Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Mengalihkan


__ADS_3

"Mama juga gak perduli. Lebih Baik kita buka semuanya kepada media." ucap Laura dari depan pintu.


Daisy menggeleng tidak setuju.


"aku setuju, kita tak perlu membuka kamu adalah anak Nyonya Laura. Karena tak ada dokumen yang membuktikan hal itu. Jadi tidak masalah. Pernikahan Kita, adalah hal yang harus. Aku Harus akui, menjalani pernikahan kita adalah hal terbaik dalam hidupku. Tapi, aku tak mau menyembunyikan kamu lagi."ucap Daryn.


"Aku tetap gak mau." ucap Daisy.


"Apa kamu ada niat menceraikan ku setelah ini.?"tanya Daryn memicingkan matanya.


" Nggak. Sama sekali nggak." ucap Daisy terkejut.


"Kali ini, kamu dengarkan keinginanku. Aku Akan menjaga kalian dari gangguan media dan membuat rumah tangga kita seperti biasa. Hemmm? " Daryn berlutut dan menatap Daisy.


"Aku pergi, beritahu aku. Apa Keputusan kalian. Dan aku, masih belum terbiasa dengan ini." ucap Laura yang meninggalkan Daryn dan Daisy.


Membayangkan Putrinya bersama laki-laki yang hanya terpaut 4 tahun darinya. Laura menghela kasar.


"coba pikirkan lagi, cerita tentang kita. Untuk sementara akan mengalihkan cerita tentang Nyonya Liza dan juga Tio. Aku, sejak awal, tidak pernah berniat menyembunyikan mu. Karena Itu adalah keinginanmu, aku setuju. Tapi, kali ini dengarkan keinginanku. Aku juga lelah menyembunyikan kamu. Aku Ingin kita mencintai dengan terbuka." ucap Dayrn yang masih berlutut di depan Daisy dan menggenggam tangannya. .

__ADS_1


"baiklah, kita akan mengikuti kemauan Dada." Ucap Daisy meremas tangan Daryn pelan.


Daryn kemudian, menelepon Liam untuk. Mengurus segala sesuatu tentang rencana mereka.


Daryn memutuskan kembali lebih dulu ke kotanya, sementara Daisy harus menemani Laura terlebih dahulu.


Dengan terpaksa mereka harus berpisah dahulu.


"maafkan aku, harus kembali. Aku akan secepatnya ke sini lagi, kalau masalah di sana sudah selesai." ucap Daryn mencium kening Daisy dan juga menggendong Dean sebentar.


Mereka bertemu di saat yang sangat kacau. Begitu juga Naza tang harus sekolah. Lama berpelukan dengan Daisy, karena sangat rindu.


"Bunda juga sayang, tapi kita akan segera ketemu kan." Daisy menatap Naza dengan penuh kasih sayang, dan kerinduan.


Setelah berpisah, Daisy selalu menemani Laura yang sedang bersedih


"harusnya, kamu pulang saja ikuti suamimu. Mama di sini biasa sendiri dan Ava." Laura mulai menangis dan merindukan Nyonya Liza.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Laura.

__ADS_1


"Om Bagas, silahkan masuk." ucap Laura, dan Daisy menggeser kursi rodanya memberikan jalan untuk Bagas.


"aku hanya ingin mengantarkan ini." Bagas menyodorkan 2 buah amplop. Untuk Laura dan juga Daisy.


"untuk saya juga?" tanya Daisy bingung.


Laura lebih dulu membuka suratnya


"Laura, maafin mama. Sejak kecil, kamu sudah diperlakukan dengan keras karena mama tidak mau melahirkan anak laki-laki.


Melihat satu-satunya anak mama, menangis tengah malam karena sakit hati, membuat hati mama terluka.


Tapi, semenjak kamu memutuskan memberontak, mama melihat kamu lebih bahagia. Ada sedikit lagi rasa lega. Tapi, kamu sudah tidak berani mencintai lagi setelah Nevan. Dan itu membuat mama sedih. Kenapa wanita seperti kita, tak beruntung dalan percintaan. Termasuk mamanya mama, sehingga melahirkan seorang putri seperti mama. Belajarlah, untuk mencintai lagi. Meski orang-orang memandang hal itu menggelikan. Wanita Tetap membutuhkan cintanya sampai akhir hayatnya. Mama harap kamu bisa menemukan kebahagiaan."


Hal yang paling Nyonya Liza inginkan, adalah kebahagiaan putrinya. Tapi, Abrar membuat hal itu sangat sulit untuk Nyonya Liza.


Laura menangis, membayangkan Nyonya Liza yang sekarang sudah tidak ada di sisinya.


Sementara Daisy, belum berani membuka suratnya, dia takut menerima kenyataan alasan Nyonya Liza mengorbankan nyawanya, dan bahwa selama ini Nyonya Liza adalah salah satu orang yang membuat dia merasa tidak disayangi. Dua kepribadian yang bertolak belakang membuat Daisy sangat takut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2