
Setelah merasa badan sudah fit,Dede mulai beraktivitas,karena sakitnya bukan hal yang serius tapi karena Dia kehabisan Energi.
Dia mulai memantau keadaan Sifa,selama belum mendapatkan donor sumsum,anak itu bener bener harus di pantau Extra.
Dede berusaha mendekatkan diri ke Fatimah untuk menanyakan tentang ayahnya Assifa.Walaupun sebenarnya Dia sudah tahu tentang kebenarannya,tapi Dia tidak ingin di bilang lancang mengorek aib,kalau bukan karena keberadaan Ayah Assifa sangat di butuhkan sekarang Dia tidak ingin ikut campur.
Fatimah sendiri juga bingung dan tidak tahu siapa Ayah kandung Assifa karena Dia merasa tidak mengenalnya,yang Dia tahu waktu itu lelaki itu selalu menyebut nama Lia.
"Dok..maaf Saya tidak tahu apa kesalahan Saya kepada Anda sehingga orang orang yang menyayangi Dokter selalu menyakiti Saya?" Kata Fatimah ketika di panggil Dede ke ruangannya.
"Maaf Bu Fatimah maksud Anda apa ya..?" Kata Lia berusaha tenang karena Dia tahu apa yang di maksud Fatimah.
"Yach..Bu Dokter tahu sendiri,kita belum saling kenal Saya hanya tahu nama Bu Dokter dari Kak Firman,walau Saya tidak mengenal Bu Dokter tapi nama Bu dokter sangat menyakitkan hati Saya"
"Hampir sepuluh tahun lebih Saya mengenal Kak Firman,selama sepuluh tahun lebih itu juga Saya selalu mendampingi Kak Firman,susah senang kita lalui bersama"
"Dalam menyiarkan Agama kita jalani bersama,banyak pengorbanan dan waktu saya korbankan untuk selalu mendampingi Kak Firman"
"Itu semua Saya lakukan hanya untuk mendapatkan Cinta dari Dia..tapi apa yang Saya dapat?"
"Hati Kak Firman hanya ada satu nama yaitu "LIA", terus terang Saya sangat benci dengan nama itu"
"Bukan hanya Kak Firman yang hanya memuja nama itu,tapi Semua orang begitu bangga dan memuja nama " LIA""
"Saya bener bener benci dan penasaran sebenarnya seperti apa orang yang bernama " LIA" itu,kenapa begitu istimewa?"
"Abah Saya sendiri...Dokter tahu kan Abah Saya..Abah Umar orang Tarim?"
"Dia yang selama ini menjadi panutan Saya,Orang yang selama ini dekat dengan Saya tapi hanya satu nama " LIA"Dia memujinya,dan merasa kecewa karena saya tidak seperti Dia" Kata Fatimah sambil menangis Dia emosi dan mengungkapkan rasa kecewa dan sakit hatinya selama ini
"Dan ternyata rasa sakit dan kecewa Saya tidak sampai di situ Dok,Dokter mau tahu apa?" Kata Fatimah penuh Emosi.
Dede hanya diam,dan menggeleng Dia berusaha meredamkan emosi Fatimah dengan doanya,karena Dia takut di saat Fatimah emosi dan Dia tersinggung bisa bisa puncak emosinya melebihi Fatimah.
Tapi entah apa karena amalan Doa yang salah?atau karena nafsu amarah yang lebih besar?Doa yang Dede panjatkan bukannya meredam emosi Fatimah tapi malah menjadi jadi.
"Hanya karena satu Nama masa depan Saya hancur,Saya di buang dari keluarga,lelaki itu dengan nikmatnya menguasai t**** saya tapi selalu menyebut nama Lia"
"Saya tahu di dunia ini nama itu banyak yang memiliki,tapi Saya tahu Dia menyebut nama itu adalah nama yang sama ,nama yang telah menyakiti hati Saya"
"Kenapa Bu Fatimah sangat yakin kalau Dia memanggil nama Saya?" Tanya Dede.
"Ya karena Dia bilang kalau Dia kecewa kamu mau menikah dengan Kak Firman" Kata Fatimah.
"Makanya Dok..sebenarnya Saya salah apa kenapa Anda selalu menghancurkan hidup Saya"
"Saya telah jatuh cinta tapi orang itu mencintai Dokter,Dan kesucian yang selama ini Saya jaga juga di renggut oleh orang yang juga mencintai Anda,dan sekarang Saya juga punya anak yang lagi sekarat dan selalu menyusahkan hidup saya."
"Astaghfirullah Bu Fatimah,jangan bilang seperti itu anak adalah anugrah dan juga titipan dari Allah,mau Dia lahir dengan cara apa kita wajib bersyukur " Kata Dede menenangkan Fatimah.
"Bu Dokter bisa bilang begitu karena Anda tidak mengalaminya,coba Anda banyangkan kalau semua yang menimpa Saya terjadi dengan Bu Dokter?"
"Ketika anak itu di dalam kandungan Saya,Saya di usir dari keluarga,Saya di hina,di cibir ke sana kemari hati Saya hancur dan rasanya mau mati"
"Untung ada Kak Firman yang selalu suport Saya agar Saya tidak rapuh"
"Dan apakah Dokter tahu Kak Firman selalu perhatian akan kandungan Saya dan sampai Dia lahirpun Kak Firman selalu menyayangi Assifa"
"Saya tahu Kak Firman melakukan seperti itu karena Dia merasa bersalah terhadap Saya karena Dia sudah mengabaikan cinta Saya"
"Dan mungkin kalau tidak ada Bu Dokter mungkin kak Firman akan memilih Saya menjadi pendamping hidup Saya"
"Kenapa Bu Dokter tidak mati aja waktu Enam tahun lalu?" Kata Farimah sambil mencibir.
"Astaghfirullah..Bu Fatimah sebesar itukah kebencian Anda kepada Saya sehingga Anda tega menyumpahi Saya seperti itu?"Kata Dede geleng geleng kepala.
" Ya...saya benci Anda melebihi segalanya,makanya kenapa Anda tidak mati aja biar tidak ada yang menghalangi saya untuk mendapatkan Kak Firman" Kata Fatimah sambil berdiri dan ingin mencekik Lia.
__ADS_1
Dede kaget,dan spontan menangkap tangan Fatimah.
"Istighfar Bu ..Istighfar.." Kata Dede berusaha menangkap tangan Fatimah.
"Ada apa ini Dek?" Tanya Firman yang tiba tiba membuka pintu.
"Aduh sakit Bu..." Tiba tiba Fatimah menjerit kesakitan.
Dede kaget,dan melepaskan tangan Fatimah,perasaan Dia hanya memegang pergelangan tangan Fatimah biasa tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun ini bisa bisanya kesakitan.
Dede hanya geleng geleng kepala,
...Aktingmu boleh juga...
Fatimah memegang pergelangan tangannya yang baru di pegang Lia,dan mengibas ibasnya menunjukkan ke Firman kalau Dia kesakitan.
Firman melihat ke arah Fatimah dan memperhatikan pergelangan tangan Fatimah.Dia tahu Fatimah telah berbohong padanya tentang kesakitan itu.
Kemudian Firman melihat ke arah Dede dan Dede pun mengangkat bahunya,tanda Dia tidak melakukannya.
"Lihatlah Kak Firman,Dokter Lia menyakiti tanganku,Dia marah karena aku bilang kalau Kak Firman sangat menyayangi Assifa walaupun Dia bukan darah dagingmu?" Kata Fatimah pura pura menangis.
"Apakah itu benar Dek?" Tanya Firman,walaupun Dia tahu ga mungkin seorang Dede menyakiti orang lain hanya karena cemburu.
"Entahlah Kak...dede rasa pegangannya tidak terlalu kencang?tapi kalau emang Bu Fatimah merasa kesakitan ya Saya minta maaf karena sudah menyakiti Bu Fatimah" Kata Dede sambil mengulurkan tangan untuk meminta maaf ke Fatimah.
Fatimah dengan enggan mengulur tangannya karena Dia tidak mau di pandang jelek oleh Firman.
"Maaf Bu kalau boleh Saya lihat tangannya?biar Saya obati?" Kata Dede lagi.
"Iya bener Dik Fat...biar di lihat ama Dede untuk di obati" Kata Firman.
"Emm..ga usah nanti juga sembuh" Kata Fatimah Dia takut kebohongan terbongkar.
"maaf De..keadaan Assifa gimana?" Tanya Firman.
bagaimana keadaannya?kalau semua baik baik aja Assifa bisa pulang" Kata Dede.
Dede menjelaskan keadaan Assifa yang sebenarnya,dan menjelaskan resiko kalau tidak mendapatkan sumsum tulang belakang yang cocok.
Firman menggunakan kotak batin untuk menghubungi Dede,tapi ternyata Dede menolaknya.
Firman tahu kalau sebenarnya Dede tahu siapa ayah Assifa,Dia juga penasaran.Karena Dia ingin tahu siapa laki laki yang sangat mencintai Dede selain Dia.
Selama ini Dia tidak pernah tahu kehidupan cinta seorang Dede,dan Dia juga tidak tahu berapa orang yang menjadi saingannya.
Di bilang cemburu mungkin memang iya,Tapi Dia sadar tidak boleh mencintai melebihi cintanya kepada sang Pencipta,karena Dia takut untuk di uji kembali soal percintaannya dengan Dede.
Dia berharap setelah ini Dia bisa bersatu dengan orang yang paling Dia sayang.
Kring...kring..
Suara telpon di ruangan Dede berbunyi
("Hallo Assalamualaikum...") Kata Dede mengangkat telponnya.
("Ya..ya..suruh keruangan Saya..dan tolong panggilkan Dokter Hendra juga ya") Kata Dede lagi.
("Assalamualaikum...") Dede mengakhiri telponnya.
"Maaf Kak Firman dan Bu Fatimah Saya ada janji dengan pasien lain,jadi cukup sampai di sini pembahasan kita kalau ada perkembangan lain nanti kita bahas di lain hari"
"Dan untuk Bu Fatimah maaf kalau tadi tadi saya sempat menyakiti Bu Fatimah,Dan Saya harap tolong bantu Doa agar proses kesembuhan Assifa di permudah,karena Doa dan kerindhoan seorang Ibu terhadap anaknya yang di harapkan oleh Allah SWT" Kata Dede sambil mengulas senyum Fatimah.
Fatimah mendengar kata kata itu hanya melengos dan tambah membenci Dede,karena Dia telah membuka aib di hadapan Firman kalau Dia tidak menyayangi Assifa.
Firman kemudian pamit dan mengajak Fatimah untuk menengok anaknya.
__ADS_1
Di depan ruangan Dede Firman bertemu seorang Pria dengan pakaian orang kantoran dan sangat berkelas.
Melihat wajahnya Firman merasa mengenal Pria itu tapi entah Siapa.
Fatimah juga sempat melihat wajah laki laki itu dan merasa mengenal orang itu tapi Dia lupa.
"Lihatlah Kak...Fatimah rasa Dia bukan seorang Pasien?di lihat cara jalannya Dia sehat?apakah ada yang di tutupi dari Dokter Lia?" Kata Fatimah berusa memprofokasi Firman.
"Kalau di lihat dari penampilannya Fatimah rasa mereka Cocok,yang satu seorang Dokter dan yang satunya seorang CEO"
"Mmm..kalau ga salah juga Dokter Lia juga seorang CEO kan?berarti mereka pasangan serasi"
"Maaf Kak bukannya mau mengkritik hubungan kalian,Apakah Kak Firman ga merasa kalau jalan kalian sangat berbeda?"
"Lihatlah Kak cara berpakaian Dokter Lia sangat modis dan jauh dari cara berpakaian seorang istri Ustadz"
"Apa kata orang orang nanti Istri seoarang Ustadz tidak tahu tata cara berpakaian yang benar?"
"Terus apa yang akan di katakan pada ivu ibu pengajian kalau seorang Istri Ustadz tidak bisa memberi ceramah?" Kata Fatimah masih memprovokasi hati Firman.
"Maaf Kak,Fatimah mengatakan begini karena Fatimah tahu apa yang harus di lakukan seorang istri Ustadz karena selama Fatimah mendampingi Kak Firman Mereka beranggapan kalau seorang Istri Ustadz juga seorang Ustadzah"
"Apakah Dokter Lia sudah memenuhi kretiria seperti itu?Dia hanya menguasai di bidang kedokteran dan perusahaan" Kata Fatimah panjang lebar.
Firman menghentikan langkahnya dan menghadap ke Fatimah.
"Sudah kamu memprovokasi Saya?apakah ada tambahan lagi?ingat ya Fatimah apa yang di katakan Dik Lia itu benar mulai sekarang sayangilah anak kamu dan doa kanlah kesembuhan Dia karena Doa seorang ibu adalah Doa yang paling mustajab"
"Dan mulailah sekarang instropeksi diri kamu,benahi diri kamu,dan hilangkanlah rasa iri dan dengki di hatimu biar hidupmu bahagia"
"Selama ini Saya sudah cukup bersabar nengahadapi kamu,saya berharap kamu bisa berubah dan memperbaikinya tapi kebencian dan iri dengkimu terlalu besar jadi menutupi hatimu yang bersih"
"Saya menyayangi Assifa bukan karena merasa bersalah dengan kamu,tapi saya sayang Assifa karena kasihan dan prihatin kepadanya kenapa anak yang masih suci dan tidak tahu apa apa harus menanggung kesalahan orang tuanya"
"Dengan kasih sayang Saya terhadap Assifa,Saya berharap kamu bisa membuka hati kamu dan mau menerima Assifa dengan ikhlas"
"Tapi ternyata harapan Saya salah,dan kamu tidak bisa berubah" Kata Firman sambil memasukkan tangan di saku celananya.
"Dan soal hubungan Saya sama Dik Lia kamu tidak usah khawatir,walaupun jalan kita berbeda tapi Saya percaya kami bisa beradaptasi antara satu sama lain"
"Asal kamu tahu walau Dik Lia berprofesi seorang Dokter dan CEO,Dia juga seoarng cucu yang mempunyai pondok pesantren dan tidak kalah dengan pesantren milik Abahmu"
"Dan apakah kamu pernah ingat Abah Umar pernah bercerita tentang seorang murid yang paling Dia banggakan?"
"Kamu pasti ingatkan bagaimana Abah Umar berharap kamu seperti Dia?"
"Asal kamu tahu murid kesayangan Abah itu adalah Dik Lia,jadi jangan di ragukan lagi kalau Dik Lia cukup pantas mendampingi seorang Ustadz"
"Dan untuk pakaian Saya rasa Dia sudah menutup aurat yang benar walau belum memakai Sar'i,tapi bagi Saya sudah cukup karena Dia berpakain juga tidak membentuk tubuhnya" Kata Firman
"Tolong renungkan kata kata Saya.."
"Assalamualaikum...." Firman meninggalkan Fatimah srndiri dan menuju ke ruangan Assifa.
Fatimah sendiri hanya terdiam dan termenung mengingat kata kata Firman.
Yach...kalau yang di katakan Firman itu benar,berarti Dia memang tidak pantas bersaing dengan Lia,karena di lihat dari sudut pandang agama Dia masih kalah,karena Dia murid kesayangan Abah Umar.
Dari segi kecantikan Dia juga kalah jauh.Karena Dia juga walau Dia seorang wanita tidak di pungkiri kalau Lia benar wanita cantik dan sempurna.
Soal karirpun Dia mash kalau jauh...
Mungkin kata Firman benar Dia hanya mengikuti hawa nafsu,iri dengkinya terlalu besar.
Sambil berpikir Fatimah mengikuti jalannya Firman menuju kamarnya Assifa.
Dia berjanji mulai hari ini akan berusaha menyayangi Assifa layaknya sebagai anak.Dan harus berdamai dengan masa lalu yang sangat menyedihkan.
__ADS_1