
Banyak peristiwa yang akhir akhir ini di hadapi,Lia merasa lelah dan ingin rasanya merefreskan badan,dan pikiran.
Udah lama gue ga balap motor,. ..
Kalau malam ini ke bascamp seru kali ya..
Apa anak-anak masih suka nongkrong ya...
Ach...mendingan nanti gue kesana aja dech...
Setelah rehat sebentar,Lia melanjutkan pekerjaannya.Dia harus menyelesaikan skripsi yang tertunda,karena masalah insiden yang terjadi di USA kemarin.
Hasil penyelidikan insiden kemarin adalah campur tangannya keluarga Alexander.Untuk menyelesaikan kasus Lia harus turun tangan dan mencari dalang di balik itu semua.
Perusahaan yang telah menipu Dia sudah di bumi hanguskan,kini tinggal mencari siapa pimpinan Alexander yang baru.Apakah James Alexander atau Rian Alexander.
Bagi Lia mau siapa yang jadi pemimpin Alexander harus tetap waspada,dengan adanya insiden kemarin berarti kekuatan kemarin udah meningkat sehingga membuat tim mereka kecolongan.
Drrt...drrt....
Ada notif pesan di handponenya.
Dedek..ambil obat di Rumah sakit,jangan banyak alasan lagi.
Apa Opa kasih tahu kesemuanya tentang penyakit kamu?
Lia menghentikan pekerjaannya langsung bersandar di kursi kerjanya,dan mengingat kalau sudah lama Dia tidak minum obat yang di berikan Opanya.Karena banyak pekerjaan yang harus di urus dan keputus asaan yang selalu mengganggu.
Empat Tahun sudah Lia menunggu Firman,Tidak ada kabar dari Dia.Walaupun Dia sering berkunjung ke Pesantren Firdaus tapi disana mereka juga tidak ada yang membahas tentang Firman.
Terkadang pingin rasanya Lia bertanya tapi Dia selalu jaga gengsi dan harga diri.Di tengah ke putus asaan dia menanti sang pujaan hati,Lia pesimis,buat apa bertahan hidup kalau tidak ada masa depan yang bahagia.
Makanya dia enggan minum obat yang di berikan Opanya.Semenjak insiden Lia pernah merasakan sakit di kepala,tapi Dia berusaha menahannya.
Lia beranjak dari tempat duduknya dan membuka kotak obat,ternyata Obat itu emang sudah habis dan sudah waktunya untuk mengambil obat itu di rumah sakit,bahkan Dia melewatkan obat selama Dua bulan.
***Ach...pantes Opa murka gue udah Dua bulan tidak mengkonsumsi obat itu,dan kemarin waktu Eel telpon mungkin dia mengingatkan...
Lebih baik gue ke rumah sakit dulu daripada mereka membongkar rahasia gue***.
Akhirnya Lia memutuskan untuk pergi ke Rumah sakit milik Keluarganya.
Waktu keluar dari ruang kerja Dia berpapasan dengan asistennya.
"Assalamualaikum Kak Tommy...."
"Walaikum salam Nona muda...ni mau kemana?
" Dedek mau ke Rumah sakit,udah lama ga kesana"
"Apa perlu saya antar Nona?"
"Ga usah Kak..tolong siapkan laporan bulanan Pabrik dan kantor."
"Oh..ya sudah dapat info tentang Bang Ardian?"
"Belum Non...sepertinya Ardian sengaja menghapus datanya,Dia lebih pinter dari saya Nona "
"Tapi saya dapat info tentang keluarga Alexander kalau cucu kesayangannya sudah kembali ke Indonesia"
"Apa Bocah tengil itu udah kembali?wah boleh juga aku pingin tahu apakah Dia sudah punya nyali untuk datang ke negara ini"kata Lia
"Kalau gitu coba selidiki tentang Dia " Perintah Lia.
"Baik Nona Muda...tapi ada juga kabar tentang Ustad Firman..." kata Tommy pelan takut Nona mudanya marah.Karena selama ini Dia ga pernah mau tahu kabar Firman tunangannya,Dia anggap kalau sudah waktunya dia pasti kembali.
Kriingg....kringg..
"Hallo Assalamualaikum"
"Iya...iya..ni Dedek mau kesana ...Puas" kata Lia kesal setelah menerima telpon dari Opa Markus
Lia langsung menuju garasi untuk menjemput si Valen
"O..ya Kak Tom..Dedek pergi dulu..soal Ustad Firman nanti kita bahas lagi setelah dari Rumah sakit..." Kata Lia sambil melangkah pergi.
Tommy hanya bisa geleng geleng terus masuk di ruang kerjanya.
Setelah sampai di Rumah sakit Lia langsung menuju ke Laboratorium.
Sepanjang lorong dia ketemu Suster ama Dokter yang langsung menunduk hormat,karena mereka semua tahu Lia adalah Cucu pemilik Rumah sakit itu,dan Dia juga kepala Direkturnya serta Dokter Spesialis Kanker.
Walau Dia di sibukkan dengan perusahaan Lia juga mengambil mata kuliah Dua jurusan sekaligus.
Jurusan pertama dia ambil Ekonomi dan Bisnis untuk bekal Dia memimpin Perusahaan,dan yang kedua Dia ambil kedokteran karena itu adalah Hobinya.
"Assalamualaikum...Dokter Lia..." Lia menoleh ke arah yang memanggilnya.
"Walaikum sallam Dokter Hendra...Ach Dokter Hendra terlalu Formal memanggilnya sich..saya kan tidak pakai seragam,lagian mana ada Dokter pakain kaya Preman. ....Ha...ha..." Kata Lia .
"Maaf...ini kan lingkungan Rumah sakit jadi sudah terbiasa" Kata Dokter Hendra.
Mereka pun ngobrol seputar Rumah sakit dan pasien.
"Suster...suster...tolong putriku...Hiks...hiks..." Tangis seseorang di belakang mereka.
__ADS_1
Lia dan Hendra menoleh ke belakang dan melihat seorang anak kecil yng berdarah di kepalanya.
"Sus..apa yang terjadi?" Kata Dokter Hendra kepada susternya.
"Ini...Dok katanya anaknya jatuh dari tangga " Kata Suster ana sambil mendorong Bed pasien.
Dokter Hendra pun mengikuti Suster menuju ruang UGD.
Lia hanya nengikuti mereka dan tidak ikut campur karena Dia tidak mau melanggar kode etik Di Rumah sakit,apalagi Dia sedang tidak bertugas.
Sampai di UGD Lia menunggu di luar Dia menghampiri Ibu pasien yang Usianya kira kira se Umuran Kakaknya.
"Mbak...yang sabar ya..kita berdoa yang terbaik aja" kata Lia berusaha menghibur Ibu Pasien.
"Terimakasih...Mbak.."
"Panggil Saya Lia..." kata Lia memperkenalkan diri.
"Saya Anjani..." Kata Cewek itu sambil menyambut tangan perkenalan.
"Saya takut Dia kenapa napa mbak,....dan takut kalau Ayahnya marah"
"Ayah pasien bukannya suami mbak?
" Iya....tapi ...." Cewek itu berhenti berkata karena menyadari kalau Dia baru kenal.
"Kalau...emang ga mau cerita its ..Oc...ga papa yang penting sekarang fokus akan kesehatan putri anda." Kata Lia menenangkan.
Mereka pun terdiam dan menjelajahi di pikiran masing masing.Setelah fokus membaca pikiran cewek itu Lia hanya bisa menarik nafas dan merasa kasihan ama cewek di sebelahnya.
Mereka menikah hanya karena kesalahan
Suaminya mau bertanggung jawab bukan karena cinta tapi karena anak di antara kita.
Kejam juga tuh Suami...
Menciptakan neraka dalam rumah tangga
kalau dia suami gue udah gue cincang tu orang.
Batin Lia geram.
Ditengah tengah kesibukan dalam alam pikir,mereka di kejutkan pintu terbuka dan muncul suster yang tadi membawa pasien.
"Bagaimana Sus...anak saya..."
"Ibu tenang ya...Putri Ibu sedang di tangani dokter,tapi maaf bu akibat benturan di kepala, pasien memerlukan donor darah golongan B+ dan kebetulan stok di Rumah sakit ini habis"
"Astagfirullah...golongan darah saya A sus,cuma saya belum tahu golongan darah Ayahnya"
"Katanya Dia sudah di jalan Sus..." kata Anjani sangat cemas.
"Kalau gitu biar saya aja mendonor darah ke pasien Sus,kebetulan golongan darah saya sama" kata Lia membuat Suster dan Anjani terkejut.
"Tapi maaf Dok,Dokter Hendra meminta Dokter Lia membantu di dalam karena ada masalah di kepalanya" kata suster menjelaskan.
"O...gitu,tapi gapapa Sus,saya donor darah dulu kemudian Saya akan dampingi Dokter Hendra"
"Lagian tanpa darah saya juga tidak bisa operasi kan?" kata Lia lagi.
"Baik Dok...saya akan menyiapkan semuanya silahkan Dokter masuk untuk melakukan tranfusi darah" Kata Suster Ana.
Lia mengangguk dan Dia pamit kepada Anjani untuk Tranfusi darah.
"Banyak berdoa Mbak,kami akan melakukan yang terbaik" Kata Lia sambil menepuk bahu Anjani dan melangkah ke Bank darah untuk melakukan tranfusi darah.
"Sus...maaf mau tanya..?Kata Anjani kepada Suster Ana yang akan masuk kembali.
" Iya...Bu ada apa?"
"Maaf tadi siapa ya...?"
"Oh...tadi itu Dokter Lia,Dokter Special di Rumah sakit ini"
"Dokter?terus kenapa Dia mau tranfusi darah?" Tanya Anjani belum mengerti.
"O...itu Bu...kebetulan Golongan darah putri ibu sama dengan Dokter,dari pada nunggu kedatangan Suami ibu ,makanya Dia yang mendonorkan nya" kata Suster Ana.
"O...gitu makasih ya Sus...."
"Sama sama...."
Anjani masih menunggu tiba tiba ada yang menghampiri.
"" Anjani...dimana Mutiara?apa yang terjadi?kamu mau mencelakai Putrimu sendiri?"
"Dia masih di dalam..Muti jatuh dari tangga saat aku bebenah rumah...aku tidak mungkin mencelakai dia,Dia juga darah dagingku tidak mungkin aku tega ...Hiks...hiks..." Kata Anjani
"Alah...Bulsit....kamu ingat dulu waktu Dia masih di kandungan kamu tega mau melakukan aborsi kan?" Kata Cowok itu penuh emosi.
"Tuan itu dulu...tapi sekarang saya bener bener menyayanginya" Kata Anjani sambil menangis.
"Denger ya...kalau ada apa apa dengan anakku,aku talak kamu?" kata Cowok itu emosi.
Keributan yang terjadi di depan Ruang UGD memancing penasaran orang orang di sana.Dokter Hendra yang sedang memeriksa pasien kecilnya pun terganggu.
__ADS_1
"Di luar siapa Sus...?" Tanya Dokter Hendra
"Kurang tahu Dok...mungkin Ayahnya pasien udah dateng"
"Orang tua ga punya etika,udah tahu anak nya sakit malah ribut,biar saya yang kesana Sus"
"Oh...ya Dokter Lia udah selesai tranfusinya?"
"Kayanya Lima menit lagi Dok"
"Saya keluar dulu dan menasehati mereka sebelum Dokter Lia yang bertindak" Kata Dokter Hendra lagi
Suster mengangguk dan membenarkan kata Dokter Hendra karena kalau keributan yang terjadi sampai di dengarnya bisa bisa membangunkan macan tidur.
Dokter Hendra dan Suster ana keluar dan menemui orang tua pasien yang sedang berantem.
Pintu ruang UGD terbuka Dokter Hendra mrlihat seorang laki laki berpakain militer sedang memarahi istrinya.
Dokter Hendra pun menciut melihat kegarangan laki laki itu.
"Dok...mukanya serem saya takut,tidak jauh beda dengan Dokter Lia...apa biar Dokter Lia yang mengatasi" Kata Suster Ana ketakutan.
Dokter Hendra pun merasakan hal yang sama melihat tampang seperti itu mengingatkan dia pada seseorang.
Ardian....
Ya dia kaya Ardian...
Gumam Dokter Hendra.
"Dokter Hendra mengenalnya...." Tanya Suster Ana karena barusan dia mendengar Dokter Hendra menyebutkan satu nama.
"Bisa jadi Sus...kalau emang Dia lebih baik tunggu Dokter Lia yang mengatasi,karena hanya Dia yang bisa merubah muka garangnya menjadi muka kuda poni " Jawab Dokter Hendra sambil tersenyum.
Suster Ana bingung dan tak mengerti maksud Dokter Hendra.
Mana ada muka garang bisa berubah jadi kuda poni?
kalau emang iya...hebat juga Dokter Lia.
"Terus apa yang kita lakukan Dok" Tanya Sustet Ana masih bingung
"Kita lihat aja dari sini,yang penting ruang operasi uda kamu siapkan to...kalau Dokter Lia udah selesai biar langsung di tangani"Kata Dokter Hendra .
" Sudah...Dok..."kata Suster Ana.
"Dok..itu Dokter Lia sudah datang" kata Suster Ana lagi.
Dari kejauhan Lia berjalan menuju ruang UGD,tapi dia ragu untuk melangkah mendekat.Setelah selesai Tranfusi Lia mendengar gosip ada keributan di ruang UGD,membuat Lia Emosi,Dia langsung menuju ke UGD dan ingin membuat peritungan kepada orang orang yang sudah membuat onar di Rumah sakit.Dia tidak perduli kondisi badannya yang masih lemah.
Kurang lebih berjarak lima meter dari orang yang buat onar Lia berhenti.Walau dari belakang Dia mengenali sosok itu,sosok yang selalu di rindukan,sosok yang selalu melindungi dia.
Bang Ardian...
Rasa senang dan haru menyelimuti perasaannya.Tapi Lia pun menyadari dan berusaha konsentrasi untuk mengetahui apa yang terjadi
Bang...kenapa kamu berubah
kenapa kamu bisa sekasar itu pada perempuan
Batin Lia setelah mengetahui apa yang terjadi di depan UGD dengan pikirannya.
Lia memberi isyarat pada Dokter Hendra dan Suster Ana untuk membawa pasien di ke ruang Operasi.Karena Dia tidak mau setelah bertatap muka dengan Ardian enosi memuncak dan membutuhkan waktu lama untuk mengendalikan,sedangkan pasien kecilnya segera membutuhkan pertolongan.
Dokter Hendra mengerti isyarat dari Lia, kemudian dia mengajak Suster Ana membawa pasien ke ruang Operasi.
Dokter Hendra keluar dan membawa pasien kecilnya ke ruang Operasi.
Ardian melihat putrinya keluar dan di bawa oleh beberapa perawat kemudian menghampirinya.
"Muti...kamu bertahan ya...Papa di sini...kamu harus kuat...Hiks....hiks..." Ardian menangis.
Hendra geleng geleng kepala,ternyata orang sedingin es bisa nangis juga,ini kali ke dua Hendra melihat kalau Ardian menangis.
Yang pertama Ardian menangis karena menghilangnya Lia dan yang kedua Ardian menangisi anaknya.
Hendra dan Ardian adalah Satu tim di wilayah kekuasaan Wijaya,cuma beda divisi.
Hendra masuk Tim medis sedangkan Ardian masuk Tim keamanan.
Melihat betapa rapuh sahabatnya,Hendra tidak tega.
"Berdoa aja Bro...kita akan melakukan yang terbaik terhadap putrimu" kata Hendra sambil menepuk bahu Ardian.
Ardian terkejut dan menoleh ke belakang.
"Hendra...." kata Ardian kaget.
"Masih inget gue...." kata Hendra sambil tersenyum
"Loe disini....."
"Iya...kenapa Ar..loe lupa ni Rumah sakit milik siapa?dan loe tahu kan gue bekerja untuk siapa?" Tanya Hendra heran.
Ardian pun terdiam dan menyadari kalau Rumah sakit ini milik Keluarga Wijaya.Karena panik setelah di telpon Anjani kalau putrinya masuk Rumah sakit dan dia tidak mengingat kalau Rumah sakit ini milik keluarga yang dia tinggalkan.
__ADS_1