
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan, Dia melihat Daryn masuk ke dalam kamarnya...
"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Daisy kaget.
Daryn lalu berjalan cepat ke arah Daisy lalu menciumnya dengan ganas. Tanpa basa basi, Daisy pun membalas ciuman Daryn..
Suara ketukan di pintu, membuat Daisy terkejut dan terbangun.
Dia membuka matanya...
"Daisy?"
"ii... Ya.... " jawab Daisy tergagap dan cepat membuka pintu.
"Nona Dewi?" Daisy heran melihat Dewi di depan kamarnya.
"Maaf membangunkan mu. Tapi, ada hal penting yang harus aku dan Liam bicarakan. Aku akan menunggumu di ruang kerja Daryn."
Daisy mengangguk lalu merapikan dirinya.
"Mimpiii? Hahahahahha... Aku memimpikan Tuan Daryn?" Daisy menertawakan dirinya karena bermimpi yang tidak-tidak.
Setelah masuk ke ruang kerja, Daryn, Liam dan Dewi sudah duduk di sofa. Hanya Daryn yang bermuka masam.
"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Daisy ragu dan agak takut. Dia sangat gugup melihat ke arah Daryn, apalagi kalau mengingat mimpinya dia malu sendiri.
"Ayo, duduk disini." Dewi menarik Daisy dan duduk disebelahnya.
"Jadi, Aku dan Liam akan ke Bali beberapa hari. Jadi, Liam dan aku mau minta tolong kamu jadi sekretaris Tuan Daryn selama beberapa hari, kalau dia kerja dari rumah."
Daisy mengangkat alisnya kebingungan.
"Belakangan ini, Tuan Daryn lebih memilih bekerja dari rumah. Kamu hanya perlu membawakan yang diminta oleh Tuan Daryn. Dan kamu bisa melakukannya sambil menjaga Naza." Jelas Liam.
"Tapi, saya sama sekali gak mengerti."
"Aku sudah menyusun berkas-berkas tentang proyek yang akan datang di meja itu." Liam menunjuk meja yang sudah tersusun rapi berkas-berkas.
"Jadi, kamu hanya perlu mengaturnya dan jika Tuan Daryn memintanya. Kamu tinggal memberikannya."
"Jadi, saya harus berada di dekat sini untuk melakukan hal itu kan?"
Dewi mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan Naza."
"Bukankah, kalau di rumah lebih mudah. Banyak orang yang menemaninya di siang hari. Dan malam hari, kamu bisa membantu Tuan Daryn." Liam tersenyum menjelaskan di tambah sedikit merasa bersalah karena meninggalkan tugasnya.
"Jangan khawatir, Daryn akan memberikanmu uang tambahan." Ucap Dewi melihat Daryn yang bermuka masam.
"Kalian, benar-benar sahabat yang tidak setia." ucap Daryn menggeleng kesal.
__ADS_1
"Kamu tau, sejak menikah,. Aku dan Liam hanya berlibur 2 hari. Setelah itu kamu rebut suamiku." Dewi berakting sedih.
"Lagipula, ini juga salahmu. Kenapa kamu harus melakukan hal yang kekanakan hanya karena cemburu." ucap Liam pelan.
"Cemburu? hah? Aku?" Daryn menolaknya dengan keras.
"Apa Tuan Daryn sedang menyukai seseorang?" batin Daisy, wajahnya berubah agak sedih.
"Apa peduliku? Itu urusannya." batin Daisy dan dia menggelengkan kepalanya agar tersadar dari khayalannya sendiri.
"Kamu kenapa? Kamu ngerti kan apa yang di ucapkan Liam?" tanya Dewi lagi.
"Saya mengerti. " Jawab Daisy singkat. Dia ingin cepat-cepat keluar. Mengingat mimpinya tentang Daryn tadi, membuat lehernya dan kepalanya terasa panas. Apalagi, setelah melihat wajah Daryn. Bayangan Mimpinya tadi semakin jelas dalam pikirannya.
"Ya sudah, kamu bisa kembali ke kamarmu." ucap Liam. Daisy meninggalkan ruangan itu.
"Gak usah terlalu sedih, ini cuma beberapa hari. Dan aku juga, ingin secepatnya punya anak dari suamiku." Dewi berdiri ke dekat Daryn dan menepuk bahunya.
Liam dan Dewi, kemudian pergi dan bersiap-siap untuk berangkat liburan.
Ketika sarapan keesokan paginya.
Liam menjelaskan lebih rinci tugasnya pada Daisy.
Dari bangun tidur, hingga Daryn menyelesaikan tugasnya.
"Kenapa kamu kasi tugas itu semuanya untuk Daisy? " bisik Dewi pada Liam.
"Kalau dia menyelesaikan dengan mudah, berarti dia memang layak mengurus keperluan Daryn ke depannya. Seperti yang kamu katakan, kalau mereka saling menyukai, maka aku yakin mereka akan melanjutkan hubungan mereka ke arah yang lebih serius."
"Kamu gak usah khawatir, aku hanya mendukung mereka. Yang akhirnya membuat keputusan adalah mereka berdua." ucap Liam masih berbisik.
"Kenapa kalian berdua berbisik?" ucap Daryn yang masih agak kesal. Daisy pun penasaran dengan obrolan mereka karena ada namanya dan Daryn.
"Kita lagi bicarakan mau ke mana aja ,. Kalau sudah sampai sana. Jadi, kamu fokus aja sarapan." ucap Dewi, membuat Daryn semakin kesal.
Seharian ini, Daryn memutuskan untuk bekerja dari rumah. Sementara itu, setelah mengantar Naza ke sekolah, Daisy kembali pulang membantu Daryn.
Setelah membaca daftar tugas yang diberikan Liam secara terperinci, membuat Daisy lebih mudah membantu Daryn.
Hari ini, semua tugasnya dia selesaikan dengan baik. Sampai tengah malam, Naza terbangun karena mencari Daisy. Sekarang Naza sudah tidak mencari mamanya lagi, tapi mencari Daisy.
"ssssttt.... Ini Papa sayang. Tante Daisy sudah tidur." Daryn dengan cepat menggendong Naza dan mengantarnya ke kamar untuk kembali tidur. Dan meninggalkan Daisy yang sudah tertidur do sifa ruang kerja.
Tak lama, Daisy terbangun dan melihat selimut di atas tubuhnya. "Astaga, aku ketiduran. Apa Tuan Daryn sudah selesai kerja?" Daisy lalu bangun dan mengecek kamar Naza. Di sana dia melihat Daryn menepuk punggung Naza agar tertidur.
Daisy memutuskan untuk membuatkan kopi untuk Daryn.
"Kamu sedang buat apa? " Suara Daryn mengejutkan Daisy, membuat dia menjatuhkan air panas ke tangannya.
"aaaakh.. " Daryn langsung menarik tangan Daisy dan menyiramnya dengan air keran.
__ADS_1
"Maaf...maaf... Aku mengagetkan mu." ucap Daryn masih memegangi tangan Daisy di air keran.
"ii.. Yaa... Lain kali, ada baiknya Tuan membuat suara entah bernyanyi atau apa lah." Ucap Daisy yang masih meringis kesakitan.
" apa tanganmu baik-baik saja mana aku lihat "Daryn memeriksa tangan Daisy dengan seksama.
Daisy yang tangannya masih dipegang oleh Daryn merasa gugup, setelah melihat wajah Daryn dari dekat dan menarik tangannya dengan cepat.
" Saya gak apa-apa Tuan. Nanti saya obati dengan air madu." Daisy lalu berjalan kembali ke kamarnya.
"Aku kenapa? Berhenti Berdegup dengan kencang" ucap Daisy mengusap dadanya merasa kesal sekaligus sedih karena dia tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri.
Setiap hari, bertemu dengan Daryn membuatnya semakin jatuh hati, dia harus segera pergi dari rumah itu. Jam kuliah yang semakin sedikit, semakin membuat dia lebih sering bertemu dengan Daryn.
Setelah menenangkan dirinya, dia kembali ke ruang kerja Daryn, karena dia masih bertugas menemani Daryn untuk bekerja sampai dia beristirahat.
Dia membuka pintu ruang kerja dengan pelan. Dia melihat Daryn sudah tertidur di sofa sambil memegang berkas. Dia masuk ke dalam ruangan dan memperhatikan Daryn yang terlihat sangat lelah. Dia mengambil kertas di tangan Daryn dan meletakkannya di meja lalu menyelimuti Daryn dengan kain yang ia temukan di ruangan itu.
Ketika kain itu, menyentuh tubuhnya, Daryn langsung terbangun dan menahan tangan Daisy karena terkejut.
"aaaakh." Daisy meringis kesakitan, mendengar ringisan Daisy, Daryn langsung melepas tangan Daisy dan duduk tegak.
"Maaf, lagi-lagi aku menyakitimu." ucap Daryn masih dengan suara ngantuk nya.
Sementara itu, Daisy masih duduk di samping sofa.
"Duduk di sini." Daryn menepuk kursi di sebelahnya.
"Saya akan kembali ke kamar saja, jika Tuan sudah selesai untuk hari ini."
"Duduk di sini." Daryn mengeluarkan suara tegasnya.
Daisy hanya bisa menggigit bibirnya dan menurut.
"Mana tanganmu?" Daisy kemudian mengulurkan tangannya yang sakit.
"Maaf, aku tadi terkejut dan reflek."
"Saya yang salah, karena gak tau keadaan Ruan yang kalau tidur seperti itu." Daisy berusaha menarik tangannya, tapi Daryn menggenggamnya dengan lembut.
"berada disini lebih lama akan sangat berbahaya." batin Daisy. Tangan Daryn kemudian naik ke pergelangan tangan Daisy dan bergerak ke lengannya.
Tubuhnya pun bergerak mendekat ke tubuh Daisy, dan Daisy pun mengarahkan wajahnya mendekat pada Daryn.
Wajah Daisy terasa panas. Pikirannya menyuruhnya untuk menyingkir, dan pergi tapi tubuhnya yang sudah berg*irah membiarkan dirinya bergerak sesuai nalarnya.
Begitu juga dengan Daryn, dia tau dia tak boleh melakukan hal ini pada gadis itu, tapi darah dalam tubuhnya yang sudah memanas. Sudah lama dia tak merasakannya.
Ketika mereka sedang panas berc*uman , Daisy yang masih bergelut dengan pikirannya tiba-tiba mendorong tubuh Daryn dengan keras kemudian dia berdiri, menggelengkan kepalanya dan menangis.
"Nggak, ini salah. Saya bukan gadis seperti ini. Maafkan saya." Daisy lalu berlari ke kamarnya sambil menangis.
__ADS_1
"Siall.... Siall.... " Ucap Darin yang mengacak dan meremas rambutnya sendiri.
...****************...