C E O ,Anak Motor Dan Ustadz

C E O ,Anak Motor Dan Ustadz
BAB XXIV SADAR


__ADS_3

Di dalam kamar VVIP terasa lengang,hanya suara ******* nafas yang teratur mengiringi kesunyian hati.Entah kesunyian hati itu milik siapa.


Di dalam ruang VVIP terdapat dua ruangan,Satu buat ruang penunggu dan yang satu ruang perawatan.Di ruang perawatan itulah Marchelia Andhini di rawat,banyak selang pernafasan di tempel di mana mana,di tangan kecilnya memegang Alqur an kecil yang selalu Dia bawa dan baca.Dokter Markus dan Dokter Eel sibuk untuk memantau perkembangan Marchelia,yang baru saja mengalami kesadaran menurun,setelah pemeriksaan dan penangan lebih lanjut,akhirnya masa kritis pun berlalu.


Dokter Markus dan Dokter Eel menarik nafas lega.


Dokter Eel mengusap rambut Lia dan mengecup keningnya.


"Kamu harus kuat dik dan bertahanlah,lihatlah Ustadz gantengmu nunggu di luar..." Bisik Dokter Eel kepada adiknya.


"Ayo El...kita keluar..Dedek pasti kuat...."


"Ayo...bangun Dik..ni Opa datang,ayo kita berargumentasi lagi,Opa punya bahan yang harus di perdebatkan..."


"Kalau ga bangun nanti Opa kasih tahu semua tentang penyakit kamu ya..." bisik Dokter Markus di telinga Lia.


Seperti ada sengatan listrik,jari tangan Lia bergerak,tapi mata terpejam.


"Opa...tangan Dedek bergerak.." kata Dokter Eel.


"Ha...ha...kamu respon kata kata ku Dek?Ayo bangun...kalau tidak Opa akan mengatakan semua" kata Dokter Markus sambil memeriksa denyut nadi Lia.


"Sudah...ayo El..kita keluar dulu,Dia masih butuh istirahat yang cukup" kata Dokter Markus mengajak Dokter Eel keluar.


"Tadi Opa bisikin apa?kok bisa bereaksi?" Kata Eel sambil berjalan mengikuti Dokter Markus.


"Mmm...tadi Opa bilang Dia tak akan menang akan perdebatan tentang penemuan Opa" Kata Dokter Markus berbohong.


"Wah...hebat dong Opa...ternyata walau dalam kondosi tidak sadar Dia bener bener menunjukkan kalau Dia tidak terima di kalahkan oleh Opa" kata Eel sambil tersenyum.


Di Ruang tunggu sudah banyak orang,Abah yusuf dan yang lainnya sudah kembali dari berdoa,Mommy Ririnpun sudah ada di sana.


"Assalamualaikum Om,gimana Dedek" kata Mommy Ririn setelah melihat Dokter Markus dan Dokter Eel keluar dari ruang perawatan.


"Alhamdulilah sudah stabil Rin....Gimana Kak Palupi?" kata Dokter Markus.


"Alhamdulilah sudah baikan,tadi jantungnya sedikit masalah tapi ini baik baik aja"


"Kamu cerita tentang Dedek?" Kata Dokter Markus.


"Tidak Om...sesuai permintaan Dedek kalau Dia kenapa napa tidak boleh di kasih tahu ke Omanya" kata MOmmy Ririn.


"Ini Kak Palupi berangkat ke Kantor?" kata Dokter Markus lagi.


"Iya...Om..biasa Mama keras kepala,katanya ada Meeting yang tidak bisa di tunda di pabrik,harusnya Dedek yang di sana"


"Tadi Ririn bilang Dedek masih tidur,katanya capek,Mama percaya"


"Cuma ni Papa udah pulang nemenin Mama ke Pabrik" kata Mommy Ririn lagi.


"Ririn boleh ke dalam Om?"


" Boleh...silahkan.." kata Dokter Markus.


Sebelum kaki melangkah mau melihat anaknya di dalam,panggilan dari Interkom Rumah Sakit terdengar.


Dokter Ririn kami harap segera datang ke ruang ICU.


Dokter Ririn pun mengurungkan niat untuk masuk ke ruang perawatan anaknya


"Yach...Om..ada panggilan darurat,Ririn kesana dulu,El...Momm kesana dulu jaga Dedek ya..." kata Mommy Ririn langsung melangkah pergi.


"Baik Momm..." Kata Dokter Eel.


Abah Yusuf kemudian masuk di dampingi Abah Ali setelah di ijinkan oleh Dokter Markus.


Beberapa menit kemudian mereka keluar.


Davin mengajak Firman masuk di susul Dokter Eel.


Sampai di dalam Firman melihat seorang gadis yang selama ini dia rindukan tanpa tutupan cadar.Wajah itulah yang pernah mengganggu pikirannya,sekarang dia bener bener melihat wajah itu.


Maafkan hambamu ini Ya Allah...sudah melakukan zina mata.


Davin melirik ke Firman dan melangkah mendekati Lia kemudian menutupi wajah Lia dengan selimut.


"Kalian belum mahram..." kata Davin lagi.


Firman tersenyum.Kemudian pandangannya tertuju di Alquran di tangan Lia.


"Alqur an itu..." Kata Firman lirih.


Davin dan Eel menoleh ke arah Firman.


"kenapa dengan Alqur an itu" kata Eel memandang Firman.


"Maaf itu Alqur an siapa?boleh saya lihat?kata Firman.


Eel maju ketempat tidur dan mengambil Alqur an kecil itu di tangan Lia.


Eel agak kesulitan mengambil Alqur an itu,walau tanpa sadar ternyata Lia menggenggam Alqur an itu.


Eel geleng geleng kepala.


" Dek...Kakak pinjem dulu,ada yang ingin membaca Alqur an mu buat nemeni tidur kamu ya..."Eel berbisik di telinga Lia.


Seperti mendengar kata kata Eel pegangan Lia melemah,Eel mengambil Alqur an itu dan memberikan Firman.


Firman memandangi Alqur an itu dan membuka lembar demi lembar,dan dia menemukan yang Dia cari,sebuah tulisan tangannya yang sengaja Dia tulis untuk menandai kalau Alqur'an itu miliknya.


Airmata Firman menetes,Apakah dia gadis kecil itu?Apakah dia yang dulu pernah menyelamatkannya?


Berbagai pertanyaan pun berperang di dalam hatinya.


Eel melihat raut muka Firman berubah ketika melihat Alqur an itu.


"Apakah kamu tahu tentang Alqur an itu?" kata Eel menyelidik.


"Kalau boleh tahu dari mana Alqur an ini dan kok bisa di tangan Lia?" tanya Firman

__ADS_1


"Alqur an itu milik adikku,ada seseorang yang memberikannya di saat dia terbaring lemah seperti"


"Bedanya..dulu dia harus di operasi karena luka tusuk di perut dan mengenai ususnya" kata Eel sambil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu peristiwa di mana adiknya harus berjuang hidup dan mati.


"Apakah dia tetusuk oleh jambret? tanya Firman


" Sepertinya iya ..soalnya waktu peristiwa itu aku masih di tempat les,dan adikku rencananya mau jemputku"


"Apakah kamu disana waktu itu?" tanya Eel


"Orang yang di tolong adikmu adalah aku,dan Alqur an ini aku yang memberikan untuk memberikan kekuatan padanya" kata Firman sambil menghapus Air matanya yang terus mengalir.


Ternyata gadis kecil yang dia cari sekarang di depan mata,gadis yang tak pernah hilang dalam ingatannya.Dan gadis itu pula yang telah mengisi relung hatinya.


Ya...Allah apakah ini garis takdirmu....


"Firman ..Kuasa Tuhan itu ada,mungkin ini jalan takdir yang telah Dia tentukan,dengan berbagai peristiwa kalian di pertemukan" kata Davin sambil menepuk bahu Firman


"Bacalah Alqur an itu di telinganya,dan dia paling suka membaca Surat Ar Rahman,kami pergi dulu" kata Davin lagi.


"Ayo...El kita keluar dulu biar Firman membaca ayat suci Alqur an" kata Davin sambil menarik tangan Eel.


Setelah mereka pergi,Firman membaca Surat Ar Rahman,


...بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ...


اَلرَّحۡمٰنُۙ


عَلَّمَ الۡقُرۡاٰنَؕ


خَلَقَ الۡاِنۡسَانَۙ


عَلَّمَهُ الۡبَيَانَ


Ayat demi ayat Firman membaca dengan khusuk.Lia yang masih terlelap dalam mimpinya sayup sayup terdengar suara orang mengaji dan memanggilnya untuk kembali.Di bawah alam sadarnya,Dia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk kembali,lama lama lantunan Ayat suci terdengar semakin dekat dan dia berusaha membuka matanya...


Pertama kali yang dia lihat adalah wajah orang yang sangat dirindukannya,dan membaca surat Ar Rahman yang selalu menyejukkan hatinya.


*Ya...Allah benerkah dia ...apakah aku tidak bermimpi.


Kalau ini hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku,aku ingin selalu bersama dia,aku ingin mendengarkan dia,aku ingin mencintai dia walau dalam mimpi .


Ya..Allah..sungguh sempurna ciptaanmu,dan aku menyadari betapa kecilnya diriku bila bersanding dengannya*.


Lia menutup kembali matanya dan menganggap itu hanya mimpi,dia tidak mau terlalu terlena akan perasaannya.


Firman selesai membaca Alqur annya dan menutup kembali.karena khusuknya dia tak menyadari kalau ada sepasang mata menatapnya dengan suatu kerinduan.Tapi sepasang mata itu terpenjam kembali supaya orang di depannya tidak melihatnya.


Firman membelai rambut Lia penuh kasih sayang.


"Dik...cepat bangun ya...aku merindukanmu...,aku ingin meminangmu...,sebelum aku berangkat Ke Tarim aku akan melamarmu...kalau di ijinkan aku ingin menikahimu..."


"Bangunlah lah...Dik...coba bukalah matamu dik lihat lah...diriku"


Firman berusaha berinteraksi dan berharap Ada keajaiban.


Ach...dia akan melamarku Tuhan....


Tapi kenapa dia harus ke Tarim?


berapa lama?


Apakah aku sanggup jauh darinya?


Tuhan ...


aku harus bagaimaana?


Aku sangat mencintainya


Tapi aku takut...


Tuhan...


tolong bantu aku.


Dalam diam Lia berperang batin,dia ga tahu apa yang harus dia lakukan.


Pintu ruang kamar terbuka Davin dan Eel masuk.Davin mendengar ******* nafas yang tertahan.Davin melihat ke arah Lia tapi gadis itu masih terpejam,tapi dari irama nafasnya Davin tahu kalau Lia sudah tersadar tapi masih pura pura pingsan..


Davin tersenyum...


Rupanya adiknya berpura pura pingsan.


Davin membisikkan ke telinga Eel,dan terkejut.


Davin memberi isyarat tangan untuk diam.Dan meminta mengikuti alur dramanya.


"Udah selesai Man..bacanya.."?kata Davin.


" Udah Pak..."


"Makasih udah bantu Doa untuk Dedekmu yang bandel"


"Ga..pa..pa Pak,saya senang bisa membantu"


"Kapan kamu berangkat ke Tarim?"


"Tiga hari Pak...Insya Allah kalau tidak ada kendala"


"Kamu yakin mau berangkat ke Tarim?"


"Ya ..Pak udah jadi cita cita saya belajar di sana"


"Berapa lama?"


"Lima tahun"


Busyet dach Lima tahun...

__ADS_1


bisa gila gue menantinya


katanya mau melamar


tapi ini mau ninggalkan aku


tiga hari lagi...


dan lima tahun lagi baru kembalu


Tuhan...


tahu gini aku ga usah sadar aja


daripada mendengar dia mau pergi


Perang batin Lia membuat dia stres.


Davin melihat ke arah Lia dan melihat air mata yang menetes.


Ach...masih saja kamu bertahan dalam diam dik..Batin Davin.


"Sebelum kamu pergi apakah ada yang kamu inginkan?"


"Maksud Bapak..."


"Ya..maksud Bapak mungkin ada yang pingin kamu sampaikan ama bocah dodol itu yang belum bangun dari tidurnya"


"Saya bisa minta tolong ga?"


"Minta tolong apa?" Kata Eel


"Saya....mmm..." Firman terdiam.


"Ach...kamu berbelit belit males aku"


"Apa seoarang Ustad emang seperti itu,ga to the point aja" kata Eel kesal.


"El...kamu kenapa sich..diam dulu napa?" kata Davin menenangkan Eel.


"Lagian dia berbelit belit gitu kak,Ga yangka adik Eel suka ama orang seperti itu,bertolak belakang ama kriterianya" kata eel masih kesal.


"Maafkan saya Pak dokter" kata Firman


"Ga usah panggil aku Pak Dokter panggil aku aja nama,kalau ga salah usia kita sama to..." kata Eel.


"Sori...kalau aku kesal,soale emang dari keluarga kita paling ga suka orang basa basi,apalagi adikku dia type orang yang blak blak an".


" Udah gini aja boleh aku yang nanya perwakilan adikku" kata Eel lagi.


"El...." Davin memotong pembicaraan Eel.


"Uda ga pa..pa Kak...lagian tuh anak masih tidur dan ga tahu mau bangun kapan...mungkin mau bangun setelah pujaan hatinya pergi..biar tahu rasa dia.." Kata Eel emosi karena adiknya masih bersikeras dalam kepura puraannya.


"Man..."


"Sory..aku panggil nama ya.." kata Eel.


Firman mengangguk


"Apakah kamu mencintai adikku?apakah kamu ingin melamar dia?apakah kamu akan setia setelah kamu di Tarim?" kata Eel menginterogasi.


Busyet...dach...ni anak Bar bar banget sich....kenapa juga nanya di deket gue sich...nanti kalau jawabannya menyakitkan gimana...dia mau pergi aja hati gue sakit...hiks...hiks


"El...maaf saya emang mencintai adik kamu,dan kalau di ijinkan saya akan melamar dia sebelum berangkat,seperti waktu itu saya minta tolong pada Pak Davin,dan setelah kepulangan saya ,saya ingin menjadikan dia pemdaping hidup saya" kata Firman menunduk malu.


Duar...


Benerkah apa yang di katan Tuhan...


Aku bahagia...


ingin sekali aku memeluknya...


tapi aku malu ...


Eel melihat ke adiknya,tapi tidak ada reaksi.Eel melihat wajah adiknya merona.


Davin pun geram ternyata Adik dodol ini bener bener keras kepala.


"El...kamu telpon oma aja,bilang kalau cucu dodolnya lagi sekarat,dan tidak ada gairah hidup,aku capek memberikan alasan ke Oma" Kata Davin tiba tiba.


Coba kita lihat dik..apakah kamu masih bertahan dalam kepura puraanmu?mungkin untuk menutupi perasaanmu kamu masih bisa,tapi kalau menyangkut perasaan orang lain pasti kamu ga bisa.


"Jangan...kak..oc...oc Dedek bangun" teriak Lia walau sangat lemah.


Ternyata perkiraan Davin benar,macan betina yang keras kepala pun berhenti bersandiwara.


"Ha...ha...akhirnya macan dodol bangun juga kak.." kata Eel sambil tertawa melihat reaksi adiknya.


"Idih...kalian jahat banget sich....gue kan masih pingin tidur...capek tahu" kata Lia manyun tahu di kerjain kakaknya.


"Lagian ngapain loe..pura pura masih tidur,apa ga kasihan tu...ama Ustad tampan loe..sangat mencemaskanmu" kata Davin sambil menunjuk ke arah Firman yang masih bingung apa yang terjadi.


"Dik...." panggil Firman di tengah kebingungan.


"Ga usah bingung Man...dari tadi kamu di kerjain tuh ama bocah...dari tadi dia udah bangun dan mendengarkan apa yang kita obrolin" kata Eel.


"Jadi...kamu denger apa yang saya katakan?" Kata Firman sambil menunduk malu.


Lia hanya mengangguk.


"Sejak kapan..." kata Firman lagi


"Sejak kakak membaca Surat Ar rahman..."


"Jadi kamu juga mendengar ungkapan isi hati saya,dan jawaban saya yang di tanyakan dari kakak kamu"


"Iya..."

__ADS_1


"Terus jawaban kamu...?" tanya Firman harap harap cemas


__ADS_2