah karena kecelakaan Abi Hasan.
Pak Arif tidak habis pikir kenapa Firman bisa berubah seperti itu,dan melupakan pernikahan.Makanya Pak Arif minta tolong Zainal agar Firman tidak terjerumus dari dosa.Bagaimanapun Firman adalah seorang Ustadz dan wajib menjaga segalanya.
Seperti biasa Firman makan bersama dengan Dokter Zainal,Dia tidak merasa curiga kalau Zainal sengaja mengurangi kedekatan Firman dan Fatimah karena mereka bukan Muhrom.
"Assalamualaimum Nal...maaf menunggu lama,Saya Sholat dulu" Kata Firman.
"Walaikum Salam..Ga apa apa Man,Saya juga baru saja sampai" Kata Dokter Zainal.
"Tadi saya kira kamu akan membatali janji makan kita?" Kata Dokter Zainal lagi.
"Ga ..lah Nal..,Saya udah janji berarti harus di tepati" Kata Firman.
"Ya..mungkin aja,Kamukan udah satu minggu nich temeni saya makan siang,bisa jadi Istri kamu merengek untuk minta di temani" Kata Zainal berusaha memancing pembicaraan yang pribadi.
"Istriku yang mana Nal...bisa bisa aja kamu,Aku belum punya is...?" Kata Firman menggantung.
Entah kenapa setelah mengucap kata Istri Dia merasa ada yang hilang.Firman baru menyadari kalau selama ini Dia telah melupakan seseorang.Seseoarang yang menjadi calon Istrinya.
"Astaghfirullahaladzim...." Firman berusaha Istighfar dan berusaha menekan kepalanya terasa sakit.
"Kenapa kamu Man..?Kamu sakit?" Tanya Zainal bingung.
"Aku ga apa apa kok Nal...cuma aku teringat sesuatu" Kata Firman sambil menghubungi nomor seseorang.
Beberapa kali Firman hubungi tapi nomor itu tidak Aktif.
"Nal...Aku di sini sudah berapa bulan ya?" Tanya Firman.
"Kalau ga salah sih Enam bulan lebih,Emang kenapa?ada yang salah?" Tanya Dokter Zainal bingung.
"Subhanallah...lama juga ya Nal...pantas Dia marah" Kata Firman bergumam sendiri.
Dokter Zainal yang mendengar hanya mengerutkan keningnya.Tiba tiba ponsel Dia berbunyi dan ada Rapat dadakan dengan Direktur Rumah sakit.
"Maaf Man...Saya ada rapat mendadak kamu makan sendiri ga apa apakan?atau kamu panggil Istri kamu kasihan selama ini jam makan siang kalian terganggu." Kata Zainal segera berlalu karena takut terlambat.
Dia tahu Direktur Rumah sakit sangatlah disiplin dan tidak suka terlambat.
__ADS_1
Ada masalah apa ya?selama bekerja di sini aku ga pernah bertemu dengan Direktur Rumah Sakit?Apakah aku melakukan kesalahan?
Pikiran Zainal berkecamuk dan bingung akan kesalahannya.