Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Gadis Kecil


__ADS_3

Ketika pukul 3 pagi, Daisy mendengar suara dari luar kamar. Seperti suara anak kecil menangis. Daisy menarik selimutnya.


"itu bukan suara hantu kan?" batinnya.


Dia mengerutkan dahinya dan menggerakkan tubuhnya sedikit ke arah pintu.


"itu suara anak kecil." Daisy bangun dari tempat tidur dan berjalan perlahan mendekati suara itu.


Seorang gadis kecil, meringkuk di depan sebuah kamar.


"Hai, kamu kenapa?" Sapa Daisy pelan


Gadis itu melihat Daisy,


"ini, anaknya Tuan Daryn." Batin Daisy.


"Mama, aku kangen sama mama." ucap gadis itu.


"Mama? Mama Nona di mana? " Daisy duduk di samping gadis itu. Dia sangat kesusahan, karena dia tak memakai pakaiannya, dan masih mengenakan jubah mandi.


"Mama, pergi ninggalin saya." ucap gadis berusia 5 tahun hampir 6 tahun itu.


Daisy lalu memeluknya. "Apa Nona sering susah tidur dan merindukan mama?" tanya Daisy.


"Dulu saya juga begitu, saat saya tinggal dengan ibu angkat saya. Saya selalu merindukan ayah dan nenek saya."


"Dimana mereka?"


"Mereka orang-orang baik, jadi saya harap mereka di surga. Ahh.. Dan Nona tau, apa yang saya lakukan ketika saya susah tidur dan merindukan mereka? "


"Apa? "


"di mana dapur? " gadis itu menunjuk ke arah dapur.


Daisy berdiri dan mengulurkan tangannya.


Gadis itu meraih tangan Daisy dan berdiri. Mereka berjalan ke dapur bersama-sama.


"Saya belum tanya nama Nona muda ini?."Daisy tersenyum ke arah gadis kecil itu.


"Saya Nazafarin Leroy, artinya membawa kebahagiaan. Papa yang pilih nama itu. Bagus kan? "


"Nama yang sangat cantik." mereka berdua berjalan ke dapur dengan tersenyum.


Daisy membuka kulkas, dan mengambil beberapa bahan di dalamnya.


"Apa tidak apa-apa kita menggunakan isi kulkas ini?"


"hihihi... Papa bilang Semua isi rumah ini adalah milik Naza, jadi Naza izinkan tante buat pake."


"Tante?" Daisy tersenyum. Dan lanjut memasak.


"apa tak apa, aku memasak untuk mereka. Biasanya mereka selalu memiliki menu sendiri. Sudahlah, aku hanya buatkan untuk Naza saja. Lagipula ini hanya cemilan saja.." batin Daisy.


"Apa Nona Naza punya alergi?"

__ADS_1


Naza menggeleng.


"Dulu di dekat rumah, saya tinggal. Membelinya. Karena saya gak tau daerah sini. Saya spesial membuatkannya untuk Nona."


Tak sampai setengah jam, Daisy selesai membuatkan kripik coklat untuk Naza. Dan di sajikan dengan segelas susu.


"Saya yakin, Nona pasti bakalan suka."


Meletakkannya di atas meja makan, Naza agak ragu mengunyahnya. "Ada rasa Pahitnya sedikit" ucap Naza.


"Coba minum susunya."


Naza mengunyah keripik coklat sambil tersenyum. "enakk tante. " gadis itu tersenyum sambil menggoyangkan kakinya.


"Tapi, apa Nona gak bakalan di marahin, ngemil jam segini?"


"hehehehhee... Gak tau. Biasanya saya diam di depan kamar mama, terus di pindahin sama papa ke kamar. Tapi hari ini ada tante." Naza terus mengunyah keripiknya.


Setelah merasa agak kenyang, dia pun turun dari kursi dan berjalan ke kamarnya.


"Makasih tante, udah temani Naza" dia berjalan dalam keadaan ngantuk dan kembali tidur ke kamarnya.


Sementara Daisy membuat beberapa toples stok keripik untuk Naza. Karena setelah ini, dia tidak akan kembali ke rumah ini lagi.


"Apa anda perlu sesuatu? " tanya seorang pelayan yang masuk ke dapur ketika Daisy sedang membereskan apa yang dia gunakan.


"Tidak, saya hanya membuatkan ini untuk Nona Naza. Tadi dia terbangun, dan saya berikan sedikit cemilan."


Pelayan tersenyum dan mengangguk.


Setelah siap tepat pukul 6 pagi, dia pun berjalan ke arah pintu, dan hendak pergi. Karena sudah pagi. Dia akan naik kereta paling pagi untuk kembali ke asramanya.


"Terima Kasih tumpangannya Tuan Daryn. Dan terima kasih sudah menyelamatkan saya. " Dia menulis catatan di tempat tidur.


"Kamu mau ke mana sepagi ini? " suara Daryn mengejutkannya.


"Saya akan kembali ke asrama saya. Terima Kasih atas tadi malam dan tumpangannya." Daisy mengucapkannya dengan gugup.


"Kenapa perlu sepagi ini? Nivia bilang kalian sedang libur, kenapa tak sarapan lebih dulu."


"Terimakasih atas tawaran Tuan, saya pagi nanti ada janji dengan seseorang." Daisy lalu berjalan keluar.


"Tanteee....!" Naza berlari ke arah Daisy dan langsung memeluknya.


"Nona juga bangun pagi." Daisy tersenyum.


"Kalian bukannya baru dua kali bertemu dan sudah seakrab ini? " tanya Daryn melihat putrinya yang akrab pada Daisy.


"Tante mau ke mana?" Naza bertanya pada Daisy tanpa menghiraukan Papanya.


"Tante mau pulang. Soalnya tante ada janji. Jadi harus cepat-cepat kembali." Daisy menjawab Naza dengan sedikit sedih.


"Apa Papa sudah gak di anggap? " Tanya Daryn pada Naza.


"Heheheheheh... Ayo kita sarapan dulu." Naza lalu menarik tangan Daisy dan tangan Daryn ke arah meja makan.

__ADS_1


Daisy tak tau harus berbuat apa. Akhirnya dia hanya mengikuti Naza.


Mereka duduk di meja makan bersama, Daisy duduk di samping Naza. Nivia dan orang tuanya ikut bergabung bersama mereka.


Dia merasa sangat canggung berada di meja makan bersama orang-orang itu. Meskipun Nivia dan Daisy sudah berteman sejak 2 tahun, tetapi Daisy tak pernah bertemu, karena selalu menolak ajakan Nivia.


"Akhirnya, aku bisa ngenalin Daisy ke mama dan Papa. Ini Teman sekamarku. Daisy."


"Oohh.. Salam Kenal. Mari makan." ucap Papanya Nivia. Dan melanjutkan makan.


Daisy benar-benar tak berharap apapun, apalagi berharap menyambutnya dengan bahagia.


Wajah Nivia agak kecewa, Daisy tersenyum ke arahnya menangkannya.


"Tante, aku suka banget keripiknya. Nanti malam aku boleh makan lagi kan?" Naza mengajak Daisy bicara.


"Kalau itu, saya pikir Nona harus minta izin pada Tuan Daryn"


"Papa, boleh yah?"


Daryn mengangguk.


"Dan saya sudah membuatkan stok yang banyak buat Nona." bisik Daisy pada Naza, membuatnya tertawa geli.


"Kamu mengajarkan anak kecil untuk makan cemilan?" Tanya Mamanya Nivia dengan nada menyinggung sambil melihat tubuh Daisy.


"Ma...!" Nivia melihat ke arah mamanya.


"iya, hanya beberapa keripik dan segelas susu."


"Apa kamu tau lemaknya berapa?"


"Sudahlah mbak, selama Naza menyukainya dan membantu dia tidur dan tidak kesepian lagi. Aku tidak masalah." Ucap Daryn yang melihat anaknya terlihat bahagia.


Daisy benar-benar merasa tidak nyaman berada di sekitar orang tua Nivia. Daisy menjawabnya hanya dengan tersenyum getir.


Begitu selesai makan, Daisy langsung membantu membersihkan meja makan dan cuci piring. Karena dia terbiasa hidup sebagai pelayan di rumah mamanya sendiri.


Setelah semua orang kembali pada kegiatannya masing-masing Daisy pun hendak pulang.


"Mana nomor handphone tante?" Naza menghalang Daisy dan meminta kontaknya.


"maaf Nona Naza, saya tidak punya handphone. " Daisy berbohong, karena dia tak ingin terikat dengan gadis kecil di hadapannya.


Wajah Naza langsung berubah sedih.


"Bagaimana kalau Nona, menghubungi saya melalui Kakak Nivia?" Tawar Daisy, sontak Naza langsung tersenyum sumringah.


Dan Daisy pun pamit dari rumah itu. Tanpa melihat ke belakang. Dia menaiki taksi ke stasiun dan akan naik Bus ke asramanya.


Dalam perjalanan, Ava meneleponnya.


"Maafkan aku, tadi malam aku terlalu sibuk mengurus semuanya. Sampai gak sempat ngabarin kamu." ucap Ava merasa bersalah.


"Kamu tau, apa yang aku alami tadi malam?" Daisy agak marah pada Ava.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2