C E O ,Anak Motor Dan Ustadz

C E O ,Anak Motor Dan Ustadz
BAB 42 : SIAPA GADIS ITU


__ADS_3

"Gimana Brian apakah kamu ingat semua akan perjanjian konyol itu?emang terdengar lucu dan terlalu narsis Presdir kitakan?"


"Tapi itulah kenyataannya dan tidak bisa di pungkiri kalau kita akan jatuh cinta"


"Jujur Bray...aku dulu sempat seperti kamu,aku emang pernah jatuh cinta pada Presdir,tapi karena melihat pengalaman yang di alami Ardian akhirnya aku mundur dan Alhamdulilah aku di pertemukan Kayla walau Dia tak seistimewa Presdir,tapi aku tetap bahagia"


"Mulai sekarang lupakanlah dan berusahalah membuka hati untuk yang lain,kayanya Suster Ana sangat mencintaimu?"


"Ingat nasehatku Bray...Lebih baik mencintai dalam diam tapi masih melihatnya dengan nyata,daripada mengungkapkan cinta tapi kita hanya menatap dalam bayangannya" Kata Dokter Hendra sambil menepuk pundak Dokter Brian kemudian menuju laborat untuk mengadakan penelitian obat yang di berikan Lia


Dokter Brian termenung dan meresapi kata kata Dokter Hendra.


"Hen...tunggu" Kata Dokter Brian lagi


"Apa...?"


"Kalau boleh tahu sebenarnya Presdir itu siapa?"


"Presdir ya pimpinan kita,adiknya Dokter Eel."


"Aku tahu Dia pimpinan kita,tapi bukan itubyang aku maksud,kenapa Dia tahu panggilanku waktu SMA,padahal panggilan itu sudah lama aku lupakan"


"O...itu mau tahu...?


" Iya...tolong please"


"Bray...bray...kamu itu lucu ya udah bersama tiga bulan masih aja tidak mengenal Dia katanya Cinta?"


Brian hanya terdiam dan berusaha mengingat Pasiennya.


"Denger baik baik ya...aku tidak mau mengulang perkataanku"


"Dia adalah si jutek yang duduk di sebelahmu,dan dia adalah Nona Wijaya yang di cari oleh penerus Alexander."


"Semakin banyak kamu mendapatkan info tentang keluarga wijaya,berarti semakin banyak pengetahuanmu yang bakal di korbankan untuk pencucian otakmu kelak" Kata Dokter Hendra dan langsung pergi.


Dokter Brian pun mulai mencerna kata kata Dokter Hendra.Dia adalah si jutek yang menjadi teman sebangkunya,dan dia juga yang telah memberi motivasi dalam hidupnya.


***Ach...bisa bisanya aku tidak mengenal Dia.


Tapi sekarang pupus harapan karena sesuai perjanjian kontrak Dia tidak boleh jatuh cinta kepada Presdir.


Betul kata Hendra lebih baik mencintai dalam diam tapi selalu di dekatnya daripada mengungkapkan hanya bayangan semata yang menemani***.


...****************...


Setelah meninggalkan Brian Lia masuk ke ruang perawatan dan langsung mengirim Email ke Hendra.Tatapannya begitu dingin dan aura membunuh sangat terlihat.Bagi Suster Ana muka seperti itu seperti Zombi cantik.Ya walaupun kaya mayat hidup tapi wajah Lia masih terpancar kecantikanya.


Terkutuklah kamu Dokter Brian gara gara kamu aku harus menghadapi Zombi yang baru bangun.Dasar Dokter mesum....


Ah...kenapa aku harus jatuh cinta dengan orang seperti itu.Runtuk Suster Ana dalam hati.


"Ga usah memaki diri sendiri,ga baik untuk kesehatan jantungnya"


"Dan jangan salahkan cinta karena cinta itu akan datang dan perhi sesuka hati" Kata Lia masih dengan expresi dingin.


"Mmm....Nona ....ngggg...maaf Lia,aku..." Kata Suster Ana gugup.


"Aku tahu Suster Ana jatuh cinta dengan Dokter Brian kan?Tenang aja Dia bukan Dokter mesum yang kamu pikirkan?Dia sebenarnya baik,dan gue tahu tadi yang Dia lakukan emang tidak sengaja"


"Kamu tidak marah?"


"Marah....dalam rangka apa aku harus marah marah?"


"Tapi mukamu kaya...?"


"Kaya Zombi?sini aku makan?" Kata Lia sambil menjalankan kursi Rodanya ke arah Sustet Ana.


Suster Ana tertawa sambil berlari lari kecil menghindar kejaran Lia.


"Ah..kamu ya ..baru aja sembuh udah ngajak kejar kejaran,udah..udah..capek tahu"Kata Suster Ana ngos ngosan.


" Ha...ha...Suster suster masih muda kok udah letoy seperti itu...semangat dong" Kata Lia sambil menghidupkan televisi.


Di acara Televisi di siarkan kalau ada ceramah dan sholawat dari Ustadz Firman dan Ustadzah Fatimah.Mendengar berita tersebut hati Lia sangat teriris iris.


Lagi lagi mereka bersama Ya Allah...


sampai kapan aku menahan cemburu ini


"Woy...itu kan orang yang sama yang membantu kamu pas kemoterapi dulu" Teriak Suster Ana.


"Keren...ternyata dia Ustadz kondang pantas baca dzikirnya khusuk banget"


"Maksud Suster Ana?"


"Iya..Dia kan waktu itu yang bantu doa waktu kamu kesakitan dulu,terus Dokter Eel menyuruh saya mengucapkan terimakasih,e..tak tahunya Dia seorang Ustadz ya...apa Dik Lia kenal?"


"Mungkin...gue lupa,beda jalur sich.."


"Ada ada aja kamu mah...wah kalau ga salah itukan dekat dari rumah sakit,boleh tuh kita dengar ceramah dari dekat,sekalian mau lihat tampang gantengnya lagi"


"Idih...Suster niat denger ceramah pa mau lihat wajah ganteng?"


"Dua duanya....ha..ha.."


"Nah..lo ini yang ganteng Ustadz pa dokter nich...kok jadi pindah ke lain hati?"


"Idih kamu mah Dik..kalau soal ganteng mah..ya tetap Ustadz Firman atuh tapi ga mungkinlah Suster Ana suka ama Dia,beda level..lihat tampang saya jauh dari penghuni Syurga apalagi tuh..di bandingi ama Ustadzah jauh sama mah...."

__ADS_1


"Ng...apa ga boleh ya kalau level kita dapet seorang Ustadz Sus?"


"Ya boleh..boleh aja sich..tapi kita ngaca dulu diri kita gimana?kalau saya mundur aja ah. nanti di test ama Uminya soal Ngaji bisa bisa saya pipis di celana,takut ga bisa and nerves"


"Tahu sholat lima waktu aja semenjak kerja disini,dulu mah boro boro Sholat mikir cari duit gimana bisa bayar sekolah" Kata Suster Ana.


Lia mendengar kata kata Suster Ana semakin terpuruk,apakah benar dia tidak selevel dengan Firman?apakah hanya turunan alim ulama yang bisa dampingi seorang Ustadz?


"Gimana Dik..kita jadikan mendengar ceramah Ustadz muda itu?siapa tahu kita dapat ilmunya,lagian apa kamu ga bosen di dalam sini terus?" Kata Suster Ana.


"Ya bosen Sus..tapi aku malu melihat mereka?"


"Ngapain malu..toh kita ga jahatin mereka?"


"Baiklah Sus..ntar kita kesana,sekarang aku mau istirahat dulu capek..pingin tidur" Kata Lia sambil berusaha bangun dari kursi roda.


Tapi usahanya gagal,dia selalu jatuh dan jatuh.


"Sudah..sudah ga usah di paksa,mari saya bantu!" Kata Suster Ana sambil membantu Lia untuk naik ke tempat tidur.


Suster Ana membaringkan Lia dan memberinya obat agar Lia bisa istirahat.Kemudian Suster Ana kembali ke ruangannya untuk istirahat juga.


...****************...


Malam pun tiba dan sangat di nantikan Lia,Dia dan Suster Ana berencana mau menghadiri pengajian yang di adakan di Masjid dekat Rumah sakit.


Suster Ana mulai mendorong kursi roda Lia untuk menuju lift.Sampai di depan Rumah Sakit mereka sudah di tunggu mobil untuk mengantar mereka ke Masjid besar Al Huda.


Sampai di Masjid Al Huda mereka turun,sudah banyak jamaah yang datang dan kegiatan ceramah di adakan di depan Masjid.Penataan panggung di buat tinggi dan di letakkan di tengah tengah area jadi walaupun banyak jamaah,para jamaah pun bisa melihat dar kejauhan.


Busyet dah...kenapa gue lupa kalau rancangan ini udah gue tandatangan dari Riana,dan kenapa gue juga lupa kalau Masjid ini juga di kelola keluarga gue.Wah ternyata otak gue bener bener udah tulalit.


"Maaf Non..apa perlu saya telpon Tommy?agar Nona dapat tempat duduk VIP?" Tanya Jefri


"Menurut kamu gimana Kak?" Tanya Lia.


"Menurut saya kita telpon aja biar Nona bisa dapet tempat duduk di depan dan bisa melihat Ustadz dengan jelas"


"Bolehlah. ..tapi kamu telpon Kak Davin ama Riana aja mereka yang mengurus acara ini,tapi jangan di VIP di tempat biasa aja,cuma di depan"


"Tapi Non..."


"Udah ga apa apa Kak...Dede pingin tahu Dia masih mengenali aku apa ga,dengan keadaan kondisiku seperti ini?"


"Kalau Dede duduk di VIP Dia akan mengenalku" Kata Lia lagi.


"Baik Non saya akan telpon Tuan Muda" Kata Jefri


"O..ya Kak..Dede mohon anak buahmu jangan kelihatan mencolok menjaga Dede"


"Eh..iya Non..mereka sudah saya suruh jaga jarak,dan mereka sudah membaur dengan para jamaah lainnya."


"Baguslah...Dede percaya akan pengaturan kamu"


"Makasih Kak..." Kata Lia sambil tersenyum.


Jefri meninggalkan Lia dan menelpon Davin dan Riana,dan mengatur tempat duduk Lia di depan.


Suster Ana bingung mencari tempat untuk mendengarkan ceramah drngan leluasa.


"Aduh...Dik kita kemalaman jadinya ga ada tempat lagi yang enak untuk mendengar ceramah" Kata Suster Ana.


"Di sini ga apa apa Sus...yang penting kita masih denger" Kata Lia.


Beberapa menit kemudian Jefri datang dan membawa mereka ke tempat paling depan.Suster Ana senang banget karena Dia bisa lihat Ustadz ganteng tersebut.


Suster Ana ga nyangka kalau akan mendapat tempat yang istimewa.


O..ya gue lupa kalau pasienku ini seoarng Presdir jadi sangat mudah mendapatkan tempat,tapi kenapa ga di VIP?Itukan Tuan Muda Davin di samping Ustadz Muda itu kenapa Nona Muda tidak duduk di sana aja?Batin Suster Ana.


Lia dan Suster Ana mendapatkan tempat yang paling depan walau bukan VIP.Ustadz Firman sempat melihat Lia yang duduk di kursi roda.


Siapa Dia..?matanya mengingatkan ku pada seseorang?kenapa jantungku ga karuan seperti ini?apakah kamu di sini Dik?kamu dimana? batin Ustad Firman sambil sekali kali melihat sekeliling nya dan mencari Lia.Tapi seperti ada magnet Dia selalu menatap gadis yang di kursi roda.


"Maaf Pak Davin apakah Adik disini?" Bisik Firman ke Davin.


"Maksud kamu Lia...?emang kenapa?" tanya Davin sambil melihat Firman dan sesekali melirik Lia yang duduk di kursi Roda.


"Saya merasa Dia di sini Pak,tapi saya cari ga ada?" Kata Ustadz Firman .


"Itu paling perasaan kamu aja,kalau Dia di sini harusnya Dia duduk Di VIP di samping Ustadzah Fatimah kan?


" Tapi kalau kamu emang kamu merasa,coba baca Ar Rahman apakah energinya terasa apa ga?" Kata Davin


"Baiklah nanti saya baca Surat Ar Rahman" Kata Ustadx Firman sambil melirik wanita di kursi Roda.


Davin sempat melihat lirikan Ustadz Firman yang melihat ke arah Lia.


Cinta emang tak pernah salah..


Walau keadaan kamu seperti itu Dia masih bisa mengenal kamu Dik?


Sampai kapan kamu bersembunyi seperti itu?


Dan sampai kapan kamu meragukan cintanya?


*** Berisik...jangan lihat lihat nanti Dia tahu kalau ini gue***


Ada Notif pesan masuk di Ponsel Davin.

__ADS_1


***Iya...iya tenang aja,tapi dari tadi Dia lihatin kamu terus,dan sempet bilang kalau Dia merasakan kehadiran kamu***


***Masak....tapi biarin aja sampai dimana Dia mengenaliku***


***Pasti Dia akan menjelajahi pikiranmu,aku merasakan Energi Dia tapi ga pernah bisa aku jangkau***


***Gue tahu ,gue juga merasakan...tapi tenang aja Energiku untuk saat ini udah tak kunci***


***Oke..dech,habis ini Aku mau ajak jalan jalan?


***Ga mau...uda malam... besok aja***


***Baiklah besok Aku jemput,tapi bener ga apa apa kan kamu keluar dari Rumah Sakit?****


***Ini aja gue keluar emang terjadi apa apa?enggak kan?***


*** Iya..ya...Adik Dodol and bawel nanti pulang tunggu Kakak ya***


***Ga mau. .kan bisa ketahuan nanti,uda tenang aja ada Jefri jadi ga usah khawatir***


***Uda dulu Kak...jariku kesemutan ngetik terus . ..Assalamualaikum...***


***Walaikum Salam****


Setelah mengirim chat ke Davin Lia pun konsentrasi mendengarkan Sholawatan dari Firman dan Fatimah.


Ada rasa sakit di hati,biasa melihat di TV atau Yoetube ada sudah terasa terkabar,tapi ini melihat langsung seperti Kompor mau meledak.


Lia berusaha menahan gejolak api cemburu Dia berusaha Istighfar,karena energinya terkunci maka Dia berusaha menenangkan dengan memperbanyak Istigfar.


Ya...Allah..berikan hamba kekuatan menahan api cemburu ini.


Beberapa menit Lia bisa menguasai geholak hatinya.Davin melihat perubahan wajah Lia langsung panik dan ingin menghampirinya.Tapi Lia menggeleng kepalanya.


Ustadz Firman melihat perubahan wajah Davin yang cemas langsung bertanya


"Maaf Pak ada apa kok kayanya cemas banget?" Tanya Ustadz Firman.


"Ngg..ga apa apa Ustadz?cuma perasaanku ga enak aja tiba tiba" Kata Davin berusaha menutupi kecemasannya.


"Sama Pak...saya juga meraskan hawa kemarahan dari Adik,tapi dari tadi saya tidak melihatnya" Kata Ustadz Firman dan berusaha mempertajam indra ke enamnya mencari orang yang di rindukan.


Davin terkejut walau sudah di tutup Energi adiknya ternyata Dia masih bisa merasakan kemarahannya.


Aku aja Kakaknya tidak merasakan aura nya,cuma melihat dari sini...


Aku berharap Firman segera mengenalmu Dik


Dan kalian akan bahagia


Aku takut kalau kelamaan Firman akan menikah dengan Fatimah.


"Permisi dulu Pak...saya mau memberi dakwah" Kata Ustadz Firman langsung berdiri dan menuju mimbar.


Davin hanya mengangguk dan terus mengawasi gerak gerik adiknya.Dia melihat kalau Adiknya udah merasa gelisah dan merasa tidak nyaman.


Davin mulai panik kemudian Dia berusaha menenangkan diri dan melakukan panggilan di ponsel Adiknya.


Davin melihat Adiknya tidak ada respont,


Kayanya Dia menahan sakit?


Davin bingung..dan akhirnya memutuskan menelpon Riana.Tapi Ponsel Riana juga tidak di angkat.


Huh.. kemana sih tuh orang...Suster yang jagain Lia aja ga tahu perubahan pasiennya?gimana nich...aku samperin atau ga ya?


Semakin lama Davin merasa tidak tega Dia melihat Adiknya menahan rasa sakit.Tiba tiba terdengar lantunan Surat Ar Rahman dari Ustadz Firman.


Davin melihat reaksi Adiknya lagi,di sana Dia lihat Adiknya mulai menyerap Energi dari Surat Ar Rahman.


Dengan penyerapan Energi tersebut tubuh Lia mengejang,mungkin karena fisik yang terlalu lemah atau karena Energinya yang baru Dia buka,membuat reaksi Energi itu malah menyiksa tubuh Lia.


Lia berusaha berkonsentrasi,dan merasa ada perlawanan dari Energi Firman.Ternyata Firman pun menyadari kalau Energi tubuhnya ada yang menyerap makanya Dia berusaha menarik energinya.


Terjadinya tarik menarik Energi membuat hawa sekitar panas,tapi para jamaah tak mempedulikan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di dunia kasat mata.Mereka masih tenggelam mendengarkan lantunan Surat Ar Rahman.


Bagi Lia lantunan Surat Ar Rahman itu sangat menyiksa karena Energi yang di pancarkan malah menyerang Dia.


Mungkin karena Fisik yang sangat lemah Li tidak bisa mengimbangi,Dia semakin pasrah dan Energi Dia semakin habis.


Davin melihat Adiknya mulai kelelahan langdung berdiri danbingin menghampiri Adiknya,tapi tangannya di tarik Pak Arif.


"Jangan kamu dekati Dia,lebih baik kamu bantu Dia,kayanya Dia kehabisan tenaga energinya di serap Firman" Kata Pak Arif.


"Kurang ajar Firman kenapa Dia melakukan itu?apa Dia tidak tahu kalau tindakannya akan melukai Adikku?" Kata Davin penuh kemarahan.


"Sudah..sudah mungkin Dia tidak tahu yang menyerap itu adalah Non Lia"


"Ayo kita bantu,kasihan Adikmu mulai kelelahan dan takutnya Dia akan terluka" Kata Pak Arif.


Akhirnya mereka pun membantu menyetabilkan Energi Lia.Tapi tindakan mereka terlambat,karena kekuatan Fisik Lia yang begitu lemah Lia pun ga bisa bertahan,Lia pun pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah yang sangat banyak.


Suster Ana panik melihat Lia pingsan dan mengeluarkan darah.Riana yang kebetulan sedang membagikan snack dekat kursinya Lia langsung menyuruh anak buahnya membopong Lia.


Davin melihat keadaaan Adiknya langsung turun dari kursinya dan berlari ke arah Lia.Jefri juga tidak kalah panik,Dia yang duduk tak jauh dari Nona Mudanya langsung memberi isyarat ke anak buahnya untuk melindungi Nona Muda nya ke ruang pribadi yang terletak di belakang Masjid.


Semua anak buah Jefri bergerak dan berusaha memblokir jalan agar para Wartawan tidak mencari cari berita.


Di Mimbar Firman sempat melihat gadis berkursi roda pingsan dan berdarah,Dia sebenarnya juga kasihan dan menyadari kalau gadis itu pingsan karena Dia.Tapi Dia juga tidak bisa meninggalkan mimbar karena dakwahnya belum selesai.

__ADS_1


***Sebenarnya kamu siapa?dan kenapa menyerap tenagaku?maafkan aku kalau kamu terluka?semoga kamu bisa beetahan?


Firman pun mengirim Doa keselamatan untuk gadis yang pingsan***.


__ADS_2